Sabtu, 27 Juli 2019

Masjid Ali Bin Abi Thalib – Madinah

Masjid serba putih, Masjid Ali Bin Abi Thalib di kota Madinah, dibangun atas lahan bekas rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib dan istrinya tercinta Fatimah Az-Zahra yang juga merupakan Putri Rosulullah S.A.W.

Masjid Ali bin Abi Thalib merupakan satu dari tiga masjid bersejarah yang berada di sebelah barat Masjid Nabawi bersama sama dengan Masjid Al-Ghamamah dan MasjidAbu Bakar Siddiq R.A. Lokasi Masjid ini hanya terpaut sejauh sekitar 100 meter sebelah barat dari gerbang nomor 7 pelataran masjid Nabawi setelah perluasan dan sekitar 122 meter ke utara dari Masjid Al-Ghamamah. Lokasi Masjid Ali bin Abi Thalib berada di sisi selatan ruas jalan As-Salam, ruas jalan yang berahir ke gerbang Nomor 7 pelataran Masjid Nabawi.


Masjid Ali Bin Abu Thalib tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah, karena lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Nabawi, semua aktivitas sholat lima waktu dialihkan ke Masjid Nabawi. Pintu masjid ini selalu terkunci, namun tetap menarik perhatian Jemaah dari berbagai Negara untuk sekedar berkunjung. Sayangnya ada saja Jemaah yang melakukan perbuatan kurang terpuji dengan mencoret coret tembok masjid ini terutama di sisi sekitar pintu gerbang sisi timur masjid.




Sejarah Masjid Ali Bin Abu Thalib

Menurut riwayat, Nabi pernah sholat Ied di tempat ini. sementara riwayat yang lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun di teratak rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib bersama istrinya Fatimah Az-Zahra yang merupakan putri kesayangan Rosulullah S.A.W. itu sebabnya masjid ini dinamai dengan nama Masjid Ali Bin Abu Thalib.

Bersamaan dengan dimulainya proyek perluasan Masjid Nabawi, masjid Ali Bin Abi Thalib dan dua masjid lainnya di lokasi yang berdekatan sempat dikabarkan akan di gusur, namun ternyata berita itu tak terbukti, masjid Ali Bin Abu Thalib masih berdiri ditempatnya meski tidak dibuka untuk umum. Semua aktivitas sholat berjamaah lima waktu dialihkan ke Masjid Nabawi karena memang lokasinya yang tidak berjauhan. Dan memang tidak ada anjuran ataupun keistimewaan untuk melakukan sholat di masjid ini.

Masjid Ali Bin Abu Thalib di tepi jalan Assalam dilihat dari arah pintu gerbang nomor 7 pelataran Masjid Nabawi. di sebelah kanan foto tepat disamping gerbang sebelah kanan terdapat gedung Museum Assalam.

Sejarah Pembangunan Masjid Ali Bin Abu Thalib

Masjid Ali Bin Abi Thalib pertama kali dibangun ole Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang memerintah di Madinah sebagai pengingat sejarah tempatnya berdiri. Bangunan tersebut kkemudian direnovasi oleh Gubernur Dhaigham Al-Manshuri, Gubemur Madinah tahun 881 H. Setelah itu juga direhab oleh Sultan Abdul Majid I pada saat Arab Saudi menjadi bagian dari wilayah Khalifah Turki Usmani yang berpusat di Istanbul. Renovasi terhadap masjid ini kembali dilakukan tahun 1269 H.

Dimasa kekuasaan kekuasaan Kerajaan Arab Saudi, Masjid Ali Bin Abu Thalib kembali  direnovasi oleh Raja Fahd pada tahun 1411 H, sebagaimana dijelaskan pada prasasti yang dipasang ditembok pagar disamping gerbang timur masjid. Raja Fahd memperluas masjid ini hingga mencapai 682 m2 dengan menara setinggi 26 meter.

Sisi depan Masjid Ali Bin Abu Thalib menghadap ke jalan As-Salam, tampak dua gerbang pagarnya yang selalu tertutup dan terkunci rapat. Kini ada mesin ATM di depan masjid di area pedesterian, disebelah kanan gerbang utama-nya.

Arsitektur Masjid Ali Bin Abu Thalib

Masjid Ali Bin Abu Thalib terdiri dari bangunan utama, satu menara, gerbang dan pagar keliling serta kamar mandi. Bangunan utama masjid ini dilengkapi dengan serambi dengan lima lengkungan berceruk dalam bentuk senada. Pintu utama berada di lengkungan tengah, empat lengkungan lain terdapat jendela berbentuk segi empat. Pintu masjid ini sejajar dengan gerbang utama masjid yang menghadap ke jalan raya As-Salam di sebelah utara masjid.

Bangunan utama masjid ini memanjang timur barat sepanjang 35 meter dengan lebar 9 meter. Dengan tembok massif warna putih tanpa kanopi. Bagian atapnya dilengkapi dengan tujuh kubah. Satu kubah utama sedikit ditinggikan dibagian tengah dengan denah segi delapan,sementara enam kubah lainnya mengapit di sisi kiri dan kanan masing masing berdenah segi empat.

Masa kini Masjid Ali Bin Abu Thalib, berdiri diantara jejeran gedung gedung hotel yang berjejer di sekitar Kompleks Masjid Nabawi.
Sisi kiblat masjid Ali Bin Abi Thalib berada di sisi selatan karena memang kota Madinah berada di sebelah utara kota Mekah. Mihrab masjid ini berada dibagian tengah sisi kiblat berupa sebuah cerukan sedalam 1.25 meter di tembok sisi selatan yang sedikit dibangun menonjol kesisi luar, setinggi sekitar tiga meter. Dinding sisi selatan masjid ini dilengkapi dengan beberapa penopang tembok di sisi luar.

Secara keseluruhan masjid Ali Bin Abu Thalib ini memiliki langgam bangunan yang mirip dengan Masjid Al-Ghamamah, namun menaranya dibangun serupa dengan menara MasjidAbu Bakar Assidiq, berupa menara berdenah segi delapan dengan satu balkoni dan bagian puncaknya berbentuk kerucut lancip layaknya bangunan menara gaya Usmani. Satu menaranya ini dibangun di sudut tenggara masjid menempel ke tembok masjid.

Bangunan kamar mandi dan tempat wudhu dibangun di sebelah barat bangunan utama. Sekeliling masjid ini kini dilengkapi dengan pagar tembok dan dua gapura. Gapura utama di sisi utara dan gapura kedua di sisi timur. Pintu pagar di dua gerbang ini kini selalu dalam keadaan terkunci. Di bagian depan masjid di tengah jalur pedestrian kini berdiri 4 unit bangunan ATM berdenah segi delapan.***

Masjid Ali Bin Abu Thalib dengan latar depan arkade Hotel Aramas yang berada diseberang jalan masjid Ali bin Abu Thalib.
Aerial view Masjid Ali Bin Abu Thalib dari sisi selatan (sisi kiblat) tampak area mihrabnya yang sedikit menonjol keluar dari tembok masjid dibagian tengah.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 21 Juli 2019

Masjid Abu Bakar Siddiq .R.A – Madinah

Meskipun berhubungan dengan sejarah perkembangan Islam di masa Rosulullah, namun keberadaan bangunan masjid Abu Bakar Siddiq ini baru berdiri di masa pemerintahan Khalifah Ummar Bin Abdul Aziz. Jauh setelah Rosulullah wafat.

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A.merupakan salah satu dari tiga masjid tua bersejarah yang “tempatnya berdiri” berhubungan erat dengan sejarah awal perkembangan risalah Islam di kota Madinah. Lokasi masjid Abu Bakar Assidik berada di sisi barat daya Masjid Nabawi. Pelataran Masjid Nabawi setelah perluasan hanya berjarak beberapa meter dari masjid ini.

Lokasi Masjid Abu Bakar Assidiq ini sangat berdekatan dengan Masjid Ghamama dan Masjid Ali. Hanya terpaut sekitar 40 meter dari Masjid Ghamama dan pada saat pemerintah Arab Saudi meluncurkan proyek perluasan Masjid Nabawi, tiga masjid ini sempat menjadi buah bibir karena disebut sebut akan dibongkar untuk keperluan proyek perluasan Masjid Nabawi. Namun saat proyek perluasan berlangsung, pemerintah Arab Saudi justru merenovasi masjid masjid bersejarah ini.

Masjid Abu Bakr Siddeeq RA
Al Haram, Madinah 42311, Arab Saudi



Renovasi yang dilakukan pemerintah Saudi lebih kepada perbaikan masjid dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya serta melakukan penataan kawasan disekitar masjid ini sehingga tampak lebih apik serta disinkronkan dengan kawasan Masjid Nabawi. Keseluruhan kawasan disekitar tiga masjid ini dirapikan dengan dilapis dengan lantai batu dari berbagai jenis ditambah dengan bangku bangku dari batu dan penanaman pepohonan pelindung.

Pada saat proses renovasi masjid masjid ini ditutup termasuk masjid Abu Bakar Assidiq, dan kemudian dibuka lagi untuk umum setelah renovasi dan proyek penataan selesai dilaksanakan. Namun demikian tidak seperti Masjid Al-Ghamamah yang pintunya selalu dibuka sehingga Jemaah bisa masuk ke dalam masjid, Masjid Abu Bakar ini pintunya tidak pernah dibuka untuk umum.

Masjid Abu Bakar Siddiq di latar depan, di belakang sebelah kanan adalah masjid Al-Ghamamah, jauh di belakangnya sebelah kiri atas foto adalah sisi paling selatan pelataran Masjid Nabawi. 
Beberapa Jemaah yang datang kesana dan sepertinya memang berniat untuk sholat di masjid ini tampak melakukan ibadah shoat sunnat di depan pintu masjid. Tiga masjid bersejarah ini memang tidak lagi menyelenggarakan sholat lima waktu, karena sudah dialihkan ke Masjid Nabawi yang kini sudah begitu dekat terutama setelah proyek perluasan.

Sejarah Masjid Abu Bakar Siddiq

Ada dua versi tentang latar belakang sejarah Masjid Abu Bakar, versi pertama menyebutkan bahwa di lokasi masjid ini, Khalifah Abu Bakar Siddiq semasa hidupnya pernah menyelenggarakan sholat Hari Raya bersama Rosululah dan muslim terdahulu. Versi kedua menyebutkan bahwa dilokasi tempat masjid ini berdiri dulunya merupakan rumah kediaman Abu Bakar Siddiq. R.A. Bisa jadi kedua peristiwa tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya.

Karena tidak lagi difungsikan sebagai tempat ibadah, pintunya pun selelu terkunci, masjid Abu Bakar Siddiq ini kini lebih sebagai tugu peringatan sejarah dari tempatnya berdiri.
Karena latar belakang sejarah tersebutlah, masjid ini dibangun di lokasi ini. Kemudian dibangun sebuah masjid untuk megenang sejarah tersebut oleh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz sekitar tahun ke 50H. Masjid tersebut kemudian dibangun ulang dalam bentuknya sekarang oleh Sultan Mahmud Khan al-Utsmani (Sultan Mahmud II, wafat tahun 1255 H/ 1839M).

Bangunan masjid dari masa Sultan Mahmud Khan Al-Usmani tersebut kemudian direnovasi oleh Raja Fahd tahun 1411H tanpa mengubah bentuk aslinya. Luas Masjid Abu Bakar Siddiq ini berukuran 19.5 x 15 m, lebih kecil dibandingkan dengan Masjid Al-Ghamamah.

Karena tidak difungsikan sebagai tempat ibadah dan pintunya pun selalu terkunci, Masjid Abu Bakar Siddiq ini kini lebih sebagai sebuah bangunan prasasti pengingat sejarah masa lampau. Meski bangunannya terawatt dengan baik, beberapa bagian masjid terutama pada bagian pintu terdapat banyak sekali coretan coretan baik dengan hurup arab maupun dengan hurup latin. Entahlah apa tujuan dari orang orang pelaku pencoretan tersebut.

Gaya Byzantium (Romawi Timur) sangat kental pada bentuk kubah tunggalnya.

Arsitektur Masjid Abu Bakar Siddiq

Masjid Abu Bakar Siddiq dibangun dalam gaya klasik era awal Usmaniyah. Terdiri dari dua bangunan yakni bangunan masjid dengan kubah besar haya Byzantium di atapnya, ditambah dengan satu menara degan satu balkoni berukiran qurnis dan ujung menara nya dibuat lancip seperti lazimnya masjid masjid Usmani. Menara ini dibangun disi utara menempel dengan bangunan masjid. Fasad depannya dilapis dengan batu batu alam hitam.

Ada dua pintu akses di masjid ini yang sedikit masuk ke dalam tembok bangunan membentuk sebuah ceruk berlengkung yang tak terlalu dalam. Dua pintu ini dibuat senada, terbuat dari bahan kayu tanpa ornamen. Pintu utama berada ditengah dengan bukaan yang berukuran lebih besar, dibagian atasnya terdapat tulisan nama masjid ini dalam aksara arab.***

Detail bagian atas pintu utama Masjid Abu Bakar Siddiq.
Batu batu basal pada fasad depan Masjid Abu Bakar Assidiq yang tampak sudah begitu tua termakan waktu.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 20 Juli 2019

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Masjid Al-Ghamamah merupakan salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, di lokasi tempat masjid ini berdiri pernah menjadi tempat Rosulullah melaksanakan sholat Istisqo' (sholat meminta hujan) dan setelah itu awang mendung (Al-Ghomammah) pun menggelayut diatas tempat itu.

Masjid Al-Ghamamah adalah salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, Arab Saudi. Lokasi masjid ini berada sekitar 300 meter sebelah barat daya Masjid Nabawi, tak bejauhan dengan Masjid Abu Bakar Siddiq R.A dan Masjid Ali Bin Abi Thalib R.A. Bangunan masjid ini dibangun untuk mengenang beberapa peristiwa penting dimasa kehidupan Rosulullah S.A.W. dan peristiwa peristiwa penting tersebut juga yang hingga kini melekat sebagai nama masjid ini.

Masjid ini bersama masjid masjid bersejarah yang berada disekitar Masjid Nabawi lainnya sempat di kabarkan berbagai media, akan di gusur oleh pemerintah Arab Saudi dalam rangka proyek perluasan Masjid Nabawi. Hal tersebut lebih kepada ke khawatiran akan lenyapnya situ situs sejarah Islam disana seperti yang sudah dilansir berbagai media bagaimana mega proyek perluasan Masjidil Haram di kota Mekah telah menyebabkan lenyapnya situs situs sejarah disana.



Namun, hingga tulisan ini kami muat, masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi masih berdiri kokoh ditempatnya dengan bentuk aslinya dan pemerintah Arab Saudi juga telah melakukan langkah langkah konservasi terhadap bangunan bangunan tersebut termasuk renovasi dan penataan kawasan disekitarnya bersamaan dengan proyek perluasan Masjid Nabawi.

Lokasi Masjid Al-Ghamamah saat ini hanya terpaut beberapa meter dari sudut barat daya areal pelataran Masjid Nabawi paska perluasan. Sehingga komplek Masjid Nabawi pun terlihat jelas dari masjid ini begitupun sebaliknya. Lokasi masjid Al-Ghamamah juga berdekatan dengan dua masjid bersejarah lainnya yakni Masjid AbuBakar Sidik dan Masjid Sahabat Ali bin Abi Thalib.

Nama dan Sejarah Masjid Al-Ghamamah

Disebut sebagai masjid Al-Ghamamah yang berarti awan mendung, di lahan masjid ini berdiri merupakan tempat Rosulullah S.A.W melaksanakan Sholat Istisqo’ untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Dan segera setelah pelaksanaan sholat awan mendung pun datang menggelayut disusul dengan turun-nya hujan. Itu sebabnya sampai kini masjid ini disebut Masjid Al-Ghamamah, mengabadikan peristiwa di masa Rosulullah tersebut.

Masjid Al-Ghomamah paska renovasi bersamaan dengan proyek perluasan Masjid Nabawi. 
Masjid ini juga disebut sebagai masjid Id atau masjid Hari Raya, karena dalam sejarahnya, lokasi tempat masjid ini berdiri merupakan tempat Nabi Muhammad S.A.W melaksanakan sholat hari raya di empat tahun terahir kehidupan Beliau. Perlu di ketahui bahwa pada masa Rosulullah di tempat ini hanyalah tanah lapang yang beliau gunakan untuk melaksanakan sholat, belum berbentuk sebuah bangunan masjid.

Di lokasi ini atau di lokasi yang berdekatan dengan lokasi masjid ini, Rosulullah S.A.W pernah melaksanakan sholat jenazah bagi Najashi. Beliau adalah Kaisar Aksum di Abbysinia (kini Ethiopia). Dalam riwayat disebutkan bahwa Najashi adalah seorang raja di kerajaan Aksum di Ethiopia yang beragama Kristen, namun menyambut baik kedatangan kaum muslimin yang mengungsi ke negerinya menghindar dari kekejaman kafir Quraisy Mekah. Dikemudian hari Najashi pun berikrar masuk Islam.

Ketika Najashi wafat, tak ada siapapun yang bersedia memimpin sholat jenazah baginya dan kemudian Rosulullah yang men-sholatkan beliau secara ghaib. Peristiwa ini merupakan satu satunya peristiwa Rosulullah melakukan sholat ghaib atau sholat jenazah tanpa kehadiran dari jenazah yang di sholatkan.

Di latar belakang terlihat jelas masjid Nabawi dan pelatarannya setelah proyek perluasan, tampak gemerlap dengan lampu lampu yang menyinarinya di malam hari.
Peristiwa tersebut terekam dalam salah satu hadist Rosulullah;

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengumumkan kematian Al-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian, beliau keluar menuju tempat shalat. Lalu, beliau membariskan shaf, kemudian bertakbir empat kali. (HR Bukhari dan Muslim).

Pembangunan Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz di Madinah antara tahun 89 hingga tahun 93 Hijriah (jangan sampai keliru dengan Khalifah Umar Bin Khattab). Bangunan tersebut kemudian direnovasi oleh Sultan dinasti Mamluk, Sultan Hasan bin Muhammad bin Qalawan Ash-Shalihi sebelum tahun 761 Hijriah. Kemudian perbaikan perbaikan oleh Syarif Saifuddin Inal Al-Ala'i pada tahun 861 Hijriah.

Setelah itu, Sultan Abdul Majid I semasa kekuasaan Khalifah Islamiyah di Istabul – Turki pada tahun 1275 Hijriah / 1859 melakukan renovasi ke bentuk masjidnya seperti saat ini, selain perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid dan di renovasi kembali oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud, selaku Raja Saudi Arabia.

Payung payung sedang mengembang di pelataran Masjid Nabawi, tampak di latar belakang masjid Al-Ghamamah.
Masjid Al-Ghamamah kembali direnovasi secara menyeluruh oleh pemerintah Arab Saudi bersamaan dengan perluasan Masjid Nabawi dengan membangun dan menata kawasan disekitar masjid ini yang disinkronkan dengan Masjid Nabawi, yang pelataran sisi selatan-nya kini sudah sangat dekat dengan masjid Al-Ghamamah, karenanya Masjid Al-Ghamamah ini tidak lagi digunakan untuk penyelenggaraan sholat lima waktu yang sudah dialihkan ke Masjid Nabawi.

Arsitektur Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah ini dibangun dalam arsitektur bangunan masjid bergaya klasik, tidak seutuhnya bergaya usmani meski sempat berada di bawah kekuasaan dinasti Turki Usmani. Denah bangunannya berbentuk persegi panjang, terdiri dari dua bagian; bagian beranda dan ruang shalat utama. Berandanya berbentuk persegi panjang dengan panjang 26 meter dan lebar empat meter, di bagian atapnya dilengkapi dengan lima kubah, dilengkapi dengan lengkungan lengkungan.

Ruang sholat berukuran panjang 30 meter dan lebar 15 meter, ruangannya seolah terbadi dua oleh jejeran pilar pilar berlengkung penyanggah struktur atap. Bagian atapnya terdapat enam kubah, atap masjid dibangun lebih tinggi dibandingkan atap bagian berandanya. Enam kubah diatap masjid ini dibangun dua jejer dengan kubah paling besar berada di bagian atas area mihrab yang menghadap ke selatan. Karena posisi Kota Madinah berada disebelah utara dari Ka’bah di kota Mekah, arah kiblat masjid ini menghadap ke selatan.

Gaya bangunan masjid masjid tua Turki sangat kental pada gaya bangunan Masjid Al-Ghamamah karena memang dibangun pada masa kekuasaan Turki Usmani.
Bentuk jendela nya sangat khas, perpaduan dua jendela dengan bagian atas berbentuk oval dibagian atasnya ditempatkan satu jendela bundar. Padanan jendela jendela ini ditempatkan di semua sisi masjid. Pintunya dibuat dari kayu yang dihias ukiran khat Utsmani. Masjid Al-Ghamamah dilengkapi dengan satu menara yang dibangun menyatu dengan bagian masjid di pojok barat laut bangunan utama.

Secara keseluruhan sisi luar Masjid Al-Ghamamah dihiasi dengan lapisan batu basal hitam. Sementara itu, bagian atas kubahnya dipoles dengan warna putih. Di bagian dalam, dinding dan cekungan kubah dipoles dengan warna putih. Tiang-tiang penyangga masjid dipoles dengan warna hitam sehingga memberikan pemandangan indah pada masjid dengan dua warna yang serasi***.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 07 Juli 2019

Masjid Jami' Pangkalpinang, Bangka Belitung (Bagian-2)

Aerial view Masjid Jami' Pangkalpinang.

Melanjutkan posting bagian-1. Masjid Jamik Pangkalpinang merupakan salah satu masjid terbesar di kota Pangkalpinang, ibukota provinsi Kepulauan Bangka Belitung, masjid ini juga merupakan masjid bersejarah di kota Pangkalpinang. Masjid yang dibangun tahun 1936 ini memiliki arti teramat penting bagi muslim disana. Jalan yang membentang di depan masjid ini dinamai “Jalan Masjid Jamik”, bahkan kelurahan tempat masjid ini berdiripun juga diberi nama “Kelurahan Masjid Jami’. Kantor Kelurahan Masjid Jami’ hanya terpaut sekitar 300 meter ke baratdaya dari masjid ini.

Masjid Jami’ Pangkalpinang dilengkapi Auditorium

Sejak tahun 2016, pemerintah kota Pangkalpinang mulai membangun gedung auditorium di lahan kosong yang berada di sisi sebelah barat masjid jami’. Rencana pembangunan gedung auditorium tersebut sudah digagas sejak masa pemerintahan Gubernur Gubernur Bangka Belitung Eko Maulana Ali. Namun pembangunannya belum sempat terealisasi hingga ahir masa jabatan beliau.

Pembangunan auditorium tersebut ditindaklanjuti oleh walikota Pangkalpinang, Irwansyah. Proses pembangunan memakan waktu selama satu tahun, dimulai tahun 2016 dan diresmikan penggunaannya bertepatan dengan hari ulang tahun kota Pangkalpinang ke 260 pada tanggal 17 September 2017 yang lalu oleh Walikota Pangkalpinang, Muhammad Irwansyah. Auditorium Masjid Jami’ ini menjadi gedung auditorium pertama di kota Pangkalpinang dan sudah dinanti nanti kehadirannya oleh warga setempat selama 9 tahun sejak pertama kali dicetuskan oleh gubernur Eko Maulana Ali.

Gedung Auditorium Masjid Jami' Pangkalpinang, dibangun di sisi sebelah barat atau dibelakang bangunan masjid jami'.

Masjid Jami’ Dan Sungai Rangkui

Masjid Jami; Pangkapinang dibangun tak jauh dari aliran sungai Rangkui yang mengalir disisi barat masjid. Sungai Rangkui merupakan sungai yang mengalir membelah kota Pangkalpinang dan memiliki sejarah-nya sendiri bagi kota ini. Sungai Rangkui sempat memainkan peran penting sebagai urta nadi perhubungan dan perekonomian kota, sungai ini juga sempat menjadi sandaran hidup bagi para nelayan hingga menjadi sumber air bersih bagi warga kota sebelum kemudian pencemaran dan pendakalan mulai merusak fungsi sungai Rangkui.

Sejarah perjuangan kemerdekaan rakyat kota Pangkalpinang juga tak terlepas dari Sungai Rangkui. Adalah Depati Amir yang memimpin perlawanan rakyat Pangkalpinang dimasa perjuangan kemerdekaan melawan pejajah Belanda memanfaatkan alur sungai Rangkui sebagai salah satu jalur perjuangan.

Rakyat kota Pangkalpinang masih mengingat bagaimana Depati Amir berhasil meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda saat sedang berada di rumah Demang Abdurrasyid dan sudah dalam kondisi diracun, beliau ahirnya lolos dari kepungan dengan meloloskan diri melalui sungai Rangkui di tahun 1848. Tata letak masjid Jami; yang dibangun tak jauh dari sungai tentunya tak lepas dari keperluan akan air bersih Jemaah masjid untuk berwudhu dan keperluan lainnya. Masyarakat setempat bersaksi bahwa di masa lalu aliran sungai Rangkui ini begitu bersih tidak saja untuk keperluan mandi dan sebagainya namun juga layak untuk dikonsumsi.

Sungai Rangkui di belakang Masjid Jami' Pangkalpinang.
Kini pemerintah kota Pangkalpinang setiap tahun menganggarkan dana hingga miliaran rupiah dalam upaya mengembalikan fungsi sungai Rangkui sebagaimana mestinya, termasuk program pengerukan alur sungai serta upaya pengendalian banjir serta upaya mewujudkan mimpi menjadikan aliran sungai Rangkui sebagai salah satu objek wisata kota Pangkalpinang dimasa mendatang.

Arsitektur Masjid Jami’ Pangkalpinang

Sentuhan gaya arsitektur dinasti Islam Mughal di India sangat kental di Masjid Jami’ Pangkalpinang ini, ditandai dengan penggunaan kubah yang berbentuk bawang berukuran besar di atap bangunan utama dan di puncak ke empat menaranya yang dibangun di masing masing empat sudut bangunan masjid. Menara yang berdenah bundar dibangun proporsional hingga ke puncak dan penempatan balkoni di bawah kubah bawang di puncak menara merupakan ciri lainnya.

Ciri khas Masjid Jami’ Pangkalpinang ini ada pada bagian berandanya yang dibangun berdenah setengah lingkaran termasuk juga anak tangganya. Bangunan beranda dari beton ini dilengkapi dengan enam pilar yang melambangkan enam rukun iman. Selain menghadirkan bentuk yang indah, beranda berbentuk setengah lingkaran seperti ini mengisyaratkan kemudahan bagi Jemaah mencapainya dari segala arah dalam kesetaraan.

Kompilasi ekterior Masjid Jami' Pangkalpinang, perhatikan bagian beranda nya yang dibangun dengan denah setengah lingkaran.
Bangunan utama masjid sebenarnya terbagi dua bagian yang integral, masing masing dua bagian masjid ini dilengkapi dengan satu kubah besar diatapnya. Bagian barat merupakan bagian bangunan yang menjadi ruang sholat utama tempat mihrab dan mimbar khatib berada. Ruangannya tinggi besar, terhubung langsung dengan ruangan dibangunan sisi timur. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan banyaknya bukaan jendela jendela kaca menjadi sumber penerangan alami di siang hari.

Tak ada sekat diantara kedua bangunan yang terhubung ini namun pilar pilar besar di dalam ruangan masjid ini serta sebuah relung besar dengan ornamen berlengkung menjadi penanda pimisah diantara kedua bangunan. Banyaknya jendela jendela disemua sisi bangunan termasuk di dinding sisi kiblat bagian atas membuat sirkulasi udara di dalam masjid ini cukup baik dan terasa cukup teduh dan adem ditambah dengan penggunaan kipas angina angin gantung, tanpa perangkat airconditioner (AC).

Bangunan masjid ini di dominasi warna hijau, memadukan warna hijau tua pada kubahnya yang sebelumnya bewarna asli keperakan dari metak pembentuk kubahnya, begitupun pada bagian dalam masjid yang menggunakan warna hijau tua pada beberapa bagian dinding dan karpet lantai. Bagian lain nya sebagai besar menggunakan warna hijau muda.

Kompilasi interior Masjid Jami' Pangkalpinang. 
Ruang utama Masjid Jami’ memiliki 4 tiang utama sesuai jumlah khalifaturrasyidin, memiliki 5 pintu masuk utama masing masing 3 pintu di depan, 1 pintu disamping kiri dan 1 pintu di samping kanan melambangkan rukun Islam. Struktur bangunannya secara keseluruhan terdiri atas 3 undakan sebagaimana bentuk bangunan asalnya yang terdiri dari tiga undakan atap limas. Tiga undakan ini melambangkan Iman, Islam dan Ikhsan.

Luas Majid Jamik ± 900 m² dan dapat menampung jamaah sekitar 2000 orang dibangun di atas lahan seluas 5.662 m². Di hari hari biasa ruangan masjid ini diberi partisi dari kain yang cukup tinggi bewarna hijau tua sebagai area khusus bagi Jemaah wanita. Letaknya di sebelah kanan ruangan bagian tengah, memposisikan shaf Jemaah wanita tetap berada dibelakang shaf Jemaah pria di ruang sholat utama dibagian depan. Sedangkan di hari jum’at, partisi tersebut dibuka sementara.

Aktivitas Masjid Jami’ Pangkalpinang

Pengurusan masjid jami’ kini ditangani oleh Yayasan Masjid Jami’ Pangkalpinang yang juga berkantor di masjid ini. Masjid Jami’ ini dapat menampung hingga 2500 jemaah sekaligus. Kaena lokasinya yang benar benar berada di pusat kota Pangkalpinang, masjid ini sudah barangtentu menjadi pavorit warga muslim setempat untuk menunaikan sholat wajib lima waktu dan aktivitas Islam lainnya.

Masjid masjid di seluruh penjuru dunia yang menggunakan gaya rancangan bangunan dinasti Mughal (India) memiliki ciri khas yang sama dengan masjid Jami' Pangkalpinang ini.
Pada hari kerja biasa masjid ini dibanjiri para Jemaah yang merupakan para pegawai kantor dan perusahaan yang berada dipusat kota, termasuk para pedagang, pengusaha dan masyarakat sekitar masjid. Ruangannya yang luas memungkinkan masjid ini juga menjadi tempat istirahat setelah sholat dzuhur bagi para pegawai dan karyawan yang tempat kerjanya tak jauh dari masjid.

Aktivitas rutin masjid Jami’ yang sangat khas adalah kegiatan barzanji atau pembacaan kitab Al-Barzanji yang diselenggarakan setiap hari Sabtu. Kitab Albarzanji berisikan kisah baginda Nabi Muhammad S.A.W biasanya dibacakan pada saat aqiqah ataupun di acara pernikahan di budaya Melayu, namun di masjid Jami’ Pangkalpinang ini menjadi tradisi disetiap hari Sabtu,

Pengajian rutin mengangkat tema fiqih dan akhlak diselenggarakan setiap hari Selasa malam Rabu, pemilhan tema tersebut karena paling erat kaitannya dengan kehidupan sehari hari termasuk tata cara beribadah yang sesuai dengan sunnah Rosulullah. Dan majelis taklim diselenggarakan setiap dua minggu sekali. Masjid jami’ juga mengelola TPQ untuk anak anak.

Aktivitas Romadhon

Khusus selama bulan suci Romadhon, kepolisian setempat menyiagakan beberapa petugasnya di Masjid Jami’ mengingat ramainya aktivitas di masjid Jami’ dan sekitarnya, dengan aktivitas selama bulan Romadhon. Masjid Jami’ menyelenggarakan tauziah sebelum berbuka bersama di masjid, setelah tarawih diselenggarakan tadarus oleh para jama’ah, belum lagi beraam aktivitas lainnya.

Ada banyak kota di dunia yang menggunakan nama Masjid Jami' di ikuti nama kota tempat masjidnya berada. beberapa diantaranya kemudian mengubah namanya dengan menambahkan nama baru, namun Masjid Jami' Pangkalpinang ini masih dipertahankan dengan mama aslinya sejak pertama kali didirikan di lokasi ini.
Sore hari di depan masjid ini secara rutin ada pembagian takjil gratis, dan disepanjang Jalan Masjid Jamik juga dipenuhi para pedagang dadakan yang menawarkan beragam aneka kuliner romadhon. Sehingga sekali dalam setahun terjadi kemacetan luar biasa disepanjang ruas jalan di depan masjid ini dan sudah menjadi tradisi dari tahun ketahun, masyarakat setempat pun sudah sangat familiar dengan suasana tahunan tersebut, dan menganggapnya sebagai tradisi.

Cagar Budaya

Sejak tahun 2015 yang lalu, Masjid Jami’ Pangkalpinang menjadi salah satu dari 10 objek di kota Pangkalpinang yang telah ditetapkan sebagai budaya oleh kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Penetapan Masjid Jami’ ini bersamaan dengan penetapan Sembilan objek lainnya yakni; museum timah, Gereja GBIP Maranatha, Gereja Kathedral Santo Yosef, Taman Sari (Wilhelmina Park), rumah residen, Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang/R.S. Pusat BTW, wisma timah I, menara air minum dan tugu pergerakan kemerdekaan.

Pemerintah setempat sebenarnya telah mendaftarkan tiga puluh objek untuk didaftarkan sebagai cagar budaya namun baru sepuluh objek yang disetujui oleh pihak kementrian Kebudayaan dan pariwisata, sedangkan duapuluh objek lainnya masih harus menunggu keputusan selanjutnya. Kebanyakan objek objek tersebut merupakan bangunan yang sudah berusia tua dan memiliki nilai sejarah. Diharapkan dengan penetapan tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 06 Juli 2019

Masjid Jami' Pangkalpinang, Bangka Belitung (Bagian-1)

Spesial. Masjid Jami' Pangkalpinang, berdiri megah di ruas jalan Masjid Jami' di kelurahan Masjid Jami' Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang, provinsi kepulauan Bangka Belitung.

Masjid Jamik Pangkalpinang merupakan salah satu masjid terbesar di kota Pangkalpinang, ibukota provinsi Kepulauan Bangka Belitung, masjid ini juga merupakan masjid bersejarah di kota Pangkalpinang. Dari lokasi dan alamatnya saja dengan mudah kita menemukan betapa masjid yang dibangun tahun 1936 ini memiliki arti teramat penting bagi muslim disana. Jalan yang membentang di depan masjid ini dinamai “Jalan Masjid Jamik”, bahkan kelurahan tempat masjid ini berdiripun juga diberi nama “Kelurahan Masjid Jami’. Kantor Kelurahan Masjid Jami’ hanya terpaut sekitar 300 meter ke baratdaya dari masjid ini.
                                                                                     
Sebagaimana dijelaskan di prasati dari batu marmer yang ada di pekarangan depan masjid, Masjid Jamik Pangkalpinang pertama kali dibangun pada tanggal 3 Syawal 1335H atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1936H. Dan statusnya kini sudah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya Kota Pangkalpinang (Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.13/PW.007/MKP/2010, tanggal 8 Januari 2010 dan dilindungi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Masjid Jamik
Masjid Jamik Berada di sudut Jl. Masjid Jamik dan Jl. KH Abdul Hamid
Kelurahan Masjid Jamik, Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 33684                  




Sejarah Awal Masjid Jami’ Pangkapinang

Masjid Jami’ Kota Pangkalpinang, dibangun pertama kali pada tanggal 3 Syawal 1355 H atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1936 M. Masjid didirikan oleh penduduk Kampung Dalam dan Kampung Tengah Tuatunu yang pindah ke wilayah Pangkalpinang dan mendirikan kampung dengan nama atau toponim yang sama dengan kampung asalnya di Tuatunu yaitu Kampung Tengah dan Kampung Dalam.

Bentuk fisik awal masjid berupa bangunan semi permanen, berlantai semen berdinding papan, beratap genteng, dengan atap limas atau berbentuk seperti piramida. Bangunannya bertingkat tiga, pada bagian bawah dipergunakan untuk sholat dan pengajian. Lantai dua berfungsi sebagai tempat menyimpan kitab-kitab kuning, buku-buku agama, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya, sedangkan lantai paling atas berfungsi sebagai menara untuk Muazin mengumandangkan azan.

Interior Masjid Jami' Pangkalpinang.
Landskap masjid ini saat itupun sangat berbeda dengan situasi saat ini begitupun dengan kawasan sekitarnya. Bangunan awal masjid Jami’ ini kira kira berada diantara tempat wudlu dan menara masjid sisi tenggara, dan disekeliling masjid masih berupa rawa-rawa, sungai dan pepohonan rumbia, Sehingga pada saat akan dilakukan renovasi dan perluasan masjid berikutnya, masyarakat setempat harus bergotongroyong untuk menimbun lahan sisi barat masjid yang masih berupa rawa rawa yang cukup dalam.

Renovasi Masjid Jami’ Pangkalpinang dan Sumbangan Bung Hatta

Rencana perombakan pertama Masjid Jami Pangkalpinang  adalah hasil musyawarah para tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha  dan pejabat pemerintah pada hari Minggu 12 November 1950 menjelang maghrib. Dari hasil musyawarah ini terbentuklah panitia pembangunan masjid dengan ketua KH. Mas’ud Nur, yang saat itu sebagai penghulu Pangkalpinang. Selain itu, nama-nama dari kepanitiaan adalah  H. Abdullah Addary, H. M Ali Mustofa, H. Mochtar Jasin, H. Masdar, H Hasim, H. Idris. H Goni, Fattahullah dan yang lainnya.

Masjid Jami' Pangkalpinang pada saat masih dengan satu menara di sisi tenggara atau di sebelah kiri bangunan masjid dari arah depan. Perhatikan kubahnya yang masih dengan warna perak sesuai dengan warna bahan metalnya.
Biaya yang dianggarkan untuk pembangunan Masjid Jamik sebesar Rp1,2 juta. Untuk menutupi kekurangan dana, kepanitian melakukan penggalanagan dana dari seluruh lapisan masyarakat, tidak saja dari masyarakat kota Pangkalpinang namun juga dari seluruh masyarakat pulau Bangka. Menurut catatan, Wakil Presiden RI, Drs. Mohammad Hatta ikut menyumbang sebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah).

Salah satu pekerjaan besar dalam proses renovasi masjid ini adalah proses penimbunan lahan rawa rawa di sebelah sungai Rangkui yang cukup dalam hingga melibatkan masyarakat hingga aparat sipil dan militer bergotong royong melakukan penimbunan.

Senja di Masjid Jami' Pangkalpinang.
Saat ini PT. Timah turut berkontribusi dengan mengerahkan armada truk pengangkut nya setiap pekan untuk mengangkut material ke lokasi penimbunan. Sangat menarik bahwa kaum ibu atau istila kekinian Kelompok Emak emak pun turut berkontribusi dengan mengumpulkan kerikil di area kolong tambang 6 untuk keperluan penimbunan dimaksud.

Pembangunan masjid sempat terhenti akibat kekurangan dana, susunan panitia pun sempat berubah dan anggaran pembangunannya membengkak dari semula Rp1,2 juta berubah menjadi Rp 1,5 juta. Jumlah ini bertambah karena harus disesuaikan dengan harga bahan dan upah pekerja. Rancangan masjid inipun sedikit mengalami sedikit perubahan, tinggi menara yang awalnya 18 meter ditinggikan menjadi 23 meter. Tercata bahwa pembuatan kubah masjid dipercayakan kepada Firma Khu Khian Lan Pangkalpinang, pengerjaan pintu, kusen dan pengecatan oleh Biro Aksi.

Masjid Jami' Pangkalpinang saat ini dengan empat menara dan tampak gedung auditorium di belakang masjid. Tentang bangunan auditorium itu, bisa anda baca di bagian kedua artikel ini.
Dengan segala rintangan dan kesulitan yang dihadapi, pembangunan Masjid Jami’ Pangkalpinang ini selesai dan diresmikan pada tanggal 3 Juni 1961 sekitar pukul 09.00 WIB oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bangka, yang saat itu masih menjadi bagian dari provinsi Sumatera Selatan. Kabar duka berhembus beberapa bulan setelan peresmian masjid ini, Ketua panitia, KH. Mas’ud Nur wafat pada hari pahwalan 10 November 1961, yang bertepatan dengan hari Jumat menjelang Subuh pada usia 51 tahun, jenazah beliau kemudian di sholatkan di masjid yang begitu dicintainya itu.

Setelah itu pembangunan masjid jami’ terus berlanjut termasuk pembangunan tiga menara tambahan menggenapi menara masjid ini menjadi empat menara di masing masing empat sudut bangunan masjid. Mencermati foto foto masjid jami’, dengan mudah anda akan menemukan foto masjid jami’ ini yang masih dengan satu menara, sebelum ahirnya lengkap dengan empat menara seperti tampilan ahirnya saat ini. (bersambung ke bagian-2).

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 30 Juni 2019

Apakah Ada Masjid di Bhutan? (Bagian 2)

Meskipun google map mengkatagorikan masjid Jharna Jamma masjid ini sebagai masjid Bhutan, namun bila diperiksa secara seksama, lokasi masjid ini justru berada di sisi jalan yang masuk wilayah kota Jaigaon, India bukan di sisi jalan yang berada di wilayah kota Phuensholing yang merupakan wilayah Bhutan. Batas antara kedua negara ini berupa ruas jalan yang disebut boarder road.

Bila memasukkan kata kunci “Masjid di Bhutan” ke kolom pencarian google akan muncul tiga nama masjid yang langsung ditampilkan di google-map. Masjid ke-dua dari tiga masjid tersebut adalah masjid Jharna Jamma Masjid, menyusul dibawahnya ada Guabari Puran Mashjid. Kedua masjid tersebut akan kita ulas berikut ini.

JHARNA JAMMA MASJID 

Sama seperti Dantak Mosque yang dibahas pada postingan sebelumnya, kami juga nyaris tak menemukan hasil apapun terkait dengan Jharna Jamma Masjid ini. Bilae merujuk kepada data di google maps masjid ini berada di kota Jaigaon, provinsi Bengala Barat, India. Bukan berdiri di wilayah Bhutan. Akan tetapi mengapa pencarian google justru mengkatagorikan masjid ini sebagai masjidnya muslim Bhutan?.

Republika memberikan sedikit informasi tentang masjid ini. Dalam salah satu artikelnya, republika menyebutkan tentang Masjid Jaigaon yang menjadi tempat ibadah bagi muslim Bhutan. Meski Republika tidak merinci dengan tepat lokasi masjid ini dan menyebutnya berada di wilayah Bhutan meski menyandang nama Masjid Jaigaon, google map menunjukkan bahwa masjid ini berada di wilayah kota Jaigaon, India, bukan di wilayah kota Phuentsholing, Bhutan.

Sedikit informasi tambahan tentang masjid ini muncul di Youtube yang menampilkan suasana sholat Idul Fitri 1440H/2019 yang baru lalu. Ruangan masjid ini tampak cukup luas meski sangat sederhana. Ruang mihrabnya ditandai dengan tirai kain, sedangkan mimbarnya hanya berupa undakan kecil untuk membuat khatibnya berada di posisi lebih tinggi. Khutbahnya disampaikan dalam bahasa arab. setelah sholat Idul Fitri dilanjutkan dengan semacam ceramah dalam bahasa setempat, pengumpulan infak sodaqoh dan Sholawatan.

Apakah Jharna Jamma Masjid ada di Bhutan

Kota Jaigaon di provinsi West Bengal (Benggala Barat), India, memang berbatasan langsung dengan kota Phuentsholing di wilayah Bhutan. Kedua kota ini merupakan kota perbatasan antara kedua Negara, diantara keduanya terdapat satu ruas jalan yang disebut Indo-Bhutan Road. Di sisi timur ruas jalan ini merupakan wilayah kerajaan Bhutan sedangkan di sisi barat ruas jalan merupakan wilayah Repuplik India. Dan masjid Jharna Jamma Masjid ini berada di sisi barat ruas jalan tersebut dan tentunya masuk ke dalam wilayah Republik India.

Hanya saja memang, untuk menuju ke masjid Jharna Jamma Masjid ini dari wilayah Bhutan sudah berbelok ke selatan sebelum tiba di gerbang perbatasan antara kedua Negara. Lokasi masjid ini berada sekitar 850 meter di sebelah selatan gerbang perbatasan antara Bhutan dan India.

Jharna Jamma Masjid
Jaigaon, Bengala Bar. 736182, India


Satu satunya informasi tentang bentuk masjid ini di dapat dari unggahan Rezak Ali google map pada bulan Oktober 2014. Menunjukkan bangunan masjid sederhana namun permanen, dua lantai lengkap dengan dua menara ramping di atap masjid. Tampak dalam foto tersebut sepertinya suasana sholat hari raya. Ada tulisan Eid Mubarak di atas pintu masjid dan hiasan bendera bendera kecil yang dipasang di untaian tali sepanjang jalan dan ke bangunan masjid. Belum ada informasi sama sekali terkait tentang berapa Jemaah masjid ini, kapang dibangunnya dan bagaimana pengelolaannya.

GUABARI PURAN MASJHJID 

Masjid berikutnya atau yang ketiga yang dikatagorikan google sebagai masjid Bhutan adalah Masjid Guabari Puran Mashjid. Lokasi masjid Guabari Puran masdjid ini benar benar berada di dalam wilayah kota Jaigoan, terpuat sekitar 1,8 km sebelah barat dari gerbang perbatasan antara India dan Bhutan. Meskipun demikian, gerbang perbatasan antara India dan Bhutan ini dijaga oleh masing masing petugas ke dua Negara dan memberikan kemudahan bagi warga kedua Negara untuk melintas perbatasan.

Guabari Puran Mashjid
Guabari Main Road ,Jaigaon G.P II Jaigaon, Alipurduar Pin-736182 W.B,
Jaigaon, West Bengal 736182, India


Tidak ada foto tentang masjid ini baik di google map maupun sumber lainnya. Street view pun belum tersedia di dua masjid Jaigoan ini. Guabari pada nama masjid ini merujuk kepada nama tempatnya berada semacam nama kelurahan, dan nama yang sama juga digunakan untuk menyebut nama jalan yang melintas di depan masjid ini.

Bila benar bahwa dua masjid ini merupakan masjid tempat muslim Bhutan beribadah, sepertinya memang muslim disana kesulitan untuk mendirikan masjid di Negara mereka sendiri. Konstitusi Bhutan memang hanya mengakui dua Agama yakni Budha sebagai agama resmi dan agama Hindu meskipun Hindu dan melarang agama lainnya.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga