Minggu, 12 Juni 2016

Masjid Agung Touba, Senegal

Masjid Agung Touba merupakan Masjid dengan ukuran terbesar di Senegal. Menara tertinggi di masjid ini merupakan bangunan tertinggi di Senegal.

Touba adalah kota yang terletak sekitar 170 km disebelah timur kota Dakar dan juga kota terbesar kedua di Senegal setelah Dakar. Touba berasal dari bahasa Arab, yang berarti “kebahagiaan” yang dimaknai sebagai kebahagiaan yang membangkitkan kesenangan manis kehidupan kekal di akhirat. Touba juga dapat diartikan sebagai nama pohon di surga. Dalam Sufisme simbolik pohon merupakan aspirasi untuk kesempurnaan rohani dan mendekatkan diri dengan Allah.

Kota Touba merupakan pusat aktivitas Tharikat Mauridiyyah dan tempat pemakaman pengasasnya, Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba [1853-1927]. Di sebelah makam beliau kemudian dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Agung Touba, selesai dibangun tahun 1963 sekitar 40 tahun setelah kematian-nya. Masjid tersebut merupakan impian dari beliau yang disampaikan setahun sebelum kematiannya. Touba dikenal sebagai kota suci bagi muslim Senegal, khususnya bagi pengikut Tharikat Mauridiyyah.

Bulan kesiangan di atas masjid. Touba merupakan pusat dan kota suci bagi Tharikat Maouridiyyah yang didirikan oleh Syeikh Aamadou Mbake Bamba.

Di kota ini diharamkan segala bentuk mimuman keras, tembakau, menari, musik bahkan bermain game sekalipun. Touba memiliki status khusus sejak masa penjajahan Prancis dengan status sebagai kota otonom di berbagai bidang termasuk aspek kesehatan, sumber air, kebijakan publik, perekonomian, kepemilikan tanah, transportasi hingga lahan dan perumahan. Kehidupan di Touba didominasi oleh tradisi dan kebudayaan Islam. Sebuah tradisi ziarah Akbar tahunan, yang disebut Grand Magal, menarik perhatian satu hingga dua juta pengunjung dari seluruh Senegal, Eropa dan Amerika setiap tahunnya.

Masjid Agung Touba disebut sebut sebagai salah satu masjid terbesar di benua Afrika. Sejak selesai dibangun tahun 1963, masjid ini terus diperbesar dan diperindah. Masjid tersebut memiliki lima menara dan tiga kubah besar. Salah satu menaranya dibangun paling tinggi hingga 87 meter, pada bagian ujungnya dibuat menyerupai sebuah lentera, merujuk kepada Lampu Sheikh Ibrāhīma, salah seorang syekh yang berpengaruh di kota ini. Menara tersebut merupakan monumen paling terkenal di Senegal.

 

 Masjid Agung Touba dan Syekh Amadou Bamba

Merujuk kepada tradisi setempat, kota Touba pertama kali dibuka oleh Syekh Amadu Bámba Mbákke atau yang dikenal dengan nama Syekh Amadu Bámba [1853-1927]. Syekh Amadu atau Shaykh Ahmadu Bàmba Mbàkke atau Ahmad ibnu Muhammad ibnu Habīb Allāh atau Khadīmu r-Rasūl (pelayan Rosul) atau Sëriñ Tuubaa (Orang suci Touba), adalah seorang sufi yang sangat terkenal di Senegal. Ia juga seorang yang dihormati dan pendiri Tharikat Mauridiyyah. Beliau lahir di desa Mbacké (Mbàkke Bawol di Wolof) di wilayah kerajaan Baol, di Senegal. Putra dari seorang ulama Tharikat Qodiriyyah yang merupakan Tharikat tertua di Senegal. Beliau dikisahkan menerima petunjuk dari Allah swt dalam bentuk cahaya di bawah sebuah pohon pada tahun 1887.

Dulunya tempat tersebut sangat terpencil di rimba belantara. Kepopuleran Syekh Amadou membuat banyak orang mengunjunginya hingga berkembang menjadi sebuah kota dengan nama Touba. Hal ini membuat pemerintahan Perancis yang waktu itu menjajah Senegal cemas, sehingga sang syekh ditangkap dan dibuang ke Gabon [1895-1902] lalu ke Mauritania [1903-1907]. Strategi ini tidak berhasil, penahanan Syekh Amadou justru membuat para pengikutnya menjadi kian memujanya.

foto paling terkenal di Senegal. Foto Syeikh Amadu Bamba di abadikan oleh penguasa Prancis, beliau menutup sebagian wajahnya dengan sorban. Foto ini begitu terkenal di Senegal.

Pemerintah Prancis kemudian membebaskan beliau setelah yakin bahwa beliau dan pengikutnya tidak tertarik melakukan perlawanan terhadap penjajahan Prancis dengan cara mengangkat senjata. Di tahun 1918 pemerintah Prancis bahkan menganugerahinya Bintang kehormatan Legion atas jasanya mengizinkan pengikutnya membela Prancis dalam perang dunia pertama serta memberikan izin khusus kepadanya untuk mendirikan kota suci Touba.

Syekh Amadou Bamba kemudian berniat mendirikan masjid setahun menjelang ajalnya. Masjidnya baru berdiri pada tahun 1963, 40 tahun setelah Syekh Amadou meninggal. Yang menarik, begitu masjid berdiri, kota yang tadinya sangat terpencil berkembang menjadi kota besar. Penduduk yang awalnya kurang dari 5.000 jiwa di tahun 1964, di tahun 2007 berkembang menjadi 529.000 orang. Banyak sekali orang dari berbagai wilayah Senegal yang berziarah ke makam sang syekh. Syekh Aamadu Bámba kembali dari pengasingannya ke Kota Touba pada hari ke 48 setelah tahun baru hijriah, dan kini setiap tahun di hari tersebut diadakan peringatan Grand Magal, berupa ziarah akbar ke makam Syekh Aamadu Bámba yang di ikuti oleh jutaan pengikut Tharikat Mauridiyyah dari seluruh dunia.

Tharikat Mauridiyyah Memiliki pengaruh yang sangat kuat di Senegal bahkan hingga mendominasi ranah politik, pengikutnya tersebar hingga ke Paris dan New York city dan berbagai kota dunia, secara rutin mereka mengirimkan sejumlah uang kepada pemimpin mereka di Touba. Salah satu anggota Tharikat ini yang terkenal adalah Presiden Senegal Abdoulaye Wade yang menang dalam pemilihan presiden setelah mengalahkan pesaingnya Abdou Diouf dari Tharikat Tijaniyyah. Sehari setelah terpilih, Abdoulaye Wade langsung berangkat ke Touba untuk meminta restu dari Khalifah Tharikat Mauridiyyah, Serine Saliou Mbacke (Sëriñ Falilou, Khalifah kedua 1945-1968)

Sketsa komplek Masjid Agung Touba

Komplek Masjid Agung Touba

Di sekitar lingkungan masjid ini terdapat rumah kediaman dan makam dari para khalifah Tharikat Mauridiyyah termasuk Syaikh Bara Mbacké Khalifah keenam Tharikat Mauridiyah dan yang pertama bukan keturunan dari Aamadu Bamba Mbàkke. Selain itu di komplek masjid ini juga terdapat perpustakaan, gedung pertemuan dan pemakaman yang dikelola oleh Tharikat Mauridiyah. Saat ini Tharikat Mauridiyah dipimpin oleh Shaykh Sidy Mokhtar Mbacké yang merupakan Khalifah ketujuh sekaligus merupakan khalifah kedua yang bukan merupakan keturunan dari sang pendiri, Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba.

Komplek masjid Agung Touba ini terbilang cukup unik, secara umum terbagi menjadi dua kawasan yakni kawasan masjid agung ditambah maosolium dan kawasan terbuka termasuk areal pemakaman. Konfigurasi tersebut dirancang sendiri oleh Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba selaku pendiri kota sekaligus pendiri Tharikat Mauridiyyah yang menyatukan dimensi fisik dan metafisik secara berkaitan. Bangunan Masjid Agung merupakan pusat dari keseluruhan komplek ini sekaligus menjadi titik pusat dari kota Touba secara keseluruhan.

Eksterior Masjid Agung Touba

Pembangunan Masjid Agung Touba sudah dimulai sejak tahun 1930 namun sempat terhenti karena pecahnya peang dunia pertama, dan baru selesai tahun 1963, sejak itu masjid ini terus diperluas dan diperindah. Perluasan yang paling berpengaruh adalah perluasan tahun 1980 yang menambahkan bangunan baru mengitari bangunan lama. Bangunan baru yang hampir seluruhnya di hias menggunakan material batu pualam di penghujung tahun 1990-an mengubah tampilan luar masjid ini secara signifikan.

Tiga kubah besar masjid ini di beri warna hijau, kubah terbesar nya menaungi ruang sholat utama di depan mihrab. Sedangkan dibawah kubah sebelah timur masjid atau disebelah kiri mihrab terdapat makam dari Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba yang tak henti hentinya diziarahi oleh para pengikutnya. Seperti sudah disinggung di awal tulisan tadi, Arsitektural paling menarik perhatian dari masjid ini adalah menara tertingginya yang dikenal dengan nama “Lamp Fall” setinggi 87 meter yang mendominasi pemadangan masjid dan sekitarnya bahkan seluruh kota Touba yang sepi dari gedung pencakar langit. Di cuaca cerah, puncak menara masjid bewarna hijau ini bahkan dapat dilihat dari jarak 15 Km atau lebih jauh dari itu. Menara masjid ini merupakan salah satu bangunan tertinggi di seluruh negara Senegal.

Eksterior Masjid Agung Touba

Selain Masjid, di kawasan utama berdiri bangunan bangunan maosolium (Kubah makam) dari para mendiang petinggi Tharikat Mauridiyyah yang merupakan para keturunan Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba serta para penerusnya. Di sebelah kanan Mihrab dibangun di luar dinding sisi kiblat masjid sebagai bangunan yang berdiri sendiri sejajar dengan arah kiblat, terdapat maosolium Sëriñ Mamadou Moustafa Mbacké, kahlifah pertama Tharikat Mauridiyyah (1927-1945). Maosolium Sëriñ Falilou, Khalifah kedua (1945-1968) dan Sëriñ Abdou Khadre, Khalifah ke empat (1989-1990). Di tempat tersebut juga terdapat Mushola kota.

Makam dari khalifah ketiga Sëriñ Abdoul Ahad (1968-1989), berada di halaman dalam gedung perpustakaan yang dibangun diantara mushola dan masjid, kemudian maosolium Sëriñ Murtada Mbacké yang wafat tahun 2004. Sejajar dengan kiblat masjid terdapat komplek pemakaman umum Touba yang merupakan salah satu elemen penting dari tipografi spiritual kota tersebut. Pemakaman ini merupakan tempat yang paling di idamkan oleh para pengikut Thariqat Mauridiyyah, meski ditempat manapun mereka menjalani hidupnya namun berkeinginan untuk dimakamkan di pemakaman tersebut bila mereka meninggal dunia.*** 

--------------------------------

Baca juga


Sabtu, 11 Juni 2016

Masjid Rabbani Ouakam Senegal

Di teluk Ouakam kota Dakar, Masjid Rabbani dibangun oleh muslim setempat dengan cara gotong royong selama lima tahun lebih. Menurut legenda masjid ini dibangun atas petunjuk dari Allah melalui mimpi tokoh muslim setempat.

Dibangun atas Petunjuk langsung dari Allah

Legenda tentang orang suci atau para wali bukan semata mata hanya ada di Indonesia, di Negara Senegal yang berada di bagian barat benua Afrika pun, kisah yang sama meski dengan nama yang berbeda juga terjadi dan populer disana. Penyebaran Islam di Senegal tak lepas dari peran para tokoh tokoh Sufi yang hadir di kawasan tersebut memperkanalkan Islam sejak sebelum masa penjajahan Prancis. Saat ini, hampir semua masjid masjid besar disana memiliki keterkaitan dengan salah satu tokoh Islam terkemuka disana. Salah satu yang cukup menarik adalah Masjid Rabbani atau oleh media Eropa lebih dikenal sebagai Masjid Divinity di kawasan Ouakam dipinggiran kota Dakar.

Menurut legenda setempat masjid ini dibangun atas petunjuk langsung dari Allah kepada Syeikh Muhamed Seyni atau biasa dipanggil Sangabi melalui mimpinya pada malam Jum’at tanggal 28 Juni tahun 1973. Disebutkan dalam legenda tersebut bahwa Syeikh Muhamed Seyni melihat ada masjid di langit dan diperintah untuk menyaksikan masjid tersebut lalu mengikutinya sampai mendarat di bumi. Saat masjid itu mulai bergerak beliau mulai mengikuti masjid yang terbang ke di atas desanya terus bergerak hingga ke teluk Ouakam dan turun disana. Beliau mengitari masjid tersebut dan melihat Tulisan Allahu Akbar di atas pintu besarnya yang ditulis dengan warna emas. Setelah itu masjid tersebut menghilang.


Dibangun dengan Tangan

Mohamed Seyni memerintahkan pengikutnya untuk membangun masjid tersebut pada tahun 1992. Pekerjaan dimulai tahun itu juga meski dengan situasi yang tak mudah. Lokasi yang ditunjuk berada di teluk tepi laut yang sulit untuk dijangkau dan tidak ada transportasi umum yang tersedia ke daerah tersebut sehingga cukup menyulitkan bagi para pengikutnya. Sebagai Khalifah dari Tharikat yang dipimpinnya Syeikh Seyni sendiri tidak memiliki cukup cadangan dana untuk pembangunan masjid tersebut ditambah lagi dengan kritikan dari banyak pihak yang mengatakan “bagaimana mungkin seseorang yang bahkan tidak memiliki kemampuan untuk membangun rumahnya sendiri dengan baik, dapat membangun masjid besar dua lantai”. Tapi keyakinan Muhammad Seyni tak tergoyahkan, Bahwa Allah yang memberinya perintah membangun masjid ditempat itu tidak akan menolongnya, dan dia tidak butuh bantuan dari siapapun termasuk dari negara.

Para pengikut Sangabi memberikan kontribusi pembiayaan meskipun penghasilan mereka tidak seberapa, beberapa orang kaya juga turut berpartisipasi mendanai proyek tersebut. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh almarhum El Hadj Ibrahima Sakho (RTA), sejak itu pekerjaan pembangunan dimulai, murni dengan cara manual tanpa bantuan peralatan berat sama sekali dan dilakukan secara gotong royong oleh para pengikut Sangabi. “kita lakukan apa yang kita mampu lakukan dengan dua tangan kita, Allah yang akan membereskan sisa nya” begitu motto yang disampaikan oleh Sangabi.

Masjid Rabbani Ouakam, indah dengan latar belakang teluk Ouakam di tepian samudera Atlantik

Tahap konstruksi

Penggalian lubang pondasi masjid ini dilakukan secara manual hingga memakan waktu berhari hari secara bergantian oleh para Jemaah. saat penggalian sudah hampir selesai hujan deras pun turun. para Jemaah begitu khawatir dengan situasi itu, mengingat lokasi nya yang berada di tepi laut di kaki perbukitan sangat rentan dengan derasnya aliran air dari daerah yang lebih tinggi dan di khawatirkan akan merusak lubang galian yang sudah mereka gali, belum lagi air akan menggenangi lubang tersebut sedangkan mereka sama sekali tidak memiliki pompa untuk mengeringkannya nanti. Hal tersebut mereka sampaikan kepada Syeikh Seyni, beliau dengan tenangnya menjawab "Siapa yang memiliki Hujan ?, Allah swt, jawab pengikutnya. Dan masjid itu dibangun atas perintah Allah, Mustahil Allah akan merusak suatu perkara yang sudah dimulai atas perintahnya”.

manakala hujan deras sudah berlalu, tidak ada kerusakan yang terjadi pada lubang yang sudah digali untuk pondasi itu dan tidak ada genangan air sama sekali, sehingga proses pembangunan dapat dilanjutkan tanpa hambatan. Pembangunan dilanjutkan dengan cara yang benar benar manual, tanpa bantuan peralatan yang memadai, semuanya dilakukan dengan tangan, termasuk mengaduk semen dan pasir hingga mengangkat dan memindahkannya hingga ke puncak Menara semuanya dilakukan dengan tangan atau dipanggul dibahu. Perempuan dan anak-anak tidak ketinggalan, masing-masing membantu yang bisa mereka lakukan. Pada saat proses pengecoran para Jemaah berjejer rapi memindahkan adukan semen dalam ember secara estafet. Tradisi yang mirip dengan tradisi gotong royong di Indonesia.

Proses pembangunan masjid Rabbani Ouakam.

Bagian yang paling berbahaya dari pembangunan masjid ini adalah pada saat pembangunan menaranya. dari foto foto dokumentasi pembangunannya, terlihat para Jemaah yang memiliki nyali luar biasa berdiri dengan tanpa rasa takut di ujung Menara masjid ini saat proses pembangunannya sedang berlangsung. Disebutkan bahwa selama proses pembangunan masjid ini para Jemaah melakukan pekerjaan nya sambil tak henti hentinya melantunkan zikir La Illakha Illala. Mohamed Seyni yang menggagas pembangunan masjid ini berkali kali meneteskan air mata hari melihat semangat para pengikutnya dalam membangun masjid tersebut. Mohamed Seyni sendiri sebelumnya sudah terlibat dalam pembangunan masjid Agung Touba sebagai akuntan.

Proses pembangunan masjid ini seluruhnya selesai dalam waktu 5 tahun 5 bulan 5 hari sejak pertama kali dimulai dan diresmikan pada bulan Oktober 1997 dihadiri oleh ribuan pengikut Muhamed Seyni yang selama lima tahun bekerja keras dalam artian sebenarnya membangun masjid tersebut dengan tangan mereka. Masjid Rabani disebut sebut sebagai yang memiliki arti khusus, Bila Ka’bah adalah awal waktu maka Masjid Rabbani adalah Ujung waktu, Bila Ka’bah diturunkan sebelum kedatangan Khalifah pertama maka Masjid Rabbani dibangun setelah khalifah terahir, bila Ka’bah ada di timur, maka masjid Rabbani ada di barat.

Mohamed Seyni

Mohamed Gueye Seyni, lahir pada tanggal 19 Juli 1926 di desa Ouakam, Beliau adalah salah satu pengikut dekat Syeik Amadou Bamba, pendiri dari Tharikat Maouridiyyah yang berpusat di kota Touba. Muhamed Seyni pernah ditunjuk menjadi Akuntan dalam pembangunan Masjid Agung Touba sehingga beliau cukup memiliki pengalaman dalam pembangunan sebuah masjid. Syeikh Seyni Wafat pada tahun 2007.

Tentang Desa Ouakam

Desa Ouakam atau Wakam merupakan salah satu desa dipinggiran kota Dakar (ibukota Senegal). Mayoritas penduduk desa ini adalah para nelayan dari suku Lebou. Di masa penjajahan desa ini merupakan markas para penembak jitu pasukan Senegal. Kini desa ini menjadi markas bagi beberapa pasukan militer termasuk pasukan Akademi Militer Nasional dan pangkalan Militer Angkatan Udara Senegal.

Masjid dan mausolium biasanya berdekatan, adalah suatu yang lumrah di Senegal. 


--------------------------------

Baca juga


Masjid Agung Dakar, The Dakar Grand Mosque – Senegal

Masjid Maroko di Senegal. Masjid Agung Dakar dibangun oleh pemerintah Maroko dengan rancangan masjid Maroko yang sangat kental. Bangunan masjid ini menambah khazanah arsitektur masjid di Senegal yang masing masing bangunan masjid nya memiliki bentuk yang ceritanya sendiri sendiri.

Dakar adalah ibukota negara Senegal, sebuah negara di Afrika barat yang bertetangga dengan Mauritania di utara, Mali di timur serta Guyana dan Guyana Bisau di selatan. Uniknya ditengah tengah negara Senegal ini ada negara Gambia yang wilayahnya membentang dari muara sungai Gambia hingga beberapa kilometer ke hulu Sungai. Kota Dakar berada di sebuah semenanjung yang menjorok ke arah Samudera Atlantik menjadikannya sebagai salah satu pelabuhan laut penting di kawasan tersebut.

Islam memainkan peran penting di Senegal. Sekitar 94% penduduk Senegal menganut agama Islam. Di Kota Dakar berdiri sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Dakar atau dalam bahasa Inggrisnya disebut The Dakar Grand Mosque dan dalam Bahasa Prancis disebut Grande Mosquée de Dakar. Merupakan bangunan religi paling penting di Ibukota negara tersebut yang berdiri megah di kawasan Allée Pape Gueye Fall. Di titik koordinat 14° 40′ 40″ N, 17° 26′ 32″ W atau 14.677778, -17.442222

Masjid Agung Dakar – Senegal
Grande Mosquée de Dakar
Allée Pape Gueye Fall
Dakar, Republic of Senegal


Masjid Agung Dakar ini juga berfungsi sebagai masjid negara, dirancang bersama sama oleh aristek Maroko dan Prancis, di resmikan pada tahun 1964 oleh Raja Hassan II dari Maroko bersama sama dengan Presiden Senegal Léopold Sédar Senghor. Gaya rancangan masjid ini mirip dengan Masjid Muhammad V di Casablanca, Ibukota Maroko. Masjid megah yang kaya dengan taburan dekorasi indah dibagian interior maupun ekteriornya. Lengkap dengan menara tunggal setinggi 57 meter.

Sejak tahun 1964 sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam diresmikan di masjid ini dengan nama Institut islamique de Dakar atau Institut Agama Islam Dakar yang merupakan merupakan institusi publik dibawah kendali kementrian pendidikan dan Budaya Senegal didedikasikan bagi Riset dan Pengajaran Islam di negara tersebut. Institut ini memiliki sebuah perpustakaan moderen yang diberi nama Naef Ben Abdelaziz Al-Saoud secara resmi dibuka pada tanggal 9 Oktober 2004.

Menara segi empat khas Maroko di masjid Agung Dakar menyembul diantara atap atap bangunan lainnya di langit kota Dakar
Pekarangan yang luas di depan masjid akan penuh sesak oleh jamaah di hari jum'at apalagi di dua sholat hari raya
Seperti halnya masjid masjid Maroko, Masjid Agung Dakar ini juga dilengkapi dengan Pelataran tengah

----------------------------------------ooOOOoo------------------------------------------

Baca juga


Selasa, 07 Juni 2016

Islam di Senegal

Peta Republik Senegal

Pernah mendengar tentang ajang balap lintas gurun ekstrim Paris-Dakar ?. Dakar yang disebut dalam judul ajang balap tersebut adalah Ibukota negara Republik Senegal. Republic of Senegal atau dalam bahasa Prancis disebut République du Sénégal adalah salah satu negara di pantai barat benua Afrika bekas jajahan Prancis. Semasa penjajahan oleh bangsa Eropa, Wilayah ini terbagi dalam dua kekuasaan, wilayah disepanjang sungai Ghambia yang tak lebih luas dari propinsi Gorontalo merupakan wilayah jajahan Inggris dan dikemudian hari menjadi Republik Gambia beribukota di Banjul di muara sungai Ghambia di tepian Samudera Atlantik. Seluruh wilayah daratan Ghambia berada ditengah tengah Negara Republik Senegal.

Sebagai negara bekas jajahan Prancis, Senegal menggunakan Bahasa Prancis sebagai bahasa resmi negara, namun mengakui bahasa Wolof, Soninke, Seres dan bahasa lokal lainnya sebagai bahasa nasional. Suku Wolof merupakan suku terbesar di Senegal dengan rasio sekitar 43.3% dari keseluruha populasi penduduknya, menyusul kemudian suku Pular (23.8%), Serer (14.7%), Jola (3.7%), Mandinka (3.0%) Soninka (1.1%), Eropa (1.0%) dan keturunan Lebanon sekitar 9.4%.

Senegal merdeka dari Prancis pada tanggal 20 Juni 1960, sempat bergabung dalam Federasi Mali namun tak berlangsung lama kemudian keluar dari Federasi pada tanggal 20 Agustus 1960. Senegal juga pernah membentuk Federasi bersama dengan Ghambia dengan nama Senghambia namun juga tak berlangsung lama dan bubar di tahun 1989. Luas keseluruhan wilayah Senegal sekitar 196,723 km2 ditambah dengan wilayah perairan seluas 76,000 sq mi. Jumlah penduduk Negara ini di tahun 2011 sekitar 12,855,153. Iklim di Senegal hampir sama dengan di Indonesia, hanya memiliki dua musim, kemarau dan musim hujan. Wilayah negara Senegal berbatasan dengan Mauritania di utara, Mali disebelah timur, Guyana dan Guyana Bissau disebelah selatan dan sisi sebelah baratnya menghadap ke Samudera Atlantis. Di bagian dalam wilayahnya berbatasan dengan negara Ghambia.

Masjid masjid besar di Senegal rata rata dibangun untuk menghormati tokoh tokoh Islam terkenal disana, seperti para wali bila di Indonesia. Seperti Masjid Agung Touba yang ada di foto ini dibangun disebelah makam Syeikh Amadou Bamba yang merupakan pendiri Tharikat Mouridiyyah. Hingga kini Kota Touba merupakan kota suci pusat aktivitas Thariqat Mouridiyah.

Ibukota negara Senegal berada di kota Dakar yang berada di bagian ujung paling timur wilayah negara di semenanjung Cap Vert yang menjorok ke Samudera Atlantik. Sekitar 500 kilometer dilepas pantai Dakar ini terdapat pulau Cape Verde. Sepanjang abad ke 17 hingga abad ke 18 wilayah ini menjadi pos perdagangan bagi berbagai dinasti hingga kemudian Prancis mendirikan pusat kekuasaannya di kota St. Louis sebagai ibukota Prancis Afrika Barat (Afrique occidentale française, or AOF) sebelum kemudian dipundahkan ke Dakar di tahun 1902.

Berawal dari Salah Sebut

Nama Senegal diambil dari nama sungai yang kini menjadi batas wilayah alami negara tersebut dengan Mauritania dan Mali di sebelah utara dan timur. Menurut kepada teori David Boilat (1853) Kata Senegal sebenarnya berasal dari bahasa Wolof “Sunu gaal” yang berarti “Kanu (sampan) Kami” namun terjadi miskomunikasi antara pelaut Portugis dengan para nelayan suku Wolof sehingga Para pelaut Portugis di sekitar abad ke 15 yang menyebut daerah itu dengan nama Senegal. Namun para sejarawan modern menyebutkan teori yang lain bahwa Nama Senegal berasal dari nama suku Zenaga yang tinggal disebelah utara sungai Senegal saat ini, teori lainnya mengambil dari catatan geografer arab yang menuliskan nama Sanghana sebagai sebuah kota di abad pertengahan namun secara umum teori pertama jauh lebih populer. Namun dalam kepercayaan suku Serer mereka yakin bahwa Sene Gall adalah dua kata yang berarti “badan air” alias Sungai.

Islam di Senegal

Islam merupakan agama mayoritas di Senegal, diperkirakan sekitar 95% penduduk negara tersebut merupakan pemeluk agama Islam. Islam sudah hadir di Senegal lebih dari satu mileniemum. Kelompok etnik pertama yang masuk Islam adalah orang orang dari suku Toucouleur di sekitar abad ke 11 masehi, dan dengan cepat Islam berkembang disana sehingga di awal abad ke 20 hampir seluruh orang Senegal sudah beragama Islam. Sebagaian besar muslim disana menganut aliran Tharikat Sufi Islam dan dalam rasio sekitar 1% dari mereka menganut Ahmadiyah.

Masjid Sheikh Oumar Foutiyou di kota Dakar, perhatikan bentuk menaranya yang sangat khas.

Ajaran sufi sangat kental dalam kehidupan muslim Senegal, karena memang menilik sejarah masuk dan berkembangnya Islam disana tak lepas dari peran para tokoh sufi. Hingga kini tradisi sufisme merupakan arus utama dan pimpinan masing masing Tharikat menjadi sosok yang teramat penting di dalam masyarakat.

Sejarah Islam di Senegal

Islam masuk ke wilayah yang saat ini dikenal sebagai negara Senegal pada permulaan abad ke sebelas masehi dengan mualafnya orang orang dari suku Toucouleurs, yang pada mulanya dimulai kepala suku (dalam bahasa setempat disebut Damel) Kerajaan Cayor yang bernama Lat Dyor Diop yang masuk Islam. Setelah ber-Islam beliau bersatu dengan kerajaan kerajaan dari suku Wolof dan Fulani lainnya untuk menentang kolonialisasi oleh Prancis disana.

Perubahan mendasar dilakukan oleh kepala suku (almamy) Rip, bernama Maba Diakhou Bâ, Selain mengubah sistem tata negara ke dalam sistem Islam, beliau juga berupaya menghapus sistem tradisional keningratan Etnis Wolof siste aristokrasi Serer dalam upaya bergabung dengan kekuatan kekuatan muslim lainya, termasuk menjaiin kerjasama dengan Kekaisaran Islam di Mali dibawah pimpinan El Hadj Umar Tall.

Di penghujung abad ke 19, Tharikat tharikat Sufi Islam di Senegal termasuk Tharikat Tijani dan Mouridiyyah berjuang membebaskan diri dari penjajahan Prancis dan Inggris di tanah air mereka. Namun seiring dengan ditangkapnya para tokoh masing masing Tharikat seperti Syeikh Malick Sy dan Syeikh Amadou Bamba, perlawanan para pengikut Tharikat disana berubah menjadi perjuangan kebebasan menjalankan agama.

Prancis yang menjajah Senegal menjadikan wilayah itu sebagai sebuah negara dengan sistem Sekuler dan bertaha hingga kini meski sudah merdeka dari penjajahan Prancis namun negara menjamin kebebasan beragama bagi warganegaranya. Meski demikian pengaruh Tharikat Sufi Islam dalam dunia politik sangat kuat di negara ini.

Tharikat Islam di Senegal

Muslim di Senegal hampir seluruhnya merupakan anggota dari salah satu Tharikat Sufi Islam. Dua Tharikat Sufi Islam terbesar dinegara itu adalah Tharikat Maouridiyyah dan Tharikat Tijaniyyah, termasuk juga Tharikat Qodiriyyah serta beberapa tharikat tharikat lainnya meski dengan pengikut yang relatif sedikit. Tharikat Tijaniyyah memiliki basis pengikut di Kota Tivaouane dan Kaolack, sedangkan Tharikat Maouridiyyah berbasis di kota Touba. Masing masing Individu bergabung dengan salah satu Tharikat karena faktor keturunan ataupun karena pilihan pribadi masing masing.

Syeikh Amadou Bamba, pendiri dari Tharikat Mouridiyyah sendiri berasal dari keluarga pengikut Tharikat Qoddiriyyah. 

Tharikat Mouridiyyah merupakan Tharikat asli dari Senegal yang berpusat di kota Touba sedangkan Tharikat Tijaniyyah berasal dari Kawasan Afrika utara kemudian menyebar ke Afrika barat termasuk wilayah Mali, Mauritania dan Senegal. Tharikat Qodiriyyah awalnya berdiri di Mauritania kemudian menyebar hingga ke Senegal. Tharikat Qodirriyah merupakan Kelompok Tharikat pertama dan tertua di Senegal. Syeikh Amadou Bamba, pendiri dari Tharikat Mouridiyyah sendiri berasal dari keluarga pengikut Tharikat Qoddiriyyah. Dari jumlah pengikut, Tharikat Tijaniyyah sebenarnya merupakan Tharikat dengan pengikut terbesar di Senegal namun dari sisi Organisasi dan kapasitasnya mereka kalah populer dibandingkan dengan Tharikat Moudridiyyah. Masjid Tharikat Tijaniyyah di kota Tivaouane merupakan tempat kedua yang paling banyak dikunjungi jemaah di Senegal setelah masjid Agung Touba.

Syeikh Amadou Bamba merupakan tokoh sentral dari Tharikat Mouridiyyah yang dibentuknya seja masa penjajahan Prancis di sekitar tahun 1887. Setelah dua kali mengalami penangkapan dan pengasingan oleh Penguasa Prancis ahirnya beliau dibebaskan dan diberikan hak untuk membentuk komunitas sendiri di Kota Touba. Di tahun 1918 pemerintah Prancis bahkan menganugerahinya Bintang kehormatan Legion atas jasanya mengizinkan pengikutnya membela Prancis dalam perang dunia pertama.

Kota Touba kemudian berkembang menjadi pusat Tharikat Maouridiyah. Sebuah masjid berukuran sangat besar bernama Masjid Agung Touba dibangun disamping makamnya 40 tahun setelah beliau wafat, dan sekali dalam setahun, pada  hari ke 48 setelah tahun baru hijriah, hampir dua juta pengikut Tharikat Mouridiyah membanjiri kota tersebut memperingati hari kembalinya Syeikh Bamba dari pengasingan yang disebut peringatan Grand Magal. Kota Touba sendiri memiliki status khusus di Senegal sejak masa penjajahan Prancis, mirip seperti sebuah negara di dalam negara. Di Touba penguasanya hanya satu yakni Khalifah dari Tharikat Mouridiyah yang merupakan keturunan dari Syeikh Bamba ataupun salah satu dari pengikut setianya yang terpilih. Tak ada gubernur, walikota atau pejabat pemerintahan lainnya bahkan tidak ada polisi ataupun tentara, semua sektor kehidupan dibawah kendali Khalifah Tharikat dan para aparaturnya.

Menara Masjid Rabbani di daerah Oakam, pinggiran kota Dakar. dengan bentuknya yang unik. Bangunan masjid masjid di Senegal nyaris tidak ada pola tertentu yang menjadi trend atau gaya nasional seperti di Indonesia. 

Tharikat Mauridiyyah Memiliki pengaruh yang sangat kuat di Senegal bahkan hingga mendominasi ranah politik, pengikutnya tersebar hingga ke Paris dan New York city dan berbagai kota dunia, secara rutin mereka mengirimkan sejumlah uang kepada pemimpin mereka di Touba. Salah satu anggota Tharikat ini yang terkenal adalah Presiden Senegal Abdoulaye Wade yang menang dalam pemilihan presiden setelah mengalahkan pesaingnya Abdou Diouf dari Tharikat Tijaniyyah. Sehari setelah terpilih, Abdoulaye Wade langsung berangkat ke Touba untuk meminta restu dari Khalifah Tharikat Mauridiyyah, Serine Saliou Mbacke (Sëriñ Falilou, Khalifah kedua 1945-1968)

Di kota Touba nyaris tak pernah terjadi tindak kriminal disepanjang sejarahnya, aturan Islam secara ketat diberlakukan di kota itu. Alkohol dan sejenisnya, rokok dan sejenisnya, tarian dan musik bahkan bermain game pun terlarang di kota itu. (mirip dengan di Indonesia) Mushola dan masjid merupakan bangunan yang lumrah terlihat dimana mana. Seperti di kota suci Mekah, di kota Touba-pun denyut nadi perekonomian dan semua aktivitas terhenti saat terdengat suara azan. Muslim disana bergegas menuju mushola atau masjid terdekat untuk melaksanakan sholat berjamaah.***

-------------------

Baca Juga


Kamis, 19 Mei 2016

Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga

# Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Pertama kali Rosulullah S.A.W membangun masjid, hanya menggunakan material bangunan dari pohon kurma, pelepah dan daunnya, bangunan masjid yang teramat sederhana sebagai tempat berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah dan pusat ke-Islaman. Masjid yang kini berubah menjadi Mega Masjid dikebal dengan Masjid Nabawi. Di kemudian hari bangunan bangunan masjid bertebaran di muka bumi dibangun dengan beragam bentuk sesuai dengan adat dan tradisi muslim setempat. Masjid dengan Gaya Tiongkok yang mirip Kelenteng seperti Masjid di Purbalingga ini  menambah khazanah perbendaharaan rancangan masjid masjid di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kabupaten Purbalingga provinsi Jawa Tengah. Salah satu kabupaten yang di anugerahi keindahan panorama alam gunung Slamet. Di kota ini sudah bermukim beberapa generasi etnis Thionghoa yang sudah menjadi bagian dari masyarakat disana, dalam keseharianpun mereka fasih berbahasa Jawa. Sejak tahun 2011 yang lalu Purbalinga memiliki satu masjid unik yang dibangun oleh Muslim Thionghoa disana. Masjid dengan bentuk mirip Klenteng yang sangat khas. Menambah khasanah bangunan masjid serupa yang telah ada di tanah air, dan tentu saja menambah khasanah kekayaan arsitektur Masjid di Nusantara tercinta.

Di beberapa kota di Indonesia yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Laksamana Cheng Hoo sudah berdiri masjid serupa dengan nama yang sama, yakni di kota Palembang ibukota provinsi Sumatera Selatan, di Kota Jambi provinsi  Jambi, Pasururuan dan Kota Surabaya provinsi Jawa Timur dan di Kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Selain dari masjid masjid tersebut, di Indonesia juga sudah berdiri masjid masjid dengan arsitektur mirip kelenteng namun tidak dengan nama Cheng Hoo, diantaranya adalah Masjid Latze Pasar Baru Jakarta, masjid Lautze-2 di kota Bandung provinsi Jawa Barat, Masjid Tan Kok Liong di dalam komplek pesantren Ustadz Anton Medan di Cibinong provinsi Jawa Barat, dan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.

Kesemua masjid yang bergaya bangunan tradisional Tiongkok tersebut tidak lantas berarti hanya boleh dipakai dan digunakan oleh Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, keseluruhan masjid tersebut dibangun untuk digunakan oleh seluruh kaum muslimin tanpa memandang suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan dan lain sebagainya, sama halnya dengan Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini.

Alamat dan Lokasi Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga

Desa Selaganggeng Kecamatan Mrebet
Kabupaten Purbalingga, provinsi Jawa Tengah
Indonesia


Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini mulai dibangun tahun 2005 sempat terhenti di tahun 2006 karena berbagai kendala, dan diresmikan enam tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Juli 2011 bertepatan dengan 3 Sya’ban 1432H oleh H.A Zaky Arslan Djunaid selaku Ketua Umum Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) JASA. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai wadah kegiatan ke-Islaman dan dakwah bagi masyarakat muslimTionghoa terutama para mualaf di daerah Purbalingga. Muslim Thionghoa di Purbalingga ada sekitar 130-an orang mereka tersebar di 18 kecamatan, berdirinya masjid ini diharapkan bisa lebih memajukan Purbalingga khususnya dibidang dakwah Islam.

Sekilas tentang Laksamana Cheng Hoo

Haji Muhammad Cheng Hoo (1371-1435) memiliki berbagai varian nama diantaranya Ma He, Ma San Bao, Sam Po Bo atau Haji Mahmud Shams adalah seorang Laksamana Muslim dari kekaisaran ketiga Dinasti Ming. Beliau berasal dari suku Hui yang secara fisik mirip dengan suku Han, sempat ditangkap saat pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunan sampai kemudian menjadi Laksamana armada angkatan laut dinasti Ming yang melegenda dengan perjalanan keliling dunia yang dilakukannya ke berbagai pelabuhan laut di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan hingga ke Afrika Timur dari tahun 1405 hingga tahun 1433. Dunia Internasional kini bahkan telah mengakui beliau sebagai pengeliling dunia pertama jauh sebelum para penjelajah Eropa manapun.

Perjalanannya ke berbagai kepulauan Nusantara meninggalkan jejak yang masih bisa ditemui hingga kini. Sebagai salah satu contoh, rekam jejaknya di wilayah barat pulau Jawa menjadi pembuka jalan bagi dakwah Islam di wilayah kerajaan Pajajaran. Disetiap perjalanannya Laksamana Cheng Hoo selalu membawa mubaligh bagi para anggota ekspedisinya yang beragama Islam. Salah seorang mubaligh yang menyertai ekspedisinya bernama Syekh Hasanudin, dalam pelayaran pertama-nya ke Nusantara, Syech hasanuddin sempat singgah di wilayah Cirebon.

Arsitektur itu seperti kemasan, Seperti sampul buku. seringkali orang tertipu oleh sampul buku hanya karena tak tertarik dengan sampulnya. meskipun ternyata isinya adalah sesuatu yang dicari carinya. Seperti Arsitektur Masjid, bagaimanapun bentuknya tetaplah masjid. 

Dalam pelayaran keduanya ke Nusantara, Syech Hasanudin dan rombongan mendarat di wilayah (yang kini dikenal sebagai) kabupaten Karawang di provinsi Jawa Barat yang pada saat itu masih menjadi wilayah Kerajaan Pajajaran. Syech Hasanudin bersama dengan Syech Bentong kemudian mendirikan pesantren yang dikenal dengan nama Pondok Quro dan Syech Hasanuddin dikenal dengan nama Syech Quro karena ke-mahiran-nya melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Dari pondok Quro itulah Islam kemudian menyebar ke wilayah Pajajaran dengan menikahnya Pangeran Jaya Dewata putra Mahkota Kerajaan Pajajaran dengan Subang Larang, salah satu santriwati dari Syech Quro.

Bermula dari sana di kemudian hari berdirilah Kesultanan Cirebon melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, tak lama setelah berdirinya Kesultanan Demak dengan dukungan dari para Wali. Pendiri dan Sultan Pertama di Kesultanan Cirobon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang tak lain adalah cucu kandung dari Pangeran Jaya Dewata yang saat itu sudah menjadi Mahajara di Kerajaan Pajajaran dengan gelar Sri Baduga Maharaja yang dikenal juga dengan nama Pangeran Pamanah Rasa atau lebih dikenal oleh rakyatnya dengan sebutan Prabu Siliwangi.

Meski di wilayah Jawa Barat masyarakat nya lebih mengenal Syech Quro daripada Laksamana Cheng Hoo sebagai tokoh pembawa Islam di wilayah tersebut namun tidak dapat dipungkiri besarnya peranan Sang Laksamana dalam mengantarkan Islam ke wilayah Jawa Barat khususnya dan Nusantara pada umumnya. Maka wajar bila kemudian di berbagai tempat di Indonesia masyarakat muslim menghormati beliau dengan cara mengabadikan namanya sebagai nama bangunan masjid masjid yang juga dibangun dengan bentuk bangunan tradisional yang biasa ditemui di daerah asal beliau yang kini menjadi bagian dari wilayah Negara Republik Rakyat China.

Serba Merah. Interior Masjid Cheng Hoo Purbalingga.

---------------ooo000ooo---------------

Artikel Terkait



Rabu, 11 Mei 2016

Islam di Bahama (bagian 2)

MASJID satu satunya di kota Nassau - Bahama

Awal dari Gerakan Islam di Bahama

Di penghujung tahun 1960-an hingga awal 1970-an ada orang Bahama yang menyebut dirinya sendiri sebagai Bashan Saladdin tinggal di kota Nassau, sehari hari selalu  menggunakan jubah panjang dan penutup kepala khas bangsa Arab. Orang orang disana memanggilnya dengan sebutan “Allah” karena kata itu yang selalu saja di ucapkannya setiap kali berbicara dengan siapapun yang dijumpainya. Nama beliau sebenarnya adalah Charles Cleare, dia tinggal di area Fort Fincastle dan mulai mengalihfungsikan rumah miliknya sebagai masjid.
                       
Beberapa penduduk setempat yang kemudian awal awal sekali memeluk Islam termasuk adalah Zubair Ali (sebelumnya bernama Howard Clarke) dan Mustafa Khalil Khalfani 1 (anggota pendiri Jamaat-ul-Islam, Gerakan Islam Revolusioner Bahama) yang masuk Islam di Bahama bersama dengan Bashan Salddin setelah bersekolah di New York. Mustafa Khalil Khalfani 1 menikah dengan muslimah dari Senegal.

Pada bulan Juli 1974, Dr.Vivian X Russell (juga anggota pendiri Jamaat-ul-Islam, Gerakan Islam Revolusioner Bahama) pulang kampung ke Bahama sebagai dokter spesialis gigi dan juga anggota dari organisasi Nation of Islam, organisasi Islam di Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Elijah Muhammad. Beliau berencana mendirikan Nation of Islam di Bahama dan diseluruh kawasan Karibia. Sedangkan Mustafa Khalil Khalfani I adalah seorang muslim suni anggota dari Organisasi yang bernama Islamic Party of North America (Partai Islam Amerika Utara). Dua organisasi yang sama sama mengaku sebagai organisasi Islam namun memiliki akidah dan kepercayaan yang berbeda.

Bashan Saladdin sendiri sebenarnya adalah muslim suni namun juga mengikuti ajaran Elijah Muhammad dan mencoba untuk menggabungkan keduanya dalam kesehariannya. Namun demikian sudah dapat difahami bahwa Bahama memang terlalu kecil untuk mencoba mengokohkan agama yang sejak awal sudah menjadi barang aneh dan asing bagi sebagian besar orang orang disana.

Dr. Munir Ahmad
Sebelum benih benih Nation of Islam berhasil ditanam di Bahama, Elijah Muhammad selaku pimpinan tertinggi organisasi tersebut di Amerika Serikat, wafat pada tanggal 26 Februari 1975 dan digantikan oleh putranya Wallace D. Muhammad. yang membawa perubahan mendasar di dalam organisasi Nation of Islam. Pada kata sambutan pertamanya Wallace D Muhammad mendeklarasikan kepada pengikutnya bahwa dia akan mengikuti Sunnah Rosulullah dan semua pengikutnya diminta untuk melakukan hal yang sama. Beliau memang tidak berharap perubahaa itu akan terjadi dalam waktu satu malam namun demikian beliau secara berkelanjutan melaksanakan sunnah dalam setiap aktivitas organisasinya. Dia-lah yang kemudian mengganti nama Dr. Vivian X menjadi Munir Ahmad.

Dengan sendirinya bagi muslim di Bahama yang juga menjadi target bagi Nation Of Islam terbuka peluang untuk bersama sama bergerak mendirikan ajaran Islam sebagaimana mestinya, membangun komunitas Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai ajaran Islam yang sebernarnya sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Muslim disana mulai mempelajari ajaran Islam yang benar termasuk dengan membaca buku ‘Towards Understanding Islam’ karya Maulana Maududi yang menjelaskan dengan detil tata cara pelaksanaan sholat wajib 5 waktu dengan baik dan benar, dan mulai melaksanakan sholat sebagaimana ajaran Rosulullah secara berjamaah dipimpin oleh Mustafa Khalil Khalfani 1, yang pernah mempelajari nya selama kuliah di New York.

Tahun 1977 seorang dokter muslim dari Bangladesh bernama Ghulam Muazzam datang ke Bahama untuk bekerja sebagai Patologis di Rumah Sakit Princess Margaret Hospital, manakala dia bertemu dengan beberapa muslim disana dia menawarkan diri untuk mengajarkan Al-Qur’an dan dasar baca tulis aksara Arab. Muslim disana kemudian berkumpul di Apartemennya di di Cable Beach setiap hari minggu sore untuk belajar. Beliau membacakan Al-Qur’an dalam bahasa arab kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris untuk memudahkan pemahaman  bagi jemaah.

Pertemuan lainnya dilakukan di kediaman Mustafa Khalil Khalfani 1, yang menyewa rumah di Albury lane, Shirley Street. Saat itulah Pascal Vergilius Hepburn kembali dari Inggris Raya setelah menyelesaikan kuliahnya disana. Beliau kemudian bertemu dengan Dr. Munir Ahmad (Dr.Vivian X) sebagai Pasien dan mendapatkan penjelasan tentang Islam selama proses operasi gigi di mulutnya. dikemudian hari Pascal Vergilius Hepburn masuk Islam dan berganti nama menjadi Faisal AbdurRahman Hepburn dan menjadi pemimpin dari Jamaat-ul-Islam, Gerakan Islam Revolusioner Bahama). Dr. Munir Ahmad (Dr. Vivian X) masuk Islam saat menempuh pendidikan tinggi di Inggris Raya, beliau kemudian menikah dengan seorang muslimah dari Malaysia teman kuliahnya semasa di Inggris Raya.

Masih di tahun 1977, Mustafa Khalil  Khalfani 1 mengundang seorang Maulana (guru agama Islam) dari Pakistan bernama Khurshid Abdullah (80 tahun) , beliau datang ke Bahama bersama istrinya, seorang muslimah Inggris dari Manchester. Maulana Khurshid Abdullah kemudian tinggal di rumah Mustafa Khalil Khalfani 1 di Albury Lane dan mulai mengajarkan pelaksanaan Islam dalam kehidupan sehari hari, mengajarkan bagaimana cara menghafal sepuluh surah terahir Al-Qur’an untuk keperluan sholat lima waktu. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sejak ba’da magrib hingga tiba waktu sholat Isya. beliau juga mengajarkan cara membaca huruf hijaiyah serta baca tulis hurup Arab. Sementara istrinya mengajar para muslimah. Meski usianya sudah lanjut Maulana Khurshid Abdullah sangat enerjik, setiap habis subuh beliau masih menyempatkan diri jalan jalan pagi ditemani oleh staff nya.

Berdirinya Komunitas Islam Bahama

Karena perbedaan latar belakang ke-Islaman dari muslim yang di dapat dari lingkungan selama belajar di luar negeri, maka kemudian disepakati untuk membentuk Komunitas Muslim di Bahama yang disandarkan kepada Kemurnian ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W serta para Sahabatnya.

Di bulan september 1978 pertemuan dilaksanakan di partemen Dr. Muazzam’s membahas tentang pembentukan komunitas Islam di Bahama. pada saat itu kebanyakan muslim yang datang ke Bahama adalah para pekerja profesional dari anak benua India dan Pakistan. Setiap orang yang belajar Islam akan mengenal tentang mazhab yang terdiri dari mazhab hanafim Syafi’i, Maliki dan Hambali. Sebagian besar muslim dari India dan Pakistan bermazhab Hanafi. Mazhab sendiri baru terbentuk setelah wafatnya Rosulullah (609-632) dan menjadi rujukan sebagian besar muslim di dunia. Bahkan muslim di Bahama pun pada awal Islam masuk kesana juga menganut mazhab Hanafi, namun dalam pertemuan untuk pembentukan komunitas Islam di Bahama, dengan sengaja tidak untuk menganut salah satu mazhab yang ada dan setuju untuk membentuk Jemaah yang berdasarkan ajaran Islam yang murni dengan pemahaman sebagaimana dilaksanakan oleh Rosulullah dan para sahabatnya.

Interior Masjid Di Nassau - Bahama

Di awal tahun 1980-an utusan muslim Bahama berangkat ke berbagai tempat di Amerika Serikat untuk menghadiri Ijtimah atau pertemuan sesama muslim yang diselenggarakan oleh organisasi Islam Jemaah Tabligh yang biasanya berkumpul bersama di fasilitas fasilitas publik selama masa libur nasional termasuk selama libur Paskah, Hari Buruh, Thanksgiving dan Natal. Selama pertemuan, fasilitas publik menjelma menjadi sebuah kamp besar dengan ratusan hingga ribuan muslim dari berbagai bangsa berkumpul untuk sholat berjamaah, ta’lim, tadarus, makan dan minum dan merasakan suasana di lingkungan Islami selama tiga atau empat hari. Jemaah Tabligh bermarkas di India dengan misi mengirimkan muslim untuk berda’wah ke berbagai negara untuk mengajak ummat Islam memperbaharui dan menghidupkan kembali akidah dan peribadatan mereka.

Tiga muslim Bahama kemudian tinggal di India selama empat bulan bergabung dengan Jemaah Tabligh. Dua diantaranya kemudian kembali ke Nassau sedangkan Abu Saeef Umar Barnett (atau sebelumnya bernama Carlos Barnet) menetap disana untuk belajar bahasa Arab dan Urdu di Pakistan, dia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Madinah (Saudi Arabia) lalu dikirim ke Yaman dan menetap disana selama tujuh tahun. Beliau kemudian menikan dengan muslimah dari Malaysia dan sudah dikaruniai putra dan putri yang semuanya hafiz Al-Qur’an.

Seorang muslim lainnya bernama Fareed Abdullan (atau sebelumnya bernama Frederick Sturrup, anggota pendiri Jamaat-ul-Islaam, Gerakan Revolusioner Islam Bahama) berangkat ke Guyana untuk mengikuti kursus bahasa Arab selama setahun sebagai persiapan untuk kuliah di Universitas King Abdul Aziz (Riyadh, Saudi Arabia) hingga memperoleh gelar sarjana dibidang Syari’ah. beliau kemudian kembali ke Nassau tahun 1991 kemudian pergi ke Amerika Serikat untuk menjadi imam dan mengajar komunitas muslim disana.

Di awal awal periode Islam di Bahama, ada dua lagi muslim yang patut dicatat yakni Haneef Abdul Haq (John Russell) dan seorang muslimah bernama Najah Baker, yang menikah dengan Daoud Shabazz (sebelumnya bernama David Armbrister). Daoud Shabazz adalah salah satu dari pengawal pribadi Malcom X di era tahun 1960-an. Haneef Abdul Haqq dan Najah Baker juga merupakan anggota pendiri Jamaat-ul-Islaam, Gerakan Revolusioner Islam Bahama.

Perkembangan Islam di Bahama sejak tahun 1970-an merupakan masa yang sangat penting. Nenek moyang muslim Bahama dibawa ke Bahama sebagai budak dan tidak dapat menjalankan ke-Islaman mereka dan berakibat tidak berkembangnya Islam di Bahama. Namun suasana-nya berbeda di era 70-an dengan kondisi sudah lebih kondusif bagi perkembangan dan pertumbuhan agama Islam.

Bulan Oktober 1992, Jamaat-ul-Islam menyelenggarakan Simposium yang berjudul “Deeper Roots’ di Auditorium Kampus di Bahama dengan pembicara utama menghadirkan Dr. Abdullah Hakeem Quick, seorang sarjana Islam dan sejarawan yang mempresentasikan bahwa muslim dari benua Afrika telah berkelana ke dunia baru (Benua Amerika) satu abad sebelum Columbus. Informasi ini menjadi tajuk utama dalam buku berjudul “Deeper Roots 1” yang diterbitkan tahun 1990. Kemudian disusul dengan buku berikutnya berjudul “Deeper Roots-Muslims in the Americas and the Caribbean From Before Columbus to the Present” terbitan tahun 1997. Komunitas muslim Bahama juga cukup beruntung dengan kehadiran Daud Abdul Haqq dari Barbados yang merupakan seorang imam sekaligus pendidik. beliau datang ke Nassau di awal tahun 1990-an. Beliau sangat berperan dalam pembuatan dokumen yang berjudul ‘Recommendations for Crime and Punishment in the Bahamian Society” tahun 1995. Sebuah dokumen yang dipaparkan kepada pemerintah, media dan masyarakat Bahama, berisikan rekomendasi penanganan tindak kriminal dan sangsinya dalam masyarakat Bahama.

Muslim Bahama
Seiring dengan berkembangnya komunitas muslim, melalui upaya da’wah kepada kalangan yang lebih luas disana, menjadi kebutuhan untuk mendirikan organisasi Islam secara resmi dan terdaftar di pemerintahan sehingga mendapatkan ketetapan hukum sebagai sebuah organisasi resmi. Hal tersebut dilaksanakan tahun 1990. Anggota jemaah kemudian mulai melaksanakan pertemuan di berbagai tempat di kediaman sesama saudara muslim melalui upaya kolektif muslim di sana selama bertahun tahun serta donasi dari muslim di luar negara, Muslim Bahama ahirnya mampu membeli lahan seluas dua hektar di daerah Carmichael, kawasan yang sedang berkembang pesat di kota Nassau, tempat berdirinya Masjid dan rencananya akan dilengkapi dengan sekolah bagi anak anak, kediaman Imam serta area pusat bisnis sehingga muslim disanapun dapat berbisnis dilokasi tersebut.

Upaya Da’wah

Pertumbuhan dan perkembangan komunitas Islam di Bahama berkaitan langsung dengan jumlah dan upaya da’wah yang telah dilakukan. Hal yang tidak mungkin terjadi tanpa terus menerus mendakwahkan Islam secara konsisten. Komunitas muslim Bahama meskipun dalam jumlah yang relatif kecil namun cukup aktif dan terlihat berkembang dengan baik keanggotaannya sepanjang tahun dan memang dikarenakan oleh bertambahnya orang orang Bahama yang masuk Islam. Da’wah tidak hanya dilakukan di Nassau tapi juga dilakukan di kota terbesar kedua di Bahama yakni kota Freeport.

Pendekatan da’wah yang dilakukan meluas di Bahama. Komunitas muslim disana secara aktif menyampaikan pesan kepada khalayak luas melalui berbagai cara. Seperti program “street Da’wah” yakni da’wah yang disampaikan dengan mengujungi area tertentu dan berbicara langsung kepada masyarakat disana tentang Islam, secara aktif menyampaikan pesan tentang Islam melalui acara radio termasuk melaksanakan forum diskusi dan pameran sejarah Islam.

Isu Sosial dan Komunitas Islam

Muslim Bahama juga aktif melibatkan diri dalam kerja kerja sosial termasuk di dalamnya membagikan pakaian kepada yang membutuhkan serta berbagai aktivitas amal lainnya. berkaitan dengan isu sosial, komunitas muslim telah bersuara dengan keras dalam hal krimilitas dalam masyarakat untuk memperbaiki pandangan negatif masyarakat disana tentang Islam dan muslim di media masa. Komunitas muslim juga bekerja keras dalam menampilkan Islam sebagai obat bagi berbagai penyakit masyarakat.

Secara historis muslim Bahama senantiasa melibatkan diri dalam setiap gagasan pemerintah yang ber-orientasi aktivitas sosial. Saat pemerintah membentuk National Social development council (Dewan Perkembangan Sosial Nasional), Komunitas muslim Bahama langsung terjun untuk berkontribusi. Dewan tersebut merupakan amalgamasi dari lembaga lembaga amal yang ada untuk bersama sama menangani berbagai permasalahan sosial negara.*** Kembali ke bagian pertama

------------------