Senin, 12 Desember 2016

Islam di Moldova

Wilayah Moldova terkurung di daratan diantara Ukraina dan Romania tanpa ada akses ke laut.  Wilayah negara ini yang berbatasan dengan Ukraina mayoritas dihuni oleh etnis Rusia berupaya membentuk negara sendiri yang berbuntut perang singkat di dalam negeri Moldova dan berahir dengan gencatan senjata. 

Moldova adalah negara berbentuk Republik yang terletak di benua Eropa bagian barat. Moldova merupakan negara pecahan dari Uni Soviet, lalu menyatakan pemisahan diri dari Soviet pada tanggal 23 Juni 1990 dan memproklamirkan diri sebagai negara merdeka pada tanggal 27 Agustus 1991.

Secara geografis seluruh wilayah negara Moldova berada di daratan diantara negara Ukraina di sebelah utara, timur dan selatan, serta wilayah daratan Romania di sebelah timur, tanpa ada akses ke laut sama sekali. Permintan pemerintah Moldova untuk menggunakan sungai Dniester sebagai akses menuju ke Laut Hitam melintasi wilayah ukraina di Odesa ditolak oleh pemerintah Ukraina.

Sungai Dniester yang bermuara ke laut Hitam membentang di sisi sebelah barat negara Moldova sehingga seringkali sungai ini dijadikan rujukan untuk menyebutkan lokasi negara Moldova sebagai sebuah negara yang berada tepian sungai Dniester, hanya sebagian kecil saja wilayah Moldova yang berada di sisi timur sungai Dniester berbatasan langsung dengan Ukraina, wilayah yang secara alami terbentuk sebagai sebuah exclave karena terpisah oleh sungai Dniester dari wilayah induk negara Moldova.

Anak anak muslim Moldova di Masjid Chisinau

Wilayah tersebut dikenal dengan nama Transnitiria. Pada tanggal 2 September 1990 wilayah Transnitria menyatakan diri sebagai negara merdeka dan mendapat penolakan dari Moldova, tidak di akui oleh PBB dan tidak di akui oleh satupun negara anggota PBB. Ketegangan politik antara pemerintah pusat Moldova dengan Transnitria berujung kepada perang di bulan November 1990 namun kemudian berahir dengan gencatan senjata pada tanggal 21 Juli 1992.

Luas wilayah Moldova 33.846 km2 atau sedikit kecil lebih dibandingkan dengan luas provinsi Lampung (34.623,8 km2). Ibukota negaranya berada di kota Chișinău yang juga merupakan kota terbesar di Moldova. di tahun 2016 penduduk Moldova diperkirakan sekitar 3.510.485 jiwa dengan penghasilan perkapita  $1,712

Suku Bangsa di Moldova

Sesuai dengan nama negaranya Etnis Moldova merupakan etnis mayoritas di Moldova dengan rasio 75,8 % dari keseluruhan penduduk. disusul kemudian dengan etnis Ukraina sebanyak 8,4%, Rusia 5.9%, Gagauz 4.4%, Romania 2.2%, Bulgaria 1.9% dan etnis lainnya 1,4%. masing masing etnis memiliki Bahasa mereka sendiri. 

Masjid di kota Chisinau

Agama di Moldova

Mayoritas penduduk Moldova merupakan pemeluk agama Katolik Ortodok sekitar 93,3% dari keseluruhan penduduk negaranya, kemudian penganut Baptis 1%, Kristen Protestan 1,2%, atheis 0.4%, agama lain lain sekitar 1% serta yang tidak menyatakan agamanya sekitar 2,2%. data dari world facbook tahun 2004 sama sekali tidak menyebutkan tentang muslim di Moldova. beberapa sumber lain menampilkan rasio yang sedikit variatif namun tetap menempatkan Katholok Ortodok di urutan teratas dengana ngka jauh di atas 90%. Katholik Ortodok diakui sebagai agama negara di Moldova, lambing negara Moldova dengan tegas menyimbolkan hal tersebut.

Islam di Moldova

Merujuk kepada situs Wikipedia disebutkan bahwa di Muldova terdapat sekelompok kecil pemeluk Islam dengan jumlah sekitar beberapa ribu jiwa. Jumlah muslim di Moldova belum diketahui dengan pasti, meskipun data resmi di tahun 2011 menyebutkan bahwa di Moldova terdapat 2000 jiwa muslim, namun Sergiu Sochirca selaku ketua dari Organisasi Liga Muslim Moldova mengatakan bahwa jumlah muslim di Moldova sebenarnya mendekati angka 17000 jiwa hanya saja tidak semua dari mereka terdaftar sebagai muslim sebagai akibat tekanan terhadap muslim disana yang teramat sangat di masa lalu. Angka 17.000 jiwa yang disampaikan oleh Sergiu Sochirca tersebut sesungguhnya bersesuaian dengan data Pew Forum on Religion & Public Life yang menyebutkan jumlah muslim di Moldova sekitar 17.000 ribu berdasarkan survey tahun 2005.

Sebuah organisasi Islam telah berdiri disana dengan nama Liga Islamica din Moldova atau Liga Muslim Moldova, sebuah organisasi non pemerintah yang telah mendapatkan pengesahan dari Kementrian Kehakiman Moldova di tahun 2011 sekaligus sebagai organisasi Islam pertama yang terdaftar resmi di pemerintahan Republik Moldova setelah berupaya selama tiga tahun sejak tahun 2008 untuk mendapatkan pengesahan tersebut.

Sholat Idul Fitri di Masjid Chisinau, Moldova

Keputusan kementrian Hukum Moldova yang mengakui dan mengesahkan secara resmi organisasi Islam tersebut mendapatkan penolakan keras dari pihak gereja Ortodok Moldova yang kemudian menggelar aksi protes bersama sama dengan kelompok kelompok konservatif. salah satu dari pernyataan mereka menyebutkan bahwa kehadiran muslim di Moldova akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

Sedangkan Vladimir Voronin, pimpinan partai komunis Moldova yang juga merupakan mantan presiden Moldoba dengan tegas mengatakan bahwa “penolakan pembangunan masjid telah terjadi sejak Moldova masih merupakan bagian dari emperium Islam Usmaniyah (Turki) dan itu tetap sama hingga hari ini.” namun pemerintah Moldova telah mengeluarkan pengesahan resmi dan bersikukuh dengan keputusan yang sah sesuai dengan hukum negara Moldova.

Sementara Alexandru Tanase, mantan Menteri Kehakiman yang menandatangai surat pengesahan Organisasi Muslim Moldova dan kemudian mengundurkan diri setelah itu, untuk kemudian memangku jawabatan di Mahkamah Konstitusi Moldova, mengatakan dengan singkat namun sangat tegas, bahwa, tidak ada justifikasi apapun untuk menolak pengesahan Organisasi Liga Muslim Moldova.

Sempat Dianggap Agama Terlarang

Mendapatkan pengesahan dari pemerintah merupakan pengakuan dari negara terhadap keberadaan muslim di Moldova dan tentu saja memberikan muslim disana hak untuk difasilitasi dan mendapatkan perlindungan dari negara dalam menjalankan peribadatan, Keluarnya pengesahan dari pemerintah memberikan keleluasaan dan rasa nyaman bagi muslim disana dalam menjalan rutinitas peribadatan mereka secara terbuka, termasuk untuk menggelar acara acara keIslaman dan membangun masjid sebagai tempat ibadah komunal.

 
Suasana di depan masjid Chisinau, Moldova

Sebagaimana dijelaskan oleh Segiu Sochirca selaku ketua liga muslim Moldova, Muslim di Moldova telah sekian lama mendapatkan perlakukan diskriminatif termasuk oleh apparat kepolisian yang senantiasa sekoyong konyong masuk ke tempat dimana muslim melakukan sholat jum’at berjamaah, mengamati dan mendata satu persatu semua muslim yang masuk dan keluar dari tempat tersebut, kemudian menyerahkan daftar tersebut ke pihak intelejen negara.

Segiu Sochirca sendiri mengaku pernah ditahan oleh aparat keamanan dengan tuduhan menjalankan peribadatan agama yang dilarang di Moldova. Beliau juga mengaku bahwa pada saat beliau mengajukan perpanjangan passport, kemudian diminta untuk mengisi formulir namun pada kolom agama di formulir tersebut sudah diisi dengan tulisan “Christian”, dan protesnya kepada petugas pun ternyata tidak di indahkan. 

Tindakan refresif terhadap Muslim seperti hal tersebut yang kemudian membuat sebagian muslim di Moldova tidak berani menunjukkan identitas ke-Islaman mereka dan berakibat pada kesimpangsiuran data akurat pemeluk Islam di Moldova. hal tersebut disampaikan Segiu Sochirca menanggapi kerasnya protes terhadap pengesahan dari kementrian kehakiman Moldova bagi legalitas organisasi Muslim pertama di Moldova.

Dunia politik Moldova memang terpecah menjadi dua kelompok yang saling bertentangan satu dengan lainnya dengan perolehan kursi di parlemen nyaris seimbang membuat pertentangan politik diantara keduanya kian tajam. Kelompok konservatif berbasis komunis dan dan Kristen Ortodok berhadapan dengan kelompok liberal yang berorientasi anti diskriminasi ala Eropa membuat dua kubu ini “tidak pernah akur”.

Masjid di Moldova

Muslim Moldova kini telah memiliki masjid resmi di Pusat Kota Chisinau, ibukota Moldova. Sebuah masjid dengan ukuran cukup besar yang juga berfungsi sebagai Islamic Cultural Center. Chisinau Mosque berada di strada Mesager 9 Chisinau. Di masjid ini dipusatkan semua aktivitas ke-islaman Muslim Moldova, mulai dari sholat wajib lima waktu, perayaan hari besar Islam dan aktivitas ke-Islaman lainnya.*** (dari berbagai sumber, data diolah).

Minggu, 11 Desember 2016

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane Aceh Tenggara

Masjid megah seperti masjid masjid Eropa. Masjid Agung At-Taqwa Kutacane menjadi landmark baru bagi kabupaten Aceh Tenggara.

Kutacane adalah ibukota kabupaten Aceh Tenggara di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Wilayah Aceh Tenggara berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Secara geografis, Kabupaten Aceh Tenggara di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Gayo Lues, di sebelah timur dengan Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Aceh Timur, di sebelah selatan dengan Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Provinsi Sumatera Utara, dan di sebelah barat dengan Kabupaten Aceh Selatan.

Di Kutacane sejak tahun 1956-1962 sudah berdiri sebuah Masjid Agung At-Taqwa yang berada di komplek pelajar Babussalam di pusat kota Kutacane yang dibangun secara bergotong royong oleh masyarakat muslim disana. Kini masjid tersebut sudah bermetamarfosis menjadi sebuah masjid agung modern dengan rancangan yang sangat apik menghadirkan sebuah masjid bergaya Eropa dengan sentuhan seni islami Aceh yang sangat kental.

Lokasinya yang strategis di tengah-tengah kota dan terlihat jelas jika memasuki Ibu Kota Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara apalagi di lihat dari dataran tinggi di pegunungan Mbarung dan puncak Gunung Pokhkisen (TNGL) di ketinggian 2828 mdpl. Pada waktu malam hari masjid agung At-Taqwa terlihat lebih indah dan memukau dengan tata cahaya nya yang memang diatur dengan baik sejak proses perencanaannya.

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane
Jl Cut Nyak Dhien, Kute Kutacane Kecamatan Babussalam,
Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh 24651.
Indonesia



Masjid Agung At-Taqwa sudah berdiri sejak masa pemerintahan yang pada saat itu daerah Tanah Alas dan Gayo Lues masih merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Tengah. Untuk wilayah Tanah Alas dan Gayo Luwes ditunjuk seorang Kepala Perwakilan Kabupaten Aceh Tengah yang dijabat oleh Letkol Syahadat selama sebelas tahun.

Pembangunan Masjid Agung At-Taqwa hampir bersamaan dengan pembangunan Komplek Pelajar Babussalam tahun 1956-1962. Pembangunan tersebut dipimpin oleh Letkol Syahadat (patih) sebagai Kepala Perwakilan Kabupaten Aceh Tengah bersama Mayor Amin Komandan Sektor VII (Kodim) kemudian komplek pelajar Babussalam tersebut di resmikan oleh Gubernur Kepala Daerah (KDH) Istimewa Aceh Ali Hasjmy pada tanggal 9 Juli 1962. Prasasti peresmiannya terdapat di tugu Kampung Pelajar Babussalam.

METAMORFOSIS Masjid Agung At-Taqwa Kutacane. Gambar 1 adalah foto Masjid Jami di Kutacane pada masa penjajahan Belanda, Gambar 2 : Masjid Agung At-Taqwa pada masa Letkol Syuhada, gambar 3 : Masjid Agung At-Taqwa Kutacane pada masa Bupati T. Johan Syahbudin SH, Gambar 4 : Masjid Agung At-Taqwa Kutacane saat ini.

Jauh sebelum pembangunan Masjid Agung At-Taqwa di masa Letkol Syahadat, dalam rekaman sejarah koleksi Topen Museum Belanda, wilayah Aceh Tenggara telah memiliki Masjid ber-arsitektur masjid khas Nusantara dengan atap limas bertingkat. Perubahan arsitektur masjid ini dari masa ke masa cukup signifikan hingga ke bentuknya saat ini, namun bila mencermati bentuk terahir masjid ini sebelum di bangun ke bentuknya saat ini ada beberapa kemiripan meskipun sedikit.

Pada saat dibangun dimasa pemerintahan Letkol Syahadat sekitar tahun 1956-1962, berupa Masjid sederhana yang dibangun di atas tanah yang tidak begitu luas dan dari dahulu berdekatan dengan Lapangan Jenderal Ahmad Yani, karena lokasi masjid tersebut adalah tempat yang strategis di tengah-tengah kota, pusat pemerintahan dan perekonomian daerah dan pusat perdagangan.

Kabupaten Aceh Tenggara dibentuk pada tahun 1974 berdasarkan Undang Undang nomor 4/1974 dengan pusat pemerintahan di Kutacane. Peresmian Kabupaten Aceh Tenggara dilakukan oleh menteri dalam negeri, Amir Machmud pada tanggal 26 Juni 1974. Pada hari itu juga Gubernur Daerah Istimewa Aceh A. Muzakkir Walad melantik Syahadat sebagai Pejabat Bupati Kabupaten Aceh Tenggara. Pada tanggal 24 Juli 1975 Syahadat secara definitif diangkat sebagai Bupati Aceh Tenggara yang pertama. Pembangunan infrastruktur penunjang sebagai daerah Otonomi Baru pun dilaksanakan di berbagai sector termasuk pembangunan Masjid Agung At-Taqwa Kutacane sebagai Masjid Agung Kabupaten Aceh Tenggara.

Aerial View Masjid Agung At-Taqwa Kutacane 

Bupati Aceh Tenggara T. Johan Syahbudin SH. melakukan perluasan dan membangun Masjid tersebut. Berbagai sumber danapun di galang guna untuk membangun masjid At-Taqwa, salah satunya bantuan dari presiden Soeharto, pada tanggal 31 Maret 1985 melalui Menteri/Sekretaris Negara, Sudharmono, SH, menyerahkan bantuan Presiden untuk pembangunan Masjid Agung At-Taqwa di Kutacane, Aceh Tenggara. Bantuan sebesar Rp 250 juta itu diterima oleh Bupati Aceh Tenggara, T. Johan Syahbudin, SH. (Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 307-308).

Masjid Agung Attaqwa saat ini

Pada bulan Oktober tahun 2009 dimasa pemerintahan Bupati H. Hasanuddin B, Masjid Agung At-Taqwa mulai dibangun ulang di atas lahan seluas 1,5 hekar, lokasinya kini sudah berada di pusat perkantoran Kabupaten Aceh Tenggara. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan oleh Gubernur Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Pembangunan masjid ini menelan dana sebesar Rp 72 miliar, dari berbagai sumber dana termasuk dari sumbangan Gubernur Aceh sebesar Rp 10 miliar, APBK Rp 7,5 miliar, sumbangan dari pengusaha Abu Rizal Bakhrie Rp 500 juta, pengusaha Lukman CM Rp 200 Juta, bantuan dari dana aspirasi anggota DPRA Rp 465 Juta dan sumbangan masyarakat Rp 56 Juta.

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane diresmikan pada hari Jum’at tanggal 8 April 2016 oleh Sekretaris Daerah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Dermawan bersama DPR RI, Ade Komaruddin, Bupati Aceh Tenggara, Ir. H. Hasanuddin dan dihadiri ribuan tamu undangan dari berbagai daerah di Aceh. Peresmian ditandai dengan pemukulan beduk dan penandatangan prasasti.

Interior Masjid Agung At-Taqwa Kutacane

Dalam sambutannya Sekda Aceh berharap agar Masjid Agung tersebut dapat memacu perkembangan ilmu pengetahuan, dakwah dan syiar Islam di Aceh Tenggara. Sementara itu, Ketua DPR RI, Ade Komaruddin mengatakan, Mesjid yang begitu megah ini merupakan wujud dari kerja keras pemerintah di Aceh dan warga Aceh Tenggara yang telah bersama-sama menyumbang dalam pembangunan masjid tersebut.  Setelah peresmian, masjid tersebut sepenuhnya dikelola oleh sebuah UPTD dari Dinas Syariat Pemerintah Aceh Tenggara yang secara  khusus bertugas untuk pemeliharaan bangunan tersebut.

Arsitektur Masjid Agung At-Taqwa

Gaya Eropa rasa Aceh, sepertinya kalimat yang tepat untuk menyebut arsitektur Masjid Agung At-Taqwa Kutacane ini. Bangunan masjid tinggi besar dan megah dengan kubah besar di atapnya merupakan ciri dari masjid masjid dinasti Usmaniyah Turki yang berpusat di Istambul. Rancangan geometris kotak kotak seperti rancangan pada Menara dan kisi kisi jendela merupakan ciri khas bangunan bertema minimalis.

Bentuk kisi kisi pada jendela masjid ini mengingatkan pada bentuk yang sama dengan bangunan masjid sebelumnya. beberapa bentuk dasar bangunan masjid ini memang terasa memiliki kesamaan dengan bangunan sebelumnya. Denah bangunan masjid dibuat simetris dengan empat bentuk beranda di ke empat sisinya yang masing masing beranda di lengkapi dengan satu kubah lebih kecil di bagian atapnya, sehingga secara keseluruhan menampilkan bangunan masjid megah dengan multi kubah di bagian atap dan empat Menara di ke empat penjuru bangunan masjid.

Peresmian Masjid Agung At-Taqwa Kutacane oleh Sekda Provinsi Aceh, Dermawa

Sentuhan Aceh sangat terasa dari ornamen hias yang ditempatkan sebagai garis horizontal pada dinding luar bagian atas masjid, rasa Aceh juga terdapat pada ragam hias kaca patri jendela dan ragam hias interiornya. Penggunaan warna gelap pada bagian dinding luar membuat warna emas pada kubah kubah masjid ini tampak begitu menonjol begitupun dengan putihnya kisi kisi jendela pada bangunan utama dan pada bagian bawah kubah kubahnya.

Interior masjid dikerjakan dengan cukup detil dan teliti menyajikan ragam kaligrafi bewarna emas di tembok dinding bagian dalam pada serta beragam ornamen lainnya yang turut memperindah tampilan interior masjid ini. tema minimalis moderen mendominasi interior masjid ini dengan penggunaan warna warna natural, bukaan jendela jendela kaca yang begitu banyak di sisi bawah kubah dan jendela jendela besar dan tinggi hampir di sekeliling bangunan memberikan pencahayaan alami ke dalam ruangan.

Masjid Agung At-Taqwa memiliki luas bangunan 2.675 m, berdiri di atas area seluas 14.118 meter persegi (1,5 hektare) dengan kapasitas mencapai 4.000 jamaah, menjadikan masjid ini sebagai masjid terbesar dan termegah di kabupaten Aceh Tenggara. Masjid ini juga dirancang tahan gempa dan diperkirakan mampu bertahan secara alami hingga 300 tahun dan tahan terhadap gempa berkekuatan hingga 9,0 Skala Richter.***


Masjid Istiqlal Jakarta

Megah di belantara kota Jakarta, Masjid Istiqlal, Sejak berdiri hingga kini bertahan dengan rekor nya sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara dan salah satu masjid terbesar di dunia.

Masjid Istiqlal di Jakarta adalah ‘Masjid Negara’ Republik Indonesia, dibangun oleh orang orang besar bagi penduduk muslim di sebuah negara besar dan sejak diresmikan hingga hari ini senantiasa dikunjungi oleh orang orang besar dari berbagai negara, salah satu landmark ibukota negara, kebanggaan muslim Indonesia, dan masih memegang rekor sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid Istiqlal juga merupakan simbol toleransi beragama di Indonesia, para pendiri negara dengan sengaja membangun Masjid Istiqlal berseberangan dengan Katedral, dan juga rancangan masjid Istiqlal dibuat oleh arsitek Frederich Silaban yang beragama Kristen Protestan.

Kata ISTIQLAL di ambil dari bahasa arab yang berarti MERDEKA. Penamaan masjid nasional ini dengan nama Istiqlal merupakan satu bentuk rasa syukur kepada Allah S.W.T atas anugerah kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Nama Istiqlal kemudian juga menjadi nama Masjid Indonesia di Sarajevo, ibukota Bosnia & Herzegovina, yang dibangun dari sumbangan muslim Indonesia sebagai hadiah bagi muslim Bosnia & Herzegovina yang baru saja merdeka dari penindasan berdarah oleh etnis Serbia.

Lokasi Masjid Istiqlal - Jakarta

Masjid Istiqlal Jakarta
Jl. Taman Wijayakusuma
Jakarta – Indonesia



Masjid Istiqlal berada di sebelah timur kawasan Tugu Monumen Nasional (Tugu Monas). Berdiri dibekas Taman Wilhelmina, yang di bawahnya terdapat reruntuhan benteng Belanda dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perdagangan serta dekat dengan Istana Merdeka. Tata letak seperti ini sama halnya dengan tata letak pusat pusat pemerintahan kesultanan kesultanan masa lalu di pulau Jawa dan daerah-daerah lainnya di Nusantara bahwa masjid selalu berdekatan dengan kraton / Istana. Pemilihan lokasi ini merupakan ide dari Bung Karno, disepakati oleh Bung Hatta dan Panita pembangunan masjid Istiqlal.

Fakta bahwa Masjid Istiqlal dibangun di kawasan bekas Taman Wihelmina kota Batavia mempertegas makna “Merdeka” pada nama masjid nasional ini. Taman Wihelmina merupakan salah satu bentuk hegemoni kekuasaan kolonial Belanda di Batavia dan dinamai sesuai dengan nama Ratu Kerajaan Belanda. Nama Taman Wihelmina kemudian diganti Taman Wijaya Kusuma, Taman “Bunga Kejayaan” dan ditengahnya berdiri megah Masjid Istiqlal, “Masjid Merdeka”. Jakarta.

Sejarah Masjid Istiqlal – Jakarta

Ide Pembangunan Masjid Istiqlal

Ide pembangunan masjid Istiqlal tercetus empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Pada tahun 1950, KH. Wahid Hasyim yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama RI dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam di Deca Park, sebuah gedung pertemuan di jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Pertemuan dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman, yang membahas rencana pembangunan masjid. Gedung pertemuan yang bersebelahan dengan Istana Merdeka itu, kini tinggal sejarah. Deca Park dan beberapa gedung lainnya tergusur saat proyek pembangunan Monumen Nasional (Monas) dimulai.

Masjid Istiqlal pada saat sedang dibangun, terlihat di latar belakang pemandangan kota Jakarta yang masih sepi dari gedung gedung jangkung. 

Masjid tersebut disepakati akan diberi nama Istiqlal. Secara harfiah, kata Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang berarti: kebebasan, lepas atau kemerdekaan, yang secara istilah menggambarkan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat berupa kemerdekaan bangsa.

Pembentukan Panitia

Pada pertemuan di gedung Deca Park tersebut, secara mufakat disepakati H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Beliau juga ditunjuk secara mufakat sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Istiqlal, meskipun beliau terlambat hadir karena baru kembali ke tanah air setelah bertugas sebagai delegasi Indonesia ke Jepang membicarakan masalah pampasan perang saat itu.

Pada tahun 1953, Panita Pembangunan Masjid Istiqlal, melaporkan rencana pembangunan masjid itu kepada kepala negara. Presiden Soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan akan membantu sepenuhnya pembangunan Masjid Istiqlal. Kemudian Yayasan Masjid Istiqlal disahkan dihadapan notaris Elisa Pondag pada tanggal 7 Desember 1954.

Simbol toleransi dan Bhineka Tunggal Ika. Masjid Istiqlal berseberangan dengan Katedral Jakarta.

Presiden Soekarno mulai aktif dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal sejak beliau ditunjuk sebagai Ketua Dewan Juri dalam Sayembara maket Masjid Istiqlal yang diumumkan melalui surat kabar dan media lainnya pada tanggal 22 Pebruari 1955. Melalui pengumuman tersebut, para arsitek baik perorangan maupun kelembagaan diundang untuk turut serta dalam sayembara itu.

Penentuan Lokasi

Terjadi perbedaan pendapat mengenai rencana lokasi pembangunan Masjid Istiqlal. Ir.H. Mohammad Hatta (Wakil Presiden RI) berpendapat bahwa lokasi yang paling tepat untuk pembangunan Masjid Istiqlal tersebut adalah di Jl. Moh. Husni Thamrin yang kini menjadi lokasi Hotel Indonesia. Dengan pertimbangan lokasi tersebut berada di lingkungan masyarakat Muslim dan waktu itu belum ada bangunan di atasnya.

Sementara itu, Ir. Soekarno (Presiden RI) mengusulkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina, yang di bawahnya terdapat reruntuhan benteng Belanda dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perdagangan serta dekat dengan Istana Merdeka. Hal ini sesuai dengan simbol kekuasaan kraton di Jawa dan daerah-daerah di Indonesia bahwa masjid selalu berdekatan dengan kraton.

Taman Wihelmina kota Batavia, kini berubah menjadi Taman Wijaya Kusuma yang merupakan kawasan Masjid Istiqlal Jakarta.

Pendapat H. Moh. Hatta tersebut akan lebih hemat karena tidak akan mengeluarkan biaya untuk penggusuran bangunan-bangunan yang ada di atas dan di sekitar lokasi. Namun, setelah dilakukan musyawarah, akhirnya ditetapkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina bekas benteng Belanda.

Sayembara Rancangan Masjid Istiqlal

Dewan Juri sayembara maket Masjid Istiqlal, terdiri dari para Arsitek dan Ulama terkenal. Susunan Dewan Juri adalah Presiden Soekarno sebagai ketua, dengan anggotanya Ir. Roeseno, Ir. Djuanda, Ir. Suwardi, Ir. R. Ukar Bratakusumah, Rd. Soeratmoko, H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), H. Abu Bakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Sayembara berlangsung mulai tanggal 22 Februari 1955 sampai dengan 30 Mei 1955. Sambutan masyarakat sangat menggembirakan, tergambar dari banyaknya peminat hingga mencapai 30 peserta. Dari jumlah tersebut, terdapat 27 peserta yang menyerahkan sketsa dan maketnya, dan hanya 22 peserta yang memenuhi persyaratan lomba.

Di dalam Masjid Istiqlal

Setelah dewan juri menilai dan mengevaluasi, akhirnya ditetapkanlah 5 (lima) peserta sebagai nominator. Lima peserta tersebut adalah:

Pemenang Pertama: Fredrerich Silaban dengan disain bersandi KETUHANAN
Pemenang Kedua: R. Utoyo dengan disain bersandi ISTIGFAR
Pemenang Ketiga: Hans Gronewegen dengan disain bersandi SALAM
Pemenang Keempat: 5 orang mahasiswa ITB dengan disain bersandi ILHAM
Pemenang Kelima : adalah 3 orang mahasiswa ITB dengan disain bersandi KHATULISTIWA dan NV. Associatie dengan sandi LIMA ARAB

Pada tanggal 5 Juli 1955, Dewan Juri menetapkan F. Silaban sebagai pemenang pertama. Penetapan tersebut dilakukan di Istana Merdeka, sekaligus menganugerahkan sebuah medali emas 75 gram dan uang Rp. 25.000. Pemenang kedua, ketiga, dan keempat diberikan hadiah. Dan seluruh peserta mendapat sertifikat penghargaan.

Pemasangan Tiang Pancang

Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan ummat Islam. Selanjutnya pelaksanaan pembangunan masjid ini tidak berjalan lancar. Sejak direncanakan pada tahun 1950 sampai dengan 1965 tidak mengalami banyak kemajuan. Proyek ini tersendat, karena situasi politik yang kurang kondusif.

Masjid Istiqlal terdiri dari bangunan utama, dua plataran tengah dan satu menara 

Pada masa itu, berlaku demokrasi parlementer, partai-partai politik saling bertikai untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Kondisi ini memuncak pada tahun 1965 saat meletus peristiwa G30S/PKI, sehingga pembangunan masjid terhenti sama sekali. Setelah situasi politik mereda,pada tahun 1966, Menteri Agama KH. M. Dahlan mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal.

Peresmian Masjid Istiqlal

Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal selesai dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961, dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978, ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam. Biaya pembangunan diperoleh terutama dari APBN sebesar Rp. 7.000.000.000,- (Tujuh Milyar Rupiah) dan US$. 12.000.000 (dua juta Dollar AS).

Lembaga lembaga di bawah Masjid Istiqlal

KBIH Intiqlal semula bernama KBIH Kostiq didirikan tahun 2002 oleh Yayasan Kostiq Istiqlal. Pada tahun 2003 dilaksanakan peremajaan pengurus yang efektif melakukan kegiatannya mulai tahun 2004, dapat menerima pendaftaran dan melakukan bimbingan manasik haji. KBIH didirikan dengan niat yang ikhlas semata-mata untuk menyiarkan Agama Islam, dengan membantu memberikan kemudahan bagi calon Haji untuk menjadi haji yang mabrur. Pusat kegiatan KBIH Istiqlal baik pelayanan administrasi maupun pelayanan bimbingan manasik kepada jamaah calon haji baik secara teori maupun praktek, berlokasi di Masjid Istiqlal.*** (dari  berbagai sumber)


Minggu, 04 Desember 2016

Islam di Zanzibar

Zanzibar adalah wilayah semi otonom Republik Persatuan Tanzania, terdiri dari Pulau Zanzibar, Pulau Pemba dan Pulau Mafia. Hampir seluruh penduduk Zanzibar adalah pemeluk agama Islam.

Zanzibar adalah sebuah pulau yang terletak di lepas pantai timur benua Afrika, secara administratif Zanzibar merupakan Wilayah Semi Otonom dari Negara Republik Persatuan Tanzania (United Republic of Tanzania) yang merupakan gabungan wilayah daratan Tanzania dengan wilayah pulau Zanzibar dan sekitarnya. Sebagai Wilayah semi otonom Zanzibar memiliki hak Istimewa untuk memiliki pemerintahannya sendiri dibawah kendali seorang Presiden yang dipilih secara demokratis secara periodik.

Islam memainkan peran penting diantara satu juta penduduk Zanzibar, 99% penduduknya merupakan penganut agama Islam. Bertolak belakang dengan wilayah Tanzania daratan yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan hanya 35% dari penduduknya yang beragama Islam. Zanzibar memiliki sejarah panjang begitu juga dengan sejarah Islam di pulau itu.

Pulau Zanzibar cukup lama berada dibawah kendali Sultan Oman sampai kemudian membentuk kesultanan sendiri dibawah kendali Oman hingga ahirnya bangsa Eropa mendarat disana dan mengambil kendali wilayah tersebut, perjuangan kemerdekaan dan gejolak politik dalam negeri mengantarkan wilayah pulau itu kepada pembentukan negara persatuan dengan Republik Persatuan Tanzania hingga saat ini. meskipun gaung kemandirian sebagai sebuah negara merdeka masih menggema hingga hari ini.

  
Zanzibar Dalam Konteks Sejarah

Pulau Zanzibar, Unguja dan Pemba pada awalnya dihuni oleh orang orang Arab dan Persia kebanyakan berasal dari wilayah Shiraz (Iran) tanpa kehadiran orang orang dari benuda Afrika. Dimasa perbudakan orang orang arab dan Shiraz di Zanzibar melakukan bisnis perdagangan budak, gading dan rempah rempah.

Penjelajah Portugis baru tiba disana pada ahir abad ke 15 Miladiyah, kemudian mengambil alih kendali di wilayah tersebut selama hampir 200 tahun. Di tahun 1689 pulau Zanzibar jatuh ke tangan Kesultanan Oman yang kemudian mengendalikan pulau tersebut selama lebih dari 130 tahun. Kekuasaan Oman kemudian diteruskan oleh Kesultanan Zanzibar yang secara dominan dikendalikan oleh komunitas Arab di Zanzibar.

Sementara itu ada sebagian kecil pemukim disana yang merupakan pembauran bangsa Arab dan Afrika melalui perkawinan yang kala itu merupakan hal yang biasa terjadi. Pembauran bangsa Afrika dan pencampuran suku bangsa tersebut dikemudian hari dikenal sebagai orang orang Shirazi

Meskipun secara resmi pelarangan perdagangan budak sudah disyahkan tahun 1822, namun faktanya hingga pertengahan abad ke 19 Miladiyah, Zanzibar tetap secara aktif menjadi pusat perdagangan budak di kawasan timur benua Afrika bersamaan dengan boomingnya perdagangan rempah rempah.

Masjid Kizimkazi diketahui merupakan masjid tertua di Zanzibar dan dibangun oleh keturunan Rosulullah

Orang orang Afrika tidak saja dijadikan objek perbudakan melalui pelabuhan Zanzibar, namun juga dipekerjakan sebagai pekerja pelabuhan dan di perkebunan rempah rempah disana. Baru di tahun 1878 dibawah tekanan militer Britania Raya, Sultan Zanzibar menandatangani dekrit anti perbudakan dan perdagangan budak secara resmi berahir, meskipun nyatanya perdagangan budak secara rahasia tetap terjadi hingga beberapa dekade setelah itu.

Jerman mengambil alih wilayah Tangayika melalui sebuah perjanjian dengan Britania Raya pada tahun 1886 namun tetap memberikan kemerdekaan kepada Zanzibar. Protektorat Britania atas Pulau Zanzibar ditambahkan lagi pada ahir perang dunia pertama melaui kendali wilayah Tangayika. Di Zanzibar, Britania masih memberikan kekuasaan otonom kepada sultan namun perdagangan budak sudah sama sekali dihentikan. Para budak Afrika yang bekerja di perkebunan Rempah pun mendapatkan sedikit perubahan setelah sekian lama bekerja keras hingga kurus kering.

Kemerdekaan Zanzibar

Zanzibar memperoleh kemerdekaannya pada bulan Desember 1963 sebagai sebuah Monarki Konstitusional dibawah kepemimpinan seorang Sultan, namun partai politiik terbesar disana saat itu, Afro-Shirazi Party (ASP) memboikot pemerintahan dengan dukungan dari dua partai kecil lainnya yang memiliki keterkaitan dengan elite Arab dan kepentingan Inggris.

Hanya satu bulan setelah kemerdekaan, partai ASO dibawah pimpinan John Okello melakukan pemberontakan menggulingkan Sultan dan mengakibatkan korban jiwa ribuan orang arab dan sebagian besar lainnya melarikan diri keluar dari pulau Zanzibar. Segera setelah itu pemerintahan dikuasi oleh ASP yang mengangkat Abeid Karume sebagai perdana menteri baru dan segera setelah itu menandatangani perjanjian dengan Presiden Tangayika Julius Nyerere untuk menyatukan duan negara tersebut menjadi Republik Persatuan Tanzania yang bertahan hingga hari ini.

Masjid Malindi dengan menaranya yang unik merupakan salah satu masjid tertua di Zanzibar

Dengan sejarahnya yang demikian tak lazim, Zanzibar seringkali berada di situasi merugi di dalam jalinan Negara Persatuan Tanzania. Meskipun satu negara namun terbelah dalam garis etnis dan politik tidak pernah sama dan sebangun. Kelompok Arab Zanzibar memiliki keinginan yang kuat bagi pemisahan negara dibandingkan dengan kelompok Shirazi yang lebih bertendensi bagi sebuah penguatan otonomi bagi Zanzibar.

Sebagai bagian dari sebuah negara Federasi, sesungguhnya Zanzibar telah menikmati kekuasaan sendiri secara terbatas, namun undang undang Tanzania melarang setiap partai politik untuk menentang persatuan nasional, artinya melarang segala upaya pemisahan diri Zanzibar dari Tanzania. Hanya saja yang terjadi bahwa partai oposisi Tanzania, Civic United Front (CUF) telah lama memiliki basis politik yang kuat diantara kelompok Arab Zanzibar dan mengupayakan perluasan kekuasaan pemerintahan sendiri bagi Zanzibar.

Seiring kekalahan di Pemilu tahun 1995, para pendukung partai CUF mengalami tindakan keras dari pihak berwenang, penahanan hingga penganiayaan. Pada pemilu tahun 2000 partai CUF melakukan boykot yang berakibat lebih parah lagi, pendukung dan simpatisan partai turun ke jalan di jawab dengan turunnya militer dan polisi Tanzania yang melakukan pembubaran paksa hingga aksi damai tersebut berubah menjadi peristiwa berdarah, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga HAM, 35 orang tewas dalam peristiwa itu dan 600 orang lebih terluka.

Tanzania daratan dan Pulau Zanzibar memang memiliki perbedaan yang mencolok, bila di zanzibar muslim merupakan mayoritas sementara di daratan hanya sekitar 35% saja, sedangkan partai berkuasa justru melakukan pengawasan ketat bagi semua lembaga Islam. Seperti teradi di tahun 2001,  ada 20 tokoh muslim Zanzibar yang ditahan aparat karena merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda dengan hari yang ditetapkan oleh pemerintah. Masih ditahun yang sama pemerintah pusat yang dikuasai oleh partai CCM, lagi lagi membuat marah muslim setempat dengan tindakan pemerintah yang mengeluarkan Peratuan Kemuftian yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk mengawasi semua organisasi Islam.

Dalam pemilu yang diselenggarakan bulan Oktober 2005, partai CCM yang berkuasa menuai serangkaian protes dari para pemantau pemilu karena kedapatan adanya warga dari Tanzania daratan yang justru masuk dalam daftar pemilih di pulau Zanzibar. Dua pulau lainnya justru memiliki perbedaan politik yang mendalam, pulau Unguja memberikan dukungan kepada partai pemerintah CCM sementara pulau Pemba justru mendukung kepada partai oposisi CUF.

Kendatipun terjadi kekhawatiran akan tindak kekerasan atas kemenangan partai CCM namun tidak terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di tahun 2001. Kemungkinan terjadi karena begitu banyaknya aparat keamanan yang diterjunkan ke lokasi selama proses pemilu berlangsung.

Pihak partai CUF menolak mengakui presiden Baru Zanzbar, namun menyerukan agar masyarakat tetap tenang. Pemerintahan partai CCM di Zanzibar justru mengeluarkan larangan bagi media swasta di Zanzibar. Presiden Tanzania yang baru hasil pemilu –Kikwete- berjanji untuk sebuah dialog guna menjembatani perbedaan yang terjadi dan menyelenggarakan pembicaraan antara CCM dan CUF di bulan Januari 2007.

Islam di Zanzibar

Islam merupakan agama yang dianut mayoritas penduduk Zanzibar. Merujuk kepada data Factbook, lebih dari 99% atau hampir seluruh penduduk pulau ini merupakan pemeluk Islam. Sebagian besar muslim Zanzibar merupakan muslim Suni, meskipun ada sedikit penganut Ahmadiyah.

Salah satu Masjid di pusat keramaian pulau Zanzibar dengan ukiran pintu utamanya yang cukup impresif.

Islam di Zanzibar memiliki akar sejarah yang teramat panjang, Islam sudah masuk dan berkembang di Zanzibar sejak abad ke delapan miladiyah. Dimasa penjajahan Inggris, Zanzibar memainkan peranannya sebagai satu satunya Pusat Intelektual bagi gerakan islamisasi di kawasan negara negara Afrika Timur dibawah kesultanan Zanzibar. Di masa itu, masjid Gofu dan Masjid Barza mempersilahkan para santri dari negara negara Afrika Timur untuk mendapatkan pendidikan Islam disana. Zanzibar Muslim Academy juga memberikan getaran kuat bagi Islam di Afrika Timur.

Kesultanan Zanzibar kala itu membentang dari Cape (Rãs) Asir di pantai Banadir Somalia hingga ke sungai Ruvuma river di Cape Delgado, hingga membentang ke wilayah danau Great Lake dan pengaruhnya jauh lebih luas dari itu. Di masa kejayaan itu terkenal sebuah idiom “bila saja kau mainkan flute di Zanzibar maka seluruh Afrika akan menari”, menunjukkan begitu kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar di masa itu.

Kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar juga merasuk ke ranah bahasa. Bahasa Swahili diketahui merupakan bahasa Afro-Islam merupakan salah satu yang pertama dari tujuh bahasa yang paling banyak digunakan di dunia berkembang dari kesultanan Zanzibar hingga ke Congo, India Barat dan Madagaskar. Tata bahasa Creole yang digunakan di Mauritius meskipun banyak menyerap bahasa Perancis namun sangat bercirikan Bahasa Swahili karena memang ada banyak orang yang berasal dari Zanzibar yang kini menjadi bagian dari bangsa Creole di Mauritius.

Bahasa swahili kini digunakan sebagai bahasa pengantar bagi kaum muslim di kawasan Afrika Timur sama seperti bahasa arab yang digunakan sebagai bahasa pengantar diantara negara negara Islam. Salah satu faktornya adalah dikarenakan bahasa swahili begitu banyak menyerap kata kata dari bahasa arab dibandingkan dengan bahasa Inggris yang justru lebih banyak menyerap dari bahasa latin.

Tokoh tokoh muslim Zanzibar

Sh Abdullah Saleh Farsy dikenal luas sebagai seorang penulis puisi, sejarawan dan ilmuwan Islam di Zanzibar. Beliau dikenal dengan kontribusinya terhadap pengetahuan Islam dan merupakan orang pertama yang menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Swahili. 

Tokoh berikutnya adalah Sh. Nassor Bachoo yang dikenal luas sebagai tokoh muslim di kawasan Afrika Timur, khususnya di Tanzania dan Kenya, di Zanzibar sendiri beliau dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. Tokoh muslim lainnya yang cukup dikenal adalah (alm) Sh. Amir Tajir yang merupkan mantan kepala Qadi Zanzibar. Sementara para tokoh Muslim yang tergabung dalam organisasi Uamsho yakni organisasi yang bergerak di bidang mobilisasi dan propaganda umat Islam Zanzibar dikenal luas dengan misinya untuk kemandirian Zanzibar sebagai negara mandiri terpisah dari Republik Persatuan Tanzania.***


Sabtu, 03 Desember 2016

Masjid Jabal Nur dan Kisah Kembalinya Suku Tengger ke Pangkuan Islam

Masjid Jabal Nur Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Masjid Jabal Nur merupakan masjid tertinggi di pulau Jawa, karena terletak  di ketinggian lebih dari 2000 meter dari permukaan laut. Diapit gunung Semeru dan Bromo 

Sekilas tak ada yang istimewa dari masjid yang satu ini, ukurannya pun terbilang kecil untuk sebuah masjid jami’. Tapi ada yang teramat istimewa dari masjid kecil ini. Masjid Jabal Nur Hidayatullah nama resminya, disebut sebut sebagai masjid tertinggi di pulau Jawa, lokasinya berdiri di dataran tinggi Tenger berada di ketinggian lebih dari 2000 meter dari permukaan laut. Yang paling istimewa adalah masjid ini merupakan salah satu representasi dari perjuangan panjang selama 20 tahun dua da’i handal mengislamkan kembali warga Suku Tengger.

Topografi dataran tinggi Tengger memang berbukit bukit dan bergunung gunung, wajar bila kemudian masjid Jabal Nur ini pun  berdiri di punggungan bukit dengan bidang bukaan yang tidak terlalu lebar. Bahkan untuk menuju kesana pun butuh perjuangan ekstra menempuh medan yang terjal. Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan ustadz muda Ali Farqu, selama 20 tahun malang melintang di kawasan tersebut seorang diri menempuh perjalanan puluhan kilo per hari dengan berjalan kaki demi syiar Islam.

Lokasi Masjid Jabal Nur

Masjid Jabal Nur Hidayatullah
Dusun Puncak, Desa Argosari
Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang
Jawa Timur – Indonesia


Sejarah Masjid Jabal Nur

Berdirinya Masjid Jabal Nur ini tak lepas dari peran Ustadz Ali Farqu Thoha, da’i yang sudah menghabiskan 20 tahun untuk berdakwah mengislamkan kembali warga di pegunungan Tengger. Disebut “mengislamkan kembali” karena faktanya menurut Warsito, salah satu dai yang juga aktif berdakwah di kawasan Tengger, sebenarnya agama mayoritas warga Dusun Puncak adalah Islam. Terbukti dengan adanya sejumlah peninggalan berupa mushola dan sebagainya. Tapi, setelah ditinggal juru dakwah, Islam di sana pun redup, bahkan mati.

Setelah ada dai kembali berdakwah, lambat laun gelombang masyarakat yang kembali ke Islam semakin besar. Hingga akhirnya dari sekitar 37 KK atau 250 jiwa, hanya 9 KK yang masih tercacat beragama Hindu. Metoda dakwah yang dijalankan oleh Ustadz Ali Farqu Thoha dengan mengenalkan Islam dari hal yang paling sederhana misalnya dengan mengucap salam. Setiap bertemu dengan warga, selalu mengucapkan salam. Lambat laun, mereka pun terbiasa dan menerima Ali. Ali sendiri dengan medan pegunungan seperti itu, sering menempuh dengan jalan kaki. Gelap, hujan, dan jatuh sudah menjadi menu yang menemaninya selama berdakwah.

Tak hanya tantangan alam, ancaman teror dari pihak pihak yang tak senang dengan perkembangan Islam di kawasan tersebut juga menerpa. Usaha kerasnya ahirnya berbuah manis, satu persatu warga dusun Puncak kembali ber-Islam kemudian diikuti oleh warga dari dusun dusun disekitar dusun puncak lainnnya. Sampai dititik tersebut mulai dibutuhkan tempat ibadah untuk sholat berjamaah serta keperluan lainnya. Bersama sama masyarakat setempat kemudian dibangun sebuah mushola sederhana berukuran 5 x 5 m berdinding papan dan beratap karung.

Masjid Jabal Nur beberapa bulan setelah diresmikan

Berdirinya Masjid Jabal Nur

Ketika digulirkan rencana pembangunan Masjid Jabal Nur di tahun 2009, warga Hindu dusun Puncak sempat berencana untuk membangun sebuah pura yang posisinya tepat berhadap hadapan dengan lokasi bakal masjid. Namun berkat pendekatan tokoh muslim setempat yang sebelumnya adalah tokoh masyarakat Hindu disana, lokasi pembangunan pura digeser sekitar 500 meter ke arah timur dengan metoda pertukaran lahan. 

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Jabal Nur ini dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2009 oleh Wakil Bupati Lumajang Drs. As'at Malik, di hari yang sama beliau juga meresmikan Masjid Al Hidayah Desa Argosari Kecamatan Senduro, sekitar lima kilometer dari Masjid Jabal Nur. Saking sulitnya medan menuju lokasi Masjid Jabal Nur ini, petinggi Kabupaten Lumajang tersebut mau tidak mau harus menumpang ojek yang sudah disiapkan oleh panitia.

Pembangunan Masjid Jabal Nur ini menghabiskan dana sekitar Rp 150 juta lebih. Dananya dari berbagai sumber. Ada dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH), LSM, swadaya, dan aghniya. Dana tersebut memang cukup besar. Pasalnya, membawa material bangunan cukup sulit. Harus digotong sejauh sekitar 3 kilometer. Kontan, ketika masa pembangunan tersebut, para mualaf libur kerja selama lima bulan. BMH adalah salah satu lembaga Amil Zakat Nasional yang konsisten dalam berdakwah, kini BMH telah mengirim ratusan da’i keseluruh pelosok negeri, khususnya daerah-daerah pedalaman.

Setahun kemudian Masjid Jabal Nur Hidayatullah diresmikan langsung oleh Wakil Bupati Lumajang, Drs. H. As’at Malik pada hari Ahad tanggal 18 juli 2010, dalam sambutan Wakil Bupati yang telah dikenal masyarakat sebagai seorang Kiyai ini, menyampaikan terimakasih kepada Baitul Maal Hidayatullah (BMH)  yang telah berperan aktif membina para muallaf tengger lewat para da’i yang ditugaskan didaerah tersebut. berbarengan dengan acara peresmian tersebut BMH juga mengadakan acara, sunnat Massal yang diikuti 20 orang anak, dan pengobatan gratis yang diikuti 1050 orang.

Mungil ::: inilah masjid di lokasi tertinggi di pulau Jawa. Masjid di tengah dusun berselimut kabut diantara dua gunung tersohor pulau jawa, Bromo dan Semeru.

Peresmian tersebut dihadiri sekitar 500 orang mulaf Tengger juga diisi dengan ceramah agama oleh K.H. Makhrus Ali , dan K. H. Habib Alwi Alhabsy dari Lumajang. Kedua tokoh ini begitu bersemangat menyampaikan pesan-pesan agama kepada para muallaf disana, bahkan mereka mewanti-wanti untuk diundang kembali jika ada acara disana, “tanpa disangoni, saya ikhlas” ujar K.H. Makhrus Ali. Begitupun para pesertanya tampak begitu antusias, gemuruh sholawat yang keluar dari suara peserta menggaung diantara lereng-lereng gunung yang terjal, membahana menembus kabut tipis.

Ribuan muallaf tumpah ruah dalam acara peresmian Masjid Jabal Nur Hidayatullah, mereka datang dari berbagai dusun Desa Argosari, Dusun Gedok, Pusung Duhur, dan puncak tempat mereka datang. Untuk mencapai tempat acara para muallaf rela berjalan kaki berpulu-puluh kilo meter, dengan medan jalan yang  terjal, menanjak, menukik, kanan dan kiri dipagari jurang. Ummat muslim yang masih mualaf disana sangat bersyukur telah dibangun masjid yang bisa dipakai untuk ibadah sholat jumat, sholat jamaah lima waktu, pengajian dan Taman Pengajian Al qur’an (TPA).

Berlatar bentang alam yang indah alami

Arsitektural Masjid Jabal Nur

Masjid itu bernama Jabal Nur. “Jabal” artinya gunung, sedangkan “Nur” adalah cahaya (Islam). Menurut, nama itu sengaja dibuat karena ingin Islam menjadi cahaya di puncak tertinggi di Senduro itu. Ukurannya tak terlalu besar sekitar 10 x 8 m, tapi setidaknya cukup jika menampung lebih dari 50 jamaah. Belum lagi di bagian teras luar masjid. Desain masjid dibuat minimalis, tapi modern. Dihiasi kubah bundar besar, menambah masjid ini penuh wibawa. di pucuk kubah bertuliskan “Allah”. Seluruh dinding masjid bercat putih dengan keramik lantai berwarna hijau muda. Yang menambah indah masjid ini, posisinya cukup tinggi dibanding dengan rumah-rumah para penduduk. Bagian tangganya dibikin semacam tangga yang berundak-undak tinggi. Eksotis sekali.

Lokasinya yang berada diketinggian memberikan pemandangan bentang alam yang begitu indah dari masjid ini, sebuah puncak di lereng Semeru yang indah. Dan, akan lebih indah lagi jika berdiri di teras masjid. Panorama mengagumkan akan terlihat jelas. Jurang yang menganga begitu terjal di kanan dan kiri. Masjid yang betul-betul menjadi berkah bagi warga dusun Puncak. Mengingat, bukan hal mudah untuk mendirikannya. Bukan karena dana, tapi juga lahan yang akan dijadikan masjid. Tapi, itu semua berkah setelah mereka hijrah dari Hindu ke Islam. Allah pun mempermudah pendirian masjid tersebut. (dirangkum dari berbagai sumber)***