Tampilkan postingan dengan label islam di afrika timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam di afrika timur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Desember 2017

Mayotte, Prancis yang tak Prancis

Muslimah berjilbab di Mayotte, salah satu pemandangan sehari hari di Mayotte yang notabene adalah wilayah Prancis di Samudera Hindia, namun sama sekali tak bercita rasa Prancis.

Dari sudut pandang manapun Mayotte sama sekali tak terlihat seperti Prancis. Semua orang mengenal Prancis sebagai Negara nya Napoleon Bonaparte, ber-ibukota di Paris dan berpandangan politik Sekuler. Khusus bagi ummat Islam, mendengar nama prancis boleh jadi langsung membayangkan fakta yang kontradiktif.

Bahwa prancis adalah Negara Eropa dengan penduduk Islam terbesar namun gelombang “penistaan terhadap Islam” sempat mencuat ke permukaan sebagai akibat kebijakan pelarangan penggunaan symbol agama di tempat umum, namun justru lebih menyudutkan wanita berjilbab sebagai sasaran empuk. Namun semua fakta itu terjungkir balik di Mayotte yang notabene secara de jure maupun de fakta adalah bagian dari Prancis. Kok Bisa.


Tentu saja bisa. Mayotte adalah salah satu wilayah seberang lautan Prancis, lokasinya berada di Samudera Hindia bagian selatan, tetangga terdekatnya adalah republik kepulauan Comoro yang sama sama berada di selat Mozambik yang memisahkan antara pulau Madagaskar dan benua Afrika.  Luas Mayotte tak lebih dari 374 meter persegi dan 97 persen penduduknya beragama Islam.

Di tahun 1974 referandum yang diselenggarakan di Mayotte untuk menentukan nasib Negara tersebut. Secara meyakinkan penduduk kepulauan tersebut memilih untuk tetap bergabung sebagai bagian dari Prancis. Berbeda dengan tetangganya Commoro yang memilih merdeka dari Prancis. 

Salah satu sudut kota di pulau Mayotte. Sangat khas sebuah pulau dengan penduduk muslim. tampak di kejauhan menara salah satu masjid besar di Mayotte.

Referendum yang sama dilakukan lagi tahun 2009 lalu dan nyatanya 95.2% penduduknya bersikukuh untuk tetap menjadi bagian dari Prancis.  Maka jadilah Mayotte sebagai bagian dari wilayah seberang lautan Prancis hingga kini, dan menjadi wilayah Uni Eropa dengan lokasi paling jauh dari benua Eropa.

Jadi, dengan fakta bahwa 97% penduduknya beragama Islam, maka wajar bila pemandangan di Mayotte sama sekali tak-prancis. Hampir diseluruh penjuru kota terlihat muslimah berjilbab bahkan bermukena tanpa ada gangguan apapun. Tak ada salju di Mayotte dan tak ada pencakar langit apalagi pusat mode dunia disana. Karena Mayotte memang tidak berada di Eropa tapi di lepas pantai timur Afrika. Jaooooooh banget dari Benua Eropa***.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 25 Maret 2017

Islam di Burundi

Masjid Al-Markaz Burundi, berdiri megah di kawasan Nyakabiga, kota Bujumbura, Ibukota Negara Burundi.

Negara satu ini mungkin jarang terdengar di telinga orang Indonesia. Burundi adalah sebuah Negara kecil yang berada di tengah tengah daratan benua Afrika tanpa akses ke laut.  Negara ini berbatasan dengan Rwanda di utara, Tanzania di selatan dan timur, serta Republik Demokratik Kongo di barat. Meskipun negara ini tidak mempunyai batas laut, perbatasan di sebelah barat-nya hampir separuh berada di Danau Tanganyika yang menjulur dari utara ke selatan di perbatasan antara Burundi dengan Kongo, juga menjadi batas alami antara Tanzania dengan Konggo dan Malawi.

Burundi merupakan salah satu Negara termiskin di dunia dengan pendapatan perkapitanya sekitar 400 kali lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia. Kondisi geografisnya yang tanpa akses ke laut, penduduknya yang padat di wilayah yang sempit ditambah lagi dengan sumber alamnya yang terbatas, diperburuk dengan kondisi negaranya yang tak pernah sepi dari konflik yang berkepanjangan.  Burundi menjadi salah satu Negara di dunia yang paling banyak konflik terutama perseteruan antara Etnis Tutsi yang minoritas namun berkuasa di elit politik terhadap Etnis Hutu yang mayoritas dalam jumlah namun terpinggir.

Luas wilayahnya 27.834 km2, sedikit lebih kecil dibandingkan dengan luas provinsi Maluku Utara (31.982,5 km2) dengan perkiraan populasi 10.216.190 jiwa. Meski berada di wilayah Afrika Timur, posisinya di Benua Afrika membuatnya kerap dianggap sebagai bagian dari Afrika Tengah. Burundi merupakan sebuah kerajaan merdeka sejak abad ke-16. Hingga jatuhnya kerajaan pada tahun 1966. Pada tahun 1903, Burundi menjadi jajahan Jerman dan diserahkan kepada Belgia pada Perang Dunia II. Ia kemudian menjadi bagian dari mandat Liga Bangsa-Bangsa Belgia, Ruanda-Urundi pada tahun 1923, dan kemudian Wilayah Kepercayaan PBB di bawah otoritas Belgia setelah Perang Dunia II dan Merdeka dari kolonialisasi Belgia pada 1 Juli 1962.


Namun sejak kemerdekaannya hingga tahun pemilu pada tahun 1993, Burundi dikuasai serangkaian diktator militer, seluruhnya dari kelompok minoritas Tutsi. Periode tersebut dipenuhi kerusuhan etnis termasuk peristiwa peristiwa besar pada tahun 1964, 1972 dan akhir 1980-an. Pada tahun 1993, Burundi mengadakan pemilu demokratis pertamanya, yang dimenangi Front untuk Demokrasi di Burundi (FRODEBU) yang didominasi suku Hutu. Pemimpin FRODEBU Melchior Ndadaye menjadi presiden Burundi pertama yang berasal dari suku Hutu, namun beberapa bulan kemudian dia dibunuh sekelompok tentara suku Tutsi yang kemudian mengakibatkan pecahnya perang saudara antara kedua suku ini.

Perang saudara antar suku Hutu dan Tustsi terus berlanjut hingga tahun 1996, saat mantan presiden Pierre Buyoya mengambil alih kekuasaan dalam suatu kudeta. Antara tahun 1993 dan 1999, perang antar suku Tutsi dan Hutu telah merenggut 250.000 korban jiwa. Pada Agustus 2000, persetujuan damai ditandatangani dilanjutkan kemudian pada tahun 2003, gencatan senjata disetujui antara pemerintah Buyoya dan kelompok pemberontak Hutu terbesar, CNDD-FDD. Meski telah ada persetujuan damai, hingga kini konflik masih berlanjut. Dalam pemilu yang diadakan bulan Juli 2005, mantan pemberontak Hutu, CNDD-FDD berhasil memenangkan pemilu.

Islam di Burundi

Islam merupakan agama minoritas di Burundi.  Merujuk kepada data kementerian luar negeri Amerika Serikat tahun 2010, diperkirakan sekitar 2-5% penduduk Burundi beragama Islam. Menurut data pada Pew Research Center, pada 2009 jumlah Muslim di Burundi sekitar 180 ribu jiwa atau dua persen dari total populasi. Namun, berdasarkan data The World Factbook dalam situs CIA yang diperbarui setiap pekan, populasi Muslim di Burundi mencapai 10 persen dari total penduduk. Agama mayoritas di negara itu adalah Kristen yang mencapai  67 persen. Sisanya adalah agama pribumi, yang dipeluk oleh 23 persen penduduknya.

Muslim Burundi berasal dari suku dan bangsa yang beragam. Selain penduduk asli Burundi (Hutu dan Tutsi, konon telah berada di Burundi sejak abad 15), Muslim Burundi juga berasal dari Rwanda. Selain itu, ada pula Warabu (sebutan bagi pedagang Arab dan Oman yang telah tinggal di Burundi), serta Bahindi (orang-orang India dan Pakistan yang juga telah lama bermukim di Burundi).

Masjid dan Islamic Center Bujumbura

Selain mereka, orang-orang Afrika Barat juga memasuki Burundi dalam beberapa dekade terakhir. Mereka adalah para pedagang dari Mali, Senegal, dan Pantai Gading yang datang untuk mengimpor pakaian dan kain atau bertransaksi emas yang ditambang dari Kongo. Banyak dari mereka kemudian meninggalkan Burundi saat konflik pecah pada 1993. Sisanya tetap tinggal dan membuka toko-toko kecil di pasar pusat atau di Bwiza.

Satu hal yang menarik dari muslim pribumi Burundi, meskipun mereka berasal dari dua suku yang dalam sejarahnya tak pernah akur, namun setelah memeluk Islam mereka hidup bersaudara dan tak lagi terlibat dalam pertikaian antar etnis yang begitu keras sejak Negara tersebut merdeka. Muslim Burundi memainkan peran teramat penting dalam proses rekonsiliasi kedua belak pihak yang berteru di negara tersebut di era 1990-an.

Libur Nasional

Konstitusi Burundi menganut sistem Sekuler, namun demikian beberapa peringatan hari hari besar Islam ditetapkan sebagai hari libur Nasional, yakni perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sejak Idul Fitri 1426 H bertepatan dengan 2005, hari raya umat Islam itu untuk pertama kalinya ditetapkan sebagai hari libur nasional Burundi. Dan meskipun secara jumlah, muslim Burundi terbilang sedikit namun eksistensi mereka cukup terwakili hingga posisi pejabat senior di kancah politik dan kemasayarakatan, terutama sejak berahirnya perang Sipil disana tokoh tokoh Islam di Burundi memutuskan untuk terjun ke kancah politik.

Sejarah Islam di Burundi

Islam pertama kali masuk ke Burundi dari kawasan pantai Afrika Timur semasa perdagangan budak yang terjadi di awal abad ke 19. Perlawanan oleh kerajaan Burundi dipimpin oleh mwami (Raja) Mwezi IV Gisabo,  berhasil menangkal pendudukan kerajaan Burundi oleh bangsa Arab, namun demikian Bangsa Arab berhasil menguasai kawasan di Ujiji dan Uvira berdekatan dengan perbatasan Negara Burundi saat ini.

Masjid Bujumbura di selembar kartu pos

Islam mula-mula diperkenalkan oleh para pedagang Arab dan Swahili yang tiba di Burundi sejak awal abad 19, melalui Samudera Hindia melewati Ujiji (sekarang wilayah di Tanzania) untuk mencari gading dan juga budak. Sekitar tahun 1850, mereka membuat koloni di Uvira. Ujiji dan Uvira kemudian menjadi titik pertemuan para kafilah dan para pedagang (orang-orang Arab dan Afrika). Dari sana, mereka lalu mulai bertukar produk atau barang dagangan dengan Nyanza dan Rumonge, dua kota tepi danau di Burundi.

Sedikit demi sedikit, Islam mulai masuk ke Burundi. Tahun 1885, gubernur Ujiji, Mohammed bin Khalfan memutuskan untuk memperluas kekuasaannya ke selatan dengan tujuan memperoleh lebih banyak gading dan budak belian. Bin Khalfan merupakan bagian dari Barwani, sebuah keluarga Oman yang masyhur dan telah bermukim di Afrika Timur.

Ia berkali-kali mengirim serangan ke wilayah tepian danau di Burundi. Namun pertahanan Raja Mwami Mwezi IV Gisabo Bikata-Bijoga (raja Burundi yang berkuasa pada 1852-1908) berhasil menahan serangan-serangan tersebut sehingga Bin Khalfan gagal menguasai Burundi.

Pada 1890, rombongan misionaris pertama tiba di daerah yang sekarang menjadi Kota Burundi. Di sana, mereka menemukan Wangwana, nama yang diberikan pada Muslim Afrika di Afrika Tengah. Dengan kata lain, Muslim telah tiba lebih dahulu daripada Kristen. Saat Perang Dunia I pecah pada 1914, mayoritas populasi Bujumbura merupakan pemeluk Islam.

Peta pembagian wilayah administrasi negara Burundi. Bujumbura selaku ibukota negara, terbagi menjadi dua wilayah yakni Bujumbura Mairie yang merupakan wilayah perkotaan dan Bujumbura Rural yang lebih sebagai daerah penyanggah ibukota. kedua wilayah ini berada di tepian danau Tangayika, berseberangan langsung dengan wilayah Republik Demokratik Kongo (d/h Zaire).

Selanjutnya, Islam di Bujumbura meningkat dengan kolonisasi yang dilakukan oleh Jerman yang sebagian tentara kolonialnya beragama Islam. Pada waktu yang sama, para pedagang India dan Arab berduyun-duyun memasuki Bujumbura demi meraup keuntungan berdagang yang lebih besar dari kota yang sedang berkembang tersebut.

Kala itu, Jerman memasukkan orang-orang Swahili dan Banyamwezi dalam satuan polisi dan administrasi, dan Kiswahili menjadi bahasa resmi Jerman Afrika Timur (nama untuk wilayah kolonial Jerman di Afrika Timur).

Pada masa kolonisasi Belgia yang dimulai pada 1919, penduduk Burundi mulai tinggal di Bujumbura. Namun hingga 1957, orang-orang Burundi tidak lebih dari 27 persen dari total penduduk Bujumbura. Selain mereka, terdapat lebih dari 80 suku yang berbicara dalam 34 bahasa berbeda. Saat itu, Muslim berjumlah 35,6 persen dari seluruh populasi yang beragam itu.

Pada saat ini komunitas muslim Burundi terpusat di kawasan perkotaan terutama di ibukota negara, Kota Bujumbura, khususnya di distrik Buyenzi dan Bwiza, Gitega, Rumonge, Nyanza, Muyinga dan Makamba. Di kota Bujumbura telah berdiri masjid utama Burundi dan Islamic Cultural Center yang dibangun pemerintah Libia di masa kepresidenan Bagaza (1976-1987). Sebagian besar muslim Burundi merupakan muslim Suni, hanya sebagian kecil saja yang menganut faham syi’ah.

Salah satu masjid di Bujumbura 

Muslim Burundi rata rata menggunakan bahasa Swahili dalam kehidupan sehari hari, yang merupakan salah satu bahasa Nasional Burundi, Jarang ditemukan Muslim Burundi yang tidak bisa berbicara bahasa ini, karena itu, istilah "Swahili" sering digunakan untuk menyebut Muslim di Burundi. Meskipun mereka juga menggunakan bahasa resmi nasional lainnya termasuk bahasa Kirundi yang merupakan bahasa resmi Burundi.

Berhaji

Di tengah berbagai keterbatasan itu, umat Islam Burundi masih berupaya untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Musim Haji 1432 H / 2012M, ada 44 Muslim dari Burundi yang berkesempatan menunaikan Ibadah Haji. Bandingkan dengan Jemaah haji Indonesia yang mencapai 220 ribu Jemaah. Para jamaah haji dari Burundi itu mengaku sangat bahagia bisa menunaikan rukun Islam yang kelima. Betapa tidak. Untuk bisa melakukan perjalanan yang menghabiskan biaya 2.950 dolar AS atau 26,5 juta itu mereka harus menunggu cukup lama.
  
Masalah Pendidikan

Sayangnya, kaum Muslim di Burundi tidak memiliki dukungan yang signifikan dari dunia Islam di bidang pendidikan. Karena itu, keberadaan sekolah Islam di sana teramat sedikit. Itupun dengan kondisi yang serba terbatas, seperti bangunan sekolah yang setengah jadi atau dibangun sekadarnya, serta jumlah buku ajar dan Alquran yang terbatas.

Di Burundi, doa dan bacaan shalat dilafalkan dalam bahasa Arab sebagaimana pembacaan Alquran, meski banyak pula Muslim yang membaca Alquran terjemahan dengan bahasa Kiswahili.  Pada akhir abad 20, Alquran juga diterjemahkan ke dalam bahasa Kirundi. Alquran berbahasa Kirundi itu juga dipublikasikan di Kenya atas dana dari Arab Saudi.

Tokoh Tokoh Muslim Burundi

Beberapa tokoh muslim Burundi yang menduduki posisi penting di negara tersebut diantaranya adalah (mendiang) Zedi Feruzi yang merupakan tokoh muslim sangat berpengaruh di Burundi, beliau merupakan pemimpin partai oposisi Burundi, Union for Peace and Development. Zedi Feruzi terbunuh bersama para pengawalnya oleh sekelompok bersenjata pada 23 Mei 2015. insiden tersebut mengakibatkan panasnya suhu politik di negara tersebut.

TOKOH MUSLIM BURUNDI : atas : (mendiang) Zedi Feruzi, Kanan bawah : Leontine Nzeyimana, dan Kiri bawah : (mendiang) Hafsa Mossi.

Insiden pembunuhan tersebut terjadi di tengah pergolakan politik yang dipicu oleh protes yang sedang berlangsung terhadap keputusan kontroversial Presiden Pierre Nkurunziza berupaya kembali berkuasa sebagai presiden untuk ketiga kalinya.

Nama (mendiang) Zedi Feruzi mencuat kepermukaan di kancah perpolitikan Burundi terutama setelah pemecatan tokoh Islam lainnya, Hussein Radjabu di tahun 2007, dari partai CNDD-FDD yang berkuasa dibawah presiden Nkurunziza dari suku Hutu. padahal Hussein Radjabu sendiri merupakan salah satu pendiri partai tersebut.

Sosok tokoh muslim Burundi lainnya adalah Sheikh Mohammed Rukara, anggota parlemen negara tersebut dari pemilu tahun 2011. Beliau merupakan seorang dosen Bahasa Swahili di Universitas Burundi, sosok yang begitu disegani, sekaligus juga tokoh sentral dalam penandatanganan perjanjian damai antara dua etnis bertikai dinegara itu. Perjanjian damai ditandatangani di Ibukota negara Tanzania pada tahun 2000 dan dikenal dengan Arusha Accords. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang mampu menyelesaikan berbagai sengketa kepemilikan tanah antara masyarakat dan pemerintah Burundi. Beliau juga dikenal dekat dengan Mufti Burundi, Abdallah Kajandi Sadiki.

Muslimah Burundi pun masuk ke kancah politik negara terebut, diantaranya adalah Hafsa Mossi, beliau pernah menduduki jabatan setingkat Menteri yang bertanggung jawab menangani hubungan Burundi dengan Komunitas Afrika Timur (East African Community – EAC). beliau sebelumnya merupakan seorang wartawati dan menduduki jabatan dikementrian tersebut selama tiga tahun, sejak tahun 2009 sekaligus memangku jabatan sebagai anggota legislatif di parlemen East African Community. Beliau juga wafat akibat ditembak oleh sekelompok orang tak dikenal pada tanggal 13 Juli 2016. 

Muslimah berikutnya adalah Leontine Nzeyimana, yang merupakan penerus dari Hafsa Mossi di Kementrian Urusan Komunitas Afrika Timur. Beliau dilahirkan di provinsi Makamba dan terpilih sebagai anggota parlemen mewakili daerahnya di tahun 2010, di usianya yang baru menginjak 30 tahun. Beliau merupakan satu dari begitu sedikitnya wanita di tataran Politik Burundi.***


Minggu, 04 Desember 2016

Islam di Zanzibar

Zanzibar adalah wilayah semi otonom Republik Persatuan Tanzania, terdiri dari Pulau Zanzibar, Pulau Pemba dan Pulau Mafia. Hampir seluruh penduduk Zanzibar adalah pemeluk agama Islam.

Zanzibar adalah sebuah pulau yang terletak di lepas pantai timur benua Afrika, secara administratif Zanzibar merupakan Wilayah Semi Otonom dari Negara Republik Persatuan Tanzania (United Republic of Tanzania) yang merupakan gabungan wilayah daratan Tanzania dengan wilayah pulau Zanzibar dan sekitarnya. Sebagai Wilayah semi otonom Zanzibar memiliki hak Istimewa untuk memiliki pemerintahannya sendiri dibawah kendali seorang Presiden yang dipilih secara demokratis secara periodik.

Islam memainkan peran penting diantara satu juta penduduk Zanzibar, 99% penduduknya merupakan penganut agama Islam. Bertolak belakang dengan wilayah Tanzania daratan yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan hanya 35% dari penduduknya yang beragama Islam. Zanzibar memiliki sejarah panjang begitu juga dengan sejarah Islam di pulau itu.

Pulau Zanzibar cukup lama berada dibawah kendali Sultan Oman sampai kemudian membentuk kesultanan sendiri dibawah kendali Oman hingga ahirnya bangsa Eropa mendarat disana dan mengambil kendali wilayah tersebut, perjuangan kemerdekaan dan gejolak politik dalam negeri mengantarkan wilayah pulau itu kepada pembentukan negara persatuan dengan Republik Persatuan Tanzania hingga saat ini. meskipun gaung kemandirian sebagai sebuah negara merdeka masih menggema hingga hari ini.

  
Zanzibar Dalam Konteks Sejarah

Pulau Zanzibar, Unguja dan Pemba pada awalnya dihuni oleh orang orang Arab dan Persia kebanyakan berasal dari wilayah Shiraz (Iran) tanpa kehadiran orang orang dari benuda Afrika. Dimasa perbudakan orang orang arab dan Shiraz di Zanzibar melakukan bisnis perdagangan budak, gading dan rempah rempah.

Penjelajah Portugis baru tiba disana pada ahir abad ke 15 Miladiyah, kemudian mengambil alih kendali di wilayah tersebut selama hampir 200 tahun. Di tahun 1689 pulau Zanzibar jatuh ke tangan Kesultanan Oman yang kemudian mengendalikan pulau tersebut selama lebih dari 130 tahun. Kekuasaan Oman kemudian diteruskan oleh Kesultanan Zanzibar yang secara dominan dikendalikan oleh komunitas Arab di Zanzibar.

Sementara itu ada sebagian kecil pemukim disana yang merupakan pembauran bangsa Arab dan Afrika melalui perkawinan yang kala itu merupakan hal yang biasa terjadi. Pembauran bangsa Afrika dan pencampuran suku bangsa tersebut dikemudian hari dikenal sebagai orang orang Shirazi

Meskipun secara resmi pelarangan perdagangan budak sudah disyahkan tahun 1822, namun faktanya hingga pertengahan abad ke 19 Miladiyah, Zanzibar tetap secara aktif menjadi pusat perdagangan budak di kawasan timur benua Afrika bersamaan dengan boomingnya perdagangan rempah rempah.

Masjid Kizimkazi diketahui merupakan masjid tertua di Zanzibar dan dibangun oleh keturunan Rosulullah

Orang orang Afrika tidak saja dijadikan objek perbudakan melalui pelabuhan Zanzibar, namun juga dipekerjakan sebagai pekerja pelabuhan dan di perkebunan rempah rempah disana. Baru di tahun 1878 dibawah tekanan militer Britania Raya, Sultan Zanzibar menandatangani dekrit anti perbudakan dan perdagangan budak secara resmi berahir, meskipun nyatanya perdagangan budak secara rahasia tetap terjadi hingga beberapa dekade setelah itu.

Jerman mengambil alih wilayah Tangayika melalui sebuah perjanjian dengan Britania Raya pada tahun 1886 namun tetap memberikan kemerdekaan kepada Zanzibar. Protektorat Britania atas Pulau Zanzibar ditambahkan lagi pada ahir perang dunia pertama melaui kendali wilayah Tangayika. Di Zanzibar, Britania masih memberikan kekuasaan otonom kepada sultan namun perdagangan budak sudah sama sekali dihentikan. Para budak Afrika yang bekerja di perkebunan Rempah pun mendapatkan sedikit perubahan setelah sekian lama bekerja keras hingga kurus kering.

Kemerdekaan Zanzibar

Zanzibar memperoleh kemerdekaannya pada bulan Desember 1963 sebagai sebuah Monarki Konstitusional dibawah kepemimpinan seorang Sultan, namun partai politiik terbesar disana saat itu, Afro-Shirazi Party (ASP) memboikot pemerintahan dengan dukungan dari dua partai kecil lainnya yang memiliki keterkaitan dengan elite Arab dan kepentingan Inggris.

Hanya satu bulan setelah kemerdekaan, partai ASO dibawah pimpinan John Okello melakukan pemberontakan menggulingkan Sultan dan mengakibatkan korban jiwa ribuan orang arab dan sebagian besar lainnya melarikan diri keluar dari pulau Zanzibar. Segera setelah itu pemerintahan dikuasi oleh ASP yang mengangkat Abeid Karume sebagai perdana menteri baru dan segera setelah itu menandatangani perjanjian dengan Presiden Tangayika Julius Nyerere untuk menyatukan duan negara tersebut menjadi Republik Persatuan Tanzania yang bertahan hingga hari ini.

Masjid Malindi dengan menaranya yang unik merupakan salah satu masjid tertua di Zanzibar

Dengan sejarahnya yang demikian tak lazim, Zanzibar seringkali berada di situasi merugi di dalam jalinan Negara Persatuan Tanzania. Meskipun satu negara namun terbelah dalam garis etnis dan politik tidak pernah sama dan sebangun. Kelompok Arab Zanzibar memiliki keinginan yang kuat bagi pemisahan negara dibandingkan dengan kelompok Shirazi yang lebih bertendensi bagi sebuah penguatan otonomi bagi Zanzibar.

Sebagai bagian dari sebuah negara Federasi, sesungguhnya Zanzibar telah menikmati kekuasaan sendiri secara terbatas, namun undang undang Tanzania melarang setiap partai politik untuk menentang persatuan nasional, artinya melarang segala upaya pemisahan diri Zanzibar dari Tanzania. Hanya saja yang terjadi bahwa partai oposisi Tanzania, Civic United Front (CUF) telah lama memiliki basis politik yang kuat diantara kelompok Arab Zanzibar dan mengupayakan perluasan kekuasaan pemerintahan sendiri bagi Zanzibar.

Seiring kekalahan di Pemilu tahun 1995, para pendukung partai CUF mengalami tindakan keras dari pihak berwenang, penahanan hingga penganiayaan. Pada pemilu tahun 2000 partai CUF melakukan boykot yang berakibat lebih parah lagi, pendukung dan simpatisan partai turun ke jalan di jawab dengan turunnya militer dan polisi Tanzania yang melakukan pembubaran paksa hingga aksi damai tersebut berubah menjadi peristiwa berdarah, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga HAM, 35 orang tewas dalam peristiwa itu dan 600 orang lebih terluka.

Tanzania daratan dan Pulau Zanzibar memang memiliki perbedaan yang mencolok, bila di zanzibar muslim merupakan mayoritas sementara di daratan hanya sekitar 35% saja, sedangkan partai berkuasa justru melakukan pengawasan ketat bagi semua lembaga Islam. Seperti teradi di tahun 2001,  ada 20 tokoh muslim Zanzibar yang ditahan aparat karena merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda dengan hari yang ditetapkan oleh pemerintah. Masih ditahun yang sama pemerintah pusat yang dikuasai oleh partai CCM, lagi lagi membuat marah muslim setempat dengan tindakan pemerintah yang mengeluarkan Peratuan Kemuftian yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk mengawasi semua organisasi Islam.

Dalam pemilu yang diselenggarakan bulan Oktober 2005, partai CCM yang berkuasa menuai serangkaian protes dari para pemantau pemilu karena kedapatan adanya warga dari Tanzania daratan yang justru masuk dalam daftar pemilih di pulau Zanzibar. Dua pulau lainnya justru memiliki perbedaan politik yang mendalam, pulau Unguja memberikan dukungan kepada partai pemerintah CCM sementara pulau Pemba justru mendukung kepada partai oposisi CUF.

Kendatipun terjadi kekhawatiran akan tindak kekerasan atas kemenangan partai CCM namun tidak terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di tahun 2001. Kemungkinan terjadi karena begitu banyaknya aparat keamanan yang diterjunkan ke lokasi selama proses pemilu berlangsung.

Pihak partai CUF menolak mengakui presiden Baru Zanzbar, namun menyerukan agar masyarakat tetap tenang. Pemerintahan partai CCM di Zanzibar justru mengeluarkan larangan bagi media swasta di Zanzibar. Presiden Tanzania yang baru hasil pemilu –Kikwete- berjanji untuk sebuah dialog guna menjembatani perbedaan yang terjadi dan menyelenggarakan pembicaraan antara CCM dan CUF di bulan Januari 2007.

Islam di Zanzibar

Islam merupakan agama yang dianut mayoritas penduduk Zanzibar. Merujuk kepada data Factbook, lebih dari 99% atau hampir seluruh penduduk pulau ini merupakan pemeluk Islam. Sebagian besar muslim Zanzibar merupakan muslim Suni, meskipun ada sedikit penganut Ahmadiyah.

Salah satu Masjid di pusat keramaian pulau Zanzibar dengan ukiran pintu utamanya yang cukup impresif.

Islam di Zanzibar memiliki akar sejarah yang teramat panjang, Islam sudah masuk dan berkembang di Zanzibar sejak abad ke delapan miladiyah. Dimasa penjajahan Inggris, Zanzibar memainkan peranannya sebagai satu satunya Pusat Intelektual bagi gerakan islamisasi di kawasan negara negara Afrika Timur dibawah kesultanan Zanzibar. Di masa itu, masjid Gofu dan Masjid Barza mempersilahkan para santri dari negara negara Afrika Timur untuk mendapatkan pendidikan Islam disana. Zanzibar Muslim Academy juga memberikan getaran kuat bagi Islam di Afrika Timur.

Kesultanan Zanzibar kala itu membentang dari Cape (Rãs) Asir di pantai Banadir Somalia hingga ke sungai Ruvuma river di Cape Delgado, hingga membentang ke wilayah danau Great Lake dan pengaruhnya jauh lebih luas dari itu. Di masa kejayaan itu terkenal sebuah idiom “bila saja kau mainkan flute di Zanzibar maka seluruh Afrika akan menari”, menunjukkan begitu kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar di masa itu.

Kuatnya pengaruh kesultanan Zanzibar juga merasuk ke ranah bahasa. Bahasa Swahili diketahui merupakan bahasa Afro-Islam merupakan salah satu yang pertama dari tujuh bahasa yang paling banyak digunakan di dunia berkembang dari kesultanan Zanzibar hingga ke Congo, India Barat dan Madagaskar. Tata bahasa Creole yang digunakan di Mauritius meskipun banyak menyerap bahasa Perancis namun sangat bercirikan Bahasa Swahili karena memang ada banyak orang yang berasal dari Zanzibar yang kini menjadi bagian dari bangsa Creole di Mauritius.

Bahasa swahili kini digunakan sebagai bahasa pengantar bagi kaum muslim di kawasan Afrika Timur sama seperti bahasa arab yang digunakan sebagai bahasa pengantar diantara negara negara Islam. Salah satu faktornya adalah dikarenakan bahasa swahili begitu banyak menyerap kata kata dari bahasa arab dibandingkan dengan bahasa Inggris yang justru lebih banyak menyerap dari bahasa latin.

Tokoh tokoh muslim Zanzibar

Sh Abdullah Saleh Farsy dikenal luas sebagai seorang penulis puisi, sejarawan dan ilmuwan Islam di Zanzibar. Beliau dikenal dengan kontribusinya terhadap pengetahuan Islam dan merupakan orang pertama yang menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Swahili. 

Tokoh berikutnya adalah Sh. Nassor Bachoo yang dikenal luas sebagai tokoh muslim di kawasan Afrika Timur, khususnya di Tanzania dan Kenya, di Zanzibar sendiri beliau dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. Tokoh muslim lainnya yang cukup dikenal adalah (alm) Sh. Amir Tajir yang merupkan mantan kepala Qadi Zanzibar. Sementara para tokoh Muslim yang tergabung dalam organisasi Uamsho yakni organisasi yang bergerak di bidang mobilisasi dan propaganda umat Islam Zanzibar dikenal luas dengan misinya untuk kemandirian Zanzibar sebagai negara mandiri terpisah dari Republik Persatuan Tanzania.***


Minggu, 16 Oktober 2016

Islam di Mauritius (2)

jemaah sholat jum'at di masjid jummah Port Louis

Menurut sejarawan, kehadiran muslim di Mauritius sudah dimulai sejak tahun 1722. Mereka terdiri dari para seniman, pelaut dan pedagang dari India. Satu data pasti bahwa di tahun 1724 Ali Khan mengeluarkan petisi kepada Gubernur de Nyon (1722-1725) untuk kebebasan istrinya dari perbudakan. Selama periode 1768-89, disebutkan bahwa disana ada 12 muslim india asli yang lahir di pulau Mauritius. Kemudian di tahun 1758 sekelompok pedagang India membentuk koloni dalam menjalankan bisnis mereka di tahun 1758. Keluarga Gassy Sobedar tercatat dalam catatatan resmi sebagai keluarga muslim pertama yang tinggal di Mauritius di tahun 1791. Dan masih di masa kolonial Perancis keluarga keluarga seperti Dina, Goumany dan Sakir telah menetap di Mauritius.

Masjid Masjid di Mauritius

Di Mauritius terdapat banyak masjid baik di pusat kota hingga ke wilayah pedesaan. Dia masjid yang dikenal secara luas adalah Masjid Al-Aqso di di Camp des Lascars sebagai bangunan masjid pertama dan tertua di Mauritius dan Masjid Jummah di pusat kota Port Louis yang merupakan masjid sentral. Konsentrasi muslim tertinggi berada di kota Port Louis selaku ibukota negara, terutama di daerah Plaine Verte, Ward IV, Valle Pitot dan lingkungan Camp Yoloff. Terdapat juga muslim cukup banyak di daerah Plaine Wilhems tertutama di Phoenix.

Kepengurusan masjid di Mauritius, secara hukum diakui oleh negara dan Imam masjid menerima gaji bulanan dari pemerintah. Pernikahan dengan hukum Islam di akui oleh negara, termasuk juga pengakuan pertalian keluarga berdasarkan nazab dari garis Bapak. Para janda dan yatim piatu berhak mendapatkan tunjangan bulanan dari negara. Mereka yang masuk Islam memiliki hak untuk mengganti nama mereka berikut nama keluarganya. Muslim di Mauritius juga mendapatkan kebebasan untuk menunaikan ibadah umroh dan haji ke tanah suci Mekah.

Masjid Al-Aqso

Bangunan pertama yang difungsikan sebagai tempat ibadah muslim di Mauritius adalah Masjid di Camp des Lascars di sekitar tahun 1805. Bangunan tersebut sempat hancur akibat bencana angin topan di tahun 1818. Dalam waktu singkat bangunan tersebut kemudian diperbaiki dan kembali berfungsi dengan baik dengan dana dari para jemaah, salah satu donatur pembangunan kembali masjid tersebut merupakan anggota keluarga Sobedar. Selama beberapa tahun setelah itu yang bertindak sebagai imam masjid tersebut juga dari keluarga Sobedar.

Masjid di Camp des Lascars atau Masjid Al-Aqso

Adalah Haji Sobedar yang kemudian membuat mihrab di masjid Jummah Port Louis pada saat masjid tersebut dibangun tahun 1850, beliau merupakan salah satu tokoh muslim di Camp des Lascars. Beliau wafat pada tanggal 29 April 1881 dan dimakamkan di samping masjid Camp des Lascars yang kini dikenal dengan nama Masjid Al-Aqsha atau Al-Aqso merujuk kepada Kiblat pertama ummat Islam di Al-Quds (Jerusalem), Palestina.

Bangunan masjid ini secara berkelanjutan terus berkembang dibangun dan diperluas disesuaikan dengan kebutuhan jemaah yang semakin meningkat. Kini bangunan masjid ini tidak lagi berupa bangunan kecil sebagaimana dimasa kolonial Perancis di Mauritius, bangunannya sudah diperluas dan di renovasi secara berkala selama beberapa tahun meskipun masih berdiri di lokasi yang sama sejak pertama kali dibangun.

Masjid Jummah Port Louis

Kemudian menyusul masjid Jummah di Port Louis yang dibangun tahun 1850 dan tercatat di kementrian pariwisata Mauritius sebagai salah satu bangunan tempat ibadah terindah di Mauritius. Masjid Jummah Port Louis ini juga merupakan Otoritas Islam yang diakui oleh pemerintah layaknya sebagai masjid nasional yang mewakili kepentingan ummat Islam Mauritius termasuk Dewan urusan Halal serta Lembaga Riset Halal yang konsen terhadap makanan halal serta berwenang menerbitkan sertifikat halal. Artikel lengkap masjid Jummah ini dapat dibaca di posting Masjid Jummah Mauritius.

Masjid Suni di Rose Hill

Masjid Suni di Rose Hill atau Rose Hill Suni Mosque dibangun tahun 1863 untuk memenuhi kebutuhan muslim yang semakin meningkat jumlahnya. Adalah Ismail Jeewa yang membeli sebidang lahan di Remono Street dan kemudian dihibahkan kepada komunitaa Muslim untuk kepentingan pembangunan masjid setelah itu bangunan masjid berdiri disana. Perluasan bangunan masjid dilakukan tahun 1893, 1912 dan 1915.

Salah satu sudut Masjid Jummah Port Louis

Di pergantian abad ke 20, Rose Hill ini seakan berubah menjadi pusat bagi debat masalah agama, debat tersebut dikenal dengan istilah Religious Repartees. Perhelatan tersebut menarik perhatian banyak orang untuk turut menghadiri. Tujuan dari debat tersebut justru merupakan ajang untuk melatih secara sehat untuk membawa masayarakat yang berasal dari beragam agama dan kepercayaan bersama sama secara sosial dan membantu mempromosikan toleransi dan saling pengertian diantara sesama warga negara.

Lembaga Lembaga Islam di Mauritius

Madad-ul-Islam Society atau setingkali disingkat menjadi Madad merupakan lembaga Islam pertama yang dibentuk di Mauritius pada tanggal 22 Januari 1902 bergerak dibidang pendidikan Islam dan merupakan salah satu lembaga nirlaba pertama di Mauritius. Kemudian menyusul dibentuknya Dewan Wakaf pada tahun tahun 1938 dan disahkan menjadi undang undang pada tanggal 25 April 1941, Lembaga wakaf ini menjadi penanggungjawab bagi pendistribusian dana sunsidi dari pemerintah untuk semua masjid di Mauritius sejak tahun 1959.

Ditahun 1959 Prof. Mohammed Hussein Malik mendirikan lembaga yang disebut The Qur’an House yang bergerak dibidang pendidikan dalam upaya meningkatkan standard kehidupan muslim Mauritius. Lemaga ini juga merupakan Gerakan Islam Pertama di Mauritius. Masjid Sayyidah Khadijah Mosque merupakan masjid yang dibangun oleh The Qur’an House sebagai masjid khusus untuk jemaah wanita yang juga dilengkapi dengan perpustakaan Islam.

pemerintah Mauritius telah mendaftarkan Masjid Al-Aqso Mauritius sebagai salah satu warisan budaya dunia UNESCO. Masjid Al-Aqso merupakan masjid pertama yang dibangun di Mauritius dan masih berfungsi dan berkembang hingga hari ini.

Islamic welfare Foundation dibentuk tahun 1969 dengan tujuan untuk membantu pembiayaan bagi pengusaha muslim, pemberian beasiswa, donasi, simpan pinjam, promosi pendidikan Islam, publikasi dan penerbitan majalah dan buku buku Islam. World Islamic Mission Mauritius dibentuk tahun 1975 sebagai bagian dari organisasi Islam yang dibentuk tahun 1972 di Mekah Almukarromah dan berpusat di Bradford, Inggris. Islamic Cultural Centre Mauritius dibentuk Pada tahun 1987 dan akta pendirian nya secara resmi diumumkan pada 15 Desember 1989 dengan tujuan untuk memelihara dan mempromosikan seni dan budaya Islam, menyelenggarakan pendidikan bahasa Arab dan Urdu dan aktivitas keIslaman lainnya, termasuk pengawasan dan penyelenggaraan ibadah haji.

Di tahun 1990 pemerintah Mauritius dibawah pimpinan Perdana Menteri Sir Aneerood Jugnauth, mengajukan perubahan perundang undangan yang memberikan status legal bagi pernikahan muslim dan membantu pembentukan lembaga Muslim Family Council (MFC). Undang undang ini memberikan kewenangan kepada lembaha ini untuk menyelenggarakan, merayakan, mencatat, mengeluarkan dan menyimpan catatan pernikahan sesuai dengan hukum Islam. Lembaga ini merupakan lembaga resmi pemerintah bagi muslim Mauritius.

Lembaga Pendidikan Islam di Mauritius

Darul Ulum atau Rumah Ilmu pengetahuan, merupakan lembaga pendidikan yang mengelola pendidikan resmi berbasis Islam, meski tidak banyak namun ada beberapa sekolah yang dikelola lembaga ini di mauritius yakni Darul Uloum Aleemiah, Darul Uloum Majlis Raza dan Ahmad Raza Khan Academy. Muslim Mauritius juga memiliki Madrasah serta Islamic Cultural College khusus bagi siswa laki laki dibuka tahun 1949 dengan hanya 35 siswa dan kini berkembang hingga 2500 siswa. Selain itu muslim disana juga memiliki lembaga pendidikan yang bernama Madadul Islam, Muslim Girls College, dan lembaga pendidikan yang bernama Doha dibentuk tahun 2003 dan didanai oleh Pemerintah Qatar.

---------------

Baca Juga



Jumat, 25 Februari 2011

Masjid Gaddafi, Masjid Nasional Uganda

Masjid Gaddafi atau Masjid Sentral Kampala (Kampala Central Mosque)

Masjid ini identik dengan dua nama, Uganda dan Muammar Khadafi pemimpin Libya. Dua nama yang bagi banyak orang, Baru mendengar nya saja sudah merasa jengah. Muammar Khadafi diidentikkan oleh sebagian orang sebagai diktator era moderen Afrika, dan kini (Feb 2011) tengah di dera demonstrasi besar besaran rakyat Libya yang menuntut pengunduran dirinya dari panggung kekuasaan. Sedangkan Uganda, negara yang masih belum bisa menghapus sejarah kelam masa lalu bersama pemimpin masa lalu mereka yang terkenal ke seantero bumi sebagai salah satu diktator terkejam Afrika “Idi Amin

Masjid Nasional Khadafi atau Gaddafi National Mosque, memang dibangun oleh pemerintah Libya di bawah kepemimpinan presidennya Muammar Khadafi sebagai hadiah bagi Muslim di Negara Uganda. Nama Khadafi juga yang kemudian diabadikan sebagai nama masjid nasional tersebut, meski pemerintah Libya enggan menyebutkan jumlah biaya yang dihabiskan untuk membangun masjid ini.

Lokasi Masjid Gaddafi

Masjid Khadafi dibangun di atas bukit Kampala tua, kota Kampala yang merupakan kota terbesar sekaligus ibukota negara Kampala. Lokasinya yang berada diketinggian bukit, ditambah lagi dengan bangunannya yang begitu besar membuat bangunan masjid ini mendominasi pemandangan kota Kampala. Nama kota Kampala sendiri memang diambil dari nama bukit tersebut.




Islam di Uganda

Islam ditengarai masuk ke Uganda pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1844 ketika Ahmed Ibrahim memasuki Uganda untuk melakukan perdagangan. Pada akhirnya beliau bertemu dengan Raja Mutesa I dari Kerajaan Baganda, Uganda Tengah. Raja Mutesa I sangat keras menjaga kedisiplinan Islam dalam wilayahnya. Beliau menguasai bahasa Arab sekaligus menguasai al-Qur’an. Cucu Raja Mutesa I, yaitu Prince Badru Kakungulu (Nuhu Mbogo) tercatat sebagai pionir pendirian Muslim Education Association (MEA), yang menelorkan banyak professor, doctor, master dan sarjana Muslim di Uganda.

Menurut data dari situs cia.gov, Muslim di Uganda hanya sekitar 12.1% (sensus 2002) dari jumlah total penduduk Uganda yang mencapai 30 juta jiwa. Beberapa sumber lain menyebutkan angka yang bervariasi. Bila kita merujuk kepada data hasil sensus 2008 tersebut, dapat dirasakan betapa geliat Islam di negeri yang oleh Winston Churchill sebagai Mutiara Afrika itu begitu besar pengaruhnya. Rasio pemeluk agama di Uganda adalah : Katolik Roma 41.9%, Kristen Protestan 42%, Islam 12.1%, Animisme 0.9%, lain lain 3.1%. dari total populasi 32,369,558 jiwa.

Masjid Kampala saat sedang dalam proses pembangunan

Ummat Islam di Uganda meski memiliki lembaga resmi yang didirikan saat Idi Amin Berkuasa, saat ini kurang terlibat dalam pemerintahan. Dengan sendirinya pemerintahan Uganda didominasi oleh non muslim. Idi Amin menjadi satu satunya kepala Uganda yang berasal dari muslim Uganda, meskipun masa pemerintahannya diwarnai dengan tindak kekejaman yang justru bertentangan dengan ajaran Islam, tapi turut mewarnai perkembangan Islam di Uganda.

Pembangunan Masjid Gaddafi

Masjid Nasional Uganda yang kini menjadi Masjid Nasional Khadafi (Gadafi National Mosque) sudah direncanakan pembangunannya sejak masa Idi Amin berkuasa di Uganda tahun 1971-1979. Idi Amin adalah pendiri Uganda Muslim Supreme Council (UMSC) pada tahun 1974 dan berhasil mengundang Raja Faisal untuk meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Nasional Uganda di Old Kampala, Idi Amin juga yang membawa Uganda masuk menjadi anggota Organisasi Konfrensi Islam (OKI).



Namun pembangunan masjid tersebut tak pernah terwujud akibat pertikaian antar kelompok Islam di Uganda dan kendala finansial. Sampai kemudian kekuasaan Idi Amin yang di cap sebagai diktator terkejam Afrika itu tumbang di tahun 1979 dan beliau melarikan diri ke Jeddah, Arab Saudi sampai meninggal dan dimakamkan di Mekkah pada hari Sabtu 16 Agustus 2003.

Setelah sekian lama terbengkalai rencana tersebut ahirnya terwujud setelah pemimpin Libya Muammar Khadafi yang kemudian mendanai keseluruhan pembangunan masjid tersebut termasuk menangggung biaya pemeliharaan masjid selama 10 tahun setelah diresmikan 28 Maret 2008.

Setidaknya 17 anggota tim dari World Islamic Call Society yang merupakan LSM Libya yang terlibat untuk merancang masjid ini. Ke 17 anggota tersebut berasal dari mesir dan maroko. Masjid tersebut juga dilengkapi dengan pusat kesehatan, perpustakaan, dan pusat pendidikan untuk pelatihan singkat, ruang konfrensi untuk 250 tempat duduk, juga tempat tinggal untuk mufti juga akan dibangun disana.

Muammar Khadafi saat peresmian Masjid Kampala

Peresmian Masjid Gaddafi

Rabu 29 Maret 2008 Ribuan masyarakat Uganda merayakan Maulid Nabi bersama pemimpin Libya Muammar Khadafi, para kepala suku dan pemuka agama yang berdatangan dari berbagai negeri Muslim, memadati stadion sepakbola di Kampala Ibukota Uganda.

Muammar Khadafi dalam kesempatan tersebut sekaligus meresmikan Masjid Nasional Khadafi (Gaddafi National Mosqe) di wilayah kota tua Kampala. Masjid Nasional Uganda yang dibangun atas dana dari pemerintah Libya dibawah pimpinan Kolonel Muammar Khadafi. Masjid yang disebut oleh petinggi Libya dan Uganda sebagai masjid terbesar kedua di Afrika.

Dalam pidatonya Muammar Khadafi mengungkapkan kepada 10 hingga 15 ribu orang yang hadir bahwa “Nabi Muhammad adalah nabi bagi semua manusia, nabi yang di utus bagi seluruh ummat, tidak seperti para nabi sebelumnya”. Pidato itu disambut dengan seruan “Panjang umur saudaraku Khadafi” oleh khalayak yang hadir termasuk anak anak pramuka dan drumband dari berbagai sekolah di Uganda yang kesemuanya mengenakan kaos bergambar Muammar Khadafi.

Dari arah depan

Setengah lusin kepala negara afrika termasuk Presiden Kenya Mwai Kibaki, Presiden Mali Amadou Toumani Toure dan Presiden Rwanda Paul Kagame bergabung bersama presiden Uganda Yoweri Museveni menyambut pemimpin Libya Kolonel Muammar Khadafi yang sengaja datang ke Uganda untuk peringatan Maulid Nabi sekaligus peresmian masjid Nasional Uganda yang diberi nama sesuai dengan nama dirinya itu.

Muammar Khadafi dikenal sebagai tokoh dibalik pembentukan Organisasi Uni Afrika. Dalam kesempatan itu Khadafi juga menyampaikan statement yang membuat dahi presiden Uganda yang pemeluk protestan dan duduk bersebelah dengannya tersebut berkernyit “Siapa yang tidak mau memeluk Islam, pada ahirnya nanti akan menjadi pecundang”. Di kesempatan tersebut Khadafi berpidato dalam bahasa arab yang fasih namun diterjemahkan langsung ke Bahasa Inggris.

Dalam acara peringatan maulid nabi tersebut, Muammar Khadafi memimpin ummat Islam yang hadir untuk sholat zuhur berjamaah di tengah stadion bersama sama dengan para sheik, kepala suku dan para ulama Islam yang datang dari berbagai negara. Salah satu kepala suku yang hadir adalah Gibrila Yayah raja dari suku Sonrai, suku yang hidup nomaden di perbatasan Mali dan Aljiria mengatakan bahwa beliau datang menggunakan pesawat pribadi Muammar Khadafi untuk menjemput mereka untuk menghadiri undangan yang disebutnya sebagai “panduan revolusi”.

Bangunan utama masjid ini berbentuk segi empat dengan satu kubah utama dan empat kubah lebih kecil ditambah dengan satu menara.

Sementara Sheik Imad Essawi, kepala suku Badui Al-Mukthalifa Irak mengatakan bahwa kesempatan tersebut adalah untuk pertama kali dia datang ke Afrika yang termperaturnya tak terlalu panas di bandingkan di Irak selatan. Seperti halnya Muammar Khadafi semua kepala suku yang hadir menggunakan pakaian tradisional mereka masing masing. Panita juga membagi bagikan topi baseball bergambar Muammar Khadafi kepada 80-an wartawan sengaja didatangkan dengan pesawat khusus dari kairo.

Arsitektural Masjid Gaddafi

Pengunjung masjid ini langsung berhadapan dengan pintu masuk utama seukuran setengah hektar, kubah bundar berukuran besar menjadi poin pertama yang menjadi pusat perhatian. Kubah yang terlihat dari manapun di atas bukit menyebarkan suasana sakral semakin kita mendekatinya. Ekterior masjid ini menampakkan bangunan paling besar di Kampala.

Masjid ini dilengkapi dengan dua pintu utama berukuran besar dan 12 pintu masuk berukuran kecil. Satu dari pintu utama merupakan pintu masuk utama ke dalam masjid, kubah masjid 15 yar dari pintu utama seolah menyambut kehadiran anda ketika pertama kali tiba di masjid ini. Di depan pintu utama anda disambut oleh inskripsi arab dan di dalam masjid dihias dengan kaligrafi Asmaul Husna

Gerbang besar di atas pintu masuk utama 

Kapasitas dan Fasilitas Masjid Gaddafi

Ruang sholat utama masjid ini untuk laki laki mampu menampung lebih dari 5000 jemaah, ruang galeri berkapasitas 1100 jemaah, teras masjid berkapasitas 3500 jemaah. Sehingga keseluruhan masjid mampu menampung setidaknya 12.200 jemaah.

Masjid ini juga dilengkapi dengan ruang konfrensi, sehingga selain untuk melaksanakan ibadah sholat, pengunjung masjid ini juga dapat, melakukan aktivitas yang lain. Selain itu tersedianya berbagai ruang serbaguna tersebut dapat menjadi sumber penghasilan bagi pengurus masjid sebagai dana untuk perawatan dan aktivitas masjid. rumah kediaman untuk Mufti Uganda juga dibangun bersamaan dengan pembangunan masjid ini.

Di bawah kubah masjid ini dipasang lampu gantung dengan ukuran cukup besar dengan diameter mencapai tiga meter, dilengkapi dengan 350 bola lampu hemat energi. Keseluruhan lampu gantung ini berbobot total mencapai 2 ton.

Masjid megah ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Muslim Uganda tapi juga bagi warga yang tinggal di bukit Kampala Tua. Kampala tua sendiri selama ini benar benar menyimbolkan Kampala tua sesuai dengan namanya. Sebuah lingkungan kota tua yang tak terawat, kurangnya pasokan air bersih, lingkungan rumah susun yang kumuh. Seorang wanita tua yang melintas di lokasi tersebut sampai sampai menyebut masjid ini seperti sebuah bandara.

letaknya yang berada dipuncak bukit membuat masjid ini dapat dilihat dari berbagai sudut kota Kampala

Berlokasi di pinggiran kota, Kampala tua dulunya merupakan wilayah yang menjadi kebanggaan nasional. Di era tahun 1960-an hingga 1970-an sebelum kemudian Idi Amin melakukan pengusiran besar besaran terhadap Warga Uganda keturuan Asia yang memiliki sebagian besar merupakan pemilik dari properti properti di wilayah Kampala tua. Setelah era tersebut, kawasan Kampala tua menjadi wilayah yang terabaikan, tak terurus dan terbengkalai dan sebagian kini sudah mulai ambruk.

Kehadiran masjid megah ini sedikit mengubah citra Kampala tua. Memberikan sebuah simbol baru yang begitu menonjol dikawasan tersebut. Masjid Khadafi ini menjadi objek menarik di Kampala, baik siang maupun malam hari dan dapat dilihat dari hampir semua sudut kota Kampala. Masjid berukuran besar dan cukup menarik ini berdiri di masjid ini dapat menikmati pemandangan pusat kota Kampala dari bukit tempatnya berada.***

Updated 23 Oktober 2016

Muammad Khadafi wafat pada tanggal 20 Oktober 2011 pada umur 69 tahun di kota Sirte, dalam sebuah pemberontakan oleh kelompok penentangnya yang di dukung oleh pasukan NATO dan Uni Eropa. Masjid masjid yang beliau bangun di beberapa negara kini telah berganti nama tidak lagi menggunakan namanya, termasuk masjid di Kampala ini, kini dikenal dengan nama Kampala Central Mosque.***