Sabtu, 23 Desember 2017

Masjid Calcutta, Masjid Pertama di Trinidad & Tobago

Masjid Calcutta, Freeport, Trinidad & Tobago

Trinidad & Tobago adalah negara yang terletak di gugus kepulauan laut Karibia. Negara ini terdiri dari dua pulau besar Yakni Pulau Trinidad yang terbesar dan pulau Tobago yang jauh lebih kecil ditambah beberapa pulau pulau mini lainnya. Luas keseluruhan daratannya sedikit lebih kecil dari luas keseluruhan pulau Bali.

Trinidad & Tobago tercatat sebagai negara Karibia dengan penduduk muslim terbanyak. Pemeluk Islam di Trinidad & Tobago mencapai jumlah antara 80 ribu hingga 100 ribu jiwa. Dan luar biasanya negara ini tercatat sebagai negara pertama di benua Amerika yang pernah dipimpin oleh Presiden Muslim. Adalah Noor Muhammed Hasanali yang menjabat sebagai presiden kedua dari tahun 1987 hingga 1997.

Calcutta ASJA Masjid
Calcutta Rd #2, Freeport, Trinidad dan Tobago


Sebagian besar dari muslim disana merupakan keturunan dari wilayah India Timur dan Pakistan, Afrika dan lainnya. Pada awalnya mereka tiba disana sebagai buruh semi budak yang dipaksa bekerja diperkebunan pada masa kolonialisasi untuk membayar hutang hutang mereka.

Para buruh kerja paksa ini datang dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama adalah para buruh dari benua Afrika ini tiba di Trinidad & Tobago sekitar tahun 1817 bersama dengan Resimen India Timur (kini Pakistan dan sebagian wilayah India). Disusul kemudian oleh kedatangan buruh dari India dan Pakistan.

Mereka tiba di Trinidad untuk pertama kali bertepatan dengan perayaan ulang tahun Trinidad pada 31 Mei 1845 bersama dengan buruh lainnya menggunakan kapal Fath Al-Razak dan berlabuh di Port of Spain. Mereka datang dari Uttar Pradesh, India, dengan jumlah keseluruhan 227 orang dan rata rata beragama Hindu dan Islam. Selama periode 72 tahun tercatat 147.592 orang yang sudah diboyong ke Trinidad sejak Kapal pertama hingga kapal terahir s/s Ganges di tahun 1917.

Dengan bentuknya yang sederhana, masjid ini merupakan masjid pertama di Republik Trinidad & Tobago.

Diantara penumpang beragama Islam dalam kapal Fath Al-Razak adalah Dookie Meah, namanya tercatat dalam urutan nomor dalam manifest penumpnag kapal. Beliau datang bersama Istri-nya Sonia dan dua orang putranya Khuda dan Illahi Baksh. Dookie Meah terikat kerja paksa selama lima tahun. Dengan perawakannya yang tinggi besar dan berkulit putih dia mampu bertahan menyelesaikan ikatan kerja paksa lima tahun-nya dan berahir sebagai orang bebas.

Setelah bebas, pemerintah colonial memberinya lahan seluar 20 acres di kawasan pemukiman Calcutta namun hanya setengahnya yang benar benar ia terima. Lahan ini yang hingga kini dimiliki oleh keturunan beliau, Zainul Muhammad yang kemudian menuturkan kisah perjalanan kakek buyutnya itu kepada generasi sekarang. Selain itu, Dookie Meah juga membeli lahan seluas 26 acres di Arena tahun 1904. Sampai ahirnya beliau mengalami kebutaan karena serangan penyakit diabetes.

Di tahun 1863, Dookie Meah mendirikan Masjid Calcutta di wilayah pemukimannya, dan ini menjadi bangunan masjid pertama yang berdiri di wilayah jajahan Inggris yang kini menjadi Republik Trinidad & Tobago. Masjid tua yang masih kokoh berdiri hingga kini meski sudah melewati usia satu setengah abad.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 17 Desember 2017

Islam di Seychelles

Lokasi Republik Seychelles di Samudera Hindia 

Seychelles adalah sebuah negara yang terdiri dari gugus pulau pulau kecil di Samudera Hindia sekitar 1600 kilometer di lepas pantai timur benua Afrika. Bertetangga dengan negara pulau Republik Comoro, Mayotte (Prancis) dan Madagaskar di Selatan dan Republik Tanzania sebagai tetangga terdekatnya di daratan benua Afrika sejauh sekitar 1000 Kilometer. Seychelles beribukota di Victoria yang berada di Pulau Mahe. Penduduk Seychelles seluruhnya berjumlah 86.525 menjadikannya sebagai negara dengan populasi terkecil di Afrika.

Seychelles terdiri dari 115 pulau yang merupakan gugus kepulauan granit terbesar di dunia. Keseluruhan pulau pulau Republik merupakan pulau pulau tropis karena letaknya yang hanya berada sekitar 4-10 derajat di selatan garis katulistiwa. Negara ini juga merupakan salah satu destinasi wisata internasional yang menawarkan keindahan alami dan sebagian besar masih belum tersentuh komersialisasi.

Gugus kepualuan ini seakan terabaikan selama ber-abad abad. Merupakan persinggahan para pelaut arab yang terkenal pemberani, menjadi sarang para bajak laut dan para petualang dan tak pernah berpenghuni tetap sampai abad ke 18. Prancis yang kemudian mencaplok kepulauan ini di tahun 1770 sampai kemudian beralih menjadi jajahan Inggris tahun 1814 hingga memperoleh kemerdekaan di tahun 1976.

Republik Seychelles merupakan salah satu negara multi etnis di dunia. Negara kepulauan ini menganut sistem politik multi partai dengan Presiden Ekesekutif sebagai kepala negara sekaligus sebagai kepala pemerintahan. Victoria, selaku ibukota Republik Seychelles merupakan salah satu ibukota negara terkecil di dunia. Kota yang tetap mempertahankan keaslian tata kotanya sebagai sebuah kota bernuansa tradisional dengan ragam arsitektur bangunan tua di padu dengan pasar tradisional, pertokoan butik dan layanan umum lainnya.

 Masjid Masjid Sheikh Muhammad Bin Khalifa Al-Nahyan di kota Victoria, Pulau Mahe, Seychelles

Islam diantara Agama agama lain di Seychelles

Mayoritas penduduk Seychelles beragama Katolik Roma. Sekitar sembilan dari sepulun penduduk negara ini merupakan pemeluk agama Katolik Roma, sebagaimana disebutkan dalam hasil survey yang telah diselenggarakan sejak pertama kali di tahun 1992. Agama Katolik Roma masuk ke Seychelles dibawa oleh bangsa kulit putih yang merupakan penghuni pertama di Negara Pulau ini, wajar bila kemudian mayoritas penduduknya pun beragama Katolik meskipun Inggris sempat memperkenalkan agama Protestan selama kekuasannya disana.

Pada mulanya sekolah sekolah milik misionaris mendominasi pendidikan di Republik Seychelles  sampai kemudian di tahun 1944 pemerintah mengambil alih pengelolaan sekolah sekolah tersebut. Meskipun Katolik merupakan agama mayoritas di Republik Seychelles, namun ada beragam agama turut berkembang di dalam masyarakatnya.

Diantara etnis mayoritas Creole, di Republik Seychelles juga terdapat beragam etnis dan bangsa dari Afrika, Europa, Francis, dan Asia. Masing masing kelompok hidup dengan budaya dan agama mereka masing masing. Negara menjamin kebebasan penduduknya untuk menjalankan agama mereka masing masing. Dinegara ini terdapat beragam pemeluk agama dan tentunya juga terdapat berbagai tempat ibadah, termasuk Islam dan Masjid sebagai tempat ibadah bagi muslim berdiri megah di salah satu sudut kota Victoria.

Islam di Seychelles

Sesungguhnya Islam telah masuk ke Seychelles jauh sebelum bangsa Eropa tiba disana. Islam datang ke gugus kepulauan ini dibawa oleh para pedagang muslim yang berdagang beralayar melintasi samudera, meskipun mereka tak menetap disana secara permanen. Prancis yang menjadi penguasa pertama di Seychelles membawa ajaran Katolik Roma disusul kemudian oleh Inggris.

Diantara mayoritas penduduk Seychelles yang beragama Katolik Roma terdapat pemeluk agama minoritas lainnya termasuk Hindu, Baha’I dan Islam yang jumlah mereka hanya sekitar 2 persen dari total penduduk. Pemeluk Islam di Seychelles dilaporkan ada sekitar 1.1%, atau sekitar 900 jiwa saja meskipun beberapa laproran lain menyebut jumlah muslim disana mencapai 2000 jiwa. Meskipun jumlah muslim disana sangat kecil namun pemerintah setempat memberikan waktu 15 menit setiap hari Jum’at bagi ummat Islam disana untuk mensyiarkan Islam melalui saluran televisi nasional.

Kecilnya populasi muslim di negara ini karena memang sepanjang sejarahnya gugus kepulauan ini tidak pernah menjadi wilayah kekuasaan Islam, tidak seperti tetangga tetangganya seperti Mayotte yang kini menjadi wilayah seberang lautan Prancis atau Republik Comoro serta Mauritius yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Muslim di Mauritius turut disemarakkan oleh para pekerja yang didatangkan inggris dari wilayah jajahan mereka di India semasa kolonialisasi, namun hal tersebut tak terjadi di Seychelles.

Masjid Mahe dengan kubah hijau sebelum diganti bewarna emas

Masjid Mahe

Di kota Victoria terdapat sebuah masjid yang terkenal dengan nama Masjid Mahe, merujuk kepada nama pulau tempatnya berada. Meski nama masjid ini sebenarnya adalah Masjid Sheikh Muhammad Bin Khalifa Al-Nahyan. Keluarga Al-Nahyan adalah keluarga penguasa Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Karena memang komplek masjid ini dibangun dengan dana dari keluarga penguasa Abu Dhabi tersebut. Masjid ini begitu ramai di setiap hari Jum’at oleh jemaah yang akan melaksanakan sholat Jum’at berjamaah termasuk di dalamnya muslim muslim mualaf setempat. Masjid ini juga di izinkan untuk menyuarakan azan melalui pengeras suara di menaranya.

Masjid Mahe dibangun tahun 1982 dengan dana dari Sheikh Muhammad Bin Khalifa Al-Nahyan. Peletekan batu pertama pembangunannya dilaskanakan oleh Mr. Suleman Adam, selaku presiden dari Islamic Society of Seychelles pada tanggal 10 Zulhijah 1401, bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1981. Dan diresmikan setahun kemudian.

Setelah berdiri selama 30 tahun, pada hari Jum’at tanggal 24 Agustus 2012 yang lalu sudah dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid Mahe. Dan pada tanggal 20 Desember 2012 yang lalu bangunan masjid ini sudah di runtuhkan untuk dibangun ulang di lokasi yang sama dalam ukuran yang lebih besar. Diperkirakan proyek pembangunan masjid baru ini akan selesai dalam waktu satu tahun.

Semasa Muammar Khadafi (alm) berkuasa di libya, Muslim di Seychelles turut mendapatkan dukungan kuat dari Libya. Organisasi Islam yang dikenal luas di Seychelles bernama The Islamic Society of Seychelles disingkat ISOS. Saat ini ISOS diketuai oleh Yusuf Suleman dan Imam Suleiman Ally Yussuf.*** .*** (dari berbagai sumber, data diolah).

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Sabtu, 16 Desember 2017

Masjid Dublin (Dublin Mosque) Bekas Gereja Presbyterian Irlandia

Dublin Mosque, Ireland

Sebelumnya Adalah Gereja Presbyterian Irlandia

Bila anda melihat bentuk Masjid Dublin ini mirip sebuah Gereja, anda tidak salah, karena memang masjid ini sebelumnya memang sebuah Gereja dari abad ke 19 yang kemudian dibeli oleh komunitas muslim Irlandia dan di ubah menjadi masjid hingga saat ini.

Masjid Dublin atau Dublin Mosque berada di South circular road dublin di Irlandia. bangunan masjid ini pada awalnya merupakan sebuah gereja Presbyterian di Irlandia. yang kemudian di ubah menjadi masjid dan kini menjadi markas dari Islamic Foundation of Ireland.

Dublin Mosque & Islamic Centre (ISLAMIC FOUNDATION OF IRELAND)
163 South Circular Road, Dublin, co, IRELAND
Geographic coordinates: 53°19′53″N 6°16′57″W



Pada awal tahun 1970an saat itu belum ada satupun masjid di Dublin, mahasiswa muslim mulai menghubungi para saudara mereka, organisasi Islam di Inggris serta beberapa negara Islam dengan maksud untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan sebuah masjid di dublin.

Tahun 1974 disewalah sebuah gedung berlantai empat, dan tahun 1976 masjid pertama dan Islamic center pun dibuka. beberapa tahun setelah terbentuk, masjid tersebut sudah tak lagi mampu menampung jamaah yang terus bertambah.

Gereja Presbyterian selesai dibangun tahun 1860-an dengan gaya gereja Inggris abad ke 13. tahun 1983 bangunan yang berada di South circular road tersebut dibeli oleh komunitas muslim disana dan di ubah menjadi masjid hingga saat ini. Masjid Dublin dikelola oleh lembaga Islamic Foundation of Ireland yang merupakan satu satunya lembaga resmi yang mewakili muslim Irlandia, di negara tersebut.

Exterior Dublin Mosque

Islamic Foundation of Ireland

The Islamic Foundation of Ireland (I.F.I.) sebelumnya dikenal dengan nama the Dublin Islamic Society, sejak tahun 1980 lembaga ini menjadi otoritas sertifikasi kehalalan produk daging eksport dari Irlandia ke berbagai negara muslim dunia. Dan di tahun 1985 dibentuk departemen khusus di dalam lembaga ini untuk menangani urusan tersebut yang disebut the Halal Meat Section.

Departemen ini dibentuk untuk bertanggung jawab mengawasi dan memberikan sertifikasi halal terhadap daging di Irlandia. The Islamic Foundation of Ireland (I.F.I.) telah ditunjuk sebagai agen tunggal sertifikasi halal di Irlandia oleh Kuwait Municipality (Notice No. 46/83.) dan oleh the General Secretariat of Municipalities in the United Arab Emirates.

Interior Dublin Mosque

Sertifikat halal yang diterbitkan oleh lembaha ini menjadi jaminan bahwa produk produk terkait telah diteliti dan memenuhi persyaratan halal sesuai dengan syariat Islam dan layak untuk dikonsumsi oleh ummat Islam.

Sebagai bagian proses penelitian termasuk dagingnya sendiri, bumbu dan bahan aditif yang digunakan, warna, alat bantu proses hingga katalis yang digunakan semuanya diteliti dengan cermat untuk memastikan bahwa semua hal tersebut tidak mengandung ataupun terkontaminasi oleh hal hal yang tidak halal. Penelitian juga meliputi semua proses produksi, tempat produksi untuk diverifikasi pemenuhan terhadap aturan syariat Islam.

Sertifikat halal yang diterbitkan lembaga ini valid selama masa satu tahun dan harus diperbaharui setiap tahun serta berlaku secara universal, diterima di semua negara Isla di Inggris Raya dan Irlandia.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Minggu, 10 Desember 2017

Mayotte, Prancis yang tak Prancis

Muslimah berjilbab di Mayotte, salah satu pemandangan sehari hari di Mayotte yang notabene adalah wilayah Prancis di Samudera Hindia, namun sama sekali tak bercita rasa Prancis.

Dari sudut pandang manapun Mayotte sama sekali tak terlihat seperti Prancis. Semua orang mengenal Prancis sebagai Negara nya Napoleon Bonaparte, ber-ibukota di Paris dan berpandangan politik Sekuler. Khusus bagi ummat Islam, mendengar nama prancis boleh jadi langsung membayangkan fakta yang kontradiktif.

Bahwa prancis adalah Negara Eropa dengan penduduk Islam terbesar namun gelombang “penistaan terhadap Islam” sempat mencuat ke permukaan sebagai akibat kebijakan pelarangan penggunaan symbol agama di tempat umum, namun justru lebih menyudutkan wanita berjilbab sebagai sasaran empuk. Namun semua fakta itu terjungkir balik di Mayotte yang notabene secara de jure maupun de fakta adalah bagian dari Prancis. Kok Bisa.


Tentu saja bisa. Mayotte adalah salah satu wilayah seberang lautan Prancis, lokasinya berada di Samudera Hindia bagian selatan, tetangga terdekatnya adalah republik kepulauan Comoro yang sama sama berada di selat Mozambik yang memisahkan antara pulau Madagaskar dan benua Afrika.  Luas Mayotte tak lebih dari 374 meter persegi dan 97 persen penduduknya beragama Islam.

Di tahun 1974 referandum yang diselenggarakan di Mayotte untuk menentukan nasib Negara tersebut. Secara meyakinkan penduduk kepulauan tersebut memilih untuk tetap bergabung sebagai bagian dari Prancis. Berbeda dengan tetangganya Commoro yang memilih merdeka dari Prancis. 

Salah satu sudut kota di pulau Mayotte. Sangat khas sebuah pulau dengan penduduk muslim. tampak di kejauhan menara salah satu masjid besar di Mayotte.

Referendum yang sama dilakukan lagi tahun 2009 lalu dan nyatanya 95.2% penduduknya bersikukuh untuk tetap menjadi bagian dari Prancis.  Maka jadilah Mayotte sebagai bagian dari wilayah seberang lautan Prancis hingga kini, dan menjadi wilayah Uni Eropa dengan lokasi paling jauh dari benua Eropa.

Jadi, dengan fakta bahwa 97% penduduknya beragama Islam, maka wajar bila pemandangan di Mayotte sama sekali tak-prancis. Hampir diseluruh penjuru kota terlihat muslimah berjilbab bahkan bermukena tanpa ada gangguan apapun. Tak ada salju di Mayotte dan tak ada pencakar langit apalagi pusat mode dunia disana. Karena Mayotte memang tidak berada di Eropa tapi di lepas pantai timur Afrika. Jaooooooh banget dari Benua Eropa***.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 09 Desember 2017

Islam di Republik Guinea

Republik Guinea di Afrika Barat. Hubungan diplomatik Republik Indonesia dengan Republik Guinea diwakili oleh Kedutaan Besar Indoneisa untuk Senegal dan Guinea yang berkedudukan di Dakar, Senegal.

Dimanakah letak Republik Guinea ?

Republik Guinea adalah negara bekas jajahan Prancis di pantai barat benua Afrika dengan nama resmi The Republic of Guinea, dalam bahasa Prancis disebut République de Guinée. Sebelum merdeka dikenal dengan nama French Guinea atau Guinée française, Sejak merdeka hingga saat ini seringkali disebut sebagai Guinea-Conakry untuk membedakan dengan negara tetangganya yang sama sama bernama Guenea yakni Guinea-Bissau dan the Republic of Equatorial Guinea.

Negara berpenduduk 10,057,975 jiwa dengan luas wilayah 246,000 kilometer persegi ini membentuk seperti bulan sabit diantara negara negara tetangganya. Hampir keseluruhan wilayahnya membentang di daratan Afrika hanya bagian baratnya saja yang menghadap ke samudera Atlantik. Conarki, ibukota negara ini merupakan salah satu kota yang menghadap ke Samudera Atlantik.

Guinea berbatasan dengan Samudera Atlantik di sisi barat, disebelah utara dengan Guinea-Bissau, Senegal, dan Mali, disebelah selatan bertetangga dengan Sierra Leone, Liberia, dan Pantai Gading (Côte d'Ivoire). Sungai Gambia yang membelah negara Senegal dan Gambia serta Sungai Niger yang mengalir hingga ke Siera Leone, berasal dari pegunungan pegunungan di Guinea.


Islam di Guinea

Penduduk Guinea mayoritas beragama Islam, menjadikan negara ini sebagai salah satu negara berpenduduk muslim mayoritas di dunia. Penduduk di negara ini terdiri dari 24 (dua puluh empat) etnis dan suku. Suku terbesarnya dalah suku Fula (40%), Mandingo (30%), dan suku terbesar ketiganya adalah suku Susu (20%), Nama suku yang terdengar aneh untuk orang Melayu, karena sama dengan nama minuman.

Merujuk kepada data statistik  tahun 2005 yang lalu, pemeluk Islam di Guinea mencapai 85% dari total penduduk negeri tersebut. Sebagian besar muslim Guinea merupakan muslim Suni bermazhab Maliki dan aliran sufi Qodiri dan Tijanu. Guinea merupakan bekas negara jajahan Francis sejak 1891 namun pengaruh Guinea di negara ini sangat lemah.

Guinea merdeka dari Prancis tahun 1958, Ahmed Sékou Touré, seorang muslim yang beraliran Marxist naik menjadi presiden pertama namun sama sekali tidak berpihak kepada Islam. Baru ketika popularitasnya merosot tajam di tahun 1970-an, dia mulai merapat ke berbagai institusi Islam untuk melegatimasi kekuasaannya. Touré's wafat di tahun 1984 dan jalinan kerjasama antara komunitas Islam yang merupakan mayoritas di negara tersebut terus terjalin hingga hari ini.

Masjid Agung Conarky di Kota Conarky ibukota Republik Guinea

Masjid Agung Conarky

Di kota Conarky, Ibukota Guinea berdiri sebuah masjid agung bernama The Conakry Grand Mosque, Grande mosquée de Conakry, Mosquée Fayçal atau Masjid Agung Conarky yang merupakan masjid terbesar di Afrika Barat. Masjid ini berdiri di pusat kota Conarky bersebelahan dengan Rumah Sakit Donka Hospital di sisi timur Conakry Botanical Garden.

Masjid Agung Conarky dibangun semasa pemerintahan Ahmed Sékou Touré, dengan dana hibah dari Raja Fahd, Raja Saudi Arabia. Diresmikan dan dibuka untuk umum tahun 1982 sebagai masjid terbesar ke empat di benua Afrika dan terbesar di Afrika barat, mampu menampung 2500 (dua ribu lima ratus) jemaah di lantai atas untuk jemaah wanita dan 10,000 (sepuluh ribu) jemaah pria di lantai dasar, serta masih ada area di esplanade yang dapat menampung hingga 12,500 (dua belas ribu lima ratus) jemaah. Di taman masjid ini juga berdiri bangunan mausoleum (makam) bagi pahlawan nasional Guinea yakni Samori Ture, Sékou Touré (mantan presiden pertama) dan Alfa Yaya.

Wajah kota Conarky, Ibukota Guyana dari udara

Sayangnya, masjid megah ini kurang mendapatkan perawatan yang memadai dari pemerintah Guinea. Meskipun sempat mendapatkan dana hibah sebesar 20 juta Found Guinea dari pemerintah Saudi Arabia di tahun 2003 lalu. Lebih mirisnya lagi masjid ini sempat menjadi saksi pembantaian terhadap para demonstran tanggal 2 Oktober 2009 yang menjadi sejarah kelam negara itu di masa merdeka.

2 Oktober 2009 terjadi demonstrasi besar besaran di negara tersebut oleh sekitar 50 ribu masa menentang pemerintahan Junta militer yang naik tahta setelah melakukan kudeta militer tahun 2008. Namun aksi demonstrasi yang memang dilarang oleh junta militer tersebut disambut dengan berondongan gas air mata dari aparat keamanan dan tak sampai disitu berondongan peluru tajam menewaskan 58 jiwa di area esplanade Masjid Agung Conarky ini. sementara lainnya tewas di stadion utama negara tersebut.*** (dari berbagai sumber, data diolah).

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca juga



Minggu, 03 Desember 2017

Dome of the Rock Palestina, Masjid Berkubah Pertama di Dunia

Dome Of The Rock / Kubah Batu / kubah emas. adalah salah satu masjid di dalam komplek Masjidil Aqso di Jerusalem Timur, Palestina. Masjid yang sering disalah arti sebagai Masjidil Aqso ini merupakan Masjid berkubah pertama di dunia sekaligus sebagai Masjid Berkubah emas pertama.

Kubah Batu atau Dome of The Rock adalah salah satu bangunan suci umat Islam. Masjid berkubah pertama itu berada di tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif yang terletak di sebelah timur di dalam Kota Lama Yerusalem (Baitul Maqdis).

Masjid itu berkubah keemasan. Sedangkan Masjid Al-Aqsa yang berkubah biru berada pada sisi tenggara Al-Haram asy-Syarif menghadap arah kiblat (kota Mekkah). Pembangunan masjid itu dimulai ketika Yerusalem jatuh ke dalam kekuasaan Islam pada era Khalifah Umar bin Khattab. Tak heran, jika masjid itu disebut Masjid Umar.

Adalah Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang memprakarsai pembangunan Kubah Batu pada tahun 66 H/685 M dan selesai tahun 72 H/691 M. Pembangunan masjid itu sepenuhnya dikerjakan dua orang arsitek Muslim yakni Raja' bin Hayat dari Bitsan dan Yazid bin Salam dari Yerusalem. Keduanya dari Palestina.

Di foto di atas terlihat dengan jelas, bangunan dengan kubah warna emas ditengah komplek tersebut adalah Dome Of The Rock atau Masjid Kubah Batu sedangkan Masjid Al-Aqso adalah Masjid dengan kubah bewarna Abu Abu pada bagian selatan komplek tersebut.

Bangunan Kubah Batu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama dan kedua tingginya mencapai 35,3 meter. Secara keseluruhan, tinggi masjid itu mencapai 39,3 meter. Keadaan ruang di dalamnya terdiri tiga koridor yang sejajar melingkari batu (sakhrah). Koridor bagian dalam merupakan lantai thawaf yang langsung mengelilingi batu seperti tempat thawaf di Masjidil Haram.

Di dalamnya dipenuhi ukiran-ukiran model Bizantium. Di dalamnya terdapat mihrab-mihrab besar jumlahnya 13 buah dan masing-masing mihrab terdiri dari 104 mihrab kecil. Untuk memasukinya ada empat pintu gerbang besar yang masing-masing dilengkapi atap. Bentuk kubahnya banyak dipengaruhi arsitektur Bizantium. 

Sejarawan Al-Maqdisi menuturkan bahwa biaya pembangunan masjid itu mencapai 100 ribu koin emas dinar. Di dalam masjid itu terdapat batu atau sakhrah berukuran 56 x 42 kaki. Di bawah sakhrah terdapat gua segi empat yang luasnya 4,5 meter x 4,5 meter dan tingginya 1,5 meter.

Pada atap gua terdapat lubang seluas satu meter. Batu tersebut disebut sakhrah mukadassah (batu suci). Di batu tersebut Nabi Muhammad melakukan mi'raj dan sebagai saksi peristiwa tersebut maka dibangunlah Kubah Sakhrah di atasnya. Menurut literatur Islam, nilai kesucian sakhrah sama dengan Hajar Aswad (batu hitam).*** (Dari berbagai sumber).

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 02 Desember 2017

Blue Mosque, Yerevan, Armenia

Masjid Biru atau Blue Mosque Of Yerevan

Masjid biru atau The Blue Mosque atau‎ Masjed-e Kabud atau Göy mÉ™scid, adalah masjid di tua dari abad ke 18 di kota Yerevan, Armenia. bangunan masjid ini merupakan masjid utama di kota Yerevan. Masjid tua ini diperkirakan dibangun di tahun 1764-1768 meskipun berbagai sumber catatan mengenai masjid ini menyatakan tahun yang berbeda beda meskipun masih di abad yang sama. Disebut dengan masjid biru atau Blue Mosque karena kubahnya yang dilapisi dengan ornament berwarna biru.

Selama masa kekuasaan Uni Soviet bangunan masjid ini alih fungsi oleh penguasa saat itu menjadi Musium sejarah Yerevan. Seiring dengan kemerdekaan Armenia, masjid ini di renovasi dengan bantuan dari pemerintah Iran dan dikembalikan fungsinya sebagai masjid. Dan kini, Masjid biru ini merupakan satu satunya masjid yang masih berfungsi di Armenia.

Blue Mosque, Yerevan
12 Mashtots Avenue, Yerevan, Armenia
Coordinates: 40.1781°N 44.5056°E
yerevanmasjed.ir


Sejarah Masjid Biru Yerevan

Wilayah Kota Yerevan telah menjadi wilayah yang bergonta ganti penguasa muslim sepanjang sejarah seiring dengan serangan dari Kaisar Timur di abad ke 14 masehi. Dari awal abad ke 16 dan yang menentukan dengan Perdamaian Amasya 1555, sampai abad ke-19, secara bergantian telah menjadi provinsi Iran (yang dipimpin berturut-turut oleh Safawi, Nadir Shah, Karim Khan Zand dan Dinasti Qajar Iran) , sebelum kemudian jatuh ke negara tetangganya, Kekaisaran Rusia sebagai akibat perang Russo-Persian War (1826-1828) dan berahir dengan perjanjian Treaty of Turkmenchay tahun 1828.

Sejarah Masjid Biru Yerevan ini sendiri terdapat beberapa perbedaan tahun pembangunannya di berbagai literature yang ditemukan. laporan dari abad ke 19 yang ditulis oleh seorang penjelajah H.F.B. Lynch, disebutkan bahwa masjid Biru Yerevan dibangun oleh Husayn Ali Khan pada masa Persia dibawah kekuasaan Nadir Shah (1736–47).

George Bournoutian menyebutkan nama  Husain Ali Khan sebagai pelindung bangunan tersebut, dan menyatakan masa kekuasaanya pada periode tahun 1762-83. Menurut Vladimir M. Arutyunyan pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1760 dan selesai di tahun 1764-1768 dimasa Husayn Ali Khan. Namun demikian plakat yang ada dimasjid ini menyebutkan bahwa masjid ini dibangun tahun 1765 oleh Hussein Ali Khan, Gubernur Yerevan.

Masjid Biru Yerevan dengan area pelataran tengah nya

Pada saat kota Yerevan jatuh ke tangan Rusia di tahun 1827 dan semasa perang Rusia-Persia tahun 1826-1828 tercatat bahwa di kota Yerevan terdapat delapan masjid berukuran besar dan Masjid Biru ini merupakan masjid terbesar diantara yan glainnya.

Dan pada masa kekuasaan Uni Soviet, semua aktivitas peribadatan dihentikan dan dilarang oleh penguasa Soviet, masjid masjid ditutup termasuk Masjid Biru Yerevan. Di tahun 1931 Masjid Biru Yerevan digunakan oleh Penguasa Soviet sebagai Musium Kota Yerevan.

Restorasi Masjid Biru Yerevan

Di penghujung tahun 1990-an Masjid Biru Yerevan di restorasi oleh pemerintahan baru Republik Armenia merdeka dengan bantuan dana dari pemerintah Iran dan selesai pada tahun 1999.

Staff dari kantor departemen urusan luar negeri A.S. Brady Kiesling menyebut proyek restorasi tersebut memang dibutuhkan secara structural namun dari sudut pandang estetika terkesan terlalu ambigu. Proses restorasi tersebut telah mengundang keprihatinan dari beberapa pejabat tinggi di Azerbaijan, karena masjid tersebut telah di sebut sebagai masjid iran, sementara Azerbaijan mengkalimnya sebagai warisan budaya komunitas muslim Azerbaijan yang pernah ada di Armenia.

Blue Mosque Of Yerevan in Snow White

Namun pemerintah Kota Yerevan justru menyerahkan kepemilikan masjid tersebut kepada pemerintah Iran di tahun 1995 dan pada bulan Desember 2015 yang lalu, pemerintah Armenia bahkan telah memperpanjang kepemilikan Iran atas masjid tersebut selama 99 tahun.

Aktivitas peribadatan dan lainnya telah kembali di masjid ini sejak Armenia merdeka dari Soviet, dan faktanya hingga kini masjid Biru Yerevan merupakan satu satunya masjid yang berfungsi sebagaimana mestinya di Armenia. Musium kota Yerevan yang sempat menggunakan masjid ini telah dipindahkan ke gedung lain yang memang dibangun untuk keperluan tersebut.

Arsitektur Masjid Biru Yerevan

Bangunan masjid biru Yerevan terdiri dari ruang sholat utama, perpustakaan dan madrasah yang terdiri dari 28 ruang kelas, kesemuanya bejejer di sekitar pelataran tengah masjid ini. keseluruhan komplek masjid ini menempati lahan seluas 7000 meter persegi.

Ada satu menara tunggal setinggi 24 meter di samping gapura masjid ini seperti halnya pada bangunan masjid masjid kontemporer dan tidak ditemukan tanda tanda adanya bekas bangunan menara lain selain menara tunggal tersebut.

250 tahun Masjid Biru Yerevan

Pada bulan Oktober tahun 2015 yang lalu, masjid Biru Yerevan merayakan peringatan 250 tahun berdirinya masjid tersebut yang dihadiri oleh Perdana Menteri Armenia Hovik Abrahayan dan Wakil Presiden pertama Iran Eshaq Jahangiri.

Masjid Biru Yerevan dan plakat pembangunannya.

Perdana Menteri Armenia dalam kesempatan itu menekankan bahwa dua bangsa (Armenia dan Iran) telah di ikat dalam kedekatan budaya sepanjang millennium yang panjang dan akan terus bertahan berabad abad mendatang. Hovik Abrahamyan juga menyuarakan keyakinannya bahwa Masjid Biru akan tetap menjadi jaminan ikatan budaya dan persahabatan antara kedua bangsa tersebut.

Kunjungan Pejabat Indonesie ke Masjid Biru Yerevan

Fadli Zon selaku wakil ketua DPR RI dan rombongan anggota DPR lainnya terdiri dari Bambang Haryo Soekartono dari Fraksi Partai Gerindra, Fadhlullah dari Fraksi Partai Gerindra, dan Ermalena dari Fraksi PPP,  berkunjung ke masjid ini pada suasana Idul Adha 1 September 2017 pukul 7.45 pagi waktu setempat.

Dalam kunjungan tersebut didampingi oleh Duta Besar RI untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia, yakni Yuddy Chrisnandi dan disambut oleh Imam Blue Mosque, Syekh Muhammad Ali Saj'an. Kunjungan ke Blue Mosque ini dilakukan di sela-sela kegiatan Muhibah ke Armenia dari 29 Agustus sampai 3 September.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga