Minggu, 16 Juli 2023

Masjid Candikuning Bedugul Bali

Masjid Besar Al-Hidayah Candikuning atau lebih dikenal sebagai Masjid Candikuning Bedugul di desa Candikuning, kecamatan Baturiti kabupaten Tabanan, dengan komplek Pura Ulun Danu dilatar depan. Hanya di Bali kamu kan menemukan pemandangan seperti ini. [foto: Yon Aidil]
  
Nama resminya adalah Masjid Besar Al-Hidayah namun lebih dikenal sebagai Masjid Candikuning merujuk kepada desa tempatnya berada, di desa yang sama juga terkenal dengan kawasan wisata Bedugul dengan danau Bratan dan Pura Ulun Danu nya. Pura bersejarah yang pernah menghias uang kertas Rp. 50.000 rupiah.
 
Bila Pura Ulun Danu berada di danau Bratan, sehingga bila dilihat dari kejauhan tampak pesonanya yang seolah terapung dipermukaan air danau yang jernih, maka Masjid Candikuning atau masjid besar Al Hidayah justru berada dilereng bukit diseberang jalan dari Danau Bratan.
 
Masjid Besar Al Hidayah
Jalan Denpasar – Singaraja, Desa Candikuning
Kec. Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali 82191
https://goo.gl/maps/jwFrgoPucC6JVzKN6
 

 
Dari Kota Denpasar, Ibukota provinsi Bali, Masjid Besar Al Hidayah ini dapat dicapai dengan kendaraan darat sekitar 3-4 jam perjalanan. Lokasinya yang memang berdekatan dengan Pura Ulun Danu di tepian danau Braran, sehingga disarankan kepada para pengunjung masjid ini untuk memarkir kendaraannya di area parkir objek wisata ulun danu. Lalu berjalan kaki menuju ke masjid.
 
Hal itu mengingat tidak ada area parkir memadai di sekitar gerbang menuju masjid yang lokasinya berada ditepian ruas jalan raya Denpasar – Singaraja, memaksakan parkir disana berpotensi akan mengganggu arus lalu lintas. Lokasi masjid ini dari tempat parkir Ulun Danu memang cukup dekat, Menara masjid ini bahkan sudah terlihat dari area parkir dimaksud.


Masjid Besar Al Hidayah dibangun dilereng bukit, sehingga untuk mencapai masjid ini dari jalan raya, harus melewati jejeran anak tangga dimulai dari gerbang hingga ke pelataran masjid. Sesampai dipelataran masjid, pengunjung akan langsung disuguhi dengan pemandangan bentang alam Bedugul yang menawan.
 
Masjid Besar Al-Hidayah Candikuning atau Masjid Candikuning Bedugul [raw photo: Rashmi Vadia]
 
Sepanjang jalan dari tempat parkir Ulun Danu hingga ke Masjid Besar Al Hidayah, terdapat jejeran kios kios yang menawarkan berbagai souvenir menarik khas Bali yang bernuansa Islami, seperti mukena, sarung khas Bali, sejadah khas Bali, buku-buku dan berbagai souvenir lain-nya yang tak ditemukan di objek wisata lainnya.
 
Arsitektur Masjid Besar Al Hidayah
 
Masjid Besar Al Hidayah terdiri satu bangunan utama dua lantai ditambah dengan dua Menara kembar mengapit bangunan masjid disisi kiri dan kanan. Balutan warna kuning menjadi ciri khas warna masjid ini. Satu kubah tunggal diatap masjid dan masing masing menara juga dilengkapi dengan kubah bewarna biru senada dengan warna kubah masjid.
 
Ornamen ukiran berwana emas begitu mencolok di fasad depan masjid, menjadi ciri khas utama masjid ini, sentuhan seni ukir Bali sangat terasa di bagian beranda, jendela, pintu hingga ke interior masjid, semua ukiran-nya bertema floral untuk menyesuaikan nya dengan syariat Islam.
 
Masjid Candikuning dari arah Jalan Raya Denpasar - Singaraja, tampak gerbang dan jejeran anak tangga akses menuju ke masjid dari jalan raya. [foto: mukawijaya muhammad]
 
Pelataran (halaman) masjid ini cukup luas, seluruhnya sudah ditutup dengan tegel, ada beberapa gazebo disana yang dapat digunakan pengunjung untuk duduk duduk santai. Tersedia tempat wudhu di luar ruang di dekat tangga masjid. Tempat wudhu utama ada didalam bangunan dan terpisah tempat wudhu pria dan Wanita. Karena faktor alamnya, jangan kaget bila air wudhu di masjid ini terasa cukup dingin.
 
Ruangan dalam masjid terdiri dari dua lantai, lantai dasar digunakan sehari hari dengan penyekat antara Jemaah pria dan Wanita. Mihrab dan mimbar berada di lantai dasar. Masjid ini juga memiliki sebuah beduk yang ditempatkan didekat pintu utama.
 
Pengurus masjid juga menyediakan sarung dan mukena yang dapat digunakan oleh pengunjung yang membututuhkan saat akan menunaikan sholat disana. Namun jangan lupa untuk dirapi-kan dan dikembalikan ke tempatnya semula ya setelah selesai digunakan.
 
Masjid Candikuning tampak megah diketinggian bukit [foto: Ralph W. Sonntag]
 
Masjid Besar Al Hidayah Bedugul selain mengelola pondok pesantren, sekolah madrasah hingga ke jenjang Aliyah, juga mengelola agrowisata Strawberry dan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) yang cukup populer sebagai lokasi edukasi pertanian bagi siswa siswa berbagai sekolah di Bali.
 
Sejarah Masjid Al-Hidayah Bedugul
 
Cukup menarik bahwa disekitar Kawasan Bedugul ini terdapat kampung kampung komunitas muslim, Kampung Candi Kuning tempat masjid ini berada adalah salah satunya dengan jumlah warga muslimnya diperkirakan mencapai 3000-an orang.
 
Mereka berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang sudah menjadi warga disana sejak masa kerajaan Gelgel, mengingat bahwa wilayah Lombok dimasa lalu pernah menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Gelgel sebelum kemudian menjadi wilayah kerajaan Karangasem sebagai pecahan dari Kerajaan Gelgel.

Masjid Candikuning dari masa ke masa.
 
Masjid Al-Hidayah Bedugul dibangun sejak 1927, berdiri di atas tanah wakaf dari Kumpi Awal dan Kumpi Nurdinah, ikrar wakaf dilakukan dihadapan Guru Alimun, seorang pemuka Muslim setempat kala itu. Semula, bangunan masjid-nya sangat sederhana. Ukurannya sekitar 5x5 meter persegi. Karena itu, kebanyakan orang menyebutnya Langgar Candikuning. Sejak dibangun, tidak hanya difungsikan sebagai tempat shalat berjamaah, tetapi juga sarana pendidikan Islam, khususnya bagi anak-anak dan pemuda.
 
Langgar Candikuning pertama kali direnovasi ditahun 1948 seiring dengan kian bertambahnya muslim disana. Peletakan batu pertama pembangunananya dilakukan oleh Guru Nuruddin Keramat Sindu dari Karangasem. Proses pembangunannya dilakukan secara bergotong royong oleh masyarakat setempat.
 
Renovasi selanjutnya dilakukan ditahun 1978, menyusul kemudian tiga kali perbaikan skala kecil dilakukan agar mampu menampung jamaah yang semakin bertambah. Yayasan Sosial al-Hidayah kemudian dibentuk oleh para tokoh pemuda yang salah satu tujuannya untuk menggalang dana dari para donatur yang hendak mewujudkan renovasi besar-besaran masjid tersebut.
 
Masjid Candikuning [foto: republika]

Dari sekian banyak penyumbang, terdapat nama presiden
Suharto yang memberikan sumbangan sebesar Rp 7 juta rupiah kepada yayasan ini. Hingga akhirnya, terwujudlah masjid yang lebih megah dan bernama Masjid Besar al-Hidayah. Adapun bangunan masjid Besar Al-Hidayah yang tampak saat ini merupakan hasil renovasi pada tahun 2009.
 
Kerukunan Yang Mengagumkan
 
Satu hal yang patut dicatat dalam perjalanan panjang Masjid Besar Al-Hidayah Bedugul ini adalah begitu kuatnya kerukunan antara Muslim dan Hindu di Bedugul khususnya dan Bali pada Umumnya. Pembangunan masjid ini merupakan kolaborasi antara umat Islam dengan Hindu. Sebagaimana dituturkan oleh Takmir masjid, ornamen-ornamen atau ukiran di sisi luar masjid ini dibuat oleh para pengrajin Hindu, takmir yang memberi khat Arabnya untuk diukir.
 
Muslim di Candikuning berada di tengah mayoritas Hindu, namun komunitas Muslim selalu hidup damai dan rukun bersama ummat Hindu. Masing-masing umat memang menjunjung tinggi semangat toleransi dan kebersamaan. Di Bali, terdapat istilah nyama beraya yang merujuk pada ikhtiar menjaga keharmonisan masyarakat. Secara harfiah, terminologi itu berarti ‘saudara semua'.
 
Interior Masjid Candikuning.

Sebagai contoh sederhana, pada
tiap perayaan Maulid Nabi pihak takmir Masjid Besar al-Hidayah selalu mengundang ummat Hindu untuk makan bersama dan sebagainya. Contoh lainnya diketahui bahwa di kampung tersebut juga dikenal luas terdapat dua makam kuno yang dipercaya masyarakat setempat sebagai makam tokoh Islam di masa lalu.
 
Di puncak pegunungan, terdapat makam Syekh Hasan dan di bagian lereng terdapat makam kuno Syekh Husein.  Kedua makam tokoh Muslim tersebut, tidak hanya dirawat dan dihormati umat Islam saja. Tapi juga oleh umat Hindu di wilayah itu. Di desa tersebut, juga terdapat makam ulama besar, Habib Umar bin Yusuf al-Magribi. Tokoh tersebut dikenal luas sebagai salah satu wali pitu, perintis dakwah Islam di Pulau Dewata.***
 
Rujukan
 
https://bali.jpnn.com/destinasi/18761/masjid-al-hidayah-candikuning-rujukan-wisatawan-saat-berlibur-ke-bedugul?page=2
https://www.republika.id/posts/34294/masjid-besar-al-hidayah-cermin-toleransi-di-pulau-dewata
http://www.balimuslim.com/tabanan-area/masjid-besar-al-hidayah-bedugul
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/15/06/02/npb77o-indahnya-masjid-candi-kuning-bedugul-habis
http://bundakheiza.com/blog/masjid-al-hidayah-bedugul

Sabtu, 15 Juli 2023

Masjid Agung Ufa, Masjid Tertua di Russia

Masjid Agung Ufa / Tukayev Mosque / First Cathedral Mosque of Ufa [foto: Oleg Menkov].
 
Masjid Agung Ufa atau The Old Mosque of Ufa atau First Cathedral Mosque of Ufa atau dalam Bahasa Russia ditulis Первая cоборная мечеть г. Уфы atau lebih dikenal dengan nama Tukayev Mosque adalah masjid agung pertama di kota Ufa Republik Bashkortostan, sekaligus masjid pertama dan tertua di Republik Federasi Russia.
 
Disebut sebagai The First Cathedral Mosque atau The Old Ufa Mosque karena saat ini kota Ufa sedang dibangun Masjid Agung Baru sejak tahun 2007 lalu namun masih belum selesai seratus persen meskipun bentuk megahnya telah mulai menghias wajah kota Ufa sejak beberapa tahun lalu.
 
First cathedral mosque of Ufa
Первая cоборная мечеть г. Уфы
Ulitsa Tukayeva, 52, Ufa, Republic of Bashkortostan, Russia, 450057
https://goo.gl/maps/HhxThhRwWVKHmiaY6
 

Sebagaimana dijelaskan di plakat yang dipaang di tembok masjid, nama resmi masjid ini adalah Masjid Abdul Qadir Al Jilani dan telah ditetapkan oleh Pemerintah Federal Russia sebagai masjid Agung (Chatedral Mosque) pertama bagi Dewan Spiritual Muslim Russia yang dibangun diabad ke 19 dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional.
 
Dibangun tahun 1830 atas inisiatif dari Gabdesallam Gabdrakhimov (1765-1840) yang merupakan pejabat Mufti kedua Dewan Spiritual Muslim Orenburg. Madrasah di lingkungan masjid ini dibuka tahun 1887.
 
Selain sebagai masjid pertama di Ufa, masjid ini juga menjadi masjid satu satunya disana yang tetap aktif dari tahun 1960 hingga tahun 1994. Sejarah menyedihkan menimpa imam masjid ini, Cihangir Abızgildin yang ditangkap kemudian di eksekusi oleh NKVD ditahun 1937.

Masjid Agung Ufa / Tukayev Mosque / First Cathedral Mosque of Ufa, disebelah kiri merupakan kantor Dewan Spriritual Muslim Russia. [foto: Николай Рубцов]
 
Saat dibangun tahun 1880 jalan di depan nama jalan didepan masjid ini masih disebut sebagai Jalan Frolovskaya, namun kemudian berubah nama menjadi jalan Tukayev merujuk kepada nama lingkungan disana, begitu halnya dengan nama masjid ini yang lebih dikenal sebagai Masjid Tukayev.
 
Arsitektural Masjid Agung Ufa
 
Seni bina bangunan gaya Tatar sangat kental pada bangunan masjid ini, bangunan beton megah tinggi besar seperti bangunan kastil, dengan balutan warna putih dipadu padan dengan balutan warna hijau tua mendominasi bangunannya, Menaranya tidak dibangun sebagai bangunan terpisah namun ditempatkan dibagian atap masjid.

Masjid Agung Ufa / Tukayev Mosque / First Cathedral Mosque of Ufa di musim dingin yang membeku [foto: Regina Nurg].
 
Dari kejauhan bangunan masjid ini sekilas memang tampak seperti bangunan istana negeri dongeng, lambang bulan sabit di ujung Menara dan kubahnya yang menjadi ciri utama bangunan ini adalah masjid. Menaranya tunggalnya bersegi delapan, kubah besarnya bersegi enambelas mendominasi atap bangunan utama masjid.
 
Beranda bergaya bangunan eropa dengan sepasang pilar beton dan empat anak tangga menjadi akses utama ke ruangan masjid. Pintu masjid dibuat dari kayu berukir khas muslim Tatar, dengan dua baris jendela persegi tidak terlalu lebar pada tembok tembok masjid yang cukup tebal untuk mengantisifasi suhu rendah di musim dingin.

Mihrab dan mimbar Masjid Agung Ufa [foto: Lunghelis “Owl” Berkus]

Interior masjid ini terkesan hangat dengan tembok tembok tebal dan bukaan jendela yang tidak terlalu lebar dan seluruh langit langitnya di plafon. Ruang sholat masjid ini terpisah antara ruang sholat utama khusus untuk Jemaah laki laki sedangkan Jemaah perempuan ditempatkan diruangan disisi belakang yang terhuhung langsung ke ruang utama.
 
Mihrab masjid ini dibangun menjorok keluar Gedung dilengkapi dengan jendela kaca, tidak ada ukiran atau ornamen di ruang mihrab kecuali sebuah bendera hijau dengan lafadz tauhid, mikropon dan tiangnya serta satu tanaman dalam pot. Mimbarnya dibuat sederhana dari bahan kayu berupa empat undakan anak tangga tanpa podium dan tanpa ornamen atap atau ornamen hias lainnya.

Presiden Russia Vladimir Putin di Masjid Agung Ufa [foto: en.kremlin.ru]
 
Pemakaman Muslim
 
Didalam komplek masjid ini juga terdapat pemakaman muslim, tempat bermakamnya para tokoh tokoh muslim Ufa dan Bashkortostan, salah satunya adalah Muhammad yar Sultanov, beliau merupakan Mufti Orenburg yang ditetapkan melalui dekrit Tsar Russia tahun 1886. Beliau wafat pada 12 Juli 1915 dan dimakamkan di pemakaman muslim di komplek masjid ini.
 
Kantor Dewan Spiritual Muslim Russia
 
Dilingkungan masjid ini juga berdiri kantor Dewan Spiritual Muslim Russia dan madrasah. Masjid agung tua kota Ufa dimasa kini tidak saja menjadi pusat ke-Islaman muslim disana tapi juga menjadi salah satu destinasi wisata populer di wilayah tersebut.

Perangko Masjid Agung Ufa
[foto: Wikipedia]
Kunjungan Vladimir Putin
 
Pada 24 Januari 2018 Presiden Republik Federasi Russia Vladimir Putin berkunjung ke Masjid Agung Ufa untuk bertemu dengan ketua Dewan Spiritual Muslim Rusia sekaligus Ketua Dewan Mufti Russia – Talgat Tadzuddin – yang berkantor di lingkungan masjid ini.
 
Dalam pertemuan tersebut, Vladimir Putin dan Mufti Talgat Tadzuddin mendiskusikan prospek perkembangan Pendidikan Islam di Russia Bersama dengan presiden Republik Bashkortostan ‘Rustem Khamitov’, Utusan Berkuasa Penuh Presiden untuk Distrik Federal Volga ‘Mikhail Babich’.***
 
Rujukan
 
https://bolgar.academy/en/muhammad-yar-sultanov/
http://www.en.kremlin.ru/events/president/news/56701
https://en.wikipedia.org/wiki/Old_Mosque,_Ufa
 

Minggu, 09 Juli 2023

Mesquita da Luz atau Masjid El Nur Rio de Jeneiro

 
Masjid El Nur atau Mesquita da Luz Masjid pertama dan masih satu satunya di kota Rio de Jeneiro, Brazil [foto: Fayez El Baset].

Masjid El Nur atau dalam Bahasa setempat disebut Mesquita da Luz (Masjid Al Nur) atau kadang kala juga disebut sebagai Tijuca Mosque atau Masjid Tijuca merujuk kepada komplek perumahan tempatnya berdiri, adalah masjid satu satunya di kota Rio de Jeneiro Brazil. Masjid ini dikelola oleh Sociedade Beneficente Muculmana Rio de Jeneiro - SBMRJ atau lebih mudah disebut sebagai Komunitas muslim Rio de Jeneiro. Organisasi resmi muslim suni di Rio de Jeneiro yang dibentuk tahun 1951.
 
Perkembangan cukup menarik bagi komunitas muslim di Rio de Janeiro, 80% dari komunitas muslim disana justru bukan dari Etnis Arab atau keturunannya tapi berasal dari beragam latar belakang, dibandingkan dengan organisasi Islam di bagian lain negara tersebut. Karenanya komunitas muslim di Rio de Janeiro tidak bertendensi untuk menonjolkan identitas Arabia dalam kehidupan beragama keseharian mereka. Mereka tumbuh dengan latar belakang yang berbeda beda dan menemukan Islam dalam proses mereka sendiri.
 
Masjid El Nur (Mesquita da Luz)
R. Gonzaga Bastos, 77 - Vila Isabel, Rio de Janeiro - RJ, 20511-090, Brasil
 

 
Masjid yang mereka miliki awalnya berupa sebuah ruangan mushola di pusat kota Rio dan pengurus dan pengelolanya kebanyakan adalah muslim mualaf asli Brazil. Sampai kemudian di tahun 2006 mereka mulai membangun bangunan yang benar benar berupa sebuah masjid di komplek perumahan Tijuca.
 
Dari Mushola Kecil ke Masjid Sebenarnya
 
Pada mulanya para pengurus komunitas muslim Rio de Jeneiro menyewa dua ruangan di Gedung komersil yang kemudian dijadikan musholla bagi beberapa orang muslim arab dan saat itu belum ada muslim pribumi yang menjadi bagiannya dan juga belum ada upaya untuk mengajak mereka ber-Islam. Namun kemudian manakala Jemaah keturunan sudah mulai berkembang musholla itu menjadi tempat sholat yang ramai Jemaah terutama pada sholat jum’at dan idul fitri.

Mesquita da Luz atau Masjid El Nur di Rio de Jeneiro saat dalam proses pembangunan.

Perubahan terjadi di tahun 1990-an, Ketika kelompok muslim arab mulai menggagas syiar Islam kepada pribumi dengan pemahaman bahwa menyebarkan Islam (dakwah) adalah “kewajiban agama” maka pada tahun 1993 pimpinan komunitas muslim Rio de Jeneiro memutuskan bahwa upaya dakwah harus dilakukan terhadap orang Brasil, dan mulailah diselenggarakan kursus pengenalan Islam dan bahasa Arab.
 
Sikap ini jelas bertolak belakang dengan posisi yang dianut oleh kepemimpinan Muslim di São Paulo, yang upayanya tetap fokus pada mereka yang telah beragama Islam sejak lahir. Seiring berjalannya waktu, upaya pimpinan komunitas muslim Rio de Jeneiro mulai membuahkan hasil. Komunitas Islam Rio tumbuh sedemikian rupa sehingga pada tahun 2000, musholla di ruang sewaan itu telah benar benar kekecilan bagi mereka yang menghadiri Sholat Jumat.

Mesquita da Luz atau Masjid El Nur di Rio de Jeneiro [foto: Leonardo Carvalho]
 
Marcelo, salah satu pemuda muslim asli Brazil kemudian mengajukan gagasan kepada pimpinan komunitas muslim terkait sudah begitu mendesaknya kebutuhan untuk membangun masjid seiring dengan perubahan kondisi sosial yang telah terjadi. Anggota Komunitas bertambah banyak dan kapasitas musholla sudah tidak lagi memadai.
 
Pada hari Jumat, penyelenggaraan sholat jum’at dilakukan dua kali karena ruangan yang tidak cukup untuk menampung seluruh Jemaah sekaligus. Selain itu lokasi mushola dirasa sudah tidak tepat, lingkungannya sudah berubah sejak tahun 1951 hingga tahun 2000 dimana di lingkungan itu mulai marak dengan prostitusi dan kurang aman. Sejak itu pengurus Komunitas muslim mulai berupaya mencari sumber daya dari luar untuk membantu pembangunan masjid dan memilih lokasi yang cocok.
 
Pengurus ahirnya menemukan lokasi yang cocok didalam lingkungan perumahan Tijuca, dengan dana yang sudah dimiliki, bangunan yang di incar untuk diubah menjadi masjid dibeli tahun 2006 dan proyek pengerjaan masjid dimulai tahun 2007.

Mihrab & mimbar Mesquita da Luz / Masjid El Nur di Rio de Jeneiro [foto: msk snp]

 
Sebenarnya Rio de Jeneiro sudah pernah memiliki masjid sejak tahun 1980-an di lingkungan Jacarepagua namun kemudian ditutup sebagai buntut dari perselisihan antara kepemimpinan komunitas muslim dan kontraktor pembangun masjid tersebut.
Sholat Jum’at di Masjid Rio de Jeneiro
 
Suasana Masjid El Nur Rio de Jeneiro
 
Jurnalis Indonesia yang sempat berkunjung ke Masjid Rio de Jeneiro saat penyelenggaraan piala dunia FIFA 2014 menyebutkan bahwa khutbah Jum’at dimasjid ini berdurasi sekitar 40 menit (sedikit lebih panjang dibandingkand engan di Indonesia yang rata rata hanya 30 menit). Tidak ada alunan ayat-ayat suci Al Quran seperti yang selalu diperdengarkan di masjid-masjid di Indonesia sebelum azan shalat Jumat. Volume azan berikut materi khotbahnya juga dirancang hanya untuk didengar di dalam masjid.
 
Interior Mesquita da Luz di Rio de Jeneiro [foto: Ahmed Sami]

Seusai menunaikan shalat Jumat, jemaah diundang menikmati makan siang di kompleks Mesquita da Luz. Mereka juga dipersilakan mengambil beberapa buku referensi Islam yang dibagikan gratis. Selama bulan puasa masjid ini menyelenggarakan buka puasa Bersama bagi semua Jemaah yang hadir.
 
Media lokal setempat melaporkan bahwa Jemaah sholat jumat di masjid El Nur ini sekitar 50 orang dari berbagai latar bangsa termasuk dari Maroko, India, Pakistan, Mesir an lainnya serta muslim pribumi. Selain sebagai pusat peribadatan, Masjid El Nur juga menjadi pusat learning & sharing bagi para mualaf setempat.
 
Kehadiran Masjid El Nur di Rio de Jeneiro ini tidak saja menjadi tumpuan aktivits ke-Islaman bagi sekitar 500 keluarga muslim disana namun juga menjadi semacam pusat komunitas untuk melepas kerinduan pada kampung halaman dan mengusir rasa sepi jauh dari saudara dan sanak keluarga bagi para muslim perantau disana termasuk para pekerja dan mahasiswa asing.
 
Rujukan
 
https://bola.kompas.com/read/2014/06/29/1616448/Masjid.di.Rio.de.Janeiro.
http://globalprayers.info/about-us/fellows/amanda-dias/islamic-presence-in-brazil-and-rio-de-janeiro/
https://www.riotimesonline.com/brazil-news/rio-entertainment/rio-muslims-prepare-for-eid-at-tijuca-mosque/ di akses 24 Maret 2019
http://www.worldhalalquest.com/2012/01/rio-pray-mesquita-da-luz.html dialses 19 Maret 2013

Sabtu, 08 Juli 2023

Islam & Masjid di Guatemala

Lokasi Negara Guatemala di Amerika Tengah.

Guatemala adalah negara di kawasan Karibia, benua Amerika bagian tengah, berbatasan langsung dengan Mexico di Utara dan barat, Belize di sebelah timur, serta Honduras dan El Salvador disebelah selatan. Meski berada di kawasan Karibia hanya sebagian kecil dari wilayah timur negara ini yang menghadap ke laut Karibia.
 
Sedangkan pantai baratnya yang luas menghadap ke Samudera Pasifik, membuat daratan negara ini berada diantara dua lautan. Guatemala beribukota di Guatemala City. Pemerintah Republik Indonesia tidak memiliki kantor perwakilan di Guatemala, Hubungan diplomatik kedua negara ditangani KBRI Mexico yang berkedudukan di Mexico City.
 
Masjid Dakwah Islamiah atau Mezquita Al Daawa Islamica [foto: Macocoro Nyto]

Muslim Guatemala merupakan minoritas di Guatemala, jumlah mereka lebih kurang hanya 1,200 jiwa ditahun 2001. 95% muslim negara ini merupakan para pendatang dari Palestina. Muslim disana memiliki sebuah masjid di pinggiran Guatemala City bernama Masjid Dakwah Islamiah Guatemala atau dalam bahasa Sepanyol disebut Mezquita de Aldawaa Islámica yang menyelenggarakan sholat lima waktu berjamaah setiap hari serta menyelenggarakan kelas kajian Islam.
 
Masjid ini mulai beroperasi sekitar tahun 1996. Masjid ini juga memiliki perpustakaan Islam, ruang sholatnya mampu menampung sekitar 100 orang jemaah, dan bahasa pengantar yang digunakan menggunakan bahasa Spanyol. Masjid Al-Da’wah Islam ini dipimpin oleh imam Jamal Mubarak.

Masjid Baitul Awwal milik komunitas Ahmadiah Guatemala [foto: Jamal Zia]

Masjid lainnya bernama Mezquita Baitul Awwal (1989) milik Komunitas Islam Ahmadiah. (Asociacion Musulmana Ahmadia) Komunitas Ahmadiah memiliki rekam jejak dalam proses pengenalan Islam di Guatemala termasuk pengenalan Islam di daerah pelosok.
 
Selain dua Lembaga tersebut, masih ada beberapa Lembaga lainnya yang turut menyemarakkan syiar Islam di Guatemala, meski rata rata beroperasi dari ruang ruang kecil di Gedung Gedung komersil yang juga berfungsi sebagai mushola. Berikut ini beberapa Lembaga tersebut.

Masjid Alfath menempati sebuah bangunan komersil di Guatemala city [foto: Viajero Alegre]
 
Mezquita de aldawaa islamica
4a calle 7-77 zona 9, Guatemala city, 01009, Guatemala
https://goo.gl/maps/itKS5PV6kRi32fYG8
Email: mezquita.aldawa@gmail.com
situs web: www.mezquitaguatemala.es.tl
akun facebook: http://www.facebook.com/mezquitaguatemala
Lokasi: http://mezquitaguatemala.es.tl/Galer%EDa---/pic-2.htm
 
Mezquita Baitul Awal
Asociacion Musulmana Ahmadia
Km 20.3, Pan-American Highway, Cdad. de Guatemala, Guatemala
Lokasi: https://goo.gl/maps/vjWz2BWCmvUfFTuu9
 
Musholla yang dikelola _Centro Cultural Islamico De Guatemala. [foto: Luis Guzman]
 
Centro Islámico para Asuntos de la Mujer
Segunda Calle 17-46 Zona 15 Colonia El Maestro Cdad. de Guatemala, Guatemala
situs resmi: https://centroislamicoparaasuntosdelamujer.webs.com/
Facebook: www.facebook.com/centroislamicomujer
Twitter: www.twitter.com/centroislamico3
Saluran Video: www.youtube.com/centroislamicomujer
Surel: centroislamicoparalamujer@gmail.com
Telepon: (502) 55444269 - (502) 2369 6694
 
Centro Cultural Islamico De Guatemala
Muebles Excelencia, 12 2, Diag. 6 13-08, Cdad. de Guatemala 01001, Guatemala
Lokasi: https://goo.gl/maps/ga6Ks5rsfyaWrMEo9
 
Mezquita Al-Fath
Av. Independencia 12-65, Cdad. de Guatemala, Guatemala
Lokasi: https://goo.gl/maps/YenjkD8sLFKEAsa37
 
Rujukan
 
https://mezquitaguatemala.es.tl/Mezquita-Aldawa.htm
https://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Guatemala
https://www.state.gov/reports/2019-report-on-international-religious-freedom/guatemala/

 

Minggu, 02 Juli 2023

Masjid Managua Masjid Pertama di Nikaragua

Mezquita de Managua atau Masjid Managua, masjid pertama dan satu satunya di Nikaragua.
 
Masjid Managua atau dalam Bahasa setempat disebut Mezquita de Managua merupakan masjid pertama di Kota Managua sekaligus menjadi masjid pertama dan satu satunya di Republik Nikaragua. Selesai dibangun pada bulan September 2009 menjadi pusat aktivitas ke-Islaman bagi sekitar 500-an muslim di Managua.
 
Menurut Fahmi Hassan, Presiden Komunitas Muslim Nikagaragua (Asociación Cultural Nicaragüense-Islámica), Muslim Nicaragua terdiri dari muslim migran Arab yang hijrah dari wilayah Palestina dan Libanon, serta semakin banyak orang pribumi yang masuk Islam. Fahmi Hassan berasal dari Palestina, pengusaha tekstil terkemuka di Managua. Menurut statistik 2007 yang dikeluarkan oleh Kementrian Luar Negeri A.S. muslim di Nicaragua, ada sekitar 1,200 hingga 1,500 jiwa, mayoritas adalah muslim suni.
 
Mezquita de Managua
Pista Suburbana, Managua 14038, Nicaragua
https://goo.gl/maps/t1gGrYUnvGBh4C1X9
 

 
Masjid Managua dibuka pada September tahun 1999, dibangun di atas lahan seluas tiga ribu meter persegi di daerah San Juan (Cuidad Jardin) dengan kapasitas hampir seribu orang. Masjid ini dilengkapi perpustakaan, kantor pengurus, taman kanak kanak & sekolah Islam serta tempat tinggal untuk imam. Secara rutin Masjid Managua juga menerbitkan artikel artikel Islam dalam bahasa Sepanyol.
 
Bangunan masjidnya berlantai dua, benar benar bangunan masjid sebenarnya, terdiri dari dua lantai dilengkapi dengan kubah besar bewarna kuning kermasan dengan ornamen bulan sabit dipuncak tertingginya. Satu Menara tinggi menjulang juga dibangun disamping masjid menjadi pelengkap identitasnya sebagai sebuah masjid.
 
Sebelumnya muslim di pusat kota Managua menggunakan sebuah ruangan sempit sebagai musholla, lokasinya tak jauh dari jejeran toko toko tekstil yang dikelola oleh para pengusaha muslim di kota Managua.
 

Masjid Managua [foto: Ivo Schmets]


Rumor dibalik berdirinya masjid di Managua
 
Pada awal berdirinya Masjid di Managua tak pelak memunculkan berbagai rumor, mengingat muslim di Nikaragua secara keseluruhan masih sangat sedikit namun tiba tiba berdiri sebuah masjid berukuran besar di ibukota negara, tak pelak menjadi tanda tanya besar baik dari masyarakat umum maupun dari berbagai media di-negara tersebut, yang menyebut nya sebagai sebuah misteri.
 
Rumor pun langsung mengarah kepada presiden Iran (saat itu) Mahmud Ahmadinejad yang seorang muslim dan Presiden Nikaragua Daniel Ortega yang Katholik namun beraliran kiri. Konon mereka memiliki kedekatan karena kesamaan pandangan revolusi. Iran memang menjalin hubungan cukup erat dengan Nikaragua dan mengucurkan berbagai paket bantuan pembangunan bagi negara itu. Karenanya pembangunan masjid ini pun langsung mengarah kepada Iran sebagai penyandang dananyanya, yang disebut sebut menghabiskan dana tak kurang dari $600.000 dolar.
 
Lalu darimana dana untuk pembangunan masjid tersebut
 
Tuduhan itu dibantah oleh Fahmi Hassan, presiden komunitas muslim Nikaragua (ACNI) yang mengatakan bahwa pembangunan masjid tersebut didanai oleh Yusuf Amdani, seorang pengusaha muslim kelahiran Pakistan yang tinggal di Honduras dan juga menjalankan bisnis nya di Nikaragua.
 
Interior Masjid Managua [foto: Franklin González]

Dalam salah satu kunjungannya ke Managua dan sholat di Mushola sempit milik muslim Managua, Yusuf Amdani menawarkan bantuan untuk membangun sebuah masjid bagi muslim Nikaragua. Beberapa tahun sebelumnya muslim Nikaragua memang sudah membeli sebidang tanah untuk keperluan membangun masjid.
 
Yusuf Amdani kemudian menyumbang $350.000 dolar untuk pembangunan masjid tersebut dan sisanya dari dana Komunitas Muslim Nikaragua. Awak media yang penasaran dengan penjelasan dari Fahmi Hasan kemudian melacak sendiri siapa Yusuf Amdani, dan beliau nyatanya memang seorang pengusaha muslim pemilik grup usaha Grupo Karim bergerak dibidang tekstil dan konstruksi berbasis di Honduras dan Meksiko.
 
Melalui sambungan telepon Yusuf Amdani menjelaskan kepada awak media yang menghubunginya, bahwa tidak ada misteri sama sekali terkait pembangunan masjid di Managua. Beliau membenarkan bahwa perusahannya memang membantu pembangunan masjid satu satunya di Honduras dan juga membantu pembangunan ‘tempat sholat baru’ bagi muslim Nikaragua dengan tujuan memberi mereka ruang yang lebih besar.
 
Interior Masjid Mangua, terlihat ruang utama dan lantai dua-nya [foto Rafael Barajas].

Namun beliau tidak tahu menahu tentang dana untuk pembangunan fasilitas lain yang terhubung dengan masjid tersebut. Bangunan yang dimaksud terdiri dari Gedung sekolah dan tempat tinggal imam. Keterangan lebih lanjut diberikan oleh bendahara komunitas muslim Nikaragua, Ismat Khatib yang juga merupakan pengacara dan pengusaha terkenal di Nikaragua bahwa bangunan tambahan yang dimaksud seluruhnya didanai oleh pihak keluarganya.
 
Semenatara Jose Ocon selaku kontraktor yang ditunjuk oleh Yusuf Amdani untuk membangun masjid Managua mengatakan bahwa ia mengeluarkan dananya sendiri sebesar $15.000 dolar untuk mengkomodir perubahan mendadak yang diinginkan oleh komunitas muslim Nikaragua untuk menambah ketinggian kubah dan menambah jumlah jendela masjid tersebut, meski kemudian Yusuf Amdani menyatakan bahwa dia konsen dengan masalah tersebut.
 
Dalam penjelasannya Fahmi Hassan menambahkan bahwa tidak mungkin Iran membantu pembiayaan pemabangunan masjid tersebut karena sebelumnya pihak kedutaan Iran di Managua bahkan sempat marah saat ia mendirikan organisasi Islam Suni di Nikaragua karena nama organisasinya yang mirip mirip dengan organisasi yang didirikan oleh komunitas muslim syi’ah disana. Dan juga secara akidah Suni dan Syi’ah memang memiliki perbedaan pemahaman sangat mendasar sejak awal sejarah Islam.***
 
Rujukan
 
http://www.wsj.com/articles/SB125772737927737439
www.suaramedia.com
http://www.dallasblog.com/200911111005644/dallas-blog/new-mosque-in-nicaragua-sparks-gossip.html
http://www.islamonline.net/servlet/S...News/NWELayout

Sabtu, 01 Juli 2023

Islam di Nikaragua

Peta lokasi Nikaragua

Dimanakah Nikaragua
 
Republik Nikaragua merupakan negara dengan wilayah terluas di di daratan istmus Amerika tengah, dengan penduduk sedikit lebih banyak dari enam juta jiwa, ibukotanya berada di Managua yang juga merupakan kota terbesar di wilayah Amerika Tengah. Penduduk negara Nikaragua terdiri dari multi etnis termasuk penduduk pribumi, Eropa, Afrika dan Asia.
 
Bahasa yang digunakan secara umum adalah Bahasa Spanyol karena negara ini merupakan bekas jajahan Spanyol, namun suku suku asli di pantai timur lebih banyak berbicara dalam Bahasa mereka sendiri. Iklimnya beriklim tropis dengan keanekaragaman hayati yang cukup menarik serta gunung gunung api aktifnya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing.
 
Nikaragua telah menjadi jajahan Emperium Spanyol sejak abad ke 16 dan baru memperoleh kemerdekaannya pada 1821. Namun sejak kemerdekaannya negara ini tenggelam dalam periode pertikaian politik, kediktatoran dan krisis fiskal yang menjadi penyebab utama pecahnya revolusi Nikaragua di era 1960-1970-an. Sistem ketatanegaraannya menganut Republik Demokrasi Representatif.
 
Islam di Nikaragua
 
Nikaragua merupakan negara dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen (berbagai aliran). Namun demikian konstitusi negara menjamin kebebasan beragama. Menurut statistik 2007 yang dikeluarkan oleh Kementrian Luar Negeri A.S. muslim di Nikaragua ada sekitar 1,200 hingga 1,500 jiwa.

Masjid Managua (Mezquita de Managua) masjid pertama dan satu satunya di Nikaragua.
 
Jumlah yang sangat sedikit, namum terlihat peningkatan jumlah dibandingkan dengan laporan kedubes Amerika Serikat ditahun 2005 yang menyebutkan muslim di Nikaragua tak lebih dari 200jiwa saja. Kecilnya jumlah tersebut sehingga dalam statistik nasional dimasukkan kedalam katagori ‘lain lain’ Bersama pemeluk agama minoritas lainnya, sebagian besar muslim suni yang berasal dari Palestina, Libya, dan Iran atau keturunan pendatang maupun mualaf pribumi setempat.
 
Organisasi Islam dan Masjid di Nikaragua
 
Asociación Cultural Nicaragüense-Islámica (ACNI) atau Asosiasi Kebudayaan Islam Nikaragua atau lebih mudah menyebutnya sebagai Komunitas Muslim Nikaragua merupakan satu dari dua Organisasi Islam di Nikaragua. Organisasi ini yang membangun dan mengelola masjid Managua.
 
Masjid Managua berdiri ditahun 2009, dibangun di atas lahan seluas tiga ribu meter persegi di daerah San Juan (Cuidad Jardin) dengan kapasitas hampir seribu orang. Masjid ini merupakan masjid satu satunya di Nikaragua, menjadi pusat peribadatan dan syiar Islam disana. Sebelumnya muslim Managua melaksanakan sholat berjamaah di sebuah raungan yang difungsikan sebagai Musholla di sekitar Kawasan pertokoan sejak 1999.
 
Walaupun mereka hanya komunitas Muslim yang kecil dan pada awalnya tidak mempunyai keuangan yang kuat, namun mereka mendapatkan sokongan dari sebuah delegasi muslim Panama. Masjid ini memiliki perpustakaan, ruang sholat, Kantor pengurus, Taman kanak kanak, dan sebuah sekolah Islam serta menerbitkan artikel artikel Islam berbahasa Sepanyol.
 
Aktivitas Ramadhan 2023 di Masjid Managua (foto dirangkum dari vostv.com.ni).

Organisasi Islam lainnya adalah Centro Centro Cultural Islámico Nicaragüense, milik kaum syi’ah. hal ini erat kaitannya dengan kondisi politik Nikaragua dibawah pimpinan presiden Daniel Ortega yang memiliki kedekatan dengan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. Pemerintah Iran telah mengucurkan dana jutaan dolar kepada Nikaragua untuk untuk membangun infrastruktur di Nikaragua. Wajar bila kemudian Syi’ah pun mulai berkembang di Nikaragua.
 
Syiah di Nikaragua merupakan migran dari Iran yang mengungsi kesana dimasa revolusi Iran tahun 1979, disusul kemudian migran dimasa perang Iran-irak tahun 1980-an. Hampir semua syiah di Nikaragua merupakan muslim dari Iran atau keturunannya, mereka masih berbicara Bahasa Parsi disamping Bahasa Arab dan Spanyol.
 
Masuknya Islam Ke Nikaragua
 
Sejarah masuknya Islam ke Nikaragua tidaklah mudah, ada dan tiada, senantiasa dibawah tekanan penguasa dan penolakan dan dominasi komunitas Katholik yang sudah berurat berakar disana.
 
Muslim pendatang mulai masuk ke Nikaragua dalam jumlah besar pada ahir abad ke-19. Kebanyakan dari mereka berasal wilayah Palestina dan merupakan salah satu gelombang terbesar migrasi ke Amerika Tengah. Jumlah mereka tidak diketahui dengan pasti namun diketahui bahwa pada perang dunia pertama ada sekitar 40 keluarga dari Palestina tiba ke Nikaragua. Dan migrasi terjadi di ahir abad ke 19 hingga tahun 1917 pada saat emperium Usmaniah (Turki) mulai meredup.
 
Jemaah di Masjid Managua 2015 (foto: ahoraenlaweb.wordpress.com).
 
Gelombang pertama para pendatang ini dengan cepat kehilangan akar ke-Islaman mereka karena terpengaruh dengan kebudayaan setempat, sebagian dari mereka kemudian menikah dengan warga Kristen setempat ditambah lagi tekanan dari penguasa yang tidak memberi ruang kepada Islam. Di era tahun 1890 hingga 1940-an Nikaragua dan beberapa negara Amerika Latin lain nya melarang masuknya orang orang Arab ke negara mereka dan mempersulit orang arab yang sudah tinggal di negara tersebut.
 
Gelombang kedua pendatang ke Nikaragua terjadi di era tahun 1960-an yang merupakan kelompok yang lebih berpendidikan. Namun kelompok ini kemudian kebanyakan menjadi korban gempa bumi yang melanda Nikaragua di tahun 1972 dan Revolusi Komunis di tahun 1979.
 
Sebagian dari pendatang ini kemudian pindah ke Amerika utara atau kembali ke kampung halaman mereka di Palestina. Mereka yang terpaksa tetap tinggal di Nikaragua mengalami masa yang teramat sulit, sebagian besar dari mereka kemudian berasimilasi dengan Kristen hingga lenyap identitas ke-islaman mereka.
 
Sekelompok pendatang dari Palestina kembali tiba di Nikaragua di awal 1990-an. Banyak dari mereka adalah migran yang datang kembali ke Nikaragua. Pendatang ini mempunyai identitas Islam yang kuat dibandingkan gelombang pendatang sebelumnya, yang memungkinkan kebangkitan Islam negara tersebut.
 
Kubah dan menara masjid Managua.
 
Muslim arab Palestina di Nikaragua menjalankan usaha perdagangan mereka di Kawasan yang kini dikenal sebagai Distrik Bisnis Arab Managua lokasinya disepanjang jalan Casa de Los Encajes di Ciudad Jardin section. Mereka menjalankan bisnis perdagangan karpet arab, dekorasi rumah, pakaian dan bahan kain. Pada tahun 2000 diperkirakan ada sekitar 500 keluarga Palestina keturunan Arab dan Palestina di Nikaragua. Orang-orang Palestina yang tiba di Nikaragua saat itu kebanyakan beragama Kristen dan sejumlah kecil saja yang beragama Islam. Sebagian besar mereka berasal dari daerah yang berdekatan dengan kota Ramallah, Jerusalem, Beit Jala dan Betlehem. Jumlah muslim migran Palestina di Nikaragua merupakan komunitas Arab terbesar di Amerika Tengah dan Nikaragua.
 
Muslim migran dari negara negara Arab yang datang ke Nikaragua sejak 1990-an ini yang kemudian membentuk komunitas Islam di Nikaragua dan menjadi bagian dari Muslim Nikaragua saat ini, Bersama dengan mualaf pribumi yang aktivitas ke-islaman mereka mulai menghiasi berbagai pemberitaan media setempat.***
 
Rujukan
 
2016 https://ms.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Nikaragua
2013 https://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Nikaragua
http://almanac.afpc.org/Nicaragua
 http://nicaragua.usembassy.gov/religion2005-nicaragua.html
https://www.vostv.com.ni/nacionales/28921-el-ramadan-asi-lo-conmemoran-musulmanes-en-nicarag/
http://www.progressio.org.uk/blog/empowered-blog/nicaragua-faith-and-islam-journey-towards-knowledge
http://www.islamicbulletin.org/newsletters/issue_16/nicaragua.aspx