Sabtu, 08 Oktober 2016

Masjid Raya Mujahidin Kota Pontianak

Megah dan mewah. Kesan pertama melihat Masjid Raya Al-Mujahidin Pontianak ini.

Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Timur, kini memiliki sebuah masjid raya megah dan moderen dengan nama Masjid Raya Mujahidin. Dinamakan Masjid Raya Muhajidin karena ingin menandakan perjuangan. Banyak perjuangan yang dilakukan di Pontianak. Mulai dari perjuangan kemerdekaan RI sampai perjuangan menyebarkan agama Islam di pulau ini. Diharapkan masjid ini bisa selalu menjadi pengingat para Muslim untuk terus aktif di kegiatan agama. 

Kota Pontianak merupakan salah satu kota tua di Indonesia dengan sejarahnya yang teramat panjang, di kota ini pernah berdiri kesultanan Pontianak dengan salah satu warisan sejarahnya adalah Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman yang merupakan masjid tertua di Kota Pontianak dan Kalimantan Barat. Kesultanan Pontianak merupakan salah satu dari sekian banyak kerajaan di Nusantara yang mendukung penuh kemerdekaan Republik Indonesia dengan salah satu tokoh terkenalnya yang juga merupakan pahlawan nasional, adalah Sultan Hamid II yang turut berkontribusi dalam merumuskan “Garuda Pancasila” sebagai Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Alamat Masjid Agung Mujahidin
JL. A.Yani, Kec.Pontianak Selatan
Kota Pontianak, Prov.Kalimantan Barat



Masjid Raya Muhajidin pertama kali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 23 Oktober 1978 (20 Zulkaidah 1398), bertepatan dengan ulang tahun Kota Pontianak ke 207. Dalam rangka perluasan dan peremajaan bangunan masjid, pada November 2011 dilakukan pemugaran Masjid Raya dan diresmikan oleh presiden Joko Widodo pada tanggal 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H).

Bangunan Megah Masjid Raya Mujahidin Pontianak berdiri di atas lahan seluas 4 hektar dan mampu menampung setidaknya 9 ribu Jemaah sekaligus. Secara umum terbagi menjadi tiga bagian yakni ; Bangunan utama Masjid berukuran 60 x 60 meter, kemudian bangunan menara utama yang dibangun terpisah dari bangunan utama, dan area plaza berdenah segi empat yang dikelilingi koridor panjang berada diantara bangunan utama masjid dan menara utama.

Masjid Raya Muhajidin dibangun dengan memadukan beragam unsur arsitektur Islami dari berbagai peradaban Islam dan dipadu dengan ornamen khas masyarakat pontianak. Bangunan utamanya dibangun dua lantai, ruang sholat utama berada di lantai dua sedangkan lantai dasar digunakan untuk berbagai aktivitas pendukung. Dari area plaza ada tangga besar langsung menghubungkan ke area sholat di lantai dua.

Aerial View Masjid Raya Mujahidin Pontianak

Kubah besar bewarna keemasan sarat dengan mozaik khas Kalimantan di seluruh permukaan kubah dengan motif yang indah. Dibagian ujung kubah diletakkan ornamen sederhana meruncing sebagaimana tegaknya hurup alif. Empat buah menara menjulang di keempat penjuru masjid dengan bentuk dan tinggi yang sama, ujung menara dilengkapi dengan kubah bewarna ke-emasan polos tanpa ornamen. Seperti halnya pada kubah utama, di puncak menara ini pun dilengkapi dengan ornamen yang senada dengan kubah masjid. Bangunan masjid seperti ini mengingatkan kita pada bangunan bangunan masjid dinasti Usmaniyah yang ditandai dengan menara menaranya yang menjulang dan kubah kubahnya yang berukuran besar.

Disekeliling bangunan utama dilengkapi dengan sederatan pilar pilar tinggi dan besar lengkap dengan lengkungan lengkungan dua warna khas masjid Masjid Cordova dan Istana Alhambra hingga masjidil Harom dan Masjid Nabawi. Motif Kalimantan sangat kental terasa di interior masjid dengan balutan warna emas dalam setiap mozaik yang menghias interior masjid ini. Pembangun masjid ini cukup jeli dalam memadukan beragam unsur peradaban Islam dalam membangun masjid ini.

Masjid Raya Mujahidin Pontianak sekarang dan dulu

Pembangunan Masjid Agung Mujahidin Kota Pontianak
  
Keinginan membangun masjid begitu besar dikalangan umat muslim pontianak berawal dari dibangunnya Masjid Syuhada di Jogjakarta [1949] dan ditahun yang sama dibangun Masjid Al-Azhar di Jakarta serta direncanakannya pembangunan Masjid Istiqlal oleh Bung Karno pada awal 1950-an. Delegasi Kalimantan mengirimkan utusannya, Achmad Mawardi Djafar, Abdur Rani Macmud, Mohamad Akib, Hasan Koeboe, Muzani A Rani dan Azhari Djamaluddin untuk mengikuti Kongres Muslimin Indonesia [KMI] dan bertemu dengan Mr Assat Sutan Mudo yang saat itu menjadi pengggas dalam pembangunan Masjid Syuhada di Jogjakarta.

Saat bertemu dengan beliau, Mawardi Djafar dan Mohamad Akib meminta petunjuk dan pengalaman tokoh nasional yang sempat sebagai Pejabat Presiden RI waktu itu untuk membangun Masjid serupa di Kota Pontianak karena pada saat itu Delegasi KMI Kalimantan Barat belum mempunyai konsep yang pasti tentang masjid besar yang akan dibangun. Kepulangan delegasi KMI ke Pontianak pada awal tahun 1950 menambah semangat dan kerja keras untuk mewujudkan pembangunan masjid besar di Kota Pontianak. Achmad Mawardi Djafar dan Mohamad Akib aktif bersilaturahmi dengan para pemuka masyarakat muslim Pontianak untuk mendapat dukungan dan doa.

Lima Menara

Berawal dari Seribu Rupiah

Empat tahun sudah pembangunan masjid besar direncanakan, dan pada hari Jumat, 2 Oktober 1953 tokoh muslim terkemuka seperti Mr Sjafruddin Prawiranegara, Mohamad Natsir, Syamsurizal, Buya Hamka dan Anwar Tjokroaminoto mengukuhkan dan Membentuk Yayasan Mujahidin dengan para pengurus H Achmad Mashur Thahir [pengusaha terkemuka], Mohamad Saad Karim [Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Pontianak], Merah Kesuma Indra Mahyuddin [pengusaha terkemuka], Achmad Mawardi Djafar [Koordinator Penerangan Agama Daerah Kalimantan Barat], Gulam Abas [pengusaha] dan Mohamad H Husein [pengusaha] dikukuhkan dalam Akta Notaris.

Keenam Tokoh tersebut berbekal modal tunai 1000 [seribu rupiah] dalam merintis pembangunan rumah ibadah yang akan diberinama Masjid Mujahidin yang termaktub dalam Pasal 3 Akta Notaris tersebut dimana tujuan didirikannya Yayasan Mujahidin tersebut dalam Tujuan dan Usaha diuraikan bahwa: “…. Tujuan Mutlak Yayasan ini, ialah mendirikan sebuah Masjid di Kota Pontianak yang akan diberi nama Masjid Mujahidin…” Para pengurus berusaha mengembangkan modal 1000 yang tersimpan di BRI Pontianak dengan cara membuka kotak amal bagi masyarakat yang akan menyumbang dana, subsidi pemerintah dan penerimaan lainnya yang dianggap halal.

Ekterior Masjid Raya Mujahidin Pontianak

Kepengurusan Pertamakalinya Yayasan Mujahidin yang terbentuk pada tanggal 2 Oktober 1953 yang terdiri dari dua orang penasehat, masing-masing Residen Koordinator Kalimantan Barat dan Walikota Besar Pontianak. Komisi Pengawas terdiri dari Raden Djenal Asikin Judadibrata [Residen Koordinator Kalimantan Barat] dan Raden Soedjarwo [Bupati Kabupaten Pontianak di Pontianak]. Badan Pengurus terdiri dari H Achmad Manshur Thahir [Ketua Umum], Mayor TNI Aminuddin Hamzah [Ketua I], Mohammad Saad [Ketua II], Merah Kesuma Indra Mahjuddin [Penulis I], Achmad Mawardi Djafar [Penulis II], Gulam Abas [Bendahara I] dan Mohammad H Husein [Bendahara II]. Selaku penandatangan akta notaris, mewakili para penghadap lainnya, masing-masing H Achmad Manshur Thahir, Mohamad Saad Karim, Merah Kesuma Indra Mahyuddin, Achmad Mawardi Djafar, Gulam Abas dan Mohamad H Husein.

Dipilihnya nama Mujahidin

Dipilihnya nama Mujahidin untuk yayasan dan masjid yang dirintis tersebut, diusulkan oleh Achmad Mawardi Djafar, dengan pemikiran mengabadikan perjuangan kaum muslim dalam kancah kolektif mempersembahkan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat. Mereka maksudkan, Mujahidin sebagai monumen perjuangan ummat. Dan para penggagas yayasan ini sendiri notabene adalah pelaku sejarah di daerah ini, khususnya Achmad Mawardi Djafar dan H Achmad Manshur Thahir.

Interior Masjid Raya Mujahidin Pontianak

Setelah terbentuknya yayasan tersebut, tidklah berarti segala kesulitan teratasi dalam rangka membangun masjid yang diidamkan. Sebab, membangun masjid modern untuk ukuran zamannya di Pontianak ketika itu, bukan perkara yang mudah. Berbagai usaha segera dijalankan. Dengan faktor minimnya pendanaan, hingga dari waktu ke waktu, masjid yang digagas inipun belum juga kunjung didirikan. Namun, Yayasan Mujahidin berusaha semaksimal mungkin sesuai tujuan semulanya.

Perjalanan waktu, delapan tahun kemudian, pada 7 September 1961, diadakan pembaharuan kepengurusan Yayasan Mujahidin. Ini dimaksudkan untuk mempercepat pencapaian tujuan semula, membangun masjid modern di tengah Kota Pontianak. Dalam kepengurusan yang diperbaharui itu, terdiri dari tiga Penasehat: Pangdam XII Tanjungpura Brigjen Soedarmo, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Letkol Iwan Soepardi dan Walikota Kepala Daerah Kotapraja Pontianak HA Muis Amin. Komisi Pengawas masing-masing Raden Djenal Asikin Joedadibrata, Mohammad Akib dan H Abdussjukur Ketua DPR Daswati II Kalimantan Barat. Badan Pengurus masing-masing Ketua Umum H Achmad Manshur Thahir, Ketua I Andi Odang, Ketua II Ardan, Sekretaris I Muzani A Rani, Sekretaris II Achmad Mawardi Djafar, Bendahara I Merah Kesuma Indra Mahjudin dan Bendahara II Hasnul Kabri. Anggota terdiri dari Burhanuddin, Mohamad Saad Karim, HM Saleh HA Thalib, Andi Jusuf, Saiyan Tiong, M Soedarjo, Aliaswat Saleh dan Mohamad H Husein.

Dari sudut yang lain

Kepengurusan baru ini berusaha mensinergikan secara optimal keberadaan mereka untuk mencapai tujuan semula. Namun, malapetaka sejarah terjadi, beberapa di antara pengurus baru ini tertimpa musibah kezaliman Partai Komunis Indonesia [PKI], akibatnya mereka ini dinon-aktifkan. Kondisi itu, bersamaan dibubarkannya Partai Masyumi, di mana aktifis Yayasan Mujahidin serupa Achmad Mawardi Djafar dan Muzani A Rani adalah dua tokoh utama Masyumi di Kalimantan Barat. Mawardi Djafar anggota DPR Daswati I Kalimantan Barat dari Fraksi Masyumi dan Muzani A Rani anggota Konstituante wakil Masyumi dari Kalimantan Barat. Namun, kelahiran Orde Baru memberikan perubahan tatanan kenegaraan, dan mereka pun kembali beraktifitas di tengah masyarakat.

Selanjutnya, ketika Gubernur Kalimantan Barat dijabat Kol Kadarusno, kepengurusan yayasan mengalami perubahan untuk kedua kalinya. Dua orang tokoh pemuka masyarakat muslim Kalimantan Barat, Achmad Mawardi Djafar dan A Muin Idris, diberi mandat oleh yayasan pada 18 Januari 1975 untuk mewakili Yayasan Mujahidin untuk melakukan pembaharuan kepengurusan serta mempertegas maksud dan tujuan dari yayasan ini. Maka, pada Kamis 29 Februari 1975, dengan Akta Nomor 40 Notaris Mohamad Damiri di Pontianak, terbit Akta Perubahan Yayasan Mujahidin. Dan di bawah kepemimpinan Gubernur Kadarusno, pembangunan wujud fisik masjid dilaksanakan secara intensif.

Ribuan jemaah memadati masjid Raya Mujahidin Pontianak hingga ke plaza tengah.

Kepengurusan baru terdiri Ketua Umum Kadarusno, Ketua I Mohamad Barir SH, Ketua II H Achmad Manshur Thahir, Sekretaris I Achmad Mawardi Djafar, Sekretaris II Drs Noor Ismail, Bendahara Drs Nurdin. Pembantu Hasnul Kabri, HM Saleh H Thalib, Saiyan Tiong, Aliaswat Saleh, Muhamad Ali As SH, A Muis Amin, HM Jusuf Sjuib, A Muin Idris, HM Syah Bakie SE, Ir Daeng Arifin Hadi, Ir Said Djafar dan HA Hamid Lahir.

Pada tanggal 23 Oktober 1978 (20 Zulkaidah 1398), bertepatan dengan ulang tahun Kota Pontianak ke 207, Masjid Raya Mujahidin Pontianak diresmikan oleh Presiden Soeharto. Dan 37 tahun setelah itu Masjid Raya Mujahidin Pontianak dipugar total ke bentuknya yang megah mewah saat ini dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H), setelah mengalami pemugaran yang dilaksanakan sejak bulan November 2011.

Dalam acara tersebut, Presiden yang didampingi Ibu Negara melakukan peninjauan kesejumlah bagian Masjid Raya Mujahidin. Ikut hadir dalam peresmian tersebut, antara lain: Sekretaris Kabinet (Andi Wijayanto), Wakil Ketua MPR yang juga Ketua Umum Pembangunan (Oesman Sapta Odang), Wakil Ketua MPR (Hidayat Nurwahid), Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Sidharta Danusubroto), Kepala BIN (Maciano Norman), Gubernur Kalimantan Barat (Drs. Cornelis, M.H), Walikota Pontianak (H. Sutarmidji), Jajaran MUSPIDA serta masyarakat umum. Kedatangan Presiden di Kota Pontianak ini juga disambut dengan tradisi tepung tawar, yang merupakan tradisi khas masyarakat Melayu Pontianak.***

--------------

Baca Juga


Minggu, 02 Oktober 2016

Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan

Aerial view Masjid Agung Sultan Kadirun atau Masjid Agung Bangkalan (foto dari IG Sirojul Umam @siumam)

Masjid Agung Bangkalan merupakan salah satu masjid bersejarah di pulau Madura khususnya di kabupaten Bangkalan, sekaligus juga merupakan salah satu masjid warisan sejarah kerajaan Islam yang pernah ada di pulau Madura. Merujuk kepada situs simas Kemenag RI, Masjid Agung Bangkalan ini pertama kali dibangun tahun 1819.

Masih merujuk kepada situs yang sama, Masjid Agung Bangkalan terdaftar di sistem informasi masjid Kemenag RI dengan nomor ID 01.2.16.26.01.000001. Lahan tempat masjid ini berdiri seluas 11.527 m2, sedangkan luas bangunannya mencapai 3000 m2 dengan daya tampung 5000 jemaah. Masjid Agung Bangkalan ini menyandang nama resmi Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan, dinisbatkan kepada nama pendirinya, meskipun lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Bangkalan.

Masjid Agung Bangkalan
Jl. Sultan Abd. Kadirun No.5 kecamatan Bangkalan
Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur
Indonesia. Kode Pos 69115



Sejarah Masjid Agung Bangkalan

Masjid Agung Bangkalan Pertama kali dibangun oleh Sultan Raden Maulana Abdul Kadir bergelar Pangeran Adipati Cakra Adiningrat II dan lebih dikenal dengan nama Sultan Kadirun. Pembangunannya dimulai dengan pemancangan pertama pada tanggal 14 Jumadil Akhir 1234 H atau 10 April 1819 M sesudah Sholat Jum’at. Bangunan awal masjid ini berukuran 30 m x 30 m. Sejarah perjalanan masjid ini cukup menarik, mengingat pada awalnya, masjid ini penggunaannya hanya dikhususkan bagi kerabat keraton, dan baru pada masa Sultan Kadirun, di renovasi dan diresmikan sebagai wakaf dan terbuka untuk masyarakat umum.

Raden Maulana Abdul Kadir (Sultan Kadirun), yang dikenal trengginas di medan tempur itu wafat pada hari Kamis Legi 11 Safar 1775 Rahun Jawa, atau tanggal 28 Januari 1847 Masehi. Jasad beliau disemayamkan di sebuah cungkup ukuran besar dengan konstruksi dan seni arsitektur bangunan bernuansa perpaduan Eropa (Belanda) dan Islam, di belakang Masjid Agung Bangkalan yang dibangun nya.

Di dalam Cungkup Paseran Raden Maulana Abdul Kadir juga bersemayam belasan makam sanak keluarga dan kerabat dekat beliau. Diantaranya adalah makam Pangeran Muhammad Jusuf alias Panembahan Cakra Adiningrat VII (1847-1862), makam Raden Abdul Jumali alias Pangeran Pakuningrat (1862-1879), makam Raden Mohammad Ismail alias Panembahan Cakra Adiningrat V (1862-1882) dan sanak keluarga dan kerabat lainnya.

Interior Masjid Ag ung Sultan Kadirun Bangkalan (foto dari IG @ardypurnawansani)

Renovasi, pemugaran dan perluasan Masjid Agung Bangkalan

Sejak dibangun oleh Raden Maulana Abdul Kadir, sepanjang perjalanan sejarahnya Masjid Agung Bangkalan ini telah beberapa kali dipugar. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1899-1900 atas prakarsa Bupati Bangkalan pertama Raden Moh. Hasyim bergelar Pangeran Suryonegoro. Pemugaran berikutnya dilakukan oleh Bupati Sis Tjakraningrat di tahun 1950 setelah masjid tersebut mengalami kerusakan akibat gempa.

Di tahun 1965 Masjid tersebut sudah tidak bisa menampung jemaahnya, terutama pada waktu sholat Jum’at dan sholat led. Master plan rencana perluasan masjid terwujud di masa kepemimpinan Bupati HJ dibuat oleh ITS Surabaya. Realisasi proyek perluasan baru terlaksana pada masa pemerintahan Pejabat Bupati Soelarto pada hari Jum’at 16 Syahban 1401 H atau tanggal 19 Juni 1981 perluasan Masjid dimulai dan dilaksanakan dengan sistem bertahap (dibagi 5 tahapan).

Proyek perluasan dilanjutkan oleh bupati berikutnya, Bupati Drs. Soemarwoto, Bupati Abd. Kadir melanjutkan menyelesaikan tahapan ke IV dan ke V. Perluasan masjid pada masa ini dibantu pendanaan oleh pengusaha besar asal Kabupaten Bangkalan, Drs H Hoesein Soeropranoto, bekerja sama dengan Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Bangkalan. Proyek tersebut menghabiskan dana lebih dari Rp. 545,5 juta Rupiah. Proyek tersebut dilaksanakan tanggal 28 Oktober 1990 s/d tanggal 16 April 1991. Renovasi berikutnya dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Bangkalan, RKH Fuad Amin,Spd.

Mimbar Berukir Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan (foto dari IG @alamsyah_nx)

Arsitektur Masjid Agung Bangkalan

Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan dibangun di pusat kota Bangkalan, di sisi barat Taman Paseban, Alun Alun Utara dan Lapangan Karapan Sapi kota Bangkalan. Lokasinya terpaut sekitar 2,3 km dari komplek kantor Bupati Bangkalan yang berada di barat Daya Alun Alun. Meski telah mengalami berkali kali renovasi bangunan utama masjid ini masih mempertahankan bentuk aslinya berupa bangunan masjid khas Indonesia dengan atap limas bertingkat tanpa kubah bundar.

Di dalam masjid kita akan menemukan jejeran pilar pilar menopang struktur atapnya yang semuanya terbuat dari kayu berukir sangat indah. Jejeran pilar ini mendominasi interior masjid, begitupun dengan kayu kayu struktur atapnya, menghadirkan suasana sejuk alami di dalam masjid. Lampu gantung berukuran besar menjuntai di bawah atap limasnya tengah ruangan masjid.

Mihrab nya berupa ceruk berlengkung terdiri dari ceruk bagian tengah sebagai ruangan imam, sedangkan mimbar khutbah ditempatkan di ceruk disebelahnya. Mimbar kayu di masjid ini berupa mimbar kayu berukir dengan beberapa undakan anak tangga tanpa podium. Bentuk mihrab masjid ini senada dengan bentuk jendela jendela masjid yang juga dibuat berlengkung di bagian atasnya.

Mihrab dan mimbar Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan (foto dari gmap)

Lantai masjid dibangun lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya. Ada jejeran tangga besar sebagai akse ke masjid masing masing terdiri dari enam anak tangga. Tangga utama di bagian depan mengarah ke jalan raya sedangkan tangga samping mengarah ke area tempat wudhu di sebelah kiri dan kanan. Bangunan utama masjid kini menjadi bangunan induk yang dikelilingi dengan bangunan tambahan berupa teras di sekeliling bangunan utama.

Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan ini juga dilengkapi dengan sepasang menara yang dibangun di halaman depan masjid di sisi kiri dan kanan. Sepasang menara ini dibangun dalam gaya campuran Turki dengan ujung atap yang runcing dan badan menara yang bundar dan ramping, dipadu dengan gaya Arabia pada bagian balkoni nya yang khas seperti balkoni menara Masjidil Haram. Dari sisi arsitektur, menara masjid ini sama sekali berbeda dengan bangunan utama masjid, karena memang dibangun di era yang berbeda dengan langgam seni bangunan yang juga berbeda. (updated 17-8-2019)***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga Masjid di Jawa Timur Lainnya


Masjid Agung Al-Serkal, Terbesar di Kamboja (Bagian 2)

Megahnya Masjid Agung Al-Serkal

Arsitektur Masjid Agung Al-Serkal

Masjid Agung Al-Serkal dibangun dengan gaya masjid modern dengan sentuhan Turki Usmani, telihat dari bangun kubah besarnya yang menjadi atap utama bangunan masjid ditopang oleh dua bangun semi kubah menyokong kubah utama di atapnya. Dua menara tinggi mengapit bangunan utama masjid. Sentuhan arabia juga terlihat di bangunan masjid ini. salah satu ciri utama menara masjid Turki Usmani adalah bangunan menaranya yang lancip menjulang, namun tidak seluruhnya di aplikasikan di masjid ini.

Bangunan menaranya berbentuk bundar dengan landasan berbentuk segi empat mengerucut, dan badan menaranya makin ke ujung makin mengerucut. Ada tiga balkoni di setiap menaranya dan di ujung menara di tempatkan simbol bulan sabit yang sedikit berdiri tidak seperti bentuk bulan sabit menara Turki Usamani yang bentuk bulan sabitnya simetris terbuka ke atas.


Baru dan Lama. Masjid Agung Al-Serkal dilihat dari arah pintu gerbang

Seluruh tembok sebelah luarnya di tutup dengan batuan alami bewarna putih gading, sedangkan landasan masjid dibangun cukup tinggi dari permukaan tanah disekelilingnya menambah kesan lebih megah pada bangunan masjid ini. ada lebih dari dua puluh anak tangga lebar yang harus di daki untuk menuju ke pintu utama masjid ini. Empat jendela berukuran besar di bagian depan ditambah dengan dua jendela kaca di bagian atas.

Bangunan utamanya berdenah segi empat. Ditambah dengan bangunan mihrab yang menjorok keluar keluar ke arah kiblat dari bangunan utama. Di sisi utara ditambahkan dengan bangunan serbaguna yang cukup besar, digunakan sebagai kantor pengelola dan kantor lembaga lembaha Islam di Kamboja, begitu pun di sisi selatannya. Kubah utamanya berada di titik pusat bangunan utama ditambah dengan empat kubah lebih kecil masing masing di empat penjuru atap, ditambah lagi dengan enam kubah yang lebih kecil.

Megah pertama di tepian bekas danau Boeng Kak. Masjid Agung Al-Serkal ini menjadi bangunan megah pertama yang berdiri di sekitar bekas lokasi danau Boeng Kak yang sudah ditimbun,

Masjid ini juga dilengkapi dengan area tempat berwudhu yang dibangun terpisah dari bangunan masjid. Bangunannya dibuat sebagai pendopo terbuka beratap kubah yang juga berwarna coklat tembaga. Area tempat wudhu nya dilengkapi dengan bangku bangku dari batu untuk memudahkan jemaah saat berwudhu.

Bila di sisi utara dan selatan kubah utama di topang dengan dua bangun semi kubah, maka disisi barat dan timurnya dibangun dinding berlengkungan besar untuk menempatkan lima Jendela kaca berukuran besar. Garis lengkungan pada dua sisi ini menghadirkan aksen yang sangat kuat bagi bangunan masjid ini. Seluruh kubah kubah masjid ini termasuk bagian ujung menaranya diberi warna dengan warna cokelat tembaga.

Meriahnya upacara peresmian Masjid Agung Al-Serkal

Muslim Kamboja terutama yang ditinggal di kota Phnom Penh memang cukup beruntung, karena bangunan masjid ini tidak saja berukuran besar dan sangat megah tapi juga memiliki lahan yang sangat luas sehingga tidak menjadi masalah untuk lahan parkir. Panitia pembangunannya juga tidak dipusingkan untuk mencari lahan bagi keperluan membangun masjid darurat pada saat proyek pembangunan masjid sedang berlangsung, sehingga semua proses peribadatan dan aktivitas ke-Islaman lainnya tetap berjalan normal meskipun bangunan masjid Nurul Ikhsan yang sebelumnya berdiri sudah dirobohkan dan bangunan masjid yang baru sedang dalam tahap pembangunan.

Kesan megah sangat terasa saat masuk ke dalam masjid. Langi langit ruang sholat utamanya berbentuk elipse hasil dari bentukan kubah utama dan dua bangun semi kubah yang menopangnya. Struktur tersebut ditopang dengan empat pilar segi empat berukuran cukup besar yang berdiri kokoh ditengah masjid. Sebuah lampu gantung dengan bentuk yang unik bewarna coklat tembaga menggantung indah di bawah kubah utama.

Ornamen di bawah kubah tidak tak tekesan meriah dengan berbagai hiasan dengan penggunaaan warna warna yang tidak terlalu menyolok, meski sisi bawah kubah dihias dengan kaligrafi Al-Qur’an dan ornamen ornamen menawan lainnya. jendela jendela kaca yang melingkar di bawah kubah utama menghadirkan cahaya alami ke dalam masjid ini di siang hari. Bagian plafon masjid ini juga di hias dengan berbagai ornamen floral dengan warna alami.

Perdana Menteri Hun Sen beserta istri saat berkunjung ke dalam Masjid Al-Serkal, Sesaat setelah upacara peresmian.

Seluruh lantai masjid di tutup dengan karpet tebal bewarna hijau kalem dengan ornamen floral bewarna coklat dan merah hati, begitupun dengan garis shaf nya. Hampir seluruh dinding bagian dalam masjid ini dihiasi dengan berbagai ornamen floral menghadirkan keindahan dan kenyamanan di dalam masjid ini. Mihrabnya dibangun berupa ceruk berbentuk lengkungan dengan sedikit sentuhan ukiran yang tak telalu meriah. Sedangkan Mimbarnya dibuat dari kayu yang tidak telalu tinggi seperti lazim nya mimbar mimbar di masjid masjid bergaya Turki Usmani lainnya.

Hadirnya masjid Agung Al-Serkal di pusat kota Phnom Penh ini memang merupakan titik balik bagi muslim Kamboja secara keseluruhan. Setelah sebelumnya perjalanan muslim disana berdarah darah oleh kekejaman rezim pemerintahan Khmer Merah. Kini muslim Kamboja memiliki kehidupan baru dengan perhatian dari pemerintah dan bantuan dari berbagai negara Islam.*** (Selesai)

Masjid Agung Al-Serkal, Terbesar di Kamboja (Bagian 1)

IKON BARU. Masjid megah dengan gaya Turki yang kental menjadi ikon baru bagi kota Phnom Penh ibukota Kamboja. Masjid yang berdiri di tepian bekas Danau Boeng Kak ini sebelumnya bernama Masjid Internasional Dubai Phnom Penh yang kemudian dibongkar dan dibangun ulang lebih besar, megah dan modern oleh donatur yang sama.

Kamboja kini memiliki sebuah Masjid megah bergaya Turki Usmani. Berdiri megah di kawasan Boeng Kak di pusat kota Phnom Pehn, Ibu Kota Kamboja. Nama Al-Serkal bagi masjid ini merupakan nama dari seorang pebisnis sukses Uni Emirat Arab, Eisa Bin Nasser Bin Abdullatif Alserkal. Beliau mengucurkan dana US$ 2.5 juta dolar untuk pembangunan masjid ini. Total keseluruhan dana pembangunan masjid ini mencapai US$ 2.9 juta dolar, US$400 ribu dolar merupakan dana dari pemerintah Kamboja sebagai bentuk perhatian dari pemerintah kepada muslim disana.

Jauh sebelumnya di tempat ini sudah ada bangunan masjid yang sudah berdiri sejak tahun 1968 dengan nama Masjid Nurul Ikhsan, di tepian danau Boeng Kak yang begitu melegenda. Masjid tersebut sempat di perbaiki dan dibangun ulang tahun 1990 dengan dana dari Ke-Emiran Dubai - Uni Emirat Arab, sehingga lebih dikenal sebagai Masjid Internasional Dubai Phnom Pehn. Masjid tersebut kemudian di robohkan di tahun 2012 karena sudah mengalami kerusakan parah kemudian dibangun kembali sebagai sebuah masjid megah bergaya Turki Usmani di lokasi yang sama seperti yang kita lihat saat ini.

No. 1, Maot Chrouk (St. 86), 12201 Phnom Penh



Artikel lengkap tentang masjid Nurul Ikhsan dapat anda baca di artikel sebelumnya yang di posting di blog ini tahun 2012 yang lalu berjudul Masjid Internasinal Dubai Phnom Penh bagian 1 dan bagian 2. Artikel tentang Islam di Kamboja serta pahit getir nya perjalanan kehidupan muslim disana, juga sudah di posting di blog ini dengan judul Islam dan Masjid di Kamboja bagian 1 dan bagian 2.

Berawal dari masjid Nurul Ikhsan di tepian Danau Boeng Kak 

Danau Boeng Kak merupakan salah satu legenda bagi para pelancong bermodal pas pasan yang berkunjung ke Kamboja. Danau yang berada di tengah kota Phnom Pehn yang disekelilingnya dipadati oleh begitu banyak penginapan murah yang menjadi paforit bagi para pelancong backpacker. Di tepian danau tersebut berdiri sebuah masjid yang sudah ada sejak tahun 1968 kemudian di lakukan perbaikan besar besaran dan di perbesar ukurannya di tahun 1990 dengan nama Masjid Nurul Ikhsan, namun lebih dikenal dengan nama Masjid Internasional Dubai Phnom Pehn.

Masjid Al-Serkal saat pembangunan. Masjid Nurul Ikhsan atau Masjid Internasional Dubai Phnom Penh dibongkar tahun 2011 kemudian dibangun bangunan baru yang kemudian diberi nama Masjid Al-Serkal

Disebut dengan nama demikian karena memang digunakan oleh muslim dari berbagai bangsa yang tinggal atau sekedar singgah di kota Phnom Pehm dan dibangun dengan dana bantuan dari Ke-Emiran Dubai, Uni Emirat Arab. Berbagai sumber menyebutkan bahwa pembangun masjid tersebut bernama Mahmoud Abdallah Kasim dan Hisham Nasir (mungkin yang dimaksud adalah Sheik Eisa Bin Nasser bin Abdullatif Al-Serkal). Mereka tidak aja mendanai pembangunan masjid Nurul Ihsan ini, dan tidak itu saja mereka juga membantu memberangkatkan 30 muslim Cham setiap tahun menunaikan ibadah haji. 

Di sekitar tahun 2011-2012 pemerintah Kamboja membuat keputusan kontroversial dengan melakukan proyek reklamasi terhadap danau Boeng Kak. Keseluruhan danau tersebut ditimbun dengan pasir sedot yang dialirkan langsung dari Danau Tonle Sap dan sungai Mekhong menggunakan pipa. Protes keras dari warga setempat hingga ke lembaga amnesti Internasional tak mengentikan proyek tersebut. Danau Boeng Kak kini sudah tak ada lagi berganti menjadi lahan terbuka yang luas dan sudah mulai dibangun kawasan bisnis seperti yang direncanakan semula oleh pemerintah Kamboja.


Di tahun yang sama masjid Nurul Ikhsan yang sudah lama tidak terawat dengan baik karena masalah dana, sudah mengalami kerusakan parah disana sini, sebagian pondasinya bahkan sudah amblas dan terancam roboh sehingga membutuhkan dana cukup besar untuk perbaikan menyeluruh. Di Bulan Juni tahun 2011 dilaksanakan penandatangan nota kesepahaman antara Pemerintah Kamboja dengan Perwakilan Pemerintah Uni Emirat Arab, bagi bantuan dana untuk pembangunan ulang Masjid Nurul Ihsan.

Penandatangan kesepakatan pembangunan masjid ini ditandatangani oleh Usman Hasan, Presiden CMDA (Cambodia Muslim Depelovement Association) sekaligus sebagai sekretaris menteri tenaga kerja Kamboja bersama dengan Sheik Eisa Bin Nasser bin Abdullatif Al-Serkal dari Uni Emirab Arab, pada tanggal 22 Juni 2011.

Tak nampak seperti di Kamboja. Arsitektur masjid Al-Serkal di pusat kota Phnom Penh, Kamboja ini sangat mencolok perbedaannya dengan bangunan disekitarnya. Mengaskan kehadiran Islam di Negara tersebut.

Pembangunan Masjid Agung Al-Serkal

Proyek pembangunan Masjid dimulai dengan merobohkan total seluruh bangunan Masjid Nurul Ikhsan. Saat bangunan masjid Nurul Ikhsan di robohkan, sebagai ganti nya dibangun bangunan masjid darurat di halaman masjid ini sebagai tempat peribadatan sementara selama proyek pembangunan berlangsung. Sebuah bangunan bertulang baja berdinding dan beratap seng dengan lantai semen cor. Atap bangunan sementaranya dibuat cukup tinggi untuk mengurangi panasnya suhu di dalam masjid beratap seng tersebut, ditambah dengan jejeran kipas kipas angin gantung di dalam masjid.

Masjid baru yang akan dibangun di lokasi ini sama sekali berbeda dengan bangunan masjid sebelumnya. Nantinya masjid baru ini dibangun dalam gaya arsitektural Turki yang menonjolkan menara menara tinggi dan kubah kubah besar di atap masjid. Tim ahli dari Uni Emirat Arab akan terlibat langsung dalam penanganan proses pembangunannya. Proses pembangunan masjid baru tersebut memakan waktu selama 18 (delapan belas) bulan.

Peresmian Masjid Agung Al-Serkal

Masjid Agung Al-Serkal diresmikan oleh Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen pada tanggal 27 Maret 2015. Upacara peresmian tersebut di hadiri oleh lebih dari seribu jemaah yang memadati areal masjid ini. Wajah wajah sumringah penuh bahagia menyambut dibukanya masjid tersebut secara resmi. Masjid Al-Serkal menjadi masjid terbesar di Kamboja dan merupakan catatan penting dalam sejarah perkembangan Islam di Kamboja, sebagaimana disampaikan oleh Ahmad Yahya, selaku presiden Yayasan Pengembangan Muslim Kamboja atau the Cambodian Muslim Community Development Organization (CMDF).

Pada upacara peresmian masjid Al-Serkal ini, perdana menteri Hun Sen menyampaikan rasa bangga nya kepada muslim Kamboja yang hidup damai tanpa ada masalah dengan kelompok agama lain, dan juga tidak ada masalah dengan isue Suni dan Syiah seperti di kebanyakan negara lainnya. Muslim Kamboja pernah mengalami masa teramat sulit, manakala negara tersebut berada di bawah rezim Khmer Merah yang beraliran Ultra Maois, hampir separuh muslim disana menjadi korban pembantaian selama kekuasaan rezim tersebut.

Perdana Menteri Hun Sen saat peresmian Masjid Agung Al-Serkal

Dengan diresmikannya masjid Agung Al-Serkal ini, tidak saja menjadi pusat Ke-Islaman di Kamboja namun juga menjadi objek wisata ruhani bagi negara tersebut. Megahnya bangunan masjid dengan biaya pembangunan yang tidak sedikit dan lokasinya yang berada di pusat kota Phom Penh tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong yang datang kesana terutama bagi para pelancong muslim, dan disisi lain tentunya akan menambah ghirah bagi kaum muslimin disana.

Upacara peresmian masjid ini berlangsung meriah dihadiri muslim pria dan wanita dari segala usia tumpah ruah ke area masjid untuk menyaksikan momen penting tersebut. Selesai acara peresmian dilanjutkan dengan sholat Jum’at berjamaah. Pengunjung disana menyempatkan makan siang dan belanja di kios kios yang berjejer di halaman masjid. Masjid Al-Serkal menjadi masjid termegah diantara 500 masjid di Kamboja.

Bersambung ke bagian 2

-----------------

Artikel Terkait


Senin, 26 September 2016

Mesjid Sendang Dhuwur, Lamongan, Jawa Timur

Masjid Sendang Duwur dengan latar depan komplek makam Sendang Duwur

Mesjid Sendang Dhuwur, merupakan mesjid tertua di Lamongan. Mesjid tersebut merupakan bukti kebesaran perjuangan Sunan Sendang Dhuwur di Lamongan dan Tuban. Meski berusia 477 tahun, bangunannya masih berdiri kokoh dan menjadi bukti sejarah Islam yang tak lekang dimakan waktu. Bangunan masid Sendang Dhuwur sempat mengalami perbaikan pada tahun 1920. Namun, arsitektur aslinya masih tampak dan menggambarkan kebesaran pada zamannya. Beberapa peninggalan sejarah masih tersisa seperti mimbar, beduk kulit, dan gentong tempat air minum.

 

Sejarah berdirinya masjid ini syarat dengan cerita yang luar biasa. Masyarakat setempat yakin bahwa masjid ini dibangun dalam waktu satu malam. Disebutkan bahwa Sunan Sendang Dhuwur memindahkan masjid ini dari Mantingan di Jepara – Jawa Tengah ke Lokasi yang sekarang, dalam waktu satu malam. Itu sebabnya masjid ini juga disebut sebagai masjid Tiban. Kini, Mesjid Sendang Dhuwur menjadi satu di antara tiga mesjid peninggalan wali yang masih terawat dengan baik. Dua di antaranya yakni Mesjid Sunan Ampel dan Sunan Giri.

 

Lokasi Masjid Sunan Sendang Dhuwur

 

Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran

Kabupaten Lamongan, Jawa Timur



Sunan Sendang Duwur

Sunan Sendang Duwur bernama asli Raden Noer Rahmad adalah putra dari Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad (lrak). Raden Nur Rahmad lahir pada tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Beliau adalah tokoh kharismatik yang pengaruhnya dapat disejajarkan dengan Wali Songo pada saat itu.

Ada yang mengatakan Sunan Sendang Duwur sebagai putra Abdul Qohar dari Sedayu (Gresik), salah satu murid Sunan Drajad. Ada pula yang menyebut Sunan Sendang Duwur adalah putra Abdul Qohar tapi tidak berguru pada Sunan Drajad. Namun dari perbedaan itu, disepakati bahwa Raden Noer Rochmat akhirnya diwisuda Sunan Drajad sebagai Sunan Sendang Duwur.

Sejarah Masjid Sunan Sendang Dhuwur


Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer berharap bisa mendirikan masjid di Desa Sendang Duwur. Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid.


Interior Masjid Sendang Duwur

Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya pada 1531 Masehi. Banyak ulama dan kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.

Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut. Tapi apa kata Mbok Rondo Mantingan saat itu? Hai anak bagus, mengertilah, aku tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku (saat itu sudah meninggal, Red) berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan saya berikan secara cuma-cuma.

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yang masih muda saat itu merasa tertantang. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya dan tentunya dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur. Masjid Sendang Duwur pun berdiri di sana, ditandai surya sengkala yang berbunyi: "gunaning seliro tirti hayu" yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun
1561 Masehi.

Tapi cerita lain menuturkan, masjid tersebut dibawa rombongan (yang diperintah Sunan Drajad dan Sunan Sendang Duwur) melalui laut dari Mantingan menuju timur (Lamongan) dalam satu malam. Rombongan itu diminta mendarat di pantai penuh bebatuan mirip kodok (Tanjung Kodok) yang terletak di sebelah utara bukit Amitunon di Sendang Duwur.


Akulturasi budaya di komplek masjid dan makam Sendang Duwur

Tradisi Kupatan di Tanjung Kodok Lamongan

Rombongan dari Mantingan itu disambut Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur beserta pengikutnya. Sebelum meneruskan perjalanan membawa masjid ke bukit Amitunon, rombongan itu diminta istirahat karena lelah sehabis menunaikan tugas berat. Saat istirahat, sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu dengan kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat. Berawal dari sini, sehingga setiap tahun di Tanjung Kodok (sekarang Wisata Bahari Lamongan) digelar upacara kupatan.

 

Masjid itu kini sudah berusia 477 tahun (didirikan R. Thoyib di Mantingan pada 1531). Karena usianya yang tua, beberapa konstruksi kayunya terpaksa diganti dan yang asli tetap disimpan di lokasi makam, di sekitar masjid. Maski masjid kuno itu sempat dipugar, arsitektur masjid peninggalan wali ini masih tampak dan menggambarkan kebesaran pada zamannya.

Ajaran Sunan Sendang Dhuwur

Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajaran yang masih relevan pada zaman sekarang adalah : "mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu" (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu. Ajaran sunan ini menghimbau pada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah.

Meski berada di ketinggian, masjid dan komplek makam ini dapat di capai dengan kendaraan bermotor.

Hubungan Sunan Drajad dengan Sunan Sendang Duwur sangat erat dalam siar agama Islam, dan hubungan itu terus mengalir sampai kini. Terlihat, tidak jarang para peziarah ke makam Sunan Drajad di Desa Drajad, Kec. Paciran untuk singgah ke Sunan Sendang Duwur.

Bangunan yang menunjukkan Hinduistis masih tampak di masjid dan makam. Meski halaman dan makam menyatu, masjid ini mempunyai halaman sendiri-sendiri. Dari arah jalan, yang tampak lebih dulu adalah kompleks pecandian. Sedangkan gapura halaman berbentuk mirip Candi Bentar di Bali. Bentuk candi seperti ini telah dikenal sejak zaman Majapahit, seperti Gapura Jati Pasar dan Waringin Lawang.

Bangunan Makam Sunan Sendang Duwur yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar tersebut berarsitektur tinggi yang menggambarkan perpaduan antara kebudayaan Islam dan Hindu. Bangunan gapura bagian luar berbentuk Tugu Bentar dan gapura bagian dalam berbentuk Paduraksa. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi ukiran kayu jati yang bernilai seni tinggi dan sangat indah. Dua buah batu hitam berbentuk kepala Kala menghiasi kedua sisi dinding penyangga cungkup.

Makam Sunan Sendang Duwur yang letaknya di atas bukit itu, tetapi bisa dijangkau oleh kendaraan umum ataupun pribadi. Sarana jalan yang sudah baik dan memadai memudahkan para pengunjung yang ingin kesana untuk berwisata ziarah.***


Minggu, 25 September 2016

Masjid Agung Tuban Jawa Timur

Warna meriah. Penggunaan warna warna terang pada masjid ini berhasil menjadikannya sebagai bangunan ikon kota Tuban yang memang sangat menarik perhatian.

Tuban, salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur, salah satu tempat Sunan Bonang Bedakwah. Dan salah satu wilayah bawahan Majapahit yang kemudian Bupatinya memeluk agama Islam. Di Tuban berdiri sebuah masjid megah yang seringkali disebut sebagai masjid dengan keindahan layaknya bangunan dalam dongeng 1001 malam, masjid tersebut adalah Masjid Agung Tuban.

Lokasi dan Alamat Masjid Agung Tuban

Berdiri megah di sisi barat alun alun Tuban, masjid ini telah menjadi Ikon kebanggaan warga Tuban. Lokasinya berdiri tidak saja berada di pusat kota tapi juga bersebelahan dengan salah satu situs penting sejarah tanah Jawa, yakni Kompek Makam Sunan Bonang yang ramai di ziarahi oleh berbagai lapisan masyarakat dari berbagai tempat.


Arsitektur Masjid Agung Tuban

Aristektur masjid ini memadukan ragam budaya dari berbagai negara seperti Arab, Turki, dan India. Secara umum bangunan masjid ini terdiri dari bangunan utama masjid yang diapit oleh empat menara di masing masing empat penjuru masjid, dua bangunan serambi di sisi depan bagian kiri dan kanan serta ditambah dua menara yang lebih tinggi dari empat menara lainnya.

Penggunaan aneka warna terang sangat kuat menonjolkan bangunan masjid ini ditengah tengah kota Tuban. Kubah utama diapit dua kubah lainnya diantara enam menaranya yang menjulang seakan akan menghadirkan suasana negeri dongeng dalam kehidupan nyata di kota Tuban.

Sejarah Masjid Agung Tuban

Tuban dan Sunan Bonang

Kota Tuban bagaimanapun tidak dapat dipisahkan dari nama besar Sunan Bonang. Meski Kota Tuban bukan satu-satunya kota tempat Sunan Bonang berdakwah, tetapi karena ia dimakamkan di Tuban maka tidak salah jika ia sering disebut Sunan Tuban. Ada pula yang menyebutkan, makamnya di Lamongan. Seperti para wali yang lain, Sunan Bonang juga mendirikan sebuah masjid sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Astana yang berada di bangunan kompleks makam Sunan Bonang. Bersebalahan dengan komplek masjid Agung Tuban.

Sepasang Landmark. Di latar depan foto adalah bangunan yang menaungi makam Sunan Bonang dan kerabat dekatnya dengan latar belakang Masjid Agung Tuban. Dua Landmark Tuban yang sangat penting bagi sejarah kota tersebut.

Dalam berdakwah, Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim, sering menggunakan alat musik tradisional yang disebut bonang. Bonang adalah sejenis gamelan yang terbuat dari besi atau kuningan yang bagian tengahnya dibuat menonjol. Bila tonjolan itu dipukul dengan kayu yang lunak maka akan timbul suara yang merdu.

Pada waktu itu, bunyi demikian sudah sangat mengasyikkan telinga. Apalagi yang membunyikan bonang itu seorang wali maka bunyinya mempunyai pengaruh yang luar biasa, sehingga banyak penduduk yang berbondong-bondong ingin menyaksikan dan mendengar dari dekat.

Sunan Bonang yang cerdik sudah memperhitungkan hal itu maka ia mempersiapkan kolam di depan masjid. Siapa yang mau masuk ke masjid harus membasuh kakinya. Setelah mereka berkumpul di dalam masjid, ia pun mengajarkan tembang-tembang yang berisikan ajaran Islam.

Sepulangnya dari masjid, tembang itu mereka hafalkan di rumah. Sanak saudara mereka pun turut menyanyikan tembang itu karena tertarik akan kemerduan lagunya. Demikianlah cara Sunan Bonang berdakwah sehingga santrinya tersebar di berbagai penjuru Nusantara.

Masjid Agung Tuban Dulu dan Sekarang

Berdirinya Masjid Jam Tuban

Sebelum menjadi Masjid Agung Tuban, sebelumnya masjid ini dikenal sebagai Masjid Jami’ Tuban. Sejarah pembangunan masjid ini tidak ada sangkut pautnya dengan Sunan Bonang, pembangunan masjid ini sendiri dilaksanakan pada tahun 1894, terpaut sekitar empat abad dari masa Sunan Bonang. Namun demikian kehadiran masjid ini telah menjadi saksi sejarah keberhasilan dakwah Sunan Bonang di Tuban.

Masjid Jami’ Tuban pertama kali dibangun pada abad ke-15 Masehi, yakni pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo (Bupati Tuban ke-7), letaknya tidak jauh dari kompleks makam Sunan Bonang, Raden Ario Tedjo sendiri merupakan Bupati Tuban pertama yang memeluk Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan masjid ini diperluas menjadi bangunan masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Tuban saat ini.

Masjid tersebut sempat mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama kali dilakukan tahun 1894, yakni pada masa pemerintahan Raden Toemengoeng Koesoemodiko (Bupati ke-35 Tuban). Saat itu Raden Toemengoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek berkebangsaan Belanda, BOHM Toxopeus. Sebagaimana disebutkan dalam prasasti yang ada di depan masjid ini yang berbunyi :

“Batoe yang pertama dari inie missigit dipasang pada hari Akad tanggal 29 Djuli 1894 oleh R. Toemengoeng Koesoemodiko Boepati Toeban. Inie missigit terbikin oleh Toewan Opzicter B.O.H.M. Toxopeus.”

Bila bentuknya kita amati, Masjid Jami Tuban ini memiliki cari khas tersendiri. Secara garis besar, bentuk bangunannya terdiri atas dua bagian, yaitu serambi dan ruang shalat utama. Bentuknya tidak terpengaruh dengan kebiasaan bentuk masjid di Jawa yang atapnya bersusun tiga. Arsitektur masjid ini justru terpengaruh oleh corak Timur Tengah, India, dan Eropa. Sekilas tampak ada kemiripan dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, terutama bentuk berandanya yang dipertahankan hingga kini.

Renovasi selanjutnya dilakukan tahun 1985. Masjid mengalami perluasan. Kemudian, di tahun 2004 dilakukan renovasi total terhadap bangunan Masjid Agung Tuban oleh pemerintah Kabupaten Tuban. Renovasi yang dilakukan kali ini meliputi pengembangan satu lantai menjadi tiga lantai, menambah sayap kiri dan kanannya dengan mengadopsi arsitektur bangunan berbagai masjid terkenal di dunia serta penambahan enam menara masjid dengan luas keseluruhan mencapai 3.565 meter persegi. ***

----------------

Baca Juga Masjid di Jawa Timur Lainnya