Tampilkan postingan dengan label masjid di samudera hindia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masjid di samudera hindia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Desember 2017

Mayotte, Prancis yang tak Prancis

Muslimah berjilbab di Mayotte, salah satu pemandangan sehari hari di Mayotte yang notabene adalah wilayah Prancis di Samudera Hindia, namun sama sekali tak bercita rasa Prancis.

Dari sudut pandang manapun Mayotte sama sekali tak terlihat seperti Prancis. Semua orang mengenal Prancis sebagai Negara nya Napoleon Bonaparte, ber-ibukota di Paris dan berpandangan politik Sekuler. Khusus bagi ummat Islam, mendengar nama prancis boleh jadi langsung membayangkan fakta yang kontradiktif.

Bahwa prancis adalah Negara Eropa dengan penduduk Islam terbesar namun gelombang “penistaan terhadap Islam” sempat mencuat ke permukaan sebagai akibat kebijakan pelarangan penggunaan symbol agama di tempat umum, namun justru lebih menyudutkan wanita berjilbab sebagai sasaran empuk. Namun semua fakta itu terjungkir balik di Mayotte yang notabene secara de jure maupun de fakta adalah bagian dari Prancis. Kok Bisa.


Tentu saja bisa. Mayotte adalah salah satu wilayah seberang lautan Prancis, lokasinya berada di Samudera Hindia bagian selatan, tetangga terdekatnya adalah republik kepulauan Comoro yang sama sama berada di selat Mozambik yang memisahkan antara pulau Madagaskar dan benua Afrika.  Luas Mayotte tak lebih dari 374 meter persegi dan 97 persen penduduknya beragama Islam.

Di tahun 1974 referandum yang diselenggarakan di Mayotte untuk menentukan nasib Negara tersebut. Secara meyakinkan penduduk kepulauan tersebut memilih untuk tetap bergabung sebagai bagian dari Prancis. Berbeda dengan tetangganya Commoro yang memilih merdeka dari Prancis. 

Salah satu sudut kota di pulau Mayotte. Sangat khas sebuah pulau dengan penduduk muslim. tampak di kejauhan menara salah satu masjid besar di Mayotte.

Referendum yang sama dilakukan lagi tahun 2009 lalu dan nyatanya 95.2% penduduknya bersikukuh untuk tetap menjadi bagian dari Prancis.  Maka jadilah Mayotte sebagai bagian dari wilayah seberang lautan Prancis hingga kini, dan menjadi wilayah Uni Eropa dengan lokasi paling jauh dari benua Eropa.

Jadi, dengan fakta bahwa 97% penduduknya beragama Islam, maka wajar bila pemandangan di Mayotte sama sekali tak-prancis. Hampir diseluruh penjuru kota terlihat muslimah berjilbab bahkan bermukena tanpa ada gangguan apapun. Tak ada salju di Mayotte dan tak ada pencakar langit apalagi pusat mode dunia disana. Karena Mayotte memang tidak berada di Eropa tapi di lepas pantai timur Afrika. Jaooooooh banget dari Benua Eropa***.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 01 Januari 2017

Masjid Melayu Kurunegala Sri Lanka Warisan Muslim Indonesia

Bermula dari sebuah masjid sederhana di abad ke 18 kini Masjid Melayu Kurunegala sudah bertranformasi menjadi sebuah bangunan masjid modern di pusat kota Kurunegala, Sri Lanka.

Serpihan Sejarah Bangsa Yang Terlupakan

Sesuai dengan namanya Masjid Melayu Kurunegala atau Malay Jumma Mosque atau Masjid Jum’ah Melayu Kurunegala adalah masjid–nya muslim melayu yang berada di di kota kurunegala, Sri Lanka. Masjid Melayu ini merupakan masjid tertua di Kununegala dibangun pada masa kolonial Inggris di Sri Lanka, sebagai fasilitas bagi muslim melayu yang pertama datang dan menetap disana. Masjid Melayu Merupakan Masjid tertua di Kurunegala dan menjadi salah satu dari begitu banyak masjid di Srilanka yang penduduknya mayoritas beragama Hindu dan Budha.

Indonesia, Malayasia dan Sri Lanka sama sama pernah di Jajah oleh Belanda. Sri Lanka dijadikan salah satu tempat pengasingan atau lebih tepatnya sebagai tempat pembuangan bagi para tokoh tokoh pergerakan tanah air, beberapa diantara mereka bahkan tidak pernah kembali lagi ke tanah air karena kekuasaan Belanad di Sri Lanka pada ahirnya jatuh ke tangan Inggris. Beberapa lagi dari mereka merupakan bagian dari Pasukan Resimen Melayu dari era Belanda dan Pasukan Resimen Melayu bentukan Inggris yang kemudian ditempatkan di Sri Lanka.

Malay Jumma Mosque
155 Maha Veediya, Kurunegala 60000
North Western Province, Sri Lanka



Masjid Diaspora Indonesia di Sri Lanka

Masjid Melayu Kurunegala ini bukanlah satu satunya masjid yang dibangun dan berhubungan dengan muslim Melayu dari Indonesia dan juga Malaysia. Di Sri Lanka ada beberapa masjid tua bersejarah lainnya yang juga berhubungan erat dengan muslim Indonesia. Sebut saja Masjid Agung Colombo atau The Grand Mosque of Colombo dirancang dan dibangun oleh Muhammad Balang Kaya, beliau merupakan putra dari Hulu Balang Kaya, Hulu Balang dari kesultanan Goa, Sulawesi Selatan, yang di asingkan ke Sri Lanka oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1796.

Kemudian masjid Jum’ah Wekande atau The Wekande Jumma Mosque merupakan wakaf dari Muslim Indonesia, Pandaan Balie di tahun 1796. Sementara Masjidul Jami’a yang berada di Java Lane dibangun dari dana pensiun dari anggota Resimen Melayu di Sri Lanka. Resimen Melayu (Malay Regiment) adalah tentara bentukan Belanda kemudian dilanjutkan oleh penjajah Inggris yang terdiri dari orang orang melayu yang kemudian ditempatkan di Sri Lanka, namun kemudian mereka tidak pernah kembali ke tanah air. Beberapa masjid lain juga dibangun pada periode ini termasuk di Kandy, Trincomalee, Hambantota dan Kinniya.

Masjid Melayu Kurunegala di abad ke 18

Masjid Pertama di Kurunegala

Pemerintah Inggis kala itu dalam upaya konsolidasi kekuasaan mereka di pulau Sri Lanka mulai menyebarkan pengaruhnya di seluruh negeri dengan menempatkan pasukan tentara di berbagai kota utama Sri Lanka, di mulai dari Kandy, Pada tahun 1848 satu Resimen Melayu yang terdiri dari 30 tentara dan dua orang staf di tempatkan di Kurunegala, resimen ini kemudian ditempatkan secara permanen di Kurunegala. Staf militer yang ditempatkan disana membawa serta seluruh keluarganya dari Kandy ke Kurunegala, karena memang pemerintah Inggris memberi mereka lahan tanah.

Resimen Melayu semuanya anggotanya beragama Islam dan sangat relijius, itu sebabnya pada tahun 1850 pemerintah kolonial membangun sebuah masjid untuk keperluan mereka beribadah, sebuah masjid di tepian danau Kurunegala. Dari kenyataan ini sangat mungkin anggota resimen ini menyelenggarakan sholat Jum’at hanya dengan 32 Jemaah.

Staf militer dari Resimen British Melayu beserta seluruh anggota pasukannya tinggal di sepanjang Parade Street (kini menjadi jalan Dr. H. K. T. de Zylva Mawatha) dan daerah diseberang masjid diantara Dambulla Road dan the Maligawa grounds. Nama Jalan Parade Steet sendiri disebut demikian karena memang anggota pasukan Resimen British Melayu ini secara berkala melakukan parade milter di sepanjang ruas jalan ini.

Pada awalnya bangunan masjid ini berupa bangunan masjid sederhana dengan fasad depan bercorak bangunan India dan dikenal dengan nama Malay Military Mosque, atau masjid militer melayu. Seiring dengan perjalanan waktu masjid tersebut kemudian dikenal dengan nama Malay Mosque atau masjid Melayu atau "Java Palli" sampai kemudian menjadi "Ja Palliya".

Orang Jakarta akan sangat familiar dengan moda tranformasi bewarna merah yang parkir disamping masjid tertua dan pertama di Kurunegala dalam foto diatas. Kendaraan yang berasal dari India tersebut ternyata juga populer di Sri Lanka.

Masjid ini merupakan masjid pertama di Kurunegala sekaligus merupakan bangunan tempat ibadah pertama yang mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah bagi seluruh muslim yang tinggal di Kurunegala dan sekitarnya, menyusul kemudian berdirinya Masjid Jummah Al-Jami Ul Azhar yang dibangun dan dikelola oleh muslim India.

Pada mula-nya komunitas muslim India datang ke Korunegala sebagai pedagang dan mereka turut menjadi bagian dari Jemaah masjid melayu Kurunegala, namun demikian seiring dengan perbedaan budaya diantara muslim melayu dan muslim India, komunitas muslim India kemudian mulai mendirikan masjid bagi komunitas mereka sendiri dengan membeli bekas kediaman Opsir Inggris yang sudah terbengkalai di pusat kota Korunegala menandai berdirinya Al-Jami Ul Azhar Jumma Mosque, atau "Sonaha Palli" atau "Marakkala Palliya" sedangkan khatibnya mereka hadirkan langsung dari India.

Pemakaman Muslim Pertama di Kurunegala

Hampir bersamaan dengan berdirinya Masjid Melayu Kurunegala ini, sebidang lahan dengan luas sekitar 3 acre yang berlokasi di ruas jalan Dambulla Road kawasan Pollathapitiya, berjarak sekitar setengah kilometer dari Masjid Melayu Kurunegala dijadikan sebagai lahan pemakaman muslim. Seperti halnya dengan masjid Melayu Kurunegala, pemakaman ini pun menjadi komplek pemakaman muslim pertama di Kurunegala dan seperti halnya di Indonesia komplek pemakaman ini pun hingga kini disebut dengan istilah “Makam” oleh penduduk setempat.

Nama nama melayu mendominasi jejeran pengurus masjid ini sejak awal hingga era tahun 1960-an dan tersimpan rapi di masjid ini. Seiring perjalanan waktu, kurunegala telah bertransformasi sebagai sebuah kota yang berkembang pesat, masjid Melayu Kurunegala yang dulu berupa masjid sederhana di tengah kampoig, kini telah berubah menjadi sebuah masjid modern di tepian jalan utama ditengah hiruk pikuk kota Kurunegala.

Pengembangan dan pembangunan masjid ini tidak saja menjadi hajatan kaum muslimin melayu disana namun juga mendapatkan sokongan penuh dari pemerintah setempat guna mengakomodir kebutuhan Jemaah yang semakin meningkat dari hari ke hari. Para pengurus dan Jemaah masjid ini, mayoritas merupakan keturunan dari komunitas muslim melayu yang pertama menetap disana dan kini telah menjadi bagian dari sekitar 50.000 muslim melayu Sri Lanka. Secara keseluruhan Muslim di Sri Lanka hampir mencapai dua juta jiwa atau setara dengan sekitar 9% dari keseluruhan penduduk Sri Lanka.***

Artikel terkait


Sabtu, 31 Desember 2016

Masjid Mahe, Seychelles

Masjid Sheik Muhammad Bin Khalifa Al-Nahyan atau lebih dikenal dengan nama Masjid Mahe Karena berada di Pulau Mahe, Merupakan masjid terbesar di Seychelles, dibangun oleh keluarga penguasa Uni Emirat Arab.

Seychelles adalah sebuah negara yang terdiri dari gugus pulau pulau kecil di Samudera Hindia sekitar 1600 kilometer di lepas pantai timur benua Afrika. Bertetangga dengan negara pulau Republik Comoro, Mayotte (Prancis) dan Madagaskar di Selatan dan Republik Tanzania sebagai tetangga terdekatnya di daratan benua Afrika sejauh sekitar 1000 Kilometer. Seychelles beribukota di Victoria yang berada di Pulau Mahe. Penduduk Seychelles seluruhnya berjumlah 86.525 menjadikannya sebagai negara dengan populasi terkecil di Afrika.

Mayoritas penduduk Seychelles beragama Katolik Roma. Sekitar sembilan dari sepulun penduduk negara ini merupakan pemeluk agama Katolik Roma, sebagaimana disebutkan dalam hasil survey yang telah diselenggarakan sejak pertama kali di tahun 1992. Agama Katolik Roma masuk ke Seychelles dibawa oleh bangsa kulit putih yang merupakan penghuni pertama di Negara Pulau ini, wajar bila kemudian mayoritas penduduknya pun beragama Katolik meskipun Inggris sempat memperkenalkan agama Protestan selama kekuasannya disana.

Islam telah masuk ke Seychelles jauh sebelum bangsa Eropa tiba disana. Islam datang ke gugus kepulauan ini dibawa oleh para pedagang muslim yang berdagang beralayar melintasi samudera, meskipun mereka tak menetap disana secara permanen. Prancis yang menjadi penguasa pertama di Seychelles membawa ajaran Katolik Roma disusul kemudian oleh Inggris.

Foto Kiri atas adalah bangunan Masjid Mahe sebelum di renovasi, foto bawah : bangunan masjid Mahe saat diruntuhkan  tahun 2012 untuk dibangun ulang dan foto kanan atas adalah Masjid Mahe Setelah dibangun ulang tahun 2013.

Diantara mayoritas penduduk Seychelles yang beragama Katolik Roma terdapat pemeluk agama minoritas lainnya termasuk Hindu, Baha’i dan Islam. Beberapa media melaporkan bahwa Islam memiliki perkembangan yang cukup pesat di Seychelles, di tahun 1970-1960-an muslim disana hanya ada kurang dari seratus jiwa, berkembang hingga kini mencapai sekitar 2000 jiwa.

Merujuk kepada Biro Pusat Statistik Seychelles dilaporkan bahwa 76.2% penduduk Seychelles adalah penganut Katholik Roma, disusul kemudian penganut Anglikan sekitar 6.1%, lalu penganut Agama Hindu sekitar 2.4%, Pemeluk Islam 1.6% dan penganut agama dan keyakinan lainnya mencapai 13.7%. Meskipun jumlah muslim disana sangat kecil namun pemerintah setempat memberikan waktu 15 menit setiap hari Jum’at bagi ummat Islam disana untuk mensyiarkan Islam melalui saluran televisi nasional.

Masjid Mahe

Di kota Victoria terdapat sebuah masjid yang terkenal dengan nama Masjid Mahe, merujuk kepada nama pulau tempatnya berada. Meski nama masjid ini sebenarnya adalah Masjid Sheikh Muhammad Bin Khalifa Al-Nahyan. Keluarga Al-Nahyan adalah keluarga penguasa Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Karena memang komplek masjid ini dibangun dengan dana dari keluarga penguasa Abu Dhabi tersebut. Masjid ini begitu ramai di setiap hari Jum’at oleh jemaah yang akan melaksanakan sholat Jum’at berjamaah termasuk di dalamnya muslim muslim mualaf setempat. Masjid ini juga di izinkan untuk menyuarakan azan melalui pengeras suara di menaranya.

Victoria Mosque
Rue De La Poudrière


Masjid Mahe dibangun tahun 1982 dengan dana dari Sheikh Muhammad Bin Khalifa Al-Nahyan. Peletekan batu pertama pembangunannya dilaskanakan oleh Mr. Suleman Adam, selaku presiden dari Islamic Society of Seychelles pada tanggal 10 Zulhijah 1401, bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1981. Dan diresmikan setahun kemudian.

Setelah berdiri selama 30 tahun, pada hari Jum’at tanggal 24 Agustus 2012 yang lalu sudah dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid Mahe. Dan pada tanggal 20 Desember 2012 yang lalu bangunan masjid ini sudah di runtuhkan untuk dibangun ulang di lokasi yang sama dalam ukuran yang lebih besar. Proyek pembangunan masjid baru ini selesai tahun 2013. dan diresmikan pada hari Jum’at tanggal 25 Oktober 2013 oleh Shaikh Zayed Bin Sultan bin Khalifa atas nama Dr. Shaikh Sultan Bin Khalifa Al Nahyan, turut dihadiri oleh Jean-Paul Adam, selaku menteri luar negeri Seychelles, Dick Patrick Esparon yang merupakan duta besar Seychelles untuk Uni Emirat Arab.

Masjid Mahe ini dibangun ulang dengan bentuk yang tidak jauh berbeda dengan bentuknya semula dengan ukuran yang lebih besar dan lebih modern, dengan daya tampung 600 jemaah pria dan wanita. Menjadi tumpuan utama bagi muslim di Seychelles terutama di pulau Mahe termasuk pusat kegiatan pembelajaran Al-Qur’an, pembinaan mualaf, hingga ke acara buka puasa bersama di bulan suci Romadhan yang juga turut dihadiri oleh para pejabat tinggi Seychelless.***


Minggu, 04 Desember 2016

Islam di Zanzibar

Zanzibar adalah wilayah semi otonom Republik Persatuan Tanzania, terdiri dari Pulau Zanzibar, Pulau Pemba dan Pulau Mafia. Hampir seluruh penduduk Zanzibar adalah pemeluk agama Islam.

Zanzibar adalah sebuah pulau yang terletak di lepas pantai timur benua Afrika, secara administratif Zanzibar merupakan Wilayah Semi Otonom dari Negara Republik Persatuan Tanzania (United Republic of Tanzania) yang merupakan gabungan wilayah daratan Tanzania dengan wilayah pulau Zanzibar dan sekitarnya. Sebagai Wilayah semi otonom Zanzibar memiliki hak Istimewa untuk memiliki pemerintahannya sendiri dibawah kendali seorang Presiden yang dipilih secara demokratis secara periodik.

Islam memainkan peran penting diantara satu juta penduduk Zanzibar, 99% penduduknya merupakan penganut agama Islam. Bertolak belakang dengan wilayah Tanzania daratan yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan hanya 35% dari penduduknya yang beragama Islam. Zanzibar memiliki sejarah panjang begitu juga dengan sejarah Islam di pulau itu.

Pulau Zanzibar cukup lama berada dibawah kendali Sultan Oman sampai kemudian membentuk kesultanan sendiri dibawah kendali Oman hingga ahirnya bangsa Eropa mendarat disana dan mengambil kendali wilayah tersebut, perjuangan kemerdekaan dan gejolak politik dalam negeri mengantarkan wilayah pulau itu kepada pembentukan negara persatuan dengan Republik Persatuan Tanzania hingga saat ini. meskipun gaung kemandirian sebagai sebuah negara merdeka masih menggema hingga hari ini.

  
Zanzibar Dalam Konteks Sejarah

Pulau Zanzibar, Unguja dan Pemba pada awalnya dihuni oleh orang orang Arab dan Persia kebanyakan berasal dari wilayah Shiraz (Iran) tanpa kehadiran orang orang dari benuda Afrika. Dimasa perbudakan orang orang arab dan Shiraz di Zanzibar melakukan bisnis perdagangan budak, gading dan rempah rempah.

Penjelajah Portugis baru tiba disana pada ahir abad ke 15 Miladiyah, kemudian mengambil alih kendali di wilayah tersebut selama hampir 200 tahun. Di tahun 1689 pulau Zanzibar jatuh ke tangan Kesultanan Oman yang kemudian mengendalikan pulau tersebut selama lebih dari 130 tahun. Kekuasaan Oman kemudian diteruskan oleh Kesultanan Zanzibar yang secara dominan dikendalikan oleh komunitas Arab di Zanzibar.

Sementara itu ada sebagian kecil pemukim disana yang merupakan pembauran bangsa Arab dan Afrika melalui perkawinan yang kala itu merupakan hal yang biasa terjadi. Pembauran bangsa Afrika dan pencampuran suku bangsa tersebut dikemudian hari dikenal sebagai orang orang Shirazi

Meskipun secara resmi pelarangan perdagangan budak sudah disyahkan tahun 1822, namun faktanya hingga pertengahan abad ke 19 Miladiyah, Zanzibar tetap secara aktif menjadi pusat perdagangan budak di kawasan timur benua Afrika bersamaan dengan boomingnya perdagangan rempah rempah.

Masjid Kizimkazi diketahui merupakan masjid tertua di Zanzibar dan dibangun oleh keturunan Rosulullah

Orang orang Afrika tidak saja dijadikan objek perbudakan melalui pelabuhan Zanzibar, namun juga dipekerjakan sebagai pekerja pelabuhan dan di perkebunan rempah rempah disana. Baru di tahun 1878 dibawah tekanan militer Britania Raya, Sultan Zanzibar menandatangani dekrit anti perbudakan dan perdagangan budak secara resmi berahir, meskipun nyatanya perdagangan budak secara rahasia tetap terjadi hingga beberapa dekade setelah itu.

Jerman mengambil alih wilayah Tangayika melalui sebuah perjanjian dengan Britania Raya pada tahun 1886 namun tetap memberikan kemerdekaan kepada Zanzibar. Protektorat Britania atas Pulau Zanzibar ditambahkan lagi pada ahir perang dunia pertama melaui kendali wilayah Tangayika. Di Zanzibar, Britania masih memberikan kekuasaan otonom kepada sultan namun perdagangan budak sudah sama sekali dihentikan. Para budak Afrika yang bekerja di perkebunan Rempah pun mendapatkan sedikit perubahan setelah sekian lama bekerja keras hingga kurus kering.

Kemerdekaan Zanzibar

Zanzibar memperoleh kemerdekaannya pada bulan Desember 1963 sebagai sebuah Monarki Konstitusional dibawah kepemimpinan seorang Sultan, namun partai politiik terbesar disana saat itu, Afro-Shirazi Party (ASP) memboikot pemerintahan dengan dukungan dari dua partai kecil lainnya yang memiliki keterkaitan dengan elite Arab dan kepentingan Inggris.

Hanya satu bulan setelah kemerdekaan, partai ASO dibawah pimpinan John Okello melakukan pemberontakan menggulingkan Sultan dan mengakibatkan korban jiwa ribuan orang arab dan sebagian besar lainnya melarikan diri keluar dari pulau Zanzibar. Segera setelah itu pemerintahan dikuasi oleh ASP yang mengangkat Abeid Karume sebagai perdana menteri baru dan segera setelah itu menandatangani perjanjian dengan Presiden Tangayika Julius Nyerere untuk menyatukan duan negara tersebut menjadi Republik Persatuan Tanzania yang bertahan hingga hari ini.

Masjid Malindi dengan menaranya yang unik merupakan salah satu masjid tertua di Zanzibar

Dengan sejarahnya yang demikian tak lazim, Zanzibar seringkali berada di situasi merugi di dalam jalinan Negara Persatuan Tanzania. Meskipun satu negara namun terbelah dalam garis etnis dan politik tidak pernah sama dan sebangun. Kelompok Arab Zanzibar memiliki keinginan yang kuat bagi pemisahan negara dibandingkan dengan kelompok Shirazi yang lebih bertendensi bagi sebuah penguatan otonomi bagi Zanzibar.

Sebagai bagian dari sebuah negara Federasi, sesungguhnya Zanzibar telah menikmati kekuasaan sendiri secara terbatas, namun undang undang Tanzania melarang setiap partai politik untuk menentang persatuan nasional, artinya melarang segala upaya pemisahan diri Zanzibar dari Tanzania. Hanya saja yang terjadi bahwa partai oposisi Tanzania, Civic United Front (CUF) telah lama memiliki basis politik yang kuat diantara kelompok Arab Zanzibar dan mengupayakan perluasan kekuasaan pemerintahan sendiri bagi Zanzibar.

Seiring kekalahan di Pemilu tahun 1995, para pendukung partai CUF mengalami tindakan keras dari pihak berwenang, penahanan hingga penganiayaan. Pada pemilu tahun 2000 partai CUF melakukan boykot yang berakibat lebih parah lagi, pendukung dan simpatisan partai turun ke jalan di jawab dengan turunnya militer dan polisi Tanzania yang melakukan pembubaran paksa hingga aksi damai tersebut berubah menjadi peristiwa berdarah, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga HAM, 35 orang tewas dalam peristiwa itu dan 600 orang lebih terluka.

Tanzania daratan dan Pulau Zanzibar memang memiliki perbedaan yang mencolok, bila di zanzibar muslim merupakan mayoritas sementara di daratan hanya sekitar 35% saja, sedangkan partai berkuasa justru melakukan pengawasan ketat bagi semua lembaga Islam. Seperti teradi di tahun 2001,  ada 20 tokoh muslim Zanzibar yang ditahan aparat karena merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda dengan hari yang ditetapkan oleh pemerintah. Masih ditahun yang sama pemerintah pusat yang dikuasai oleh partai CCM, lagi lagi membuat marah muslim setempat dengan tindakan pemerintah yang mengeluarkan Peratuan Kemuftian yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk mengawasi semua organisasi Islam.

Dalam pemilu yang diselenggarakan bulan Oktober 2005, partai CCM yang berkuasa menuai serangkaian protes dari para pemantau pemilu karena kedapatan adanya warga dari Tanzania daratan yang justru masuk dalam daftar pemilih di pulau Zanzibar. Dua pulau lainnya justru memiliki perbedaan politik yang mendalam, pulau Unguja memberikan dukungan kepada partai pemerintah CCM sementara pulau Pemba justru mendukung kepada partai oposisi CUF.

Kendatipun terjadi kekhawatiran akan tindak kekerasan atas kemenangan partai CCM namun tidak terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di tahun 2001. Kemungkinan terjadi karena begitu banyaknya aparat keamanan yang diterjunkan ke lokasi selama proses pemilu berlangsung.

Pihak partai CUF menolak mengakui presiden Baru Zanzbar, namun menyerukan agar masyarakat tetap tenang. Pemerintahan partai CCM di Zanzibar justru mengeluarkan larangan bagi media swasta di Zanzibar. Presiden Tanzania yang baru hasil pemilu –Kikwete- berjanji untuk sebuah dialog guna menjembatani perbedaan yang terjadi dan menyelenggarakan pembicaraan antara CCM dan CUF di bulan Januari 2007.

Islam di Zanzibar

Islam merupakan agama yang dianut mayoritas penduduk Zanzibar. Merujuk kepada data Factbook, lebih dari 99% atau hampir seluruh penduduk pulau ini merupakan pemeluk Islam. Sebagian besar muslim Zanzibar merupakan muslim Suni, meskipun ada sedikit penganut Ahmadiyah.

Salah satu Masjid di pusat keramaian pulau Zanzibar dengan ukiran pintu utamanya yang cukup impresif.

Islam di Zanzibar memiliki akar sejarah yang teramat panjang, Islam sudah masuk dan berkembang di Zanzibar sejak abad ke delapan miladiyah. Dimasa penjajahan Inggris, Zanzibar memainkan peranannya sebagai satu satunya Pusat Intelektual bagi gerakan islamisasi di kawasan negara negara Afrika Timur dibawah kesultanan Zanzibar. Di masa itu, masjid Gofu dan Masjid Barza mempersilahkan para santri dari negara negara Afrika Timur untuk mendapatkan pendidikan Islam disana. Zanzibar Muslim Academy juga memberikan getaran kuat bagi Islam di Afrika Timur.

Kesultanan Zanzibar kala itu membentang dari Cape (Rãs) Asir di pantai Banadir Somalia hingga ke sungai Ruvuma river di Cape Delgado, hingga membentang ke wilayah danau Great Lake dan pengaruhnya jauh lebih luas dari itu. Di masa kejayaan itu terkenal sebuah idiom “bila saja kau mainkan flute di Zanzibar maka seluruh Afrika akan menari”, menunjukkan begitu kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar di masa itu.

Kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar juga merasuk ke ranah bahasa. Bahasa Swahili diketahui merupakan bahasa Afro-Islam merupakan salah satu yang pertama dari tujuh bahasa yang paling banyak digunakan di dunia berkembang dari kesultanan Zanzibar hingga ke Congo, India Barat dan Madagaskar. Tata bahasa Creole yang digunakan di Mauritius meskipun banyak menyerap bahasa Perancis namun sangat bercirikan Bahasa Swahili karena memang ada banyak orang yang berasal dari Zanzibar yang kini menjadi bagian dari bangsa Creole di Mauritius.

Bahasa swahili kini digunakan sebagai bahasa pengantar bagi kaum muslim di kawasan Afrika Timur sama seperti bahasa arab yang digunakan sebagai bahasa pengantar diantara negara negara Islam. Salah satu faktornya adalah dikarenakan bahasa swahili begitu banyak menyerap kata kata dari bahasa arab dibandingkan dengan bahasa Inggris yang justru lebih banyak menyerap dari bahasa latin.

Tokoh tokoh muslim Zanzibar

Sh Abdullah Saleh Farsy dikenal luas sebagai seorang penulis puisi, sejarawan dan ilmuwan Islam di Zanzibar. Beliau dikenal dengan kontribusinya terhadap pengetahuan Islam dan merupakan orang pertama yang menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Swahili. 

Tokoh berikutnya adalah Sh. Nassor Bachoo yang dikenal luas sebagai tokoh muslim di kawasan Afrika Timur, khususnya di Tanzania dan Kenya, di Zanzibar sendiri beliau dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. Tokoh muslim lainnya yang cukup dikenal adalah (alm) Sh. Amir Tajir yang merupkan mantan kepala Qadi Zanzibar. Sementara para tokoh Muslim yang tergabung dalam organisasi Uamsho yakni organisasi yang bergerak di bidang mobilisasi dan propaganda umat Islam Zanzibar dikenal luas dengan misinya untuk kemandirian Zanzibar sebagai negara mandiri terpisah dari Republik Persatuan Tanzania.***


Minggu, 16 Oktober 2016

Islam di Mauritius (2)

jemaah sholat jum'at di masjid jummah Port Louis

Menurut sejarawan, kehadiran muslim di Mauritius sudah dimulai sejak tahun 1722. Mereka terdiri dari para seniman, pelaut dan pedagang dari India. Satu data pasti bahwa di tahun 1724 Ali Khan mengeluarkan petisi kepada Gubernur de Nyon (1722-1725) untuk kebebasan istrinya dari perbudakan. Selama periode 1768-89, disebutkan bahwa disana ada 12 muslim india asli yang lahir di pulau Mauritius. Kemudian di tahun 1758 sekelompok pedagang India membentuk koloni dalam menjalankan bisnis mereka di tahun 1758. Keluarga Gassy Sobedar tercatat dalam catatatan resmi sebagai keluarga muslim pertama yang tinggal di Mauritius di tahun 1791. Dan masih di masa kolonial Perancis keluarga keluarga seperti Dina, Goumany dan Sakir telah menetap di Mauritius.

Masjid Masjid di Mauritius

Di Mauritius terdapat banyak masjid baik di pusat kota hingga ke wilayah pedesaan. Dia masjid yang dikenal secara luas adalah Masjid Al-Aqso di di Camp des Lascars sebagai bangunan masjid pertama dan tertua di Mauritius dan Masjid Jummah di pusat kota Port Louis yang merupakan masjid sentral. Konsentrasi muslim tertinggi berada di kota Port Louis selaku ibukota negara, terutama di daerah Plaine Verte, Ward IV, Valle Pitot dan lingkungan Camp Yoloff. Terdapat juga muslim cukup banyak di daerah Plaine Wilhems tertutama di Phoenix.

Kepengurusan masjid di Mauritius, secara hukum diakui oleh negara dan Imam masjid menerima gaji bulanan dari pemerintah. Pernikahan dengan hukum Islam di akui oleh negara, termasuk juga pengakuan pertalian keluarga berdasarkan nazab dari garis Bapak. Para janda dan yatim piatu berhak mendapatkan tunjangan bulanan dari negara. Mereka yang masuk Islam memiliki hak untuk mengganti nama mereka berikut nama keluarganya. Muslim di Mauritius juga mendapatkan kebebasan untuk menunaikan ibadah umroh dan haji ke tanah suci Mekah.

Masjid Al-Aqso

Bangunan pertama yang difungsikan sebagai tempat ibadah muslim di Mauritius adalah Masjid di Camp des Lascars di sekitar tahun 1805. Bangunan tersebut sempat hancur akibat bencana angin topan di tahun 1818. Dalam waktu singkat bangunan tersebut kemudian diperbaiki dan kembali berfungsi dengan baik dengan dana dari para jemaah, salah satu donatur pembangunan kembali masjid tersebut merupakan anggota keluarga Sobedar. Selama beberapa tahun setelah itu yang bertindak sebagai imam masjid tersebut juga dari keluarga Sobedar.

Masjid di Camp des Lascars atau Masjid Al-Aqso

Adalah Haji Sobedar yang kemudian membuat mihrab di masjid Jummah Port Louis pada saat masjid tersebut dibangun tahun 1850, beliau merupakan salah satu tokoh muslim di Camp des Lascars. Beliau wafat pada tanggal 29 April 1881 dan dimakamkan di samping masjid Camp des Lascars yang kini dikenal dengan nama Masjid Al-Aqsha atau Al-Aqso merujuk kepada Kiblat pertama ummat Islam di Al-Quds (Jerusalem), Palestina.

Bangunan masjid ini secara berkelanjutan terus berkembang dibangun dan diperluas disesuaikan dengan kebutuhan jemaah yang semakin meningkat. Kini bangunan masjid ini tidak lagi berupa bangunan kecil sebagaimana dimasa kolonial Perancis di Mauritius, bangunannya sudah diperluas dan di renovasi secara berkala selama beberapa tahun meskipun masih berdiri di lokasi yang sama sejak pertama kali dibangun.

Masjid Jummah Port Louis

Kemudian menyusul masjid Jummah di Port Louis yang dibangun tahun 1850 dan tercatat di kementrian pariwisata Mauritius sebagai salah satu bangunan tempat ibadah terindah di Mauritius. Masjid Jummah Port Louis ini juga merupakan Otoritas Islam yang diakui oleh pemerintah layaknya sebagai masjid nasional yang mewakili kepentingan ummat Islam Mauritius termasuk Dewan urusan Halal serta Lembaga Riset Halal yang konsen terhadap makanan halal serta berwenang menerbitkan sertifikat halal. Artikel lengkap masjid Jummah ini dapat dibaca di posting Masjid Jummah Mauritius.

Masjid Suni di Rose Hill

Masjid Suni di Rose Hill atau Rose Hill Suni Mosque dibangun tahun 1863 untuk memenuhi kebutuhan muslim yang semakin meningkat jumlahnya. Adalah Ismail Jeewa yang membeli sebidang lahan di Remono Street dan kemudian dihibahkan kepada komunitaa Muslim untuk kepentingan pembangunan masjid setelah itu bangunan masjid berdiri disana. Perluasan bangunan masjid dilakukan tahun 1893, 1912 dan 1915.

Salah satu sudut Masjid Jummah Port Louis

Di pergantian abad ke 20, Rose Hill ini seakan berubah menjadi pusat bagi debat masalah agama, debat tersebut dikenal dengan istilah Religious Repartees. Perhelatan tersebut menarik perhatian banyak orang untuk turut menghadiri. Tujuan dari debat tersebut justru merupakan ajang untuk melatih secara sehat untuk membawa masayarakat yang berasal dari beragam agama dan kepercayaan bersama sama secara sosial dan membantu mempromosikan toleransi dan saling pengertian diantara sesama warga negara.

Lembaga Lembaga Islam di Mauritius

Madad-ul-Islam Society atau setingkali disingkat menjadi Madad merupakan lembaga Islam pertama yang dibentuk di Mauritius pada tanggal 22 Januari 1902 bergerak dibidang pendidikan Islam dan merupakan salah satu lembaga nirlaba pertama di Mauritius. Kemudian menyusul dibentuknya Dewan Wakaf pada tahun tahun 1938 dan disahkan menjadi undang undang pada tanggal 25 April 1941, Lembaga wakaf ini menjadi penanggungjawab bagi pendistribusian dana sunsidi dari pemerintah untuk semua masjid di Mauritius sejak tahun 1959.

Ditahun 1959 Prof. Mohammed Hussein Malik mendirikan lembaga yang disebut The Qur’an House yang bergerak dibidang pendidikan dalam upaya meningkatkan standard kehidupan muslim Mauritius. Lemaga ini juga merupakan Gerakan Islam Pertama di Mauritius. Masjid Sayyidah Khadijah Mosque merupakan masjid yang dibangun oleh The Qur’an House sebagai masjid khusus untuk jemaah wanita yang juga dilengkapi dengan perpustakaan Islam.

pemerintah Mauritius telah mendaftarkan Masjid Al-Aqso Mauritius sebagai salah satu warisan budaya dunia UNESCO. Masjid Al-Aqso merupakan masjid pertama yang dibangun di Mauritius dan masih berfungsi dan berkembang hingga hari ini.

Islamic welfare Foundation dibentuk tahun 1969 dengan tujuan untuk membantu pembiayaan bagi pengusaha muslim, pemberian beasiswa, donasi, simpan pinjam, promosi pendidikan Islam, publikasi dan penerbitan majalah dan buku buku Islam. World Islamic Mission Mauritius dibentuk tahun 1975 sebagai bagian dari organisasi Islam yang dibentuk tahun 1972 di Mekah Almukarromah dan berpusat di Bradford, Inggris. Islamic Cultural Centre Mauritius dibentuk Pada tahun 1987 dan akta pendirian nya secara resmi diumumkan pada 15 Desember 1989 dengan tujuan untuk memelihara dan mempromosikan seni dan budaya Islam, menyelenggarakan pendidikan bahasa Arab dan Urdu dan aktivitas keIslaman lainnya, termasuk pengawasan dan penyelenggaraan ibadah haji.

Di tahun 1990 pemerintah Mauritius dibawah pimpinan Perdana Menteri Sir Aneerood Jugnauth, mengajukan perubahan perundang undangan yang memberikan status legal bagi pernikahan muslim dan membantu pembentukan lembaga Muslim Family Council (MFC). Undang undang ini memberikan kewenangan kepada lembaha ini untuk menyelenggarakan, merayakan, mencatat, mengeluarkan dan menyimpan catatan pernikahan sesuai dengan hukum Islam. Lembaga ini merupakan lembaga resmi pemerintah bagi muslim Mauritius.

Lembaga Pendidikan Islam di Mauritius

Darul Ulum atau Rumah Ilmu pengetahuan, merupakan lembaga pendidikan yang mengelola pendidikan resmi berbasis Islam, meski tidak banyak namun ada beberapa sekolah yang dikelola lembaga ini di mauritius yakni Darul Uloum Aleemiah, Darul Uloum Majlis Raza dan Ahmad Raza Khan Academy. Muslim Mauritius juga memiliki Madrasah serta Islamic Cultural College khusus bagi siswa laki laki dibuka tahun 1949 dengan hanya 35 siswa dan kini berkembang hingga 2500 siswa. Selain itu muslim disana juga memiliki lembaga pendidikan yang bernama Madadul Islam, Muslim Girls College, dan lembaga pendidikan yang bernama Doha dibentuk tahun 2003 dan didanai oleh Pemerintah Qatar.

---------------

Baca Juga



Sabtu, 15 Oktober 2016

Islam di Mauritius (1)

Mauritius terletak di Samudera Hindia sekitar 5538.7 km dari Jakarta.

Mauritius merupakan salah satu negara pulau yang terletak di Samudera Hindia, terpisah sekitar 2000km dari lepas pantai tenggara benua afrika atau sekitar 900km sebelah timur pulau Madagaskar. Bila ditarik lurus, jarak dari Indonesia ke Mauritius ini sekitar 5538.7 kilometer dan butuh waktu penerbangan dengan pesawat selama kurang lebih 13 jam. Negara Mauritius ini berbentuk Republik dengan seorang Presiden sebagai kepala Negara dan Seorang Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan. Ibukota negaranya berada di kota Port Louis.

Wilayah negara Mauritius terdiri dari beberapa pulau yang terpisah pisah di samudera Hindia, yakni Pulau Mauritius yang merupakan pulau terbesar, Pulau Rodrigues [560 kilometres sebelah timur, Pulau Agaléga, dan pulau St. Brandon. Mauritius juga mengklaim wilayah kepulauan Chagos yang kini merupakan wilayah seberang lautan Inggris Raya serta pulau Tromlin yang kini merupakan wilayah seberang lautan Prancis. Bila digabungkan seluruh daratan Mauritius ini seluruhnya seluas 2.040 km2 atau sedikit lebih kecil dibandingkan dengan pulau Morotai di kabupaten Kepulauan Morotai, provinsi Maluku Utara yang memiliki luas 2.266km2.


Mauritius dianugerahi alam yang begitu mempesona, salah satu pemandangan alamnya yang mengundang decak kagum dunia adalah pemandangan air terjun bawah laut yang sangat fenomenal, meskipun sebenarnya bukanlah air terjun yang sebenarnya namun karena memang jernihnya air laut disana menghasilkan efek pemandangan yang luar biasa tersebut.

Agama agama di Mauritius

Merujuk kepada data wikipedia agama Hindu memiliki penganut terbesar di Mauritius dengan presentase mencapai 48.5%, disusul dengan penganut agama Nasrani 32.7%, sedangkan Islam berada di urutan ke tiga dengan 17,3%, kemudian Budha 0.4% dan Agama lainnya sebesar 1.1%.

Masyarakat keturunan India (Indo-Mauritian) kebanyakan menganut agama Hindu dan Islam. Kemudian masyarakat keturunan Perancis (Franco-Mauritians), Keturunan Afrika (Creoles) dan Masyarakat keturunan China (Sino-Mauritians) kebanyakan menganut agama Kristen. Sebagian kecil dari Sino-Mauritian ini menganut gama Buda dan agama lainnya termasuk agama Islam. Konstitusi Mauritius tahun 1968 telah mengakui empat katagori agama yakni : Hindu, Muslim, Sino-Mauritian dan Masyarakat Umum.

Senja di kota Port Louis, Ibukota Mauritius

Ada yang menarik tentang kelompok masyarakat Sino-Mauritian ini. Seperti halnya bagian dari kelompok komunitas lainnya di Mauritius, rata rata mereka datang ke Mauritius secara sukarela untuk berdagang dan sebagainya termasuk kelompok pendatang awal dari China, namun ada satu kasus dimana ada orang orang china yang ‘diculik’ dari Pulau Sumatera (Indonesia) tahun 1740 oleh Laksamana Angkatan Laut Perancis, Admiral Charles Hector, untuk dipaksa bekerja di Mauritius. Mereka kemudian melakukan mogok kerja sebagai aksi protes atas penculikan mereka. Beruntung aksi tersebut tidak berujung kematian oleh tindakan kejam dari sang admiral, mereka kemudian semuanya dikembalikan ke pulau Sumatera.

Islam di Mauritius

Masih merujuk kepada data Wikipedia, muslim di Mauritius sekitar 17.3% dari total penduduknya, data tersebut sama dengan data word fact book. Sementara situs muslimpopulation.com dan pewforum.org menampilkan data berdasarkan sensus tahun 2000 menyebutkan angka 16.6% atau setara dengan 214.000 jiwa dari sekitar 1.3 juta jiwa penduduk negara tersebut.

Masjid Jummah di Port Louis

Di Mauritius sangat banyak Masjid dan Madrasah. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Creole (Bahasa Resmi mirip dengan Bahasa Perancis), kemudian Bahasa Perancis, lalu bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Mauritius adalah bekas jajahan Perancis selama 20 th, dan juga Inggris pada tahun 1950. Muslim Mauritius kebanyakan merupakan keturunan India namun kini tumbuh dan berkembang masyarakat umum yang masuk Islam dari kelompok Creole serta dari kelompok Sino Mauritian serta dari masyarakat China. Komunitas muslim yang berasal dari beragam latar belakang ini menghasilkan keanekaragaman budaya muslim disana.

Pemerintah setempat memberikan kebebasan beragama bagi penduduknya dan diatur dalam konstitusi. Idul Fitri telah lama di akui sebagai hari libur nasional sehingga memberikan keleluasaan kepada muslim disana untuk berlebaran. Setiap hari Jum’at muslim disana juga diberi kesempatan untuk melaksanakan sholat jum’at berjamaan meskipun selama jam kerja dan setiap masjid disana bebas menyuarakan azan dari speaker masjid masjid-nya tanpa larangan ataupun keberatan dari komunitas pemeluk agama lain.

Kelompok Jemaah Tabligh cukup memainkan peran di negara ini salah satu aktivitas mereka adalah dengan membangun Salat-ul-Khanah yakni semacam mushola kecil bagi muslim yang tinggal di luar pulau Mauritius ataupun yang tinggal di kawasan non muslim sehingga jumlah mereka hanya sedikit saja. Mushola mushola kecil telah dibangun di daerah Albion, Pointe aux Sables dan Petite Rivière. Kelompok Jemaah Tabligh juga secara rutin melakukan kunjungan dakwah ke berbagai bagian wilayah negara tersebut.

Seorang turis asing mengikuti pengurus masjid masuk ke dalam komplek Masjid Jummah di Port Louis untuk berkunjung.

Beragam model dakwah yang dilakukan di negara ini telah mengundang minat dari masyarakat umum untuk memeluk Islam. Dakwah konvensional hingga street dawah telah dilaksanakan sejak beberapa tahun terahir oleh beberapa kelompok muslim, sebagai bagian dari upaya menyampaikan risalah.

Kelompok kelompok Muslim Mauritius

sebagian besar muslim Mauritius merupakan muslim suni yang terbagi dalam berbagai kelompok seperti Salafi, Sufi, Tawhidis dan Jeamaah Tabligh (JT). Mayoritas bermazhab Hanafi serta sebagian lagi bermazhab Syafe’i. Sebagian kecil muslim disana juga menganut faham Syiah dan Ahmadiyah.

diantara kaum muslimin di Mauritius terdapat tiga kelompok yang dikenal dengan nama kelompok Memon dan Surti yakni kelompok para pedagang kaya yang datang dari daerah Kutch dan Surat provinsi Gujarat, India. Kemudian kelompok Hindi Calcattias merupakan kelompok muslim yang datang ke Mauritius dari provinsi Bihar, India, sebagai para pekerja paksa di masa penjajahan. Sebuah Novel terkenal di Mauritius berjudul Humeirah karya Sabah Carrim, menceritakan tentang kelompok Memons dan Hindi Calcattias yang ada di Mauritius.*** Bersambung ke bagian 2.

---------------

Baca Juga


Minggu, 09 Oktober 2016

Masjid Jummah Port Louis Mauritius

Sentuhan India sangat kentara di ekterior masjid Jummah di kota Port Louis, Mauritius ini. karena memang muslim disana sebagian besar berasal dari India, bahkan para pekerja yang membangun masjid ini, di datangkan langsung dari India.

Mauritius adalah sebuah negara pulau yang terletak di Samudera Hindia sebelah barat daya, berjarak sekitar 900km kea rah timur dari pulau Madagaskar atau sekitar 2000km dari lepas pantai benua Afrika bagian Tenggara. Mauritius terdiri dari Pulau Mauritius sebagai pulau terbesar dan beberapa pulau kecil lainnya yang berdekatan yakni pulau Cargados Carajos, Rodrigues dan Kepulauan Agalega. Pulau Mauritius memilki luas 1.836km2 atau sedikit lebih kecil dibandingkan dengan pulau Morotai di provinsi Maluku Utara yang memiliki luas 2.266km2. Mauritius merupakan negara berbentuk Republik Parlementer dipimpin oleh seorang presiden sebagai kepala negara dan seorang Perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Ibukotanya berada di Port Louis di pulau Mauritius.

Masjid Jummah merupakan masjid utama di kota Port Louis, Ibukota Mauritius. Disebut sebagai masjid Jummah atau Masjid Jum’at karena memang masjid ini merupakan masjid yang digunakan untuk pelaksanaan sholat Jum’at berjemaah. Hampir sama dengan halnya Masjid Jami’ di Indonesia. Tidak semua masjid menyelenggarakan sholat Jum’at selain penyelenggaraan sholat lima wajib lima waktu. Sebelumnya masjid ini dikenal dengan nama Mosquée des Arabes atau Masjidnya orang Arab sebelum kemudian di ubah menjadi Masjid Jummah. Masjid ini pertama kali dibuka pada tanggal 20 Oktober 1852 saat ini dikelola oleh Cutchi Maiman Society.

Seperti kebanyakan masjid masjid yang berada di pusat kota, di depan masjid Jummah Port louis inipun ramai dengan para pedagang yang menjajakan dagangannya.

Masjid Jummah di Port Louis ini telah menjadi salah satu penanda kota tersebut, aspek sejarahnya yang begitu dominan serta arsitektural dan lokasinya yang strategis menjadikan masjid ini salah satu objek kunjungan bagi wisatawan yang berkunjung kesana baik muslim maupun non muslim, untuk sekedar menikmati detil ekterior dan interior masjid ini hingga menikmati bentangan kota Port Louis dari atap masjid. Kunjungan bagi wisatawan umum dibuka setiap waktu kecuali diwaktu sholat dan semua wisatawan diminta untuk berpakaian sopan.

Masjid Jummah bukanlah satu satunya masjid di Port Louis, masjid kedua yang dibangun setelah masjid ini adalah masjid dengan ukuran lebih kecil di daerah yang kemudian dikenal dengan Malabar Town, dengan daya tampung tidak lebih dari seratus jemaah dan berjarak hanya beberapa kilometer dari pusat kota. Kementrian Pariwisata Mauritius bahkan menyebut Masjid Jummah sebagai bangunan tempat ibadah terindah di seluruh negara Mauritius.

The Jummah Mosque Port Louis
Royal Road, A1,Queen St,Port Louis,Mauritius


Dari aspek sejarah, Masjid Jummah Port Louis ini merupakan salah satu bangunan tempat ibadah paling penting dan tertua di Mauritius. Lokasinya berada di ruas jalan Royal Street berdekatan dengan kawasan China Town di jantung kota Port Louis. Sejak dibangun masjid ini telah memainkan peranan vital bagi komunitas muslim Mauritius hingga hari ini.

Keberadaan masjid ini sudah bermula dari tahun 1850, merupakan bagian dari rumah kediaman dari Jama Shah, seorang ulama dari daerah Kutch, India, yang kemudian dibangun menjadi masjid. Makam beliau berbalut batu pualam berada di samping masjid ini. Bangunan masjid ini dibangun dengan perpaduan gaya arsitektur India, Creole dan Seni bina Islam.

Masjid Jummah Port Louis disekitar tahun 1890

Di tahun 1852 sekelompok anggota komunita pedagang di Port Louis terdiri dari Joonus Allarakia, Casseem Hemeem, Joosub Satardeenah, Elias Hamode, Abdoollah Essack, Ab doorahim Allanah, Ismael Ibrahim dan Omar Yacoob, membeli dua properti di Queen Street, Port Louis, dengan total harga senilai Rs 6,800. Proses pembelian tersebut dilaksanakan pada tangga 20 Oktober 1852, dari pembelian tersebut kemudian dibuat ketetapan diantara para muslim bahwa para pengusaha musim telah melakukan pembelian dengan ketetapan sebagai berikut,

... baik sebagian ataupun keseluruhannya, dengan nama mereka sendiri ataupun mewakili keseluruhan jemaah muslim Mauritius yang memberikan mereka kuasa. Pembelian tersebut dinyatakan bahwa sejumlah uang yang digunakan untuk melakukan pembayaran properti tersebut bukan merupakan uang milik mereka secara pribadi namun dari jemaah muslim Mauritius secara keseluruhan. . . .

Dari Halaman tengah Masjid Jummah. 

Periode Masjid Orang Arab

Salah satu gedung dari dua properti yang dibeli sementara waktu digunakan sebagai tempat ibadah selama proses pembangunan masjid berlangsung. Ismael Jeewa yang memimpin para jemaah sebagai imam. Di tahun 1853 sebuah masjid berukuran kecil telah selesai dibangun dan sudah layak untuk digunakan untuk pelaksanaan sholat. Bacosse Sobedar, imam dari masjid Camp des Lascars, yang kemudian menghias mihrab masjid baru tersebut sehingga kemudian selama beberapa tahun masjid tersebut pun dikenal dengan nama Mosquée des Arabes atau masjidnya orang Arab. Bangunan masjid pertama tersebut yang kemudian masyarakat umum secara salah kaprah menyebutnya sebagai masjid orang Arab, mampu menampung 200 orang Jemaah, merupakan bangunan asli dari Masjid Jummah di Port Louis ini.

Periode Masjid Jummah

Seiring dengan semakin meningkatnya populasi muslim di kota Port-Louis, dibutuhkan bangunan masjid yang lebih luas untuk dapat menampung jemaah yang sudah membludak. Sehingga di antara tahun 1857 dan 1877, para pengusaha muslim disana melakukan pembelian terhadap tujuh petak lahan disekitar masjid dengan luas keseluruhan mencapai tiga perempat hektar senilai Rs 134,260 dan kemudian dihibahkan untuk pembangunan masjid.

Interior Masjid Jummah Port Louis, langgam bangunan dinasti Mughal sangat terasa.

Sebagian dari dana pembelian tersebut berasal dari dua sen Rupee yang disisihkan oleh para pengusaha muslim yang melakukan perdagangan gandum dari setiap karung-nya, dana tersebut dikumpulkan dari para pedagang muslim disana selama beberapa tahun. Dan dalam salah satu dokumen pembelian disebutkan dengan tegas bahwa pembelian lahan untuk perluasan masjid Jummah dilakukan oleh keseluruhan komunitas muslim Mauritius. Dan pada ahirnya keseluruhan lahan disekitar masjid menjadi milik masjid Jummah, yang berbatasan langsung dengan empat ruas jalan yang disekitarnya yakni Royal Road, New Little Mountain (kini menjadi Joseph Rivière), Queen and Little Mountain (kini menjadi Jalan Masjid Jummah). 

Proyek perluasan dimulai tahun 1878 dengan pengawasan dari Jackaria Jan Mahomed. Artisans, dipimpin oleh Ishaq Mistry, sedangkan material bangunan dikirim dari India. Namun penyakit yang diderita oleh para pekerja dan kurangnya pasokan bahan bangunan membuat penyelesaian pembangunan masjid tertunda hingga tahun 1895. Proyek perluasan masjid tersebut menempati hampir keseluruhan lahan yang dibeli namun tetap menyisakan sedikit ruang untuk disewakan kepada para pelaku bisnis.

bagian dari properti masjid Jummah.

Sebagian besar penanganan ahir bangunan masjid ini yang berhubungan dengan ke-ahlian khusus untuk pekerjaan finishing interior dan ekterior ditangani oleh para pekerja berpengalaman yang juga didatangkan langsung dari India, maka tidak mengherankan bila pengaruh seni bina bangunan sangat kental di masjid ini. para pekerja dari India tersebut tinggal di lokasi proyek pembangunan selama proses pembangunan berlangsung. Sedangkan untuk biaya transportasi mereka dari India tidak terlalu menjadi masalah karena beberapa anggota panitia pembangunan masjid ini juga merupakan para pemilik kapal yang senantiasa berlayar pulang pergi India-Mauritius dan sebaliknya.

Arsitektur bangunan perluasan masjid ini merupakan paduan pengaruh dari Seni bangunan bangsa Moor (Maroko) dan tentu saja pengarus seni bina bangunan Mughal (india). Bangunan masjid baru dari proyek perluasan tersebut disatukan dengan bangunan masjid lama, keseluruhan ruang masjid lama kini menjadi ruang sholat utama di terangi dengan lampu gantung dari kaca. Sebatang pohon Almond India atau Pohon Badamia yang memang sudah ada sebelum proyek perluasan masjid dilaksanakan dibiarkan berdiri di tengah tengah pelataran masjid ini, yang merupakan bagian dari lahan yang dibeli pertama kali untuk masjid lama di-tahun 1852.

pilar pilar berukuran besar dengan lengkungan beton berukir di bagian selasar menghadap ke halaman tengah dilengkapi dengan bangku bangku panjang bagi jemaah masjid yang sedang berada disana, ataupun bagi para pengunjung lainnya. 

Pengurus Masjid Jummah Mauritius

Imam masjid ini di jabat oleh Muhammad Fakii Ali dari Kenya. Beliau juga menjadi kepala sekolah Madrasah di Masjid Jummah yang salah satu kurikulumnya mengajarkan Hafalan Al-Qur’an. Upacara kelulusan madrasah ini diselenggarakan malam hari disetiap tanggal 27 Ramadhan bertepatan dengan masa masa Laylat al-Qadr. Khatib Masjid dijabat oleh Muhammad Ishaq Qadiri Razvi dari Pakistan.

Dewan pengurus masjid ini dipilih setiap tiga tahun oleh para anggota the Cutchi Maiman Society of Mauritius. Setelah masa bakti tiga tahun diadakan pemilihan ulang atau diperpanjang masa baktinya. Ketua Dewan Pengurus (Mutawalli) saat ini dijabat oleh Nissar Ahmad Ramtoola.***

---------------

Baca Juga