Sabtu, 11 Maret 2017

Masjid Bajrakli Beograd, Serbia

Masjid Bajrakli Beograd, Serbia

Masjid Bajrakli merupakan satu satunya masjid yang tersisa, masih berdiri dan masih berfungsi di kota Beograd. Pertama kali dibangun pada tahun 1575 dimasa Emperium Usmaniyah berkuasa di wilayah Serbia. Masjid ini sempat di ubah menjadi gereja Katholik pada masa kekuasaan singkat kekaisaran Austria di Serbia diantara tahun 1717-1739. Namun kemudian dikembalikan fungsinya sebagai masjid pada tahun 1741 seiring dengan kembalinya kekuasaan Emperium Usamniyah di wilayah itu.

Bertahan melewati masa berat di perang dunia kedua, masa kekuasaan Uni Soviet, era Yugoslavia, hingga ke masa Serbia saat ini paska runtuhnya Negara Yugoslavia yang bekas wilayahnya kini masing masing berdiri sendiri sebagai Negara merdeka, Terdiri dari Republik Serbia, Slovenia, Croasia, Bosnia & Herzegovina, Macedonia, Montenegro dan Kosovo.

Bajrakli mosque, Belgrade
Gospodar Jevremova 11, Beograd 105402, Serbia



Kota Beograd yang kini menjadi ibukota Negara Serbia pernah menjadi bagian dari wilayah Emperium Usmaniyah (Turki) pada paruh pertama abad ke 16 hingga paruh kedua abad ke-19. Salama masa itu kota Beograd menjadi pusat kebudayaan utama bersama dengan beberapa kota lainnya di kawasan semenanjung Balkan, seperti Sarajevo dan Skoplje di Bosnia, dengan sekitar 160 masjid dari 273 masjid diseluruh Serbia, 7 pemandian umum khas Turki dan sekitar 7000 gedung kamar mandi dan 21 caravan-saray.

Namun dari sekian banyak bangunan tersebut telah mengalami kerusakan ataupun pengrusakan sejak masa kekuasaan Kekaisaran Austria hingga ke masa pemerintahan Serbia. Dari sekian banyak masjid yang ada di kota Beograd hanya tersisa Masjid Bajrakli sebagai satu satu nya masjid di kota Beograd hingga hari ini yang masih berdiri di kawasan tertua di kota Beograd.

Masjid Bajrakli berdiri kokoh di tepian ruas jalan Gospodar Jevremova yang lenggang namun kaya dengan sejarah masa lalu di kota Beograd di sekitar sudut jalan Kralja Petra Street, berdekatan dengan bekas Sinagog Yahudi yang kini sudah beralih fungsi menjadi Galeri dan sebuah Gereja Ortodok, di wilayah yang bernama Dorcol.

Bendera di menara Masjid Bajrakli

Nama Dorcol bagi kawasan ini berasal dari Bahasa Turki yang berarti “Empat jalan”. Pada masanya kawasan ini merupakan salah satu harmoni kehidupan di pusat kota Beograd, ditempat ini menjadi rumah bagi tiga pemeluk agama berbeda. Namun keharmonisan tersebut ternoda oleh sebuah kerusuhan massa pada tahun 2004 pada saat masjid tersebut dibakar oleh sekelompok masa akibat sentiment anti Kosovo yang dianggap melakukan tindakan disintegrasi.

Dari nama dan gaya arsitektunya, kawasan Darcol di kota Beograd ini mencerminkan sejarah masayarakat sekaligus kota Beograd. Khusus tentang kawasan Dorcol ini, seorang penulis dan pelukis ternama setempat pernah menulis “Bila saya hanya diberi waktu satu jam untuk menunjukkan seperti apa Serbia kepada pelancong yang datang, maka saya akan membawanya ke Kralja Petra street. Laksana sebuah pelangi, ruas jalan ini menghubungkan dua peradaban, dua budaya dan dua sungai sekaligus yakni Sungai Sava dan Sungai Danube”.

Satu Masjid Tiga Nama

Pada awal di bangun tahun 1575 masjid ini bernama Masjid Čohadži mengambil nama dari pendirinya yang bernama Hadzi Alija. Beliau adalah seorang muslim pedagang kain (tekstil). Pada masa itu pedagang kain dipanggil Coha, sehingga beliau lebih dikenal dengan nama panggilan CoHadzi dan nama itu pula yang kemudian dilekatkan kepada masjid ini.

Bendera yang serupa di dalam masjid Bajrakli

Serbia sempat jatuh ke tangan kekaisaran Austria tahun 1717 hingga tahun 1739 dan masjid ini sempat di ubah menjadi Gereja Katholik. Namun kemudian dikembalikan fungsinya sebagai masjid pada tahun 1741 seiring dengan kembalinya kekuasaan Emperium Usamniyah di wilayah itu

Masjid Bajrakli kemudian di diperbaiki dan dikembalikan ke bentuk dan fungsinya semula sebagai masjid oleh Hussein-bey, yang merupakan chehaya (wakil) dari komandan pasukan Usmaniyah Turki, Ali-pasha. Dan oleh Karena itu pula masjid ini sempat juga disebut sebagai Masjid Hussein-Bey atau Masjid Hussein-chehaya.

Pada ahir abad ke 18 Masjid ini menjadi masjid utama di Beograd dan masjid masjid lainnya akan mengikuti aba aba dari masjid ini untuk mengumandangkan azan. Aba aba yang digunakan adalah dengan mengibarkan Bendera bulan sabit bewarna hijau di atas menara masjid, setelah melihat bendera tersebut baru masjid lainnya mengikuti menyuarakan azan.

Bangunan asli Masjid Bajrakli, terlihat sedikit di sisi kanan foto bangunan tambahan di belakang bangunan asli.

Bendera dalam Bahasa Turki disebut Bajrak, dan sejak saat ini masjid ini lebih dikenal dengan Nama Bajrakli atau secara harfiah bermakna sebagai masjid berbendera. Hingga kini bendera bulan sabit hijau senantiasa dipasang di menara masjid ini. Namun demikian tak ada lagi suara azan bersahutan dan berkelanjutan dari masjid masjid lain-nya karena memang Masjid Bajrakli merupakan satu satunya masjid yang masih berdiri di kota Beograd.

Masjid ini pernah di restorasi pada abad ke 19 oleh seorang bangsawan Serbia. Di tahun 2004, masjid ini sempat mengalami kerusakan parah akibat kebakaran dalam rusuh masa, namun kemudian kembali diperbaiki dan dikembalikan ke bentuknya semula. Peristiwa berawal dari pemisahan diri Kosovo sebagai Negara merdeka dari Federasi Yugoslavia yang ditentang oleh pemerintah pusat di Beograd.

Pertentangan tersebut berujung kepada ikut campurnya dunia internasional. Di tahun 1999 kota Beograd digempur oleh pasukan NATO dalam upaya menekan Yugoslavia (Negara kesatuan sebelum terpecah belah) yang melakukan intimidasi kejahatan kepada rakyat Kosovo. Berbagai gedung strategis militer dan pemerintahan di bombardir oleh tentara NATO. Sebagai salahsatu bentuk perlawanan, Masjid ini kemudian dibakar oleh masyarakat Serbia sebagai bentuk protes dan kekesalan warga terhadap sikap disintegrasi Kosovo yang notabene berhaluan Islam.

Interior Masjid Bajrakli ke arah pintu masuk dan mezanin

Arsitektur Masjid Bajrakli

Bangunan masjid ini menjadi tumpuan satu satunya bagi muslim kota Beograd yang merupakan bagian dari muslim Serbia yang kini hanya tersisa sekitar 3% dari total penduduk Negara tersebut. Bangunan yang dilengkapi dengan satu kubah utama dan satu menara terpisah dari bangunan utama.

Masjid Bajrakli kini sudah dilengkapi dengan bangunan masjid tambahan yang berada di belakang bangunan asli tanpa mengubah bentuk bangunan asalnya. Bangunan tambah ini selain berfungsi sebagai area sholat, juga merupakan bagian dari pusat aktivitas ke-Islaman muslim Beograd, termasuk tempat bekantornya Mufti dari Komunitas Muslim Serbia serta Konsul Komunitas Muslim Serbia.

Bangunan asli masih dengan bentuk dan fitur aslinya, Bangunan utamanya terdiri dari dua lantai, lantai dua-nya berupa lantai mezanin dari kayu yang dikhususkan untuk jemaah wanita. Lantai dasar atau area sholat utamanya khusus untuk jamaah laki laki. Ruangan dalam-nya tidak dilengkapi dengan peralatan pengatur suhu ruangan sehingga pada musim dingin suhu dalam ruangan masjid ini akan terasa alami dinginnya, berbeda dengan bangunan tambahannya yang merupakan bangunan baru dan sudah dilengkapi dengan perangkat penghangat ruangan.

Masjid Bajrakli saat dibakar tahun 2004
Ditahun 2014, Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Indonesia di Beograd turut andil memantu muslim Serbia membangun kembali masjid ini dan turut menyampaikan harapan dari umat Islam Serbia, kepada Presiden Serbia, Nikolic, kiranya berkenan melimpahkan tanah dan bangunan di komplek Masjid "Bajrakli" di Beograd, menjadi milik umat Islam Serbia dan membantu rencana pendirian Islamic Center di kota Beograd. Atas dukungan dan upaya upaya tersebut, Dubes Indonesia mendapatkan penghargaan tertinggi dari Komunitas Muslim Serbia.

Masjid ini mengamalkan Islam Sunni, dan banyak dipengaruhi oleh pengaruh kultur Turki dan Bosnia. Khutbah jumat dilakukan dalam 3 bahasa, yakni Inggris, Serbia dan Arab. Jamaah masjid ini umumnya adalah warga keturunan dan para ekspatriat asing yang ada di Beograd. Warga muslim Serbia sendiri sudah banyak yang memilih mengungsi dan menetap di Albania, Bosnia, atau Kosovo.***

Minggu, 05 Maret 2017

Masjid Hussein Pasha di Pljevlja, Montenegro

Menara Masjid Tertinggi di Semenanjung Balkan. Masjid Hussein Pasha di Pljevlja merupakan masjid dengan menara tertinggi di semenanjung Balkan.

Republik Montenegro merupakan salah satu negara pecahan dari bekas negara Yugoslavia (1918 - 2003) yang kini sudah lenyap dari peta dunia dan terbelah menjadi 7 negara merdeka, terdiri dari  Republik Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Serbia, Makedonia, Montenegro dan Kosovo. Yugoslavia muncul dalam sejarah nasional Indonesia dalam perannya bersama Indonesia membentuk Gerakan Negara Negara Non Blok dimasa perang dingin.

Montenegro menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 3 Juni 2006 dan melepaskan diri dari ikatan singkat bersama Serbia sebagai negara “Serbia Montenegro” yang hanya bertahan selama tiga tahun (2003-2006). Montenegro beribukota di Podgoricaa atau pada masa Yugoslavia sempat berganti nama menjadi Titograd, yang merupakan kota terbesar di Montenegro.

Islam merupakan agama minoritas terbesar di Montenegro, merujuk kepada hasil sensus tahun 2011 menunjukkan ada 118.477 muslim di Montenegro atau setara dengan 20% dari keseluruhan penduduk negara tersebut. Sama halnya seperti di Indonesia, Muslim Montenegro menganut faham Suni.

Islam telah masuk ke Montenegro sejak abad ke 15 dan sempat menikmati masa ke-emasan pada masa kekuasaan Emperium Turki Usmaniyah di tahun 1470–1833, pada masa itu Montenegro bersama dengan Bosnia berada di dalam wilayah provinsi Sanjak Bosnia yang beribukota di Foča sampai tahun 1572 lalu dipindahkan ke Taşlıca (Pljevlja).

Pljevlja adalah kota di bagian utara Montenegro, merupakan kota terbesar ketiga di negara tersebut dan juga merupakan kota pegunungan dengan ketinggian rata rata 770 m dari permukaan laut. Di tahun 2011 penduduk kota ini mencapai 19.489. Sebagai sebuah kota bekas ibukota Sanjak Bosnia dimasa kekuasaan Emperium Usmaniyah, Pljevlja memiliki warisan budaya Islam yang masih berdiri kokoh hingga kini, yakni Masjid Hussein Pasha.

Husein Pašina Džamija
Vuka Kneževića, Pljevlja, Montenegro



Berdiri megah di pusat kota Pljevlja, Masjid Hussein Pasha merupakan penanda kota Pljevlja yang paling terkenal bersama dengan Biara Holy Trinity dan menjadi salah satu monumen sejarah dan tradisi paling penting di kota Pljevlja, Republik Montenegro dan wilayah semenanjung Balkan.

Masjid Husein Pasha atau dalam Bahasa setempat disebut Husein Pašina Džamija dibangun oleh Hussein Pasha Boljanić pada tahun 1569 pada saat Montenegro masih merupakan wilayah kekuasaan Emperium Usmaniyah (Turki). Bersama dengan Bosnia Herzegovina, wilayah Montenegro masuk ke dalam provinsi Sanjak Bosnia dan Hussein Pasha merupakan putra daerah Montenegro yang kemudian menjadi Gubernur di wilayah ini.

Hussein Pasha Boljanić merupakan gubernur ke-9 di Sanjak Bosnia (1569–72, 1594–95). Hussein merupakan nama asli beliau, Pasha adalah gelar bagi pejabat tinggi Usmaniyah, sedangkan Boljanić merupakan nama keluarga sekaligus nama desa tempat kelahiran beliau, yang berada di luar kota Pljevlja. Nama beliau-lah yang kemudian dilekatkan kepada nama masjid terbesar di kota Pljevlja ini.

Sejarah Masjid Hussein Pasha

Bermula saat kedatangan pasukan Hussein Pasha Boljanić di Pljevlja bersama pasukkannya mendirikan kemah di dekat bangunan Biara Holy Trinity. Beliau kemudian memutuskan untuk membangun masjid di tempat tersebut sebagai warisan darinya di tanah kelahirannya sendiri.

Aerial View Masjid Hussein Pasha Pljevlja

Sebelumnya sepupu dari Hussein Pasha yang bernama Mehmed Pasha Sokolovic (Sokollu Mehmed Pasha - Gubernur Jendral di Provinsi Rumelia) telah membangun jembatan terkenal di Drina (Višegrad, Bosnia and Herzegovina), karenanya Hussein Pasha pun berkeinginan memberikan sesuatu untuk kampung halamannya, dengan membangun sebuah masjid.

Jembatan yang dibangun oleh Mehmed Paša Sokolović ini memang sangat terkenal sampai sampai seorang penulis Ivo Andrić yang merupakan seorang penulis terkenal dimasa Yugoslavia, menulis sebuah novel fiksi sejarah yang begitu terkenal dengan judul Na Drini ćuprija (The Bridge on the Drina) pada bulan maret 1945.

Pembangunan masjid ini dibawah pengawasan kontraktor ternama pada masa itu yang bernama Hajrudin, beliau juga merupakan pembangun Jembatan Mostar yang juga begitu terkenal di seluruh wilayah Sanjak Bosnia. Pembangunan masjid ini selesai pada tahun 1569 dan menjadi salah satu bangunan Budaya Islam yang terpenting dan terindah diseluruh semenanjung Balkan.

Sepanjang perjalanan sejarahnya yang begitu panjang masjid ini telah menarik perhatian para pengelana untuk singgah dan mencatat dalam buku catatan perjalanan mereka, seperti pengelana dan penulis Prancis, Philip Dufresne-Kane, yang pernah tinggal di Pljevlja tahun 1573, menulis "di tempat masjid ini berdiri terlihat sebuah pancuran dengan karya seni yang indah” . Kemudian Paolo Contarini dari Venesia yang pernah melintas di Pljevlja tahun 1580, mencatat dalam bukunya telah melihat sebuah masjid dengan pancurannya yang indah.

Megah di tengah kota Pljevlja

Lefebvre, seorang pengelena Prancis lainnya ditahun 1611 mencatat bahwa “di Pljevlja terdapat tiga masjid, dua masjid dari batu dengan pancurannya yang indah dan satu masjid dari kayu”. Sedangkan seorang pengelana Turki Evliya Çelebi di tahun 1660 menuliskan dalam catatannya "(masjid ini) seperti masjid kekaisaran . . . . memiliki kindahan yang luar biasa pada menara dan kubah birunya yang tinggi….”.

Legenda Kulit Sapi

Merujuk kepada legenda setempat, konon Hussein Pasha membangun masjid di tempat tersebut karena mendengar suara bisikan yang terdengar dari tembok Biara Trinity. Kemudian beliau mendatangi Biarawan disana untuk meminta sedikit lahan bagi pembangunan masjid dimaksud. Pihak Biara tidak berkeberatan untuk memberikan lahan mereka namun dengan ukuran yang tidak lebih lebar dari selembar kulit sapi.

Hussein Pasha cukup cerdik, beliau kemudian memotong kulit sapi dimaksud begitu tipis dan panjang sehingga membentuk sebuah tali yang cukup panjang dan mampu mengitari luasan tanah yang cukup luas, dan di atas lahan itulah masjid dibangun dan kini dikenal sebagai Masjid Hussein Pasha.

Arsitektur Masjid Hussein Pasha

Bangunan masjid Hussein Pasha berada di persimpangan dua ruas jalan, terlihat menjulang sendirian diantara bangunan disekitarnya. Sebagian besar bangunan-nya disusun dari susunan batu alam yang dibentuk kotak kotak yang dikenal sebagai metoda Ashlar. Penggunaan bahan bangunan ini memberikan nilai artistik tersendiri pada tembok bangunannya.  

Interior Masjid Hussein Pasha Pljevlja

Sisi utara dan selatan masjid diberi pagar besi yang tidak terlalu tinggi, akses ke masjid dari arah barat laut, ada sederet anak tangga dari batu menghubungkan lantai dalam masjid ini dengan pekarangannya. Di samping tangga terdapat sebuah pancuran yang dikelilingi oleh pemakaman kaum muslimin setempat. Diluar pekarangan masjid di pertigaan jalan di sisi barat daya, terdapat sebuah menara jam yang dibangun pada paruh kedua abad ke 16.

Bangunan masjidnya berdenah segi empat dengan satu kubah besar di atapnya, dilengkapi dengan sebuah bangunan menara yang menjulang, ramping dan lancip sangat khas menara masjid dinasti Usmaniyah. Dengan tinggi 42 meter menjadikan menara masjid ini sebagai menara masjid tertinggi di semenanjung Balkan. Menara masjid ini sempat mengalami kerusakan akibat disambar petir di tahun 1911 dan kemudian diperbaiki sesuai bentuk-nya semula.

Masjid Husein Pasha berukuran panjang 17.20 m X 13.10 m pada sisi luar dengan tembok setebal 1.10 m, sedangkan ukuran dalamnya hanya 10.70 x 10.80 x 10.30 m. Interiornya kaya dengan dekorasi, ornamen warna warni, beragam motif oriental dan kaligrafi Al-Qur’an. Rehabilitasi terhadap bangunan masjid ini dilaksanakan pada tahun 2006 untuk mengkonservasi bangunan bersejarah ini, proses konservasi berlanjut hingga ke tahun 2007 oleh para ahli.

Masjid Hussein Pasha di Perangko Montenegro
Selama proses studi untuk restorasi dan konservasi tersebut ditemukan fakta baru bahwa lapisan cat pada dekorasi hias di dalam masjid ini dan pada bagian kubahnya merupakan lapisan cat ketiga dan kemungkinan dibuat di sekitar tahun 1888 jauh setelah masjid ini berdiri. Namun pada bagian bagian masjid lainnya termasuk pada sisi tembok dalam masjid ditemukan lapisan cat yang lebih tua.

Al-Qur’an Kuno

Masjid Hussein Pasha ini juga menyimpan banyak buku buku dan manuskrip kuno termasuk sebuah kitab Suci Al-Qur’an Kuno dengan terjemahan Bahasa Turki dari abad ke 16. Mushaf Al-Qur’an tersebut sangat indah dihias dengan 352 hiasan dari emas, terdiri dari 233 halaman, menjadikan masjid ini memiliki arti dan nilai yang begitu tinggi bagi sejarah Montenegro dan Semenanjung Balkan.***

Sabtu, 04 Maret 2017

Masjid Tokyo – (Tokyo Camii) Jepang

Megah diantara himpitan gedung gedung jangkung kota Tokyo, Masjid Tokyo atau Tokyo Camii berdiri sejak tahun 1938 mengukuhkah eksistensi Islam di Negeri Sakura.

Masjid Tokyo atau dalam Bahasa Turki disebut dengan Tokyo Cami, merupakan masjid terbesar dan terindah di Jepang yang berada di kota Tokyo. Masjid megah ini dibangun pertama kali oleh komunitas Muslim Turki dari wilayah Kazan (Rusia) pada tahun 1938. Secara resmi Masjid Jami’ Tokyo ini bernama Tokyo Camii & Turkish Cultural Center namun lebih dikenal dengan Tokyo Camii atau Tokyo Mosque. Camii dalam Bahasa Turki secara harfiah bermakna sebagai Masjid Jami’, mengingat bahwa masjid masjid kecil atau Mushola, dalam Bahasa Turki disebut dengan Mescit.

Pembangunan masjid ini pertama kali dilakukan pada tahun 1938, dan dibangun kembali oleh pemerintah Turki di tahun 1998 dan diresmikan tahun 2000. Masjid Tokyo merupakan masjid terbesar dan terindah di Jepang, menjadi penanda kedekatan hubungan Turki dan Jepang, sekaligus menjadi salah satu simbol eksistensi Islam di Jepang.

TOKYO CAMII & TURKISH CULTURE CENTER
1-19 Oyama-cho, Shibuya-ku, Tokyo 151-0065, JAPAN




Kehadiran masjid ini di pusat kota Tokyo seakan menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan, serta keindahannya dalam aspek yang lain terkait dengan fitur bangunannya yang unik di-antara gedung gedung jangkung kota Tokyo. Sedangkan arsitekturnya yang tidak dapat dilepaskan dari gaya arsitektur masjid klasik Usmaniyah dengan sentuhan modern dalam fungsinya seperti fungsi ruang sebagunam untuk acara pernikahan, fashion shows, plays, exhibitions dan konfrensi di lantai satu.

Tak dapat diragukan kehariran Masjid Tokyo ini menjadi tempat alternatif untuk mempelajari agama Islam bagi siapapun, yang kini setiap hari dikunjungi oleh ratusan orang orang asli Jepang sehingga kehadirannya memberikan konstribusi bagi hubungan antara Jepang dan Turki yang sudah terjalin sejak berabad abad lalu.

Sejarah Masjid Tokyo

Ketika pemerintahan Uni Soviet mulai berkuasa di tahun 1917 beberapa dari komunitas muslim Turki yang tinggal di wilayah yang dikuasai Uni Soviet hijrah  ke berbagai belahan dunia termasuk ke Negara Jepang. Di Jepang Kaum Muslimin Turki diterima dengan baik oleh masyarakat setempat dan mendapatkan peluang yang baik untuk dibidang ekonomi dan menjalankan ajaran Islam yang mereka anut.

Bangunan pertama masjid Tokyo dibangun tahun 1938 dengan gaya masjid masjid Tatar & kazan. Bangunan ini kemudian dihancurkan karena sudah mengalami kerusakan parah dan dibangun ulang dengan gaya Turki Usmaniyah seperti saat ini.

Muslim Turki dari Kazan yang bermigrasi ke Jepang kemudian membentuk komunitas yang disebut “Mahalle-i İslamiye” (semacam distrik muslim) dipimpin oleh Abdulhay Kurban Ali dan Abdurreşid İbrahim serta membangun masjid jami’ dan sekolah Islam ditahun 1938. Dikemudian hari Masjid Tokyo yang mereka dirikan di serahkan penanganannya ke pemerintah Turki.

Seiring dengan perjalanan waktu, bangunan masjid pertama tersebut mengalami kerusakan parah disana sini. Pemerintah Republik Turki kemudian menghancurkan bangunan masjid lama di tahun 1986 dan membangun masjid baru yang kini kita kenal. Peletakan batu pertamanya dilaksanakan pada tahun 12 April 1996 oleh Mehmet Nuri Yılmaz atas nama Kantor Kepresidenan Turki untuk Urusan Agama. Proses pembangunannya dimulai tahun 1998 dan selesai serta diresmikan dua tahun kemudian atau tahun 2000.

Rancangan Masjid Tokyo ini ditangani oleh Arsitek Muharrem Hilmi Şenalp. Pengerjaan struktur bangunan hingga selesai secara kasar dilakukan oleh Kajima Corporation, sedangkan pekerjaan artistik dan dekorasi ditangani oleh para master dan seniman Turki. Proyek pembangunan masjid dikepalai oleh tim gabungan dari Jepang dan Turki, Sumio Ito dan Akira Wakabayasi dari pihak Jepang serta Sami Goren dari pihak Turki. Sedangkan pelaksana lapangan-nya dikepalai oleh Tsuruki Furukawa dibantu oleh Teiji dari pihak Jepang dan Mustafa Iskender dari pihak Turki.

Masjid ini juga seringkali disebut sebagai Masjid Turki karena memang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah Turki melalui perwakilan Diyanet di Tokyo. Bendera Nasional Turki dikibarkan di depan masjid ini bersama sama dengan bendera nasional Jepang.

Di bagian dinding disamping pintu masuk masjid Jami Tokyo ini terpasang puisi singkat bertarikh 1420 Hijriah (tahun pembangunan masjid ini dalam tahun Hijriah)

“The Tokyo Camii”,
“Lord’s worshipping place”,
“Brought to this land eternal glace”.

Terbuka Untuk Umum

Masjid Jami’ Tokyo terbuka untuk kunjungan khalayak umum dengan mematuhi aturan yang telah ditetapkan, mengingat ruang dalam masjid merupakan ruang suci tempat muslim melaksanakan peribadatan. Termasuk aturan menutup aurat bagi pengunjung pria maupun wanita, membuka alas kaki sebelum masuk ke masjid, tidak berisik di dalam ruangan sholat, pada saat ibadah sholat sedang berlangsung pengunjung diminta untuk duduk di bagian belakang dan tidak berkeliling di dalam masjid dan tidak mengambil gambar, dilarang membawa binatang peliharaan dan kunjungan lebih dari lima orang diharapkan untuk mengkonfirmasi terlebih dahulu ke pengurus masjid.

Terbukanya Masjid ini, dalam upaya memperkenalkan Islam kepada khalayak umum termasuk kepada kalangan pelajar dan mahasiswa. Banyak sekolah dan kampus di Tokyo yang memasukkan Masjid Tokyo sebagai salah satu destinasi kunjungan bagi para pelajar dan mahasiswa-nya dalam upaya memberikan pengalaman tersendiri bagi para pelajar dan mahasiswa.

Hal tersebut juga untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan penjelasan yang benar tentang Islam langsung dari pusat ke-Islaman terbesar di Jepang tersebut sekaligus juga mereduksi Islamphobia akibat informasi yang tidak benar. Selama kunjungan kesana, pengurus masjid ini dengan ramah dan senang hati memberikan penjelasan tentang Islam dalam sesi tanya jawab di suasana yang bersahabat.

Interior Masjid Tokyo, Sangat Usmaniyah

Layanan masjid Jami Tokyo

Selain sebagai tempat penyelenggaraan sholat berjama’ah, Masjid Jami Tokyo juga melayani penerimaan zakat dan fitrah, penyelenggaraan pernikahan muslim serta mengeluarkan sertifikat nikah dengan syarat syarat yang telah ditetapkan. Pengurus masjid ini dengan tegas menolak penyelenggaraan pernikahan siri. Masjid Tokyo juga melayani berbagai pertanyaan dan konsultasi tentang islam dan tradisinya secara online.

Berikut ini rekening dari Masjid Tokyo.

For ordinary transaction
Bank nameThe Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd.
Branch nameYoyogiuehara Branch (code 137)
Account HolderSHUKYOHOJIN NIHON DIYANET
Account NumberSavings account (futsuu) 0789819

For Zakat & Fitrah
Bank nameThe Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd.
Branch nameYoyogiuehara Branch (code 137)
Account HolderSHUKYOHOJIN NIHON DIYANET
Account NumberSavings account (futsuu) 0011594

Kubah berukuran besar diapit oleh sejejeran kubah kubah yang lebih kecil menjadi salsh satu ciri dari gaya arsitektur klasik masjid masjid era Emperium Usmaniyah.

Petunjuk Berbahasa Indonesia

Masjid Tokyo, dikelola oleh Kantor Kepresidenan Turki Untuk Urusan Agama Islam (Diyanet) di Tokyo, hampir semua fitur di masjid ini serba Turki termasuk kitab suci Al-Qur’an yang disediakan untuk jamaah di Masjid ini, terjemahannya juga menggunakan Bahasa Turki. namun ada yang sedikit unik, karena ditemukan ada selembar petunjuk dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu bertuliskan “Dilarang makan/minum/tidur di sini. Sila makan/minum di tingkat 1”.

Menarik bukan. petunjuk tersebut tentu saja tidak ditujukan kepada orang Jepang, yang jangankan berbahasa Indonesia, untuk berbahasa Inggris pun sangat jarang ditemui. entah karena memang banyak Jemaah Indonesia dan negara serumpun yang seringkali datang ke masjid ini, atau bisa jadi Bahasa Indonesia telah dianggap sebagai salah satu Bahasa yang digunakan di dunia Islam. wallahuwa’lam.***

Minggu, 26 Februari 2017

Mesjid Besar Bujang Salim Krueng Geukuh, Aceh Utara

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh benar benar menorehkan bentuknya di Masjid Besar Bujang Salim di Krueng Gekeuh, ibukota kabupaten Aceh Utara ini.

Masjid Besar Bujang Salim merupakan masjid pertama yang dibangun dikawasan yang kini dikenal dengan kecamatan Dewantara, kabupaten Aceh Utara. Pembangunan masjid ini diprakarsai dan dibangun di atas tanah seorang bangsawan kerajaan Nisam, Teuku Rhi Bujang alias Teuku Bujang Slamat bin Rhi Mahmud yang kemudian dikenal dengan nama Bujang Salim. Semasa hidupnya beliau juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, dan nama masjid ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada beliau.

Masjid Besar Bujang Salim ini seringkali disebut sebagai kembarannya Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja Banda Aceh karena kemiripan diantara keduanya. Namun demikian kedua masjid ini tidaklah benar benar serupa meski memang pembangunan masjid Bujang Salim ini meniru gaya masjid Raya Baiturrahman. Sekilas pandang kedua masjid ini memanglah tampak serupa. Namun demikian, bila Masjid Raya Baiturrahman memiliki tujuh buah kubah, Masjid Besar Bujang Salim ini hanya memiliki lima kubah saja.

Masjid Budjang Salim
Jl. Ramai Keude Krueng Geukueh
Ds. Beringin Dua, Kec. Dewantara, Kab. Aceh Utara
Provinsi Aceh, Indonesia


Masjid Percontohan Nasional 2016

Masjid Besar Bujang Salim meraih penghargaan sebagai juara satu lomba masjid percontohan kategori Ri’ayah (pembangunan/pemeliharaan) tingkat nasional tahun 2016 yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) RI. Pada awal 2016, Masjid Besar Bujang Salim terpilih menjadi masjid besar percontohan di Aceh, menjadikannya sebagai wakil provinsi Aceh untuk mengikuti lomba masjid tingkat nasional yang diadakan Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.

Proses penilaian diawali dengan verifikasi oleh tim Kemenag RI pada September 2016. Tim yang turun langsung ke lokasi masjid ini, menilai idarah (manajemen), imarah (kemakmurah/peribadatan), dan ri’ayah. Aspek penilaian bukan hanya dalam bentuk fisik, tapi juga sarana dan kegiatan di masjid. Hasil verifikasi lapangan ini diperiksa kembali dalam sidang yang melibatkan Dewan Majelis Indonesia (DMI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), panitia lomba, serta organisasi masyarakat Islam.

Pada 13 Desember 2016, Kabid Imarah Bujang Salim Tgk M Katsir Syamsyuddin memenuhi undangan panitia untuk mempresentasikan profil masjid tersebut di hadapan para guru besar dari berbagai universitas dan unsur lainnya, yang menjadi dewan juri, di Lumire Hotel Pasar Senen, Jakarta Pusat. Setelah melewati proses panjang dan perbandingan dengan masjid-masjid lain dari seluruh Indonesia, dewan juri sepakat menetapkan Masjid Besar Bujang Salim sebagai juara satu masjid percontohan untuk kategori Ri’ayah (pembangunan/pemeliharaan). Sementara juara kedua diraih oleh Masjid Asmaul Husna Banten dan juara tiga Masjid Baitul Makmur, Kepulauan Riau.

Fitur interior Masjid Besar Bujang Salim

Tropi dan piagam penghargaan yang diteken Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, diserahkan Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof Dr Muhammadiyah Amin. Tropi itu diterima Ketua Badan Kesejahteraan Masjid Besar Bujang Salim Tgk Jalaluddin Ibrahim, didampingi Tgk M Katsir Syamsyuddin dan Kasi Kemasjidan Kantor Wilayah Kemenag Aceh Rizal Mulyadi MA, di Lumire Hotel, Jakarta. Selain tiga masjid tersebut, juga diberikan piagam penghargaan kepada 9 masjid lain di Indonesia dalam kategori percontohan iradah, imarah, dan paripurna.

Sejarah Masjid Bujang Salim

Masjid Bujang Salim dibangun pada tahun 1921 dengan semangat memperkuat persatuan dan kesatuan. Kala itu, belum ada masjid di kawasan yang kini masuk wilayah Kecamatan Dewantara, sehingga masyarakat setempat harus melaksanakan shalat jamaah di rumah masing-masing atau di meunasah dengan kondisi yang terbatas. Kondisi ini mendapat perhatian serius dari bangsawan kerajaan Nisam Teuku Rhi Bujang alias T Bujang Slamat bin Rhi Mahmud. Pria pemberani yang kerap menentang kolonial Belanda ini merupakan pahlawan perintis kemerdekaan RI yang berasal dari Nisam.

Teuku Bujang Slamat memprakarsai pembangunan masjid, di atas tanahnya yang berada pusat Keude Krueng Geukueh dengan ukuran 20 x 15 meter. Namun, sebelum dapat meletakkan batu pertama pendirian masjid tersebut, tahun 1921 Teuku Bujang diasingkan ke Papua, karena menentang Kolonial Belanda. Bahkan, untuk menghilangkan pengaruhnya dari negeri ini, Bujang Slamat diasingkan hingga ke Australia. Kendati demikian, pembangunan masjid yang digagasnya terus dilanjutkan oleh masyarakat setempat.

Jemaah sholat jum'at di dalam Masjid Besar Bujang Salim

Pembangunan masjid ini dilanjutkan Uleebalang asal Dewantara, Ampon Hanafiah. Hingga kemudian berhasil dibangun masjid sederhana dengan ukuran 20x15 meter. Dalam perjalanannya, masyarakat setempat sepakat menambalkan nama Teuku Bujang Slamat menjadi nama masjid Jamik tersebut, yaitu dengan nama Bujang Salim.

Tahun 1980 dibawah pimpinan tokoh masyarakat, Tgk H A Gani masjid ini diperluas dari ukuran 20 x 15 meter menjadi 40 x 30 meter. Tahun 1990 statusnya menjadi Masjid Besar Bujang Salim, karena selain karena masjid pertama yang didirikan di Dewantara juga karena lokasinya berada di pusat kecamatan serta sudah banyak masjid jami’ lainnya di sekitar kawasan tersebut.

Perluasan masjid tersebut kembali dimulai pada 1996 atas usulan masyarakat yang dipimpin Camat Dewantara kala itu, Drs H Marzuki M Amin. Masjid yang sebelumnya berukuran 40 x 30 meter menjadi 60 x 30 m. Perluasan juga dilakukan untuk pekarangan masjid, dari ukuran 50 x 30 meter menjadi 95 x 80 meter dan pembangunan menara, Taksiran dana yang digunakan untuk membangun masjid itu sudah mencapai Rp 12 miliar.

Mimbar dan Mihrab Masjid Besar Bujang Salim

Aktivitas Masjid Besar Bujang Salim

Masjid Besar Bujang Salim tidak saja memiliki ukuran yang besar namun juga memiliki keindahan tersendiri baik ekterior maupun interiornya. Masjid Bujang Salim memiliki luas 1650 meter persegi dan mampu menampung hingga 2500 jemaah sekaligus. Pembangunannya di danai oleh masyarakat muslim setempat serta bantuan dari beberapa perusahaan seperti PT AAF, PT PIM, PT Arun, Pemda Aceh Utara, dan Pemerintah Aceh.

Tak hanya salat lima waktu dan salat Jumat, Masjid Bujang Besar Salim juga digunakan untuk pengajian rutin saban malam yang diasuh sejumlah ulama. Kecuali Senin malam dan Jumat malam karena pada Senin malam pengurus masjid masjid ini mengikuti pengajian di Abu Paloh Gadeng (Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh Utara, pimpinan dayah di Paloh Gadeng). Di masjid ini, ada pula majelis taklim dari kelompok pemuda, pengajian kaum ibu, dan pengajian anak-anak. Selain dari semua itu, masjid Besar Bujang Salim ini juga memiliki aula dan Stasiun Radio sendiri.

Genset di masjid ini memiliki cerita unik tersendiri. Adalah Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf atau Mualem, dalam satu kesempatan ber i’tikaf dalam masjid tersebut seusai Magrib, tiba-tiba listrik padam. Dan sebulan kemudian di awal tahun 2013 beliau memberikan bantuan generator set (genset) otomatis berukuran besar untuk masjid Besar Bujang Salim.

Teuku Bujang bin Teuku Rhi Mahmud (1891-1959) Pahlawan Pergerakan Kemerdekaan asal Aceh yang belum menjadi Pahlawan Nasional.

Siapakah Bujang Salim ?

Bujang Salim (1891-1959) atau Teuku Rhi Bujang Selamat atau Bujang Salim Bin Rhi Mahmud dikenal sebagai salah seorang Pahlawan Perintis Pergerakan Kebangsaan / Kemerdekaan). Beliau dilahirkan pada tahun 1891 di Nisam, Kecamatan Keude Amplah, Kabupaten Aceh Utara. Putra Uleebalang Nanggroe Nisam.

Pada tahun 1912 beliau menyelesaikan kelas 5 (lima) Kweekschool dan Osvia di Bukit Tinggi (Sumatera Barat) dan kemudian kembali ke Aceh. Tahun 1913 menjabat sebagai Zelfbsrtuurdier Nanggroe Nisam, namun pada tanggal 8 Februari 1920 beliau dipecat dan dibuang ke Mearuke (Papua) akibat dari aktifitasnya di bidang politik dan keagamaan, yang mengundang kekhawatiran pihak penjajah Belanda.

Selama di sana, Bujang Salim juga melakukan aktifitas pendidikan dan keagamaan yang merupakan suatu kegiatan bertentangan dengan kebijakan Belanda ketika itu dan lagi lagi beliau dibuang ke Tanah Merah (Digul) pada 5 April 1935. Semasa penjajahan Jepang, pada 11 Mei 1942, Bujang Salim diungsikan ke hutan Bijan, kemudian dikembalikan lagi ke Meurauke. Pada 3 November 1942, ia kembali dibawa pulang ke Tanah Merah. Pertengahan tahun 1943, atas anjuran Van Der Plas pemerintahan interniran Belanda, mengangkut semua orang buangan untuk diungsikan ke Australia, termasuk Bujang Salim. Tiba di Mackay, Australia, 5 Juni 1943.

Masjid Besar Bujang Salim. 

Akhir tahun 1945, pemerintah interniran Belanda memerdekakan orang-orang buangan tersebut dan dijanjikan akan dipulangkan ke masing-masing tempat asal. Pada 7 Oktober 1946, Bujang Salim dan rombongan eks buangan diberangkatkan dengan kapal barang tentara sekutu dan tiba di Jakarta, 14 Oktober 1946. Ia dimasukkan ke kamp Chause Complex, satu bulan kemudian, anggota rombongan lainnya diberangkatkan ke Cirebon dan diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sedangkan Bujang Salim, karena anaknya sakit keras, tidak jadi diberangkatkan sampai empat bulan lamanya.

Bujang Salim kemudian berhubungan sendiri dengan pemerintah Indonesia di Pegangsaan Timur dan dibolehkan berangkat ke Purwokerto. Pada 15 Februari 1947 oleh Kementrian Dalam Negeri di Purwokerto, dipekerjakan di sana sementara menunggu kapal yang berangkat dari Cilacap menuju Sumatera. Karena Agresi I Belanda pada 31 Juli 1947, ia dan keluarga terpaksa mengungsi ke lereng-lereng gunung Slamet (Jawa Tengah) selama enam bulan.

Pada Maret 1948, ia ditangkap oleh satu pasukan patroli Belanda dan ditahan untuk diperiksa. Dua hari kemudian ia dilepaskan dan dengan dasar janji Belanda di Australia dulu, ia dibawa ke Medan (Sumatera Utara), tiba 20 April 1948. Pada Februari 1950 dengan bantuan Gubernur Aceh ketika itu, Bujang Salim diberangkatkan ke Kutaradja (Banda Aceh). Lalu, 31 Juli 1950 ia pulang ke Krueng Geukuh, yang saat itu merupakan bagian dari Nanggroe Nisam. Bujang Salim meninggal dunia pada Rabu, 14 Januari 1959 dan dikebumikan di Krueng Geukuh, di dekat Masjid Besar Bujang Salim yang beliau prakarsai pembangunannya. Selama hidup, beliau dikaruniai 8 (delapan) orang putra dan putri.***

Sabtu, 25 Februari 2017

Masjid Zagan Pasha Balikesir, Turki

Batu alam kotak kotak menjadi material utama pembangunan gedung masjid Zagan Pasha, memberikan keindahan alami tersendiri pada salah satu masjid tua di Republik Turki ini..

Masjid Zagan Pasha  atau dalam Bahasa Turki disebut sebagai Zağnospaşa Camii, adalah masjid bersejarah dan terbesar di Balıkesir, yang berada di bagian Barat Laut Turki. Diberi nama sebagai Masjid Zagan Pasha karena memang pertama kali dibangun tahun 1461 oleh Zagan Pasha (1446–1462/1469). Beliau merupakan tokoh penting di masa pemerintahan Muhammad Al-Fatih / Sultan Mehmed II / Mehmed The Conqueror / Sang penakluk Konstantinopel.

Zagan Pasha pernah menjabat sebagai Panglima tertinggi tentara sekaligus sebagai pejabat tinggi setingkat perdana menteri yang pada masa itu disebut dengan Grand Vizer pada tahun 1453 – 1456 dan kemudian menjabat sebagai Kapudan Pasha pada periode 1463–1466 sebuah jabatan tertinggi di angkatan laut dinasti Usmaniyah.Beliau juga pernah menjabat sebagai Gubernur di Thessaly dan Macedonia. Masjid ini dikenal luas sebagai masjid tempat Mustafa Kemal Atatürk menyampaikan khutbah-nya yang terkenal dengan "Balıkesir Khutbah" di tahun 1923.

Zagan Pasha Mosque  
Karesi, 10100 Balıkesir Merkez/Provinsi Balıkesir, Turki



Siapakah Zagan Pasha ?

Zagan Pasha yang namanya diabadikan sebagai nama masjid ini merupakan tokoh sentral dalam keberhasilah Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel di tahun 1453. Dia merupakan seorang perwira militer yang begitu ambisius untuk manklukkan pusat pemerintahan Romawi Timur tersebut.

Dia memiliki loyalitas tinggi kepada Al-Fatih sejak Al-Fatih masih berstatus sebagai pangeran. Bahkan ketika Al-Fatih diasingkan tahun 1446, Zagan turut menyertainya. Sekembalinya Al-Fatih dari pengasingan dan kembali ke tampuk pimpinan Negara, Zagan Pasha mampu menunjukkan ketangguhan dan prestasinya nya sebagai perwira tinggi.

Dalam penaklukkan Konstantinopel pasukan Zagan Pasha yang pertama kali menerobos tembok benteng Konstantinopel. Anggota pasukan Zagan yang bernama Ulubatlı Hasan menjadi pasukan Usmaniyah pertama yang berhasil mencapai menara pengawas di benteng kota Konstantinopel. Selama pengepungan begitu banyak tugas zeni tempur dan penyapu ranjau yang dibebankan di bawah tanggung jawab Zagan Pasha. Dan memang Al-Fatih memposisikan saran dari Zagan Pasha secara ekslusif.

Kokoh dan masih terawat baik hingga kini.

Zagan Pasha kemudian tidak saja menjadi Panglima tertinggi Angkatan laut namun juga sekaligus menjadi Penasihat, Mentor, tutor, konselor dan pelindung Sultan. Beliau kemudian menjabat sebagai Gubernur Thessaly dan Macedonia. Al-Fatih sendiri memberikan penghargaan kepada Zagan Pasha dengan mengabadikan nama Zagan Pasha sebagai nama salah satu dari tiga menara Rumeli Hisari bersama dengan Vizer yang lain yakni Halil Pasha dan Sarica Pasha.

Tentang jatidiri Zagan Pasha termasuk daerah asalnya, hingga kini para sejarawan belum sepakat tentang dari mana dia berasal, namun bila menjejak perjalanan karir militernya sejak dia mengikuti program pelatihan tahap dini, besar kemungkinan beliau berasal dari daerah semenanjung Balkan ataupun dari Anatolia, meskipun cakupan dua daerah tersebut terlalu luas untuk dapat menelusur daerah asal beliau karena memang tak pernah muncul dalam catatan sejarah.

Di Balikesir, Zagan Pasha menikmati hari tuanya bersama keluarga, membangun Masjid disana dan setelah wafat pun beliau di makamkan di pekarangan masjid ini, begitupun anggota keluarganya. Di tahun 1897 masjid beserta bangunan makamnya sempat mengalami kerusakan parah dan kemudian dilakukan perbaikan pada tahun 1908 oleh Mutasarrıf (Gobernur) Ömer Ali Bey. Di komplek Masjid ini, selain terdapat kompek pemakaman, mausoleum Zagan Pasha dan hammam (pemandian umum khas Turki).

Beberapa fitur masjid Zagan Pasha. Kanan atas : serambi masjid, kanan bawah : salah satu tempat wudhu masjid Zagan Pasha, kiri bawah : Makam Zagan Pasha.

Arsitekrural Masjid Zagan Pasha

Bangunan Masjid Zagan Pasha dibangun dalam arsitektur masjid masjid Usmaniyah. Masjidnya berdenah segi empat dibangun dengan seni pertukangan batu Ashlar yakni seni pengolahan batu alam yang secara umum dibentuk kota kotak sangat presisi.

Bangunan masjid dilengkapi dengan satu kubah utama dikelilingi empat kubah samping. Akses ke masjid ini melalui pintu dengan masing masing dua daun pintu di sisi utara, timur dan barat. Sisi selatan masjid merupakan sisi kiblat tempat mihrab dan mimbar masjid.

Pada tiga sisi masjid di depan pintu, dilengkapi dengan tiga beranda tertutup dengan jendela jendela dan pintu kaca beratap joglo yang merupakan atap kayu di tutup dengan lapisan tembaga di topang menggunakan dua tiang batu pualam segi empat.

Interior Masjid Zagan Pasha

Bangunan masjid Zagan Pasha dilengkapi dengan satu menara tinggi dan lancip yang diletakkan di sudut barat laut masjid, menara ini merupakan sumbangan Hacı Hafız Efendi dari Arabacıoğulları, seorang anggota keluarga terhormat di kota Balıkesir.

Di pelataran masjid terdapat dua bangunan tempat wudhu berupa gazebo beratap kubah yang disebut shardivans dan makam. Diluar pelataran masjid di sudut barat laut, terdapat shadirvan ketiga berdenah pentagonal yang merupakan bangunan makam Zagan Pasha. Disekitarnya juga terdapat makam anggota keluarga beliau yang terawatt dengan baik hingga kini, di tengah kota Balikesir yang sudah bertransformasi menjadi sebuah kota yang maju dan modern.

Satu hal yang unik di masjid ini adalah adanya jama matahari, berupa sebuah meja yang diletakkan sebuah kolom berukuran pendek berada d sudut selatan pelataran masjid, jarum perunjuknya di lindungi dengan kotak kaca. Pada masa kini jam tersebut tentu saja sudah tidak difungsikan lagi, namuntetap dirawat dengan baik sebagai konservasi warisan sejarah.

Balkesir Khutbah

Dalam sejarah Turki sebagai sebuah Republik, Masjid ini lebih dikenal dalam kaitannya dengan Mustafa Kemal Atatürk tokoh pembaharuan Turki. Dalam sebuah kunjungan singkat-nya ke Balikesir pada tanggal 7 Februari 1923 tak lama setelah berahirnya perang kemerdekaan Turki (9 Mei 1919 hingga 7 Februari 1923), Mustafa Kemal Attaturk yang kemudian dikenal dengan nama Gazi Mustafa Kemal Pasha, menyampaikan khutbah yang kemudian dikenal sebagai "Balıkesir Khutbah".***

Minggu, 19 Februari 2017

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid, Spanyol

Bangunan masif berdinding marmer di pusat kota Madrid ini adalah sebuah masjid dan juga sekaligus sebagai pusat kebudayaan Islam. 

Spanyol yang kini beribukota di Madrid, salah satu Negeri yang pernah menjadi pusat kekuasaan Islam di Eropa semasa kekuasaan Khalifah Bani Umayah yang berkuasa di Andalusia selama 700 tahun sejak penaklukan Tariq Bin Ziyad di tahun 711M. Keruntuhan kekuasaan Islam di Andalusia menjadi titik balik masa keemasan tersebut ketika Raja Ferdinant dan Ratu Issabel memberi dua pilihan kepada ummat Islam Andalusia : tetap tinggal di Andalusia menjadi Kristen atau pergi meninggalkan negeri itu. Dua bangunan mahakarya kejayaan Islam Spanyol masih berdiri kokoh hingga kini Masjid Cordoba dan Istana Alhambra, meski sudah di alihfungsi oleh pemerintah Spanyol.

Kini seiring perjalanan waktu, ummat Islam di Spanyol pelan tapi pasti terus tumbuh, salah satunya disebabkan oleh terus bertambahnya muslim migran dari Negara Negara Islam kawasan Afrika Utara ke Negara tersebut. Saat ini Ada dua Masjid Besar di pusat Kota Madrid yang menjadi pusat Islam di kota yang menjadi markas klub bola Real Madrid tersebut, Yaitu masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid (yang akan kita ulas dalam artikel ini) dan Madrid Central Mosque atau Masjid Abu Bakar, Insya Allah kita bahas dalam artikel berikutnya.

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid, dalam bahasa Spanyol disebut Centro Cultural Islámico de Madrid atau warga kota Madrid lebih popular menyebutnya dengan Mezquita M.30 (Masjid M-30). Disebut Mezquita M.30 karena lokasi masjid ini yang bersebelahan dengan jalur M-30 kota Madrid. Masjid M-30 merupakan salah satu masjid dan pusat kebudayaan Islam terbesar di Eropa saat ini.

Mezquita M-30 / Centro Cultural Islámico y Mezquita de Madrid
Calle Salvador de Madariaga, 7, 28027 Madrid, Spanyol




Sejarah Masjid M-30

Komplek masjid ini dirancang oleh tiga arsitek Polandia dan di danai oleh Pemerintah Saudi Arabia. Diresmikan pada tanggal 24 Rabiul Awal 1413H bertepatan dengan tanggal 21 September 1992M. Peresmian Masjid M-30 dihadiri oleh Raja Spanyol Juan Carlos I dan Pangeran Salman Bin Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia.

Pembangunan Masjid M-30 ini merupakan wujud dari komitmen pemerintah Kerajaan Saudi Arabia bagi syiar Islam terutama penyediaan sarana ibadah bagi kaum muslimin yang tinggal di negeri negeri non muslim serta komitmen pemerintah Kerajaan Spanyol bagi penyediaan fasilitas peribadatan bagi warganya termasuk warga muslim Spanyol yang kini menjadi minoritas di negeri tersebut.

Arsitektural Masjid M-30

Masjid M-30 dirancang dalam gaya modern dengan tidak meninggalkan ciri khas sebuah masjid universal dengan tetap dilengkapi dengan bangunan menara dan balkon. Tanpa bangunan menara dan tulisan besar di fasad depannya akan sulit mengenali bangunan ini sebagai masjid. Dengan bentuknya yang massif dan tak jauh berbeda dengan kebanyakan bangunan disekitarnya.

Interior Masjid Madrid

Hampir keseluruhan dinding bangunan ditutup dengan batu pualam. Interior masjid inipun dihias dengan batu pualam. Jendela jendela di Masjid M-30 di tutup dengan kaca patri warna warni, dengan sentuhan Islami. Satu sisi bangunan masjid yang menghadap ke halaman tengah dilengkapi dengan jendela kaca berukuran besar dengan sentuhan seni Islami. Mozaik islami juga dapat ditemui pada beranda masjid, tampilan luar jendela jendela masjid terutama pada bangunan mihrab sisi luar, serta pada bangunan menara.

Pilar pilar pualam yang ramping penyangga lengkungan lengkungan besar mendomonasi interior masjid ini, layaknya masjid Cordoba dan Istana Alhambra namun lebih sederhana tanpa ukiran seperti di dua bangunan legenda peninggalan dinasti Ummayah tersebut. Lampu lampu Kristal turut memperindah interior masjid ini. halaman tengah Masjid M-30 dirancang terbuka berlantai pualam warna terang dengan sedikit pola sederhana berwarna gelap. Halaman tengah yang dapat difungsikan untuk berbagai perhelatan termasuk sebagai area tambahan bagi jemaah.

Mihrab masjid M-30 dirancang berbentuk setengah lingkaran dengan lengkungan berukir di bagian atasnya. Pualam hijau muda dan merah hati mendominasi mihrab Masjid M-30. Ukiran geometris diaplikasikan di sisi kiri dan kanan mihrab. Kaligrafi alqur’an menghiasi sisi atas mihrab. Sementara mimbar di masjid ini cukup unik, dibuat dari kayu dengan bentuk podium setengah lingkaran.

Pelataran tengah di Masjid Madrid

Satu satunya kubah yang ada di Masjid M-30 ini berada di puncak menaranya. Di ujung tertinggi kubah menara ini dipasang lambang bulan sabit, lambang universal Islam sedunia. sedangkan bangunan utama masjid dan bangunan penunjangnya menggunakan atap genteng tanpa kubah. Masjid M-30 dilengkapi dengan gedung perkuliahan, bangunan tempat wudhu, gymnasium, kafe serta restoran halal (Arabian restaurant) bernama Zahara.

Teror bom Madrid pada 11 Maret 2004 sempat membuat warga muslim Spanyol dan pengurus Masjid M-30 was was. 11 warga muslim turut menjadi korban tewas dalam teror bom tersebut diantara 200 korban tewas lain nya. Meski polisi menduga teror tersebut dilakukan oleh separatis Basque ETA. Namun keterkaitan 3 muslim Maroko yang diduga turut terlibat dalam teror Madrid dan serangan di Cassablanca (Maroko) tak urung membuat warga muslim Spanyol khawatir atas keselamatan diri dan keluarganya.***