Minggu, 14 Agustus 2016

Mesjid Raya Sultan Akhmadsyah Tanjung Balai, Warisan Kesultanan Asahan

Diantara Ruko dan sarang walet. Masjid Raya Sultan Akhmadsyah dibangun tahun 1886, jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Raya Al-Mahsun di Kota Medan (1909) maupun Masjid Raya Sulaimaniyah (1894) di kabupaten Serdang Bedagai. Kini bangunan tua bersejarah ini berhimpitan dengan jejeran pertokoan dan bangunan bangunan beton sarang walet yang menjulang menandingi tingginya menara masjid.

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah terletak di jalan Masjid, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai, Provinsi Sumatera Utara. Masjid dibangun di atas tanah wakaf Kesultanan Asahan dengan luas 10.000 meter persegi dan luas bangunan 1000 meter persegi. Masjid Raya ini merupakan bangunan masjid bersejarah yang sudah berumur lebih dari satu abad, warisan dari kesultanan Asahan yang pernah berjaya di Sumatera Timur. Selesai dibangun tahun 1886 digagas oleh Sultan Akhmadsyah yang namanya di-abadikan sebagai nama masjid raya ini. Beliau merupakan Sultan Asahan ke sembilan.

Alamat Masjid Raya Sultan Akhmadsyah
Jalan Mesjid, kelurahan Indra Sakti
Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjung Balai
Provinsi Sumatera Utara, indonesia


Saksi Sejarah Tragedi Pembantaian di Sumatera Timur 1946

Penampilan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah di kota Tanjung Balai ini jelas menyiratkan sebuah perjalanan panjang dari sebuah bangunan masjid yang menjadi saksi bisu sebagian perjalanan sejarah kesultanan Asahan dan kota Tanjung Balai khususnya. Masjid ini juga menjadi saksi bisu kerusuhan sosial di bulan Maret tahun 1946, yang meluluhlantakkan kesultanan kesultanan di wilayah Sumatera Timur termasuk Kesultanan Asahan. Di halaman masjid ini terdapat satu makam yang merupakan pemakaman massal 73 korban tewas dalam kerusuhan sosial tersebut.

Kuburan tersebut ditandai dengan batu prasasti berpahatkan 73 nama nama korban penyerbuan dan pembantaian yang terjadi di Asahan, bulan Maret 1946. Jasad-jasad yang ada di kuburan ini pada mulanya ditemukan dalam bentuk tulang belulang yang terserak di Sungai Lendir tahun 2003, sebuah kampung di Asahan, yang untuk mencapainya harus menggunakan perahu atau motor boat. Mereka adalah para petinggi Kesultanan Melayu Asahan beserta cerdik pandai dan masyarakat umum, termasuk dua orang orang Mandailing bermarga Siregar dan Nasution.

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah dengan gerbangnya. Gerbang ini merupakan bangunan baru begitupun dengan satu bangunan menara nya yang lebih tinggi.

Selain Kuburan tersebut, di halaman masjid ini juga terdapat makam para Sultan Asahan dan kerabatnya serta kuburan kuburan keluarga imam dan nazir masjid. Kuburan kuburan tersebut rata rata dilengkapi dengan batu nisan dari batu pualam yang kebanyakan didatangkan dari Penang, Malaysia, berpahatkan nama nama para mendiang dengan hurup Arab Melayu (Arab Gundul) dengan khat yang cukup indah.

Salah satu sultan Asahan yang dimakamkan di halaman masjid ini adalah Tengku Muhammad Husain Syah yang lahir 3 Dzulhijjah 1278 dan wafat 25 Sya'ban sanah 1333, beberapa nisan bahkan bertuliskan tahun yang lebih tua ratusan tahun dari itu. Saat ini di pendopo masjid juga terdapat tiga buah meriam peninggalan Kesultanan Asahan. Sultan Asahan lainnya yang dimakamkan di halaman masjid ini adalah Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah, Sultan terakhir Asahan yang wafat tahun 1980.

Kesultanan Asahan Selayang Pandang

Sejarah Kesultanan Asahan dimulai dengan penobatan Sultan Abdul Jalil sebagai Sultan pertama yang berlangsung meriah disekitar kampung Tanjung pada tanggal 27 Desember 1620. Kesultanan Asahan pernah diperintah oleh delapan orang Sutan yang sejak Sultan Abdul Jalil pada tahun 1620 sampai dengan Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah yang naik tahta sebagai sultan Asahan di tahun 1933. Kejayaan Kesultanan Asahan berahir kelam di bulan Maret tahun 1946. Tujuh bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan di Jakarta.

Mimbar dengan bendera hijau Kesultanan

Pada Bulan Maret tahun 1946 pecahlah apa yang dinamakan Revolusi Sosial di Sumatera Timur yang dimotori oleh PKI dalam sebuah aksi yang disebutnya perlawanan terhadap feodalisme. Kelompok masyarakat bersenjata membantai keluarga Kesultanan Melayu di Asahan, Kualuh, Langkat, Bilah, dan Kotapinang. Pembantaian serupa juga terjadi di Karo serta Simalungun. Konon pada saat itu berita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang baru berumur tujuh bulan, bahkan belum sampai ke wilayah Sumatera Timur, termasuk wilayah Kesultanan Asahan.

Massa yang dimotori PKI melakukan penyerbuan terhadap pihak kesultanan yang berujung kepada aksi penjarahan, penghancuran aset aset kesultanan, penculikan dan pembunuhan massal terhadap keluarga Kesultanan dan para tokoh tokoh nya. Meskipun selamat dari tragedi tahun 1946 tersebut, Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah, praktis sudah kehilangan sebagian besar anggota keluarga dan para petinggi kesultanan yang menjadi korban genosida serta kehilangan aset kesultanan yang menjadi korban perampasan dan penghancuran. Beliau wafat di kota Medan pada tanggal 17 April 1980 dan dimakamkan di kompleks Mesjid Raya Tanjungbalai.

Pembangunan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai mulai dibangun tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas pembangunannya adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888, Sultan Ahmadsyah naik tahta menggantikan ayahanda-nya Sultan Muhammad Hussein Syah (1813-1854). Dari tahun pembangunannya, Masjid Raya Sultan Akhmadsyah ini jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Raya Al-Mahsun di Kota Medan (1909) maupun Masjid Raya Sulaimaniyah (1894) di kabupaten Serdang Bedagai.

Sentuhan Eropa di masjid ini ditandai dengan jejeran pilar pilar besar di teras masjid.

Fungsi didirikannya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah bukan hanya sebagai sebuah tempat ibadah, tetapi juga merupakan tempat strategis bagi pengembangan masyarakat, Selain sebagai tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam. Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam di tengah kehidupan masyarakat. Selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, juga memiliki kepentingan politis untuk melawan hegemoni penjajah.

Arsitektur

Ciri utama dari masjid ini adalah bangunan Melayu. Hal ini terlihat dari bentuk bangunannya yang berbentuk persegi panjang seperti kebanyakan bangunan Melayu. Pada pinggir atapnya juga terdapat ciri khas bangunan Melayu yaitu ukiran pucuk rebung. Keunikan masjid ini adalah tidak terdapat pilar di bagian dalam masjid yang bermakna Allah tidak memerlukan penyangga untuk berdiri. Padahal bangunan dasar dari masjid ini hampir tidak memakai semen melainkan pasir dan tanah liat serta batu bata. Keunikan lainnya yaitu kubah masjid tidak terletak di tengah bangunan melainkan di bagian depan masjid sehingga jika dilihat dari depan, masjid ini terkesan biasa namun menyembunyikan keunikannya.

Ruang sholat utama yang lega tanpa tiang tiang penopang di tengah ruang sholat

Di dalam masjid terdapat mimbar yang berornamen Cina. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari Cina. Panji hijau kembar terpancang kokoh di bagian belakang mimbar, seperti kebanyakan di masjid masjid kesultanan lainnya. Di bagian depan mimbar, terpahat kaligrafi dengan gaya khat tsuluts yang amat indah. Kaligrafi ini bertuliskan dua bait syair yang berisi ajaran tentang rukun khutbah Jum'at dalam mazhab imam Syafi'i. Dua bait syair itu kira-kira  bermakna:

Rukun khutbah Jum'at menurut imam-imam kita
Seluruh ada 5, ketahulah wahai sidang Jumat yang mulia
Yaitu membacan pujian, kemudian sholawat dan berwasiat takwa
Lalu membaca ayat, dan doa sebagai penutup khutbah kita

Selain itu juga ada tangga putar untuk naik ke menara masjid yang terletak tepat di belakang mimbar. Bangunan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah belum pernah direnovasi. Namun bangunan pendukungnya banyak yang diganti maupun ditambah. Seperti tempat wudhu’ yang berbentuk qullah dan dapur masjid diganti dengan pendopo. Sedangkan gerbang dan menara utamanya dibangun kemudian sehingga masjid ini memiliki dua menara.

Aktivitas Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Fungsi Masjid Raya Ahmadsyah saat ini adalah sebagai tempat ibadah masyarakat muslim Tanjung Balai. Selain itu, di Masjid Raya Ahmadsyah juga dilakukan pengajian-pengajian mingguan, pengajian bulan ramadhan, pengajian remaja masjid dan pengajian anak-anak. Masjid Raya Ahmadsyah juga berfungsi sebagai tempat latihan manasiq haji serta tempat sosial kemasyarakatan seperti pemotongan hewan kurban dan khitanan massal serta penyolatan jenazah.

Sejarah Singkat Kota Tanjung Balai

Sebelum kemerdekaan, Kota Tanjung Balai merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Asahan (1620 – 1946). Statusnya sebagai kotapraja di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia disyahkan melalui UU No. 1 Tahun 1957. Namun demikian peringatan hari jadi Kota Tanjung Balai diperingati setiap tanggal 27 Desember, didasarkan kepada sejarah penobatan Sultan Pertama Kesultanan Asahan pada tanggal 27 Desember 1620. Penetapan hari jadi tersebut disyahkan melalui keputusan DPRD Kota Tanjungbalai Nomor 4/DPRD/TB/1986 Tanggal 25 November 1986.

Kuburan masal korban Tragedi di Bulan Maret 1946. 

Di masa penjajahan Belanda, Kota Tanjungbalai berstatus sebagai Gementee berdasarkan Besluit G.G. tanggal 27 Juni 1917 dengan Stbl.1917 No. 284. Sebagai kota pelabuhan dan berstatus sebagai Gementee, Kota Tanjung Balai menjadi tempat kedudukan bagi Assisten Resident dan Ketua Dewan (Voorzitter van den Gemeen-teraad). Tanjung Balai juga menjadi tempat kedudukan Sultan Kerajaan Asahan. Kota ini menjadi kota bandar yang sangat penting bagi Belanda terlebih dengan dibukanya perkebunan-perkebunan di derah Sumatera Timur termasuk daerah Asahan seperti H.A.P.M., SIPEF dan lain-lain, menjadikan Tanjungbalai sebagai kota pelabuhan dan pintu masuk ke daerah Asahan.

Dengan telah berfungsinya jembatan Kisaran dan dibangunnya jalan kereta api Medan – Tanjungbalai, maka hasil-hasil dari perkebunan dapat lebih lancar disalurkan atau diekspor melalui kota pelabuhan Tanjungbalai. Untuk memperlancar kegiatan perkebunan, maskapai-maskapai Belanda membuka kantor dagangnya di kota Tanjungbalai antara lain: kantor K.P.M., Borsumeij dan lain-lain, maka pada abad XX mulailah penduduk bangsa Eropa tinggal menetap di kotaTanjungbalai.

Setelah proklamasi kemerdekaan, berahir pula kekuasaan politik Asahan sebagai sebuah kesultanan ditambah lagi dengan kerusuhan sosial di tahun 1946. Di tahun 1956 Pemerintah Republik Indonesia mengerluarkan Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1956 kemudian di-umumkan dalam Lembaran Negara nomor 60 tahun 1956 nama Hamintee Tanjungbalai diganti menjadi Kota Kecil Tanjungbalai. Kemudian jabatan Walikota Tanjung Balai dipisahkan dari Bupati Asahan berdasarkan Surat Mentri Dalam Negeri No. UP 15/2/3 tanggal 18 September 1956. Selanjutnya dengan UU No. 1 Tahun 1957 nama Kota Kecil Tanjungbalai diganti menjadi Kotapraja Tanjungbalai.

Walikota Termuda 2016

Walikota Tanjung Balai memegang rekor sebagai Walikota termuda di Indonesia. Adalah Muhammad Syahrial, Walikota Tanjungbalai yang dilantik di Lapangan Merdeka Medan pada hari Rabu 17 Februari 2016, ternyata masih berumur 26 tahun. Dengan usia tersebut, Syahrial didaulat menjadi Wali Kota termuda di Indonesia. Muhammad Syahrial dilantik sebagai Walikota Tanjung Balai bersama dengan 14 Kepala Daerah Se-Sumut lainnya oleh Plt Gubernur Sumatera Utara, T Erry Nuradi, sebagai hasil dari Pilkada serentak di provinsi Sumatera Utara tahun 2016.***

Related post


Sabtu, 13 Agustus 2016

Mesjid Agung H. Ahmad Bakrie Kisaran

Megah, Masjid Agung H. AHmad Bakrie Kisaran dengan empat menara menjulang

Masjid Agung H. Ahmad Bakri merupakan masjid agung kabupaten Asahan. Masjid ini berdiri di lahan seluas empat hektar, bekas lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT. Bakri Sumatera Plantation (BSP) di kota Kisaran. Adapun nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan kepada mendiang H. Ahmad Bakri, ayahanda dari ARB. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana sekitar Rp. 68 Milyar di danai dari APBD Asahan secara bertahap sejak tahun 2011 hingga tahun 2015.

Lokasi Mesjid Agung H. Ahmad Bakrie

Jalan Lintas Sumatera, Desa Sidomukti
Kec. Kisaran Barat, Kabupaten Asahan
Provinsi Sumatera Utara – Indonesia

Masjid Agung H. Ahmad Bakrie berada di ruas jalan lintas sumatera di desa Sidomukti, kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan. Lokasinya berseberangan dengan komplek kantor Bupati Kabupaten Asahan dan bersebelahan dengan Alun Alun Kota Kisaran dengan bangunan pendoponya yang unik.



Pembangunan masjid ini bersamaan dengan pembangunan kawasan disekitarnya termasuk pembangunan taman kota dan Alun Alun Kota Kisaran, nantinya di komplek masjid ini juga akan dilengkapi dengan Islamic Center, Perpustakaan serta tempat persinggahan bagi para musafir. Pembangunan komplek ini sejaran dengan visi dan misi Pemkab Asahan yakni “Terwujudnya Asahan Yang Religius, Sehat, Cerdas dan Mandiri”.

Masih dari Jaya Prana, Masjid Agung Ahmad Bakrie yang juga mempunyai Islamic Center dalam kurun waktu 2017 direncanakan akan dibangun tempat perpustakaan dan juga tempat persinggahan para musafir yang dari luar Asahan saat menunaikan salat lima waktu dengan berbagai tempat pembangunan makanan dan minuman.


Pemkab Asahan sangat menyadari pembagunan masyarakat seutuhnya harus dimulai dari masjid, masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pengkajian dan kegiatan agama Islam, pusat pendidikan dan pusat pelayanan kesehatan, pusat kegiatan sosial ekonomi dan juga dapat berfungsi sebagai tempat rekreasi.

Sejarah Pembangunan Masjid Agung H. Ahmad Bakrie

Rencana pembangunan masjid Agung bagi kabupaten Asahan sudah digaungkan sejak masa kepemimpinan mendiang Bupati Risuddin sekitar tahun 2006, namun ide itu hampir tidak terlaksana karena membutuhkan dana yang begitu besar dan beberapa persoalan lainnya. Di masa kepemimpinan Bupati Drs H Taufan Gama Simatupang MAP, rencana pembangunan masjid Agung kembali digulirkan. Sebuah rencana yang sempat menimbulkan pro dan kontra.

Masjid dan Alun alun. di sebelah kiri foto adalah bangunan pendopo alun alun kisaran

Dalam sebuah kunjungannya ke Jakarta, Bupati yang akrab dipanggil Buya Taufan ini, menyempatkan diri bertemu dengan Ibu Roosniah Nasution, Ibunda dari tokoh nasional Ir. H. Aburizal Bakrie, yang juga pemilik grup usaha Bakri. Dalam pertemuan tersebut beliau (Buya Taufan) menyampaikan niat untuk membangun Masjid Agung Bagi Kabupaten Asahan yang rencananya akan di bangun di atas lahan bekas HGU PT. BSP. Dalam kesempatan tersebut Ibu Roosniah menyambut baik rencana tersebut dan menyatakan bahwa lahan untuk pembangunan yang dimaksud tidak perlu dibayar.

Dengan demikian Pemkab Asahan tidak perlu lagi memikirkan dana untuk pembelian lahan bagi pembangunan masjid yang akan dibangun. Proses pembangunan dimulai dengan Peletakan batu pertama yang dilaksanakan pada hari Kamis 19 Mei 2011 oleh Ir. H. Abu Rizal Bakrie (ARB) selaku pemilik dan pimpinan dari Grup Bisnis Bakrie.

Upacara peletakan batu pertama tersebut turut dihadiri oleh Bupati Kabupaten Asahan, Drs H Taufan Gama Simatupang, para petinggi PT BSP, muspida Asahan serta para tokoh masyarakat. Dalam kesempatan itu Bupati Asahan mengucapkan terima kasih Ir H Aburizal Bakrie atas bantuan yang diberikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan. Sebelumnya, Bupati Asahan juga menghadiri pelantikan DPD Golkar Kabupaten Asahan dan peresmian gedung Golkar yang baru bersama Ketua Umum Partai Golkar, Ir H Aburizal Bakrie.

ARB. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung H. Ahmad Bakrie Kisaran dilakukan oleh Ir. H. Aburizal Bakrie (ARB)

Sumber Dana

Biaya pembagunan masjid Agung dan Islamic center kabupaten Asahan pada awalnya diperkirakan sekitar Rp 48 milyar yang bersumber dari dana APBD Asahan, dana sumbangan ummat dan sumber dana lainya, sedangkan biaya untuk pembagunan alun-alun dan hutan kota diperkirakan sekitar Rp 30 milyar yang direncanakan akan selesai dalam empat tahun,

Seiring pembangunan yang terus berjalan, terjadi fluktuasi harga terhadap bahan-bahan perlengkapan pembangunan Masjid Agung. Sehingga dana yang tadinya Rp45 miliar tidak cukup. Kemudian diajukan kembali dana tambahan menjadi Rp68 miliar dan kebijakan itu mendapat persetujuan DPRD Asahan.

Peresmian Masjid Agung Kisaran dan MTQ Sumut 2015

Masjid ini resmi digunakan sebagai tempat ibadah pertama kalinya pada hari Rabu 5 Agustus 2015, bertepatan dengan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Sumatera Utara ke 35. Acara peresmian ditandai dengan salat zuhur berjamaah bersama Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang MAP serta silaturahmi Pemkab Asahan bersama SKPD, FKUB, Forkopinda, Tokoh Masyarakat dan Agama, Camat, Lurah dan kepala desa bersama ratusan masyarakat.

Interior Masjid Agung H. Ahmad Bakrie

Puncaknya saat Salat Idul Fitri 1437 Hijiriah pada 6 Juli lalu, Masjid Agung Ahmad Bakrie disesaki warga hampir lima ribuan jamaah. Ini sebagai bukti bahwa Masjid Agung ini merupakan salah satu Masjid yang mendapat tempat di hati masyarakat dan digunakan untuk menyiarkan agama Islam di Kabupaten Asahan. Saat ini, Masjid Agung Ahmad Bakrie diharapkan akan menjadi penyiaran umat Islam dimana setiap salat Jumat, ribuan umat Islam selalu mendatangi Masjid Agung untuk melakukan salat, baik salat Jumat maupun salat lima waktu.

Arsitektur Masjid Agung Kisaran

Bangunan masjid Agung H. Ahmad Bakri Kisaran dibangun berdenah segi empat simetris. Bangun atapnya bertingkat dua, pada atap tingkat dua diletakkan satu kubah besar dengan cincin bewarna strip kuning emas. Empat menara menjulang di ke empat sudut masjid dengan warna kuning senada dengan warna kubah. Kubah berukuran lebih kecil diletakkan diatas masing masing beranda masjid ini. warna putih dan kuning mendominasi bagian eksterior dengan aksen warna hijau lumut pada bagian kerawang yang menutup bukaan beranda.

Meski dibangun dengan mengadopsi gaya masjid masjid modern, bangunan masjid ini memiliki aksen melayu yang sangat kental pada pernik ornamen nya dibagian atas dinding luar masjid dengan warna kuning, ditambah lagi dengan cincin penopang kubah utama dan cincin yang melingkar batangan menara juga dengan warna kuning. Sementara sisi kerawangnya mayoritas menggunakan pola geometris dengan warna hijau lumut.

Sentuhan melayu sangat terasa di bagian interior masjid ini

Melewati tangga masuk ke masjid ini langgam melayu semakin kental, tangga lebar yang cukup tinggi mengesankan rumah rumah panggung tradisional melayu, ditambah lagi dengan penggunaan jendela jendela berukuran besar serta lengkungan dan ornamen di atas jendela yang juga menggunakan warna kuning menghadirkan nuansa melayu yang teramat kental.

Interior masjid dirancang lega dan minimalis tanpa banyak ornamen. Bagian yang sarat dengan ragam hiasan hanya pada bagian bingkai mihrabnya, satu lampu gantung berukuran besar menjuntai dibagian bawah kubah ke tengah tengah ruang masjid ini. dengan dominasi warna putih ditambah dengan banyaknya bukaan dari jendela jendela kecil di atap masjid dan jendela jendela lebar disekeliling masjid ini menghadirkan suasana terang benderang di dalam masjid ini disiang hari. Atapnya yang tinggi menghadirkan suasana yang teduh.

Masjid Agung ini terdiri dari 3 Lantai. Lantai pertama merupakan tempat wudhu serta kantor  pengurus Masjid. Kamar mandi untuk wudhu juga begitu luas. Ruang sholatnya ditempatkan di lantai 2 dan 3. Untuk jemaah wanita ditempatkan di bagian shaf belakang dengan partisi dari kain bewarna hijau. Untuk kepengurusan masjid, Bertindak sebagai Ketua BKM Jaya Prana Sembiring dan Imam Besar HM Syafii. (dirangkum dari berbagai sumber)***


Selasa, 12 Juli 2016

Masjid Muhammad Ali Pasha, Kairo

Tinggi menjulang di atas benteng Salahudin di atas bukit kota Kairo, Masjid Muhammad Ali Pasha tak pelak lagi menjadi landmark kota Kairo (foto dari wikipedia)

Tak salah bila Kairo dijuluki sebagai kota seribu menara, kota ini memang bertabur menara menara masjid indah dari berbagai era kekuasaan yang silih berganti menguasai Mesir. Salah satu masjid dengan menara tinggi dan dapat dilihat dari jarak yang begitu jauh karena berada diketinggian Benteng Shalahuddin di atas sebuah bukit di kota Kairo, yakni Masjid Muhammad Ali Pasha. Saking tingginya lokasi masjid ini, Ketika sudah berada disana, pengunjung dapat melihat hampir seantero Kota Kairo, beserta sungai Nil dan piramida dikejauhan dari halaman masjid.

Tak pelak lagi dengan posisinya yang berada di ketinggian dan dapat dipandang dari berbagai sudut kota, masjid ini dengan secara otomatis menjadi landmark kota Kairo. Masjid Muhammad Ali Pasha dinamai sesuai dengan nama Muhammad Ali Pasha penguasa Mesir dari dinasti Muhammad Ali, dinasti Islam terahir yang berkuasa di Mesir sebelum kemudian negeri ini berubah menjadi Republik hingga saat ini. Masjid Muhammad Ali Pasha memiliki banyak nama lain, diantaranya adalah Masjid Alabaster karena sebagian besar dilapisi dengan marmer alabaster. Kadangkala juga disebut sebagai masjid Almarmari merujuk kepada bahan marmer yang mendominasi bangunan masjid ini.


Masjid ini sengaja dibangun oleh Muhammad Ali Pasha ditahun 1830 hingga 1848, untuk mengenang Tusun Pasha, putra tertua-nya yang meninggal pada tahun 1816. Untuk membangun masjid tersebut, beliau mengundang sejumlah insinyur dari Prancis dan Italia untuk merancang Masjid ini. Diantara ide cemerlang yang dikemukakan para insinyur yang mendirikan Masjid Muhammad Ali Pasha adalah pemilihan lokasi yang unik, yakni di puncak Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi yang berada di pinggiran Kota Kairo. Dengan dipilihnya lokasi tersebut, panorama di sekitar benteng tersebut pun menjadi benar-benar berubah. Rekonstruksi Masjid Muhammad Ali Pasha dimulai pada tahun 1830 atau sekitar tujuh abad setelah berdirinya Citadel dan selesai tahun 1848.

Jazad Muhammad Ali Pasha sendiri ahirnya di makamkan di halaman masjid ini. Muhammad Ali Pasha wafat di Istana Ras el-Tin Palace di Alexandria pada tanggal 2 Agustus 1849 dan dimakamkan di pemakaman Hosh al-Basha. Adalah Raja Abbas I yang tak lain adalah cucu dari Muhammad Ali Pasha, putra dari Tusun Pasha yang kemudian memindahkan makam Muhammad Ali Pasha ke halaman masjid ini pada tahun 1857.

dari segi ukuran, Masjid Muhammad Ali Pasha ini merupakan masjid terbesar yang pernah dibangun di awal abad ke 19, terutama di Mesir dan Afrika.

Bergaya Turki dengan sentuhan Prancis dan Italia

Masjid Muhammad Ali Pasha secara umum dibangun dengan mengadopsi gaya masjid dinasti Usmaniyah, bangunan masjid dengan dua buah menara tinggi yang ramping dan runcing seperti sebuah pinsil, mengapit kubah utama dan sejumlah kubah kecil disekitarnya. Tinggi kedua menara ini mencapai 82 meter. Sementara itu, bagian kubahnya dibuat megah dan tinggi, mirip dengan Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.

Bangunan utamanya terdiri dari dua bagian. Pada bagian luar, terdapat tempat berwudhu yang letaknya tepat di tengah-tengah halaman masjid dan sebuah menara jam yang merupakan hadiah dari Raja Prancis, Louis Philippe I, pada tahun 1846. Konon, sebagai hadiah balasan, Raja Muhammad Ali Pasha memberikan obelisk Ramses II dari Kuil Luxor yang terdapat di pintu masuk. Saat ini, obelisk Ramses II tersebut masih bisa dilihat di Place de la Concorde, Paris, Prancis.

Interior Masjid Muhammad Ali Pasha, tak jauh berbeda dengan interior masjid masjid dari masa Usmaniyah lainnya. Terutama Masjid Aya Sofia di Istambul, Turki.
Ruang shalat berada di bawah kubah-kubah yang terdiri atas satu kubah utama yang berada di tengah dan empat kubah berukuran menengah (sedang) serta empat kubah kecil yang mengapit kubah utama. Bagian langit-langit puncak kubah (dari dalam) dihiasi ukiran geometris dengan empat pojok yang terukir kaligrafi empat nama Khulafaur Rasyidin. Dinding ruang sholat diberi celah-celah yang dihias dengan kaca patri berwarna-warni dan pilar pilar pualam yang tidak membuat ruangan masjid tersebut terasa sempit. Di samping pilar pilar utama terdapat juga pilar pualam ramping yang menyangga atap dan kubah-kubah kecil.

Masjid Muhammad Ali Pasha di mata uang Mesir
Selain cahaya alami, sistem pencahayaan masjid ini disinari oleh lampu-lampu gantung raksasa di bagian tengah ruang shalat. Lampu-lampu gantung raksasa tersebut diberi bingkai lampu-lampu gantung listrik yang memiliki ukuran lebih kecil dengan bola-bola kristal yang indah dan menawan yang terdapat di sekelilingnya. Keberadaan ornamen dan lampu-lampu kristal pada bagian ruang shalat ini memberi kesan gaya Baroque, suatu gaya arsitektur yang tumbuh setelah masa Renaisanse yang begitu sarat dengan dekorasi dan ornamen, termasuk dengan bangunan mimbarnya.

Di dalam Benteng Salahudin ini Selain Masjid Muhammad Ali juga terdapat dua museum, yaitu Museum Permata (Qashrul Jawharah) yang berisi perhiasan raja-raja Mesir, Singgasana Raja Farouk, dan Museum Polisi (Mathaf As-Syurthah) yang terdiri dari 6 bagian (diantaranya ruangan yang memamerkan senjata-senjata yang pernah dipakai polisi Mesir sepanjang sejarahnya, ruangan dokumen-dokumen penting semenjak masa pemerintahan Muhammad Ali Pasha hingga kini, dan ruangan-ruangan lainnya.

Menjulang di titik tertinggi benteng Shalahuddin

---------------------

Baca Juga


Minggu, 10 Juli 2016

Masjid Nur- Astana, Kazakhstan

PRESIDEN DAN IBUKOTA. Masjid Nur Astana, merupakan masjid terbesar kedua di Kazakhstan setelah masjid Hasrat Sultan yang juga berada di Astana. Nur adalah nama depan presiden Nursultan Nazarbayev. dan Astana adalah nama kota baru yang dibangun Presiden Nursultan sebagai Ibukota Negara. Paduan dua nama yang cukup selaras.

Astana yang dimaksud disini adalah Kota Astana yang merupakan ibukota Republik Kazakhstan. Dalam Bahasa Kazakh Astana berarti “Ibukota”, sesuai dengan status nya sebagai ibukota negara. Astana merupakan kawasan kota baru yang sengaja di buka dan dikembangkan oleh Presiden Nursultan Nazarbayev Sebagai Ibukota baru Republik Kazakhstan menggantikan kota Almaty. secara resmi ibukota negara Kazakhstan pindah ke Astana di tahun 1998. Di pilihnya nama Astana bagi nama Ibukota negara dengan pertimbangan bahwa kata “Astana” mudah di ucapkan dalam berbagai Bahasa dunia.

Merujuk kepada data dari Spiritual Division of Moslems of Kazakhstan (SDMK), 9 juta jiwa atau setara dengan 67% dari penduduk Kazakhstan adalah pemeluk agama Islam yang tergabung dalam 2337 komunitas Islam. 2334 merupakan komunitas muslim Suni sedangkan 3 komunitas lainnya merupakan komunitas Syi’ah.

GLAMOR dengan kubah berlapis emas di jantung kota Astana

Sejak merdeka sebagai sebuah negara independen lepas dari Uni Soviet, perkembangan Islam di negara ini demikian pesat seiring dengan pencapaian tingkat ekonominya yang menjadikan Kazakhstan sebagai negara paling makmur di kawasan Asia Tengah. Islam di Kazakhstan dibawah kendali Spiritual Division of Moslems of Kazakhstan (SDMK), lembaga ini yang menjadi induk organisasi Islam di Negara tersebut.

Lima belas tahun sejak merdeka sudah lebih dari seribu masjid dibangun di seluruh Kazakhstan termasuk di di kota Almaty, Aktau, Aktobe, Karaganda, Pavlodar, Satpayev dan berbagai daerah lainnya di negara tersebut. Termasuk Masjid Nur Astana yang dibangun atas kerjasama pemerintah Kazakhstan dengan Pemerintah Qatar. Pemerintah Kazakhstan memang cukup agresif menjalin kerjasama dengan berbagai negara Islam termasuk Qatar, Turki, Mesir dan Saudi Arabia dalam upaya memajukan Islam disana.

INTERIOR MEWAH masjid Nur Astana

Nur Astana Terbesar kedua di Asia Tengah

Masjid Nur Astana, berada di tepian sungai di kota Astana, Ibukota Kazakhstan, disebut sebut sebagai masjid terbesar tidak saja di Kazakstan tapi juga terbesar kedua di kawasan Asia tengah, dengan luas keseluruhan mencapai 4000 m2 mampu menampung hingga 5000 jemaah termasuk area pelatarannya. Mulai dibangun 22 Maret 2005 dan diresmikan tahun 2008 dan pengelolaannya dilakukan oleh Spiritual Association of Muslims of Kazakhstan.

Masjid megah ini dibangun dengan menggunakan batu granit dan beton dan tak tanggung tanggung untuk kubah utamanya bahkan dilapis dengan emas, hingga kemilaunya benar benar tampak dibawah sorotan sinar matahari. Empat menaranya berdiri menjulang masing masing setinggi 63 meter (207 ft), Kubah utamanya di topang dengan delapan pilar berukuran besar yang di hias begitu indah termasuk dengan ukiran ukiran kaligrafi Al-Qur’an. Bagian lantai duanya dikhususkan untuk jemaah wanita. Landscape masjid ini ditata sedemikian rupa sehingga menciptakan harmoni dengan kawasan elit di pusat kota Astana diantara bangunan supermodern di kota itu.

Alamat Masjid Nur Astana
Kabanbay-batyr Avenue, 36
Astana - Kazakhstan
Coordinates:   51°7'36"N   71°24'56"E


Simbolisasi

Masjid Nur Astana dibangun setinggi 40 meter menyimbolkan usia Nabi Muhammad s.a.w saat pertama kali menerima wahyu dari Allah swt, sedangkan tinggi masing masing empat menaranya yang setinggi 63 meter menyimbolkan usia nabi Muhammad s.a.w saat beliau wafat. Di masjid ini juga disimpan bagian dari kiswah (kain penutup Ka’bah), disebut sebut juga menyimpan bagian batu dari Ka’bah dan Kitab Suci Al-Qur’an dari Saudi Arabia. Pembangunan masjid ini sendiri merupakan hadiah dari pemerintah Qatar sesuai dengan kesepakatan antara presiden Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev dan Emir Qatar, Hamad bin Khalifa.***

-------------------------

Baca Juga

Sabtu, 09 Juli 2016

Masjid Agung Almaty, Kazakhstan

Kota Apel. Almaty secara harfiah berarti "kota pohon apel" atau "Kota Apel". Masjid terbesar di Kazakhstan dan merupakan masjid utama pada saat Kazakhstan masih ber-ibukota di Almaty. Kota yang indah dengan pemandangan berlatar belakang pegunungan Kaukasus.

Masjid Agung Kota Apel

Almaty adalah ibukota tua Kazakhstan sebelum kemudian dipindahkan ke Astana di tahun 1998. Almaty menjadi ibukota sejak masa Soviet, di mulai pada tahun 1927 setelah sebelumnya pusat pemerintahan berada di kota Kyzyl-orda. Almaty dalam bahasa Kazakh secara harfiah berarti “kota pohon apel”. Satu kota dengan berbagai nama sesuai dengan zamannya, di masa Kekaisaran Rusia (1867 - 1921) kota ini disebut kota Vierny dan di masa Uni Soviet (1921 - 1993) di sebut kota Alma Ata (Bapak nya Apel), dan di masa kemerdekaan menjadi Kota Almaty. Merupakan kota terbesar di Kazakhstan meskipun tak lagi menyandang gelar sebagai ibukota negara. 9% atau sekitar 1,3 juta penduduk Kazakhstan tinggal di kota ini.

Disebut kota pohon apel atau kadang kadang bahkan disebut dengan Apple City, merujuk pada kondisi dimana kota ini disebut sebut sebagai tempat bermulanya pohon apel. Pohon apel merupakan tumbuhan liar di kota ini, tumbuh dimanapun di penjuru kota. Para peneliti menduga pohon apel yang kini tersebar di berbagai penjuru dunia berawal dari kota ini. itu sebabnya hingga kini begitu banyak peneliti yang berdatangan ke kota ini dengan ketertarikan pada pohon apel yang tumbuh liar disana.

Алматы қаласының Орталық Мешiті / The Almaty Central Mosque
ул. Пушкина, 16 (уг.ул. Маметовой), Алматы / Pushkin St,Almaty,Kazakstan



Almaty menjadi Ibukota Kazakstan semasa menjadi bagian dari Uni Soviet antara tahun 1929 hingga tahun 1991. Ketika merdeka pun Kazakhstan masih mempertahankan Almaty sebagai ibukota sampai kemudian dipindahkan ke Astana di tahun 1998. Hingga kini Almaty masih merupakan kota komersial terbesar di Kazakhstan. Kota tua yang berada di ketinggian pegunungan di sebelah selatan Kazakhstan, tak jauh dari perbatasan negara dengan Republik Kyrgystan. Hingga kadangkala Amaty juga disebut sebagai ibukota Kazakhstan di selatan.

Almaty berada di jalur sutra yang populer di abad ke 10 hingga abad ke 14 masehi. Pada masa itu Almaty merupakan salah satu pusat perniagaan, kerajinan dan pertanian serta membuat uang koin resmi di masanya. Kota Almaty muncul pertama kali dalam sejarah tertulis sebagai Almatu di dalam buku dari abad ke 13 masehi.

Tampak Depan. Gerbang besar segi empat tempat pintu masuk utama berada itu biasa disebut Iwan. Masjid Agung Al-maty dibangun dengan empat menara di masing masing sudut bangunan ditambah dengan satu menara utama yang paling tinggi. Di bagian atapnya ada satu kubah Utama ditambah dengan empat kubah yang lebih kecil yang disusun berjejer dari arah iwan hingga ke kubah utama. 

Industrialisasi Kota Almaty mulai terjadi di tahun 1941 ketika pemerintah Uni Soviet melakukan pemindahan masal pabrik pabarik dan pekerja mereka dari wilayah soviet di Eropa ke Kazakhsatan, khusunya ke kota Almaty, menandai perubahan besar besaran wajah kota ini menjadi salah satu kota industri terbesar di seluruh wilayah Uni Soviet. Di masa perang dunia kedua Almaty malah berkembang pesat dengan dipindahkannya berbagai industri dari Moscow ke Almaty termasuk industri militer.

Nama Almaty bagi kota ini secara resmi digunakan pada tahun 1993 menggantikan nama lama Alma Ata yang merupakan nama warisan dari Uni Soviet. Di tahun 1997 ibukota negara Kazakhstan dipindahkan ke Astana berdasarkan dekrit presiden Nursultan Nazarbayev dan pada tanggal 1 Juli 1998 kota Almaty secara resmi menyandang predikat baru dengan status khusus sebagai kota pusat Ilmu pengetahuan, Budaya, Sejarah, Finansial dan Industri.

Masjid Agung Almaty

Central Mosque of Almaty yang kini berdiri megah adalah bangunan masjid yang resmi dibuka pada bulan Juli tahun 1999 dilokasi yang sama dengan masjid sebelumnya yang sudah berdiri sejak tahun 1890. Masjid megah ini merupakan salah satu masjid terbesar di kawasan Asia Tengah dengan daya tampung mencapai 3000 jemaah sekaligus. Pada saat diresmikan Masjid Agung Almaty merupakan masjid terbesar di Kazakhsatan.

INTERIOR Masjid Agung Al-Maty, Megah dan tampak kokoh. Bangunan yang tinggi, dinding tebal, Mihrab penuh dengan ornamen dan Mimbar kayu yang tinggi sangat khas Turki. 

Bangunannya di hias dengan batu pualam lokal diperindah dengan beragam keramik warna warni serta seni mozaik kaca patri yang begitu indah. Motif motif hias di masjid ini menggunakan motif motif tradisional Kazakhstan. Kubah utama masjid ini dibangun setinggi 36 meter dengan diameter 20 meter, bentuk kubah biru toska masjid ini mirip dengan kubah masjid St Petersburg di Rusia. Empat menara mengapir bangunan utama masjid ditambah dengan menara tunggal terpisah yang paling tinggi dengan ketinggian 47 meter.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan akses masuk melewati iwan menuju ke pekarangan tengah hingga masuk ke masjid yang seluruhnya dibangun di atas pondasi yang ditinggikan dari permukaan tanah disekitarnya.

Pembangunan masjid ini ditangani oleh dua orang arsitek Kazakhstan Baimagambetov dan Sharpiyev, dan selesai tahun 1999. Di tahun 2000, perubahan dilakukan pada bagian kubah masjid dengan mengganti bentuk awalnya yang bewarna emas di ubah dengan bentuk kubah yang khas seperti kubah masjid St. Peterburg, serta ditambahkan Kaligrafi Al-Qur’an oleh Master Kaligrafer dari Turki.

Susasana tarawih dan malam |Ramadhan di masjid Agung Al-Maty

Masjid Agung Almaty merupakan salah satu contoh dari bangunan masjid bergaya Arsitektur Timurid yang ditandai dengan dengan banyaknya pengaruh Arsitektur Persia dengan denah rancangan axial symetry sebagai karakteristik dasar dari struktur bangunan ala Timurid.

Pintu utama masjid ini diletakkan di sebuah iwan yakni sebuah beranda berbentuk gerbang besar berlapis batu pualam dibentuk berupa ceruk tempat dimana pintu utama diletakkan. Sisi depan Iwan dihias dengan dengan kaligrafi Al-Qur’an bewarna purtih diatas warna dasar biru lembut. Disebelah kiri luar pintu masuk dilettakkan lima jam dinding yang masing masing menunjukkan lima waktu sholat wajib.

Dibagian bawah masing masing jam dinding tertulis nama masing masing waktu sholat lima waktu meski semuanya dalam aksara Rusia, namun dibagian paling bawah tertera alamat situ internet masjid ini www.meshet.kz yang jelas menunjukkan statusnya sebagai masjid negara. www. Daun pintu masjid dibuat dari kayu dan dihias dengan ukiran berpola geometris yang sangat rapi bewarna tembaga.

MELAWAN DINGIN. Jemaah sholat di masjid agung Al-Maty yang melakukan sholat di jalan raya harus berjibaku melawan dinginnya salju saat sholat berjamaah.

Masuk ke dalam masjid ini jemaah akan menjumpai ruang besar memanjang menuju ruang sholat utama yang berdenah oktagonal. Hamparan karpet bewarna merah dan hijau mint menutup semua permukaan lantai. Bangunan masjid ini dirancang berlantai dua dengan tipikal bangunan rusia yang megah dan kokoh berbalut batuan pualam alami, berdinding tebal dengan jendea kaca patri motiv warna warni nyaris tanpa bukaan untuk menjaga suhu ruang. Sisi mihrabnya dihias dengan ukiran kayu yang sangat apik demikian juga dengan bebeberapa sudut di dalam ruang masjid ini.

Kota Almaty dan kazakhstan merupakan wilayah empat musim, manakala musim dingin tiba, lapisan salju menyelimuti seluruh kota, muslim disini harus berjibaku melawan dingin untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid. Sederet rekaman photo menunjukkan muslim Kazakhstan yang tak kebagian tempat untuk sholat berjamaah di dalam masjid berjuang menahan dingin melaksanakan sholat di atas hamparan salju di luar masjid. Kita yang tinggal di Indonesia dan kawasan yang tak jauh dari garis khatulistiwa memanglah sangat beruntung dengan iklim yang ramah sepanjang tahun. Pantaslah bila para penyair menyebut negeri kita sebagai tanah sorga, negeri impian bagi orang orang Eropa yang sabanhari berkhayal akan indahnya tinggal di sebuah negeri dengan ribuan pulau tropis yang menawan.***

-------------------------

Baca Juga

Masjid Bibi Heybat Baku – Azerbaijan

Islam di Kazakhstan

Muslim Kazakhstan dalam kesibukan menyiapkan domba di hari raya Idul Adha di pekarangan masjid Agung Al-Maty.

Tentang Kazakhstan

Republik Kazakhstan adalah sebuah negara pecahan Uni Soviet yang memproklamirkan kemerdekaannya pada 16 Desember 1991. Secara geografis Kazakhstan berada di kawasan Asia Tengah, wilayahnya terkunci di daratan tanpa akses sama sekali ke lautan. Luas Kazakhstan mencapai 2,724,900 Km2, bahkan lebih luas dari luas gabungan seluruh negara Eropa Barat. Dengan luasnya itu menjadikan negara ini sebagai Negara daratan tanpa lautan dengan wilayah terluas di dunia, sekaligus menjadi negara bekas wilayah Soviet terluas kedua setelah Rusia, dan negara terluas ke 9 di dunia.

Kazakhstan juga merupakan negara lintas benua, sebagian besar wilayahnya masuk dalam kawasan Asia bagian Tengah dan sebagian kecil lainnya masuk kawasan Eropa bagian Timur, sehingga memiliki keuntungan geografis dan secara geopolitik layak diperhitungkan. Wilayahnya yang terbentang dari barisan Pegunungan Altai di timur, hingga Laut Kaspia  di barat. Kazakhstan sering disebut dengan “Virgin Lands” karena beberapa wilayahnya yang belum tersentuh sama sekali. Sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan Rusia, terutama di sebelah utara dan barat. Di sebelah timur, berbatasan dengan Provinsi Xinjiang, Tiongkok, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Uzbekistan, Turkmenistan, dan Kirgistan.


Kazakhstan, Al-Farabi & Boikonur

Kazakhstan merupakan tanah kelahiran Al-Farabi (870-950), Ahli filsafat Islam dimasa kekuasaan dinasti Abasiyah, beliau berasal dari Farab dan bernama asli Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi' dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir. ia mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Selain itu, ia juga dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.

Al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemerintah Kazakhstan memberikan penghormatan kepada Al-Farabi dengan mengabadikan lukisan dirinya di lembaran uang kertas Kazakhstan.

Baikonur adalah sebuah kota di Kazakhstan bagian selatan. Terkenal di dunia internasional dengan kosmodrom-nya atau pusat peluncuran pesawat luar angkasa yang sudah ada sejak masa Uni Soviet. Pesawat luar angkas Uni Soviet, Sputnik, yang melegenda karena keberhasilannya mendarat di bulan, diluncurkan dari tempat ini. Kini Kosmodrom Baikonur di operasikan oleh Pemerintah Rusia dengan status sewa lahan kepada pemerintah Kazakhstan hingga tahun 2050 dengan nilai sewa mencapai US$115,000,000 per tahun. Aidyn Aimbetov adalah astronot Kazakhstan pertama yang meluncur ke angkasa luar dari Kosmodrom Boikonur di tahun 2015.

Al-Farabi di mata uang kertas kazakhstan, Tenge (KZT)

Sejarah Singkat Kazakhstan

Wilayah yang kini menjadi Republik Kazakhstan dalam sejarahnya pada awalnya dihuni oleh suku suku yang hidup nomaden. Selama berabad abad wilayah ini dipengaruhi begitu kuat oleh Turki dan Mongol, pernah juga menjadi bagian dari wilayah dinasti Abasiyah. Di abad ke 13 Gengis Khan dari Mongolia mencaplok wilayah tersebut dan menjadikannya sebagai bagian dari Kekaisaran Mongolia. Wajar bila kini secara genetik Kazakhstan merupakan perpaduan antara etnis Turki dan Mongol.

Kekuasaan Rusia mulai masuk ke wilayah itu di abad ke 18 hingga pertengahan abad ke 19 sampai ahirnya seluruh wilayah tersebut masuk ke dalam kekuasaan Kekaisaran Rusia. Seiring dengan terjadinya revousia Rusia tahun 1917 dan serangkaian perang sipil, wilayah Kazakhstan kemudian menjadi bagian dari Uni Soviet dengan nama Kazakh Soviet Sosialis Republic. Dan ketika Emperium Uni Soviet runtuh di tahun 1991, Kazakhstan menjadi negara terahir yang memproklamirkan kemerdekaan nya lepas dari Uni Soviet.

Kazakhstan pada mulanya beribukota di Almaty hingga tahun 1998 atau tujuh tahun setelah merdeka dari Uni Soviet, ibukota negaranya dipindahkan ke Astana yang merupakan kota baru yang sengaja dibangun sebagai ibukota pemerintahan negara. Hingga kini Astana menjadi kota terbesar ke dua di negara tersebut setelah Almaty.

Agama di Kazakhstan

Jumlah penduduk Kazakhstan sekitar 15.753.460 jiwa, Etnik terbesar Kazakstan merupakan keturunan dari kabilah Turki dan Mongol. Komposisi pemeluk agama di Kazakhstan yaitu 70,2 persen Muslim; 26,6 persen Kristen; 0,1 persen Budha; 0,2 Yahudi dan 2,8 persen Atheis. Sementara 0.5 persen tidak menjawab, kemungkinan Kristen dari campuran Rusia atau Eropa.

Masjid Agung Al-Maty 

Paling Makmur di Asia Tengah

Titik penting Kazakhstan bisa dilihat dari sosok negara ini yang dahulunya tak dikenal karena terpencil di wilayah Asia Tengah, kini menjelma menjadi sebuah negara dengan kekuatan minyak dunia. Ketika masih bergabung dengan Uni Soviet, Kazakhstan hanya dikenal karena masakan khasnya berupa hasil olahan daging kuda. Namun kini, Kazakhstan berubah menjadi negara paling makmur di antara negara-negara Asia Tengah. Dengan cadangan minyak sebesar 29 miliar barel, menjadikan negara ini sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di luar kawasan Timur Tengah.

Cadangan tersebut diperkirakan berlipat ganda pada dasawarsa berikutnya, sehingga mendatangkan pebisnis-pebisnis dari luar negeri. Chevron dan Exxon Mobil dari Amerika Serikat, Total dari Perancis, Gazprom dan Lukoil dari Rusia, serta Chinese National Petroleum Company dari Republik Rakyat Tiongkok sudah mengantri untuk mengeksploitasi minyak. Ladang minyak yang dia buka di Tengiz dan Kazhagan banyak menghasilkan keuntungan bagi Kazakhstan. Tiongkok bahkan merancang jalur pipa sepanjang 1.000 km untuk mengalirkan minyak dari Atasu di Kazakhstan ke Daerah Otonomi Xinjiang di Tiongkok.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Kazakhstan

Hubungan Indonesia dan Kazakhstan

Pemerintah Republik Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Kazakhstan sejak 2 Juni 1993. Pembukaan hubungan diplomatik secara resmi tersebut merupakan titik awal hubungan kerja sama kedua negara, setelah sebelumnya Indonesia memberikan pengakuannya bagi proklamasi kemerdekaan negara Republik Kazakhstan, pada 16 Desember 1991. Indonesia telah menempatkan kantor Kedutaan besar Republik Indonesia di kota Astana. Duta Besar Republik Indonesia yang berkedudukan di Astana sekaligus merangkap sebagai duta besar dan berkuasa penuh Republik Indonesia untuk Republik Tajikistan. Kunjungan tingkat kepala negara pernah dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Kazakhstan di Bulan September 2013.

Indonesia dan Kazakhstan memiliki banyak kesamaan, berupa sumber daya alam melimpah, yang membuat keduanya dapat memperoleh pendapatan negara yang signifikan. Mayoritas penduduk kedua negara memeluk agama Islam, dengan keanekaragaman budaya yang melimpah dan dapat hidup berdampingan secara harmonis, serta sama-sama memiliki komitmen di bidang penegakan hak asasi manusia, supremasi hukum dan demokrasi.

Islam di Kazakhstan

Islam mulai masuk ke Kazakhstan di abad ke-8 saat bangsa Arab mulai masuk ke Kazakhstan dan memperkenalkan Islam. Bangsa Arab menguasai Transoxania (Mavarannahr) di bagian selatan Kazakhstan, terletak antara sungai Syr-dar’ya dan Amu-dar’ya dan secara bertahap berkembang hingga wilayah utara. Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Irak menguasai wilayah Kazakhstan hingga abad ke-12. Islamisasi pertama kali terjadi pada masa ini, dimana penduduk Kazakhstan saat itu masih banyak menganut Zoroaster (penyembah api), Kristen, Budha dan pagan masih banyak dianut oleh penduduk Kazakhstan. Namun proses Islamisasi ini berakhir ketika Mongol menguasai Kazakhstan pada tahun 1220-an.

Tradisi Islam. Pakaian tradisional Kazakhstan di abadikan dalam salah satu prangko resmi Kazakhstan. Dari pakaiannya terlihat tradisi Islam memang sudah mengakar dalam tradisi dan budaya Kazakhstan, sejak berabad abad yang lalu.

Gelombang kedua Islamisasi terjadi pada abad ke-18 dan 19, ketika Islam mendominasi di bidang politik saat Kazakhstan berada di bawah kekuasaan Tsar Rusia. Kekaisaran Rusia memberi ruang bagi perkembangan Islam dimasa Kazakhstan berada dibawah kendali Kazan Khanate. Gerakan nasionalisme sempat muncul di tahun 1917 digaungkan oleh kelompok nasionalis sekuler yang dikenal dengan Horde of Alash (nama legendaris bagi bangsa Kazakhs) dan mereka berhasil mewujudkannya, namun hanya berlangsung selama dua tahun (1918-1920).

Pemerintahan ini akhirnya dilindas oleh Uni Soviet, dan Kazakhstan akhirnya dijadikan salah satu republik otonom di lingkungan Uni Soviet. Berkuasanya Uni Soviet di Kazakhstan sekligus juga menghentikan perkembangan Islam periode kedua di wilayah tersebut. Seiring dengan runtuhnya Tsar Rusia dan berganti dengan rezim Uni Soviet yang berhaluan Komunis memberangus Nasionalisme dan Islamisasi di Kazakhstan.

Runtuhnya Uni Soviet

Mikhail S. Gorbachev naik sebagai penguasa Soviet pada tahun 1985-1991 dia menunjuk Gennady Kolbin sebagai penguasa di Kazakhstan, menggantikan Dinmukhamed Kunayev yang dianggap oleh pemerintah Moscow melakukan KKN. Namun kepemimpinan Kolbin tak disukai oleh warga Kazakhstan. Pada akhirnya kedudukan Kolbin digantikan oleh Nursultan Nazarbayev, seorang insinyur, pada tahun 1989.

Masjid Agung Oktobe di kota Oktober, Kazakhstan

Ketika Gorbachev mendeklarasikan perestroika, dan diikuti oleh kemerdekaan negara-negara di bawah payung Uni Soviet, pada tahun 1990, maka pada bulan Maret 1990, Kazakhstan mengadakan pemilu multipartai, dan Nursultan Nazarbayev memenangkan pemilu tersebut. Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1991, Kazakhstan menyatakan kemerdekaannya, dan melepaskan diri dari cengkeraman Uni Soviet, Nursultan A. Nazarbayev terpilih sebagai presiden pertama di era merdeka.

Kemerdekaan negara itu memberikan ruang kepada Islam untuk kembali berkembang di Kazakhstan. Islam tumbuh dengan cepat antara tahun 1990-1995. Pembangunan masjid baru maupun menghidupkan masjid yang terbengkelai ketika komunis Soviet berkuasa dilakukan hampir seluruh kota di seluruh Kazakhstan. Hingga tahun 1991 saja, sudah 170 masjid yang dibuka di negara ini, dan lebih setengahnya adalah masjid masjid baru, dan diperkirakan komunitas Islam saat itu sudah mencapai 230 organisasi yang aktif berdakwah. Edisi al-Qur’an terjemahan pertama dalam bahasa Kazakhs yang didasarkan pada alfabet Cyrillic diterbitkan di Almaty pada tahun 1992.

Perguruan tinggi Islam banyak didirikan, terutama untuk mengkaji literatur-literatur Arab. Dengan ghirah Islam seperti itu, banyak negara-negara Islam yang bersimpati dan akhirnya memberikan bantuan dana demi tegaknya Islam di Kazakhstan, antara lain berasal dari Turki, Mesir dan Saudi Arabia. Mereka memberikan donasi sebesar US $ 10 juta untuk membangun Pusat Kebudayaan Islam (Islamic Cultural Center) di Almaty, dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Nursultan Nazarbayev, Presiden Kazakhstan pada tahun 1993.

Masjid Agung Nur Astana di Astana, Ibukota Kazakhstan

Islam dan Negara

Di tahun 1990 Nulsultan Nazarbayev yang berstatus sebagai Sekjen Partai Komunis Kazakhstan di era Soviet, mendirikan lembaga Islam negara yang lepas dari Otoritas Lembaga Islam Asia Tengah bentukan Uni Soviet yang berfungsi sebagai lembaga induk seluruh organisasi Islam di kawasan Asia Tengah. Nazarbayev kemudian membentuk lembaga Islam sendiri (Mufti) bagi muslim Kazakhstan. Pemisahan diri dari lembaga Mufti Asia Tengah tersebut justru menandai dengan tegas pemisahan agama (Islam) dari Negara.

Konstitusi Kazakhstan tahun 1993 dengan jelas melarang parta politik berbasis agama. Disusul kemudian dengan konstitusi tahun 1995 dengan tegas melarang organisasi apapun yang berlabel suku bangsa tertentu baik secara politik ataupun agama, serta memberikan pengawasan yang ketat terhadap lembaga keagamaan negara luar yang beroperasi di Kazakhstan. Konstitusi 1995 tersebut secara tegas menjadikan negara itu sebagai negara sekuler, Sekaligus menjadikan Kazakhstan sebagai satu satunya negara Asia Tengah yang tidak memberikan status khusus apapun kepada Islam dalam konstitusinya, meskipun negara tersebut menjadi bagian dari Organisasi Konfrensi Islam (OKI).

Kazakhstan menjadi sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim namun memproklamirkan diri sebagai negara sekuler. Akan tetapi di sisi lain tetap mempertahankan identitas ke-Islaman-nya. Nursultan Nazarbayev berusaha memainkan peran sebagai penghubung dunia Islam di timur dengan dunia Kristen di barat, menjalin hubungan erat dengan negara negara Islam dan dunia barat namun tetap berupaya mendapatkan dukungan dari Rusia, sebagai contoh nyata adalah ketika di tahun 1994 beliau berkunjung ke ke kota suci Mekah, namun di tahun yang sama beliau juga melakukan kunjungan kenegaraan ke Paus Paulus II di Vatikan.***

-----------------

Baca Juga

Masjid Baiken Dibangun di Bekas Tempat Judi 
Masjid Heydar Baku – Azerbaijan