Jumat, 09 Juni 2023

Islam di Kanada [bagian 1]

Masjid Al-Ummah Al Islamiyah di Montreal Kanada. [foto: wikipedia]

Islam agama dengan perkembangan tercepat di Kanada
 
Berbagai survey menyebutkan bahwa Islam merupakan agama dengan perkembangan tercepat di Kanada. Berdasarkan data survey tahun 1944 muslim di Kanada sangat kecil jumlahnya sehingga dihapus dari data sensus. Pada survey tahun 1985 muslim Kanada dikelompokkan dalam “kolom lain lain” karena jumlahnya yang sangat sedikit untuk dikelompokkan dalam katagori tersendiri. Muslim Kanada baru tercatat dalam survey tahun 1985 dengan 1,1% dari total penduduk Kanada.
 
Jumlah itu meningkat di tahun 2006 menjadi 2,6% atau sekitar 800 ribu jiwa. Angka tersebut terus meningkat ditahun 2010 berdasarkan data Pew Research Center jumlah muslim di Kanada meningkat menjadi 940,000 jiwa. Data sensus penduduk Kanada tahun 2021 munjukkan angka lonjakan signifikan, populasi muslim di Kanada sudah menyentuh angka 4,9% dari 38.9 juta penduduk Kanada atau setara dengan sekitar 1,9 juta jiwa.
 
Muslim di Kanada mengalami pertumbuhan hampir lima kali lipat dari tahun 1985 ke tahun 2021. Dan dalam tiga dekade Islam terlah berkembang menjadi agama terbesar kedua di Kanada setelah Kristen (semua semua katagori). Maka wajar bila kemudian berbagai media menyebut Islam sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat di Kanada sekaligus sebagai agama paling populer kedua di Kanada.
 
Islamic Centre di Quebec Kanada [foto: wikipedia]

Berbagai survey juga menunjukkan peningkatan ‘keta’atan beragama’ muslim Kanada disandarkan pada jumlah kehadiran jemaah di masjid atau aktivitas ke-Islaman lainnya yang menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.
 
Demografi, konsentrasi dan kehidupan
 
Sebagian besar muslim Kanada merupakan muslim dari lahir. Sebagai para imigran secara umum, muslim yang datang ke Kanada dengan berbagai alasan termasuk didalamnya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, faktor keamanan, lapangan kerja dan berkumpul dengan keluarga yang sudah lebih dulu tinggal di Kanada.
 
Sebagian lagi pindah ke Kanada karena lasan kebebasan beragama dan politik, keamanan dan keselamatan. Di tahun 1980-an Kanada menjadi tempat penting bagi para imigran dari Lebanon yang menghindari perang saudara di negaranya.
 
Menyusul kemudian di era 1990-an muslim Somalia tiba di Kanada akibat pecah perang saudara di negara mereka. Demikian hal nya dengan muslim Bosnia yang hijrah ke Kanada akibat pecahnya perang Balkan di wilayah bekas Republik Federasi Yugoslavia. Namun tidak ada imigran signifikan yang masuk ke Kanada sebagai akibat perang di Irak. Namun secara umum hampir semua negara Islam dunia menjadi penyumbang imigran muslim ke Kana dari Albania, Yaman hingga Bangladesh.
 
Masjid di Otawa Kanada [foto: wikipedia]

Angka kelahiran muslim di Kanada secara signifikan memang lebih tinggi dibandingkan dengan warga Kanada lainnya. Secara rata rata wanita muslim Kanada melahirkan 2,4 anak, atau hampir dua kali lipat dibandingkan dengan wanita Kanda lainnya yang rata rata melahirkan 1,6 anak.
 
Secara garis besar muslim Kanada tinggal di wilayah Great Montreal mencapai 8.7% dari penduduknya memeluk Islam dan Greater Toronto 10% dari penduduknya yang beragama Islam, sebagaimana data sensus penduduk tahun 2021.
 
British Columbia juga memiliki populasi muslim yang cukup signifikan. Termasuk ibukota negara Kanada di Ottawa pun teradapat cukup banyak muslim Lebaon dan Somalia. Muslim di Greater Montreal sebagian besar merupakan muslim keturunan Maroko, Aljiria dan Maroko termasuk juga dalam jumlah kecil keturunan dari Pakistan, Suriah, Iran, Bangladesh dan Turki.
 
Demikian juga dengan wilayah Vancouver, Ottawa, dan Montreal, hampir semua kota kota utama di Kanada kini terdapat komunitas muslim termasuk didalamnya wilayah Halifax, Windsor, Winnipeg, Calgary, Edmonton, Vancouver dan Toronto.
 
Meski dalam jumlah kecil, muslim dari Kroasia juga menjadi bagian dari Komunitas muslim Kanada dan juga menjadi bagian kecil di dalam komunita muslim Kroasia-Kanada, namun mereka memiliki keterkaitan dengan 4 masjid yang ada di Kanada. [bersambung ke bagian 2]

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Baca Juga
 
Sejarah Islam di Kanada                                 
 



Minggu, 04 Juni 2023

Islam di Georgia [bagian 2]

MASJID TUA DUISI salah satu masjid tua di Georgia, pertama kali dibangun tahun 1901, direstorasi oleh pemerintah Turki tahun 2021 yang lalu. [foto: tika.gov.tr].


Sejarah Islam di Georgia
 
Masa Emirat Tbilisi
 
Islam telah sampai ke Georgia bagian timur pada tahun 645 dimasa kekuasan Khalifah Usman Bin Affan. Pada tahun 735, Marwan bin Muhammad (744 – 750) mengadakan penyerangan dan berhasil menaklukkan sebagian besar daerah Georgia. Marwan mengendalikan kota Tbilisi dan menetapkan emir Arab yang dikonfirmasi oleh Khalifah di Baghdad atau Ostikan Arminīya.
 
Pada masa emirat Tbilisi, wilayah tersebut berkembang menjadi pusat perdagangan antara dunia Islam diselatan dan Eropa di Utara. Tbilisi juga berfungsi sebagai daerah penyangga berhadapan dengan kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur dan Bangsa Khazar. Dari waktu ke waktu, penduduk Tbilisi mulai berganti agama menjadi Islam.
 
Masa Dinasti Timuriyah
 
Antara tahun 1386 dan 1404, Timur Lenk dari Mongolia menyerbu Georgia. Timur Lenk (nama aslinya Timur namun dibaca Taimur) berhasil menaklukkan wilayah yang begitu luas dari dari Asia Tengah hingga Anatolia. Pada penyerangan pertama dari setidaknya tujuh kali penyerangan ke Tbilisi, balatentara Timur Lenk Menjarah Tbilisi dan menangkap raja Bagrat V pada tahun 1386.
 
Pada akhir 1401, Timur Lenk menginvasi Kaukasus sekali lagi. Raja Georgia mengutus saudaranya untuk untuk bernegosiasi dengan Timur Lenk dengan beberapa penawaran bagi penghentian serangan. Timur Lenk menerima tawaran raja Georgia, menghentikan penyerangan dengan imbalan sejumlah balatentara Georgia yang bergabung ke Timur Lenk. Timur Lenk memanfaatkan situasi itu untuk peluang lebih leluasa mempersiapkan diri menghadapi dinasti Usmaniyah dilain waktu dengan kekuatan yang lebih besar. 

Masjid Agung Batumi ibukota wilayah otonom Ajaria, sudah berdiri sejak 1866. Dibangun oleh keluarga Aslan Beg, terkenal sebagai "Masjid Jami' ditengah" karena dulunya lokasi masjid ini berada diantara dua masjid lainnya di kota tersebut.  Dua masjid lainnya yang dimaksud kini sudah tidak ada.[foto; iosminaret]


Dinasti Safawiyah dan Kesultanan Utsmaniyah
 
Dinasti Islam Safawiyah (Persia) dan Dinasti Islam Utsmaniyah (Turki) telah terlibat dalam konflik berkepanjangan terkait kendali dan pengaruh atas daerah Kaukasus. Dari awal abad ke-16 hingga paruh kedua abad ke 18, dinasti Safawiyah harus menghadapi beberapa kerajaan dan kepangeranan independen di Georgia karena status Georgia yang belum disatukan.
 
Safawiyah sebagian besar mengendalikan daerah timur (kerajaan Kartli dan Kakheti) dan selatan (kerajaan Samtskhe-Saatabago), sementara Georgia Barat dikendalikan oleh Utsmaniyah. Kerajaan-kerajaan independen ini menjadi negara bawahan Persia setelah tahun 1503.
 
Pada 29 Mei 1555, Safawiyah dan Utsmaniyah menandatangani perjanjian Amsya setelah perang Usmaniyah-Safawiyah (1532-1555) yang membagi Kaukasus Selatan menjadi dua: Georgia bagian Barat dan daerah barat Georgia bagian Selatan jatuh pada tangan Utsmaniyah. Sementara Georgia bagian Timur (terdiri dari kerajaan Kartli & Kakheti) dan sebagian besar wilayah timur Georgia bagian Selatan dikendalikan oleh Safawiyah.
 
Pada tahun 1703, raja Vakhtang VI menjadi penguasa kerajaan Kartli. Ia kemudian memeluk agama Islam pada tahun 1716 dan ditetapkan sebagai raja Kartli oleh penguasa Safawiyah, namun setelah raja Vakhtang kemudian diperintahkan untuk menghentikan semua operasi militer, raja Vakhtang berubah sikap merapat ke Kekaisaran Rusia. Walau begitu, Rusia gagal untuk mengirimkan bantuan militer yang dijanjikan kepada raja Vakhtang. Selama beberapa abad, raja-raja dan aristokrat Georgia masuk Islam dan menjabat sebagai abdi dalem Dinasti Safawi, Afsharid, dan Khajar Persia, yang memerintah mereka.

Muslim di Batumi sedang melaksanakan sholat berjamaah di masjid darurat berupa bangunan besar beratap tanpa dinding, hal ini terjadi karena kapasitas masjid yang ada sudah lama tidak memadai untuk menampung jemaah. Pembangunan masjid baru di Batumi masih menemui berbagai kendala perizinan. [foto: Aljazeera].
 
Demografi
 
Ada dua kelompok besar Muslim di Georgia. Etnis Muslim Sunni Hanafi terkonsentrasi di Republik Otonom Ajaria ditepian laut hitam berbatasan dengan Turki. Kelompok ini merupakan etnis asli Georgia, dengan jumlah muslim diwilayah ini mencapai 115 ribu jiwa atau sekitar 30% dari muslim Georgia.
 
Sedangkan etnis Muslim Azerbaijan didominasi oleh Muslim Syi'ah Ithna Ashariyah (Imam Dua Belas) yang terkonsentrasi di perbatasan dengan Armenia dan Azerbaijan. Sementara itu muslim Chechen tinggal di Pankisi Gorge merupakan muslim suni namun sebagaian beraliran sufi Naqsabandiah.
 
Selain dari itu, ada pula minoritas penganut Islam yang termasuk dalam kelompok etnis Kaukasus Selatan lain-nya, seperti muslim Ossetia, Armenia, dan Yunani Pontus (dibagi antara Kaukasus Yunani dan Urum berbahasa Turki), semuanya keturunan penganut Kristen Ortodoks yang memeuk Islam pada masa Usmaniyah.
 
Banyak Muslim Georgia yang kemudian disebut sebagai 'orang oran Usmani' setelah Ekspedisi Kaukasus dipimpin oleh Lala Mustafa Pasha yang berakhir pada penaklukan wilayah Georgia oleh Usmaniyah pada tahun 1570-an, yang sebenarnya mempunyai leluhur dari etnis Armenia dan Yunani Pontus dari daerah Anatolia timur laut yang menjadi mualaf, salah satu contoh yang paling terkenal adalah Reşid Mehmed Pasha yang memainkan peran penting dalam Perang Kemerdekaan Yunani 1822-1833.

Masjid Abu Bakar di Duisi ditengah musim salju yang membeku [foto dari google user Yusuf Khangoshvili]
 
Deportasi Muslim Geogia dimasa Uni Soviet
 
Muslim etnis Turki Meskhetia juga merupakan kelompok sufi, mereka tadinya adalah penduduk asli wilayah Meskheti yang berbatasan dengan Turki. Mereka dideportasi ke Asia tengah antara 15-25 November 1944 oleh penguasa Uni Soviet Joseph Stalin lalu menetap di Kazakhstan, Kyrgistan dan Uzbekistan.
 
Dari 120.000 jiwa yang dideportasi paksa menggunakan truk truk pengangkut ternak, 10.000 diantaranya meninggal selama deportasi. Dimasa kini mereka tersebar diberbagai negara negara pecahan Uni Soviet, setidaknya saat ini ada sekitar 500.000 hingga 700.000 jiwa keturunan mereka hidup di wilayah Azerbaijan dan Asia tengah lainnya.
 
Pada bulan April 2013 pemerintah Turki kemudian menawarkan bantuan kepada pemerintah Georgia untuk pemulangan diaspora etnis Meskhetia tersebut dari berbagai negara untuk Kembali ke kampung halaman mereka di Georgia. [tamat]***
 
Referensi
 
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Georgia
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Georgia
https://khazanah.republika.co.id/berita/qdxyic320/islam-di-georgia-minoritas-yang-dituntut-loyal-taati-negara
https://en.wikipedia.org/wiki/Georgian%E2%80%93Ossetian_conflict
https://khazanah.republika.co.id/berita/ps9ket313/georgia-akui-islam-sebagai-agama-resmi
https://islam.ru/en/content/news/turkey-will-assist-georgia-process-repatriation-meskhetians-muslims
https://islam.ru/en/content/news/turkey-restore-ottoman-mosque-georgia
https://www.tika.gov.tr/en/news/tika_renovated_the_duisi_mosque_in_georgia-64973

Sabtu, 03 Juni 2023

Islam di Georgia [bagian 1]

Republik Georgia berada ditepian Laut Hitam, berbatasan dengan Russia, Azerbaijan, Armenia dan Turki. Diperkirakan ada sekitar 10% penduduknya beragama Islam ditengah penduduknya yang mayoritas beragama Kristen Ortodok Georgia.
 
Republik Georgia adalah salah satu negara pecahan Uni Soviet yang berada di Asia Barat. Lokasinya berada ditepian laut hitam berbatasan dengan Turki dan Armenia disebelah selatan dan Azerbaijan disebelah tenggara. Ibukota negaranya berada di kota Tbilisi. Dua provinsi dinegara ini yaitu Abkhazia dan Ossetia Selatan secara defakto kini dibawah kekuasaan Russia paska perang Russia-Georgia tahun 2008.
 
Wilayah negaranya selama berabad abad silih berganti kekuasaan oleh dinasti dinasti besar dimasanya. Pernah menjadi wilayah kekuasaan kekaisaran Mongolia, Usmaniyah dan dinasti dinasti Islam Persia, Kekaisaran Rusia, kemudian menjadi republik dibawah perlindungan Jerman dan Inggris ditahun 1917 namun  tak berumur Panjang dan di menjadi bagian Uni Soviet ditahun 1921.
 
Ditahun 1991 Republik Georgia terbentuk paska runtuhnya kekuasaan Uni Soviet, namun didera oleh krisis sipil dan ekonomi hingga ahirnya terjadi revolusi mawar ditahun 2003, Georgia memutuskan mengikuti kebijakan asing pro barat yang memicu memburuknya hubungan dengan Russia berbuntut pada pecahnya perang dengan Russia tahun 2008 yang membuat Georgia kehilangan wilayah Abkhazia dan Ossetia Selatan yang dicaplok oleh Russia.

Sebaran penduduk beragama Islam di Georgia hasil sensus penduduk tahun 2014. Wilayah abu abu adalah wilayah Abkhazia yang dikuasi Russia, sedangkan wilayah Ossetia Selatan yang berada di utara yang juga dibawah kendali Russia kemungkinan juga tidak tercover oleh sensus 2014.  

Peradaban Islam di Georgia setidaknya pernah hadir selama lebih dari setengah millennium. Islam telah sampai ke Georgia bagian timur sejak masa Khulafaur Rasyidin dimasa Khalifah ketiga Usman Bin Affan (berkuasa 644—656 M). Ditahun 645 Masehi tentara Islam yang dikirim oleh Khalifah, menaklukkan Georgia Timur dan mendirikan pemerintahan Islam di Tbilisi. Islam mulai meredup saat wilayah ini di aneksasi oleh kekaisaran Russia di 1881 dan mengalami masa teramat sulit saat jatuh ketangan Uni Soviet ditahun 1921.
 
Setelah melalui sejarah yang teramat Panjang seiring dengan runtuhnya pusat pusat kekuasan Islam, diamasa kini muslim di Georgia merupakan minoritas terbesar di Georgia.  Mayoritas penduduk Georgia menganut agama Kristen Ortodoks Geogia (82%) lalu diikuti oleh pemeluk agama Islam (9,9% - 10,7%) dan agama agama minoritas lainnya terdiri dari Gereja Apostolilk Armenia, Katholik Roma, Yahudi dan lainnya.
 
Berkurang dalam jumlah bertambah dalam rasio
 
Bersarkan hasil sensus penduduk di Georgia tahun 2014, terdapat 398.677 muslim di Georgia, jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan hasil sensus 10 tahun sebelumnya yakni tahun 2004 sebanyak 433,784 jiwa. Namun demikian meski terjadi penurunan dalam jumlah namun justru bertambah dalam rasio.
 
Jumma Mosque atau Masjid Jum'at di puncak bukit dikawasan kota tua Tbilisi Ibukota Republik Georgia, satu satunya bangunan masjid di kota tersebut merupakan peninggalan dari peradaban Islam di Georgia.

Bila hasil sensus tahun 2004 muslim disana 9,9% ditahun 2014 justru meningkat menjadi 10.7%. 
Besar kemungkinan hal tersebut terjadi seiring dengan lepasnya Abkhazia dan Ossetia Selatan yang tidak masuk dalam sensus penduduk tersebut. Masih merujuk kepada data sensus yang sama, mayoritas muslim Georgia tinggal diwilayah pedesaan sekitar 75% dari seluruh muslim disana atau 298,668 jiwa. 
 
Islam dan Perkembangan Politik Georgia
 
Sebelum tahun 2011 Kristen Ortodoks Georgia adalah satu satunya yang diakui oleh negara. Pada Juli 2011, Parlemen Georgia mengesahkan undang undang baru yang memperbolehkan kelompok agama minoritas yang memiliki "ikatan bersejarah" dengan Georgia untuk mendaftarkan diri. Undang undang tersebut secara khusus menyebutkan Islam beserta dengan kelompok agama minoritas lain-nya, yaitu Gereja Katolik Roma, Gereja Apostolik Armenia, Gereja Injilis Baptis, dan Yahudi.
 
Masjid di Georgia beroperasi dalam pengawasan Departemen Muslim Georgia (Georgian Muslim Department) yang dibentuk pada Mei 2011. Sebelumnya, komunitas Muslim di Georgia diurus oleh Departemen Muslim Kaukasus yang berpusat di kota Baku ibukota Azerbaijan.
 
Pada tahun 2010, Georgia dan Turki menandatangani perjanjian yang memungkinkan pemerintah Turki mendanai dan mengerahkan tenaga ahli untuk merehabilitasi tiga masjid serta membangun empat masjid baru di Georgia, sementara Georgia akan memperoleh kesempatan merehabilitasi biara-biara  Kristen Ortodok Georgia di Turki.
 
Masjid di wilayah otonom Adjara. Kiri adalah masjid Agung di kota Batumi, kanan atas susana di masjid agung Batumi, kanan bawah: susana sholat jum'at di masjid darurat di kota Batumi.

Perjanjian Georgia-Turki tersebut akan memperbolehkan pembangunan kembali masjid bersejarah Azize di Batumi ibukota wilayah otonom Ajaria yang hancur pada tahun 1940. Turki akan merehabilitasi masjid di daerah Samtskhe-Javakheti beserta tempat mandi Turki (hammam) di Batumi.
 
Proyek proyek rehabilitasi dan restorasi oleh pemerintah Turki telah berjalan, ditahun 2021 pemerintah Turki merestorasi dan membuka Kembali Masjid tua di Duisi di wilayah Kakheti, yang sudah tak tersentuh perawatan sejak dibangun tahun 1901. Menyusul kemudian rencana restorasi masjid di wilayah otonomi Adjara dan pembangunan masjid baru di Batumi ibukota Adjara.
 
Selain dari itu pemerintah Turki juga akan membantu repatriasi (pemulangan ke kampung halaman) etnis Meskhetia untuk kembali ke kampung halamannya di Georgia. Etnis Mekhetia berasal dari wilayah Georgia berbatasan dengan Turki mayoritas dari mereka adalah muslim yang dideportasi paksa keluar dari Georgia ke berbagai negara asia selatan dimasa kekuasaan Joseph Stalin. [bersambung ke bagian II].
 
Referensi
 
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Georgia
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Georgia
https://khazanah.republika.co.id/berita/qdxyic320/islam-di-georgia-minoritas-yang-dituntut-loyal-taati-negara
https://en.wikipedia.org/wiki/Georgian%E2%80%93Ossetian_conflict
https://khazanah.republika.co.id/berita/ps9ket313/georgia-akui-islam-sebagai-agama-resmi
https://islam.ru/en/content/news/turkey-will-assist-georgia-process-repatriation-meskhetians-muslims
https://islam.ru/en/content/news/turkey-restore-ottoman-mosque-georgia

Senin, 29 Mei 2023

Kanada "Nyatakan Perang" Terhadap Islamphobia

Amira Elghawaby, special representative on combatting Islamophobia.


Kanada bisa jadi merupakan negara barat pertama yang secara serius “menyatakan perang” terhadap islamophobia di negaranya. Pada 26 Januari 2023 Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau secara khusus Menunjuk seorang Muslimah Kanada “Amira Elghawaby” sebagai Wakil khusus Pemerintah untuk memerangi Islamphobia di Kanada, yang bertugas membantu Pemerintah dalam mengatasi Islamphobia.
 
Penunjukan Amira telah melalui seleksi yang sangat ketat, terbuka, transfaran dan berdasarkan prestasi. Amira merupakan anggota dewan pendiri Jaringan anti kebencian Kanada. Penunjukan seorang wakil khusus tersebut juga merupakan rekomendasi dari KTT Nasional Kanada yang diselenggarakan secara visual 2021 tentang Islamphobia. Dalam KTT tersebut Perdana Menteri Kanada dengan tegas mengatakan “there is no place in Canada for Islamophobia”.
 
Desakan keras dari masyarakat Kanada kepada pemerintah untuk secepatnya mengambil Tindakan terhadap Islamphobia menyusul tindakan Islamphobia telah berubah menjadi beberapa tindakan brutal.
 
Diantaranya adalah serangan yang menewaskan empat anggota keluarga Afzaal di London, Ontario pada Juni 2021. Dewan Nasional Muslim Kanada, terus meminta pemerintah federal untuk membubarkan kelompok supremasi kulit putih dan mengatasi kebencian online. Sebelumnya kanada telah menetapkan tanggal 29 Januari sebagai hari peringatan dan aksi nasional melawan Islamphobia, untuk memperingati peristiwa serangan di sebuah masjid di Kota Quebec yang terjadi pada 29 Januari 2017.

Amira Elghawaby.

Islamofobia didefinisikan sebagai “rasisme, stereotip, prasangka, ketakutan, atau tindakan permusuhan” terhadap Muslim. Data Statistik Kanada dari tahun 2021 menunjukkan bahwa jumlah kejahatan rasial yang dilaporkan polisi yang mentarget Muslim meningkat 71 persen dari tahun sebelumnya. 

Amira akan secara khusus ditugaskan untuk memberikan masukan kepada pemerintah seputar pembuatan kebijakan dan dengan “proposal, program, dan peraturan legislatif” yang mencerminkan realitas Muslim di Kanada. Selain itu, dia akan memberikan arahan dan bimbingan kepada para menteri untuk “meningkatkan upaya untuk melacak dan memantau insiden kebencian dan kekerasan anti-Muslim di seluruh Kanada,” dan mempromosikan “kesadaran dan pemahaman publik” tentang komunitas Muslim di Kanada.
 
Amira Elghawaby dan Kota Bandung
 
Orang tua Amira berasal dari Mesir, Amira dibawa ibunya migrasi ke Kanada saat usianya baru dua bulan, untuk menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu berangkat ke Kanada bekerja sebagai Engineer. Di Kanada mereka tinggal di ibukota Ottawa, ibukota Kanada dan Sebagian hidup Amira dihabiskan disana.
 
Dimasa kecilnya ia sempat tinggal di kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia selama empat tahun. Saat itu ayahnya menerima tawaran kerja dari UNDP – United Nations Development Program di Bandung. Amira menyelesaikan Pendidikan SMA nya di Kanada.
 
Lulusan Carleton University
 
Amira Elghawaby merupakan lulusan universitas Carleton University di Otawa jurusan Jurnalistik dan hukum sekaligus. Selama di kampus, ia mendapat peluang magang dari pemerintah untuk bekerja sebagai jurnalis di Middle East Times yang berkedudukan di Kairo Mesir selama setahun, lalu Kembali ke Kanada untuk menyelaikan gelar sarjana-nya. 
 
Ia bekerja sebagai jurnalis di Toronto Star, lalu menjadi reporter dan associate producer di CBC Radio di Ottawa selama beberapa tahun. Ia kemudian bergabung dengan Majelis Nasional Muslim Kanada (NCCM - National Council of Canadian Muslims) sebagai direktur komunikasi.
 
Aktivis Ulung
 
Selain itu Amira merupakan seorang aktivis ulung. Dengan dukungan dari keluarga termasuk suaminya, Amira berkecipung di dunia jurnalistik, advokat, aktivis hak asasi manusia, aktivis gerakan buruh dan juga salah satu dewan pendiri Jaringan Anti Ujaran Kebencian Kanada dan juga Kelompok Penasihat Transparansi Keamanan Nasional Kanada.
 
Penunjukannya sebagai special representative on combatting Islamophobia atau wakil khusus untuk memerangi Islamphobia mendapatkan dukungan dari berbagai organisasi di Kanada dan juga diwarnai berbagai keberatan dengan berbagai alasan.***
 
Rujukan
 
https://muslimincanada.com/post/133536863736/amira-elghawaby
https://www.ctvnews.ca/politics/trudeau-names-canada-s-first-representative-on-combating-islamophobia-1.6247509
‍https://www.islamchannel.tv/blog-posts/islam-the-fastest-growing-religion-in-canada
https://en.wikipedia.org/wiki/Amira_Elghawaby#cite_note-:2-1  

Minggu, 28 Mei 2023

Masjid Kiai Gede Kutawaringin Tempo Dulu

Foto masjid Kyai Gede Kutawaringin antara tahun 1928 – 1940 [IG @rajakelir]

Masjid Kiai Gede Kotawaringin berada di desa Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, provinsi Kalimantan Tengah. Merupakan masjid tua bersejarah di provinsi Kalimantan Tengah. Nama Kiai Gede yang disematkan pada nama masjid ini mengabadikan nama seorang mubaligh dari Demak Bintoro yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut.
 
Sejarah pembangunan masjid ini masih simpang siur namun menurut situs Direktorat Jenderal Kebudayaan didasarkan pada data Sulaiman (2014), masjid ini dibangun pada tahun 1632 Masehi, pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah (1650-1678 M), raja ke-4 dari Kesultanan Banjarmasin. 


Nama Kiai Gede diambil dari nama seorang ulama yang telah berjasa besar dalam penyebaran agama Islam di Pulau Kalimantan khususnya di wilayah Kotawaringin. Ulama tersebut adalah Kiai Gede, seorang ulama asal Jawa yang diutus oleh Kesultanan Demak untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Kalimantan. 
 
Foto hitam putih masjid Kyai Gede Kutawaringin antara tahun 1928 – 1940. 

Menurut sumber lain menyebutkan bahwa Kiai Gede adalah salah seorang pembesar dan panglima Kerajaan Demak pada masa pemerintahan Adipati Unus. Kedatangan Kiai Gede tersebut disambut baik oleh Sultan Mustain Billah yang kemudian ditugaskan untuk meyebarkan agama Islam di wilayah Kotawaringin, sekaligus membawa misi untuk merintis kesultanan baru di wilayah ini. 

Foto masjid Kyai Gede Kutawaringin antara tahun 1928 – 1940.  [IG @rajakelir]
 
Berkat jasa-jasanya yang besar dalam menyebarkan Islam dan membangun wilayah Kotawaringin, Sultan Mustain Billah kemudian menganugerahkan jabatan kepada Kyai Gede sebagai Adipati di Kotawaringin dengan pangkat Patih Hamengkubumi dan bergelar Adipati Gede Ing Kotawaringin.

Foto masjid Kyai Gede Kutawaringin antara tahun 1928 – 1940

Namun demikian bila dirunut lebih jauh berbagai catatan terkait sejarah masjid ini, ditemukan angka tahun yang tumpang tindih satu sama lain serta ditemukan kesenjangan rentang waktu antara nama nama tokoh yang disebutkan. Meski semua catatan tersebut sepakat pada angka tahun berdirinya masjid tersebut pada tahun 1632 masehi.
 
Foto makam Kyai Gede di Kutawaringin antara tahun 1928 – 1940

Menurut sejarahnya yang demikian maka sangat wajar bila arsitektur Masjid Kyai Gede ini memiliki kemiripan degan Masjid Agung Demak. Masjid dari bahan kayu ulin ini berukuran 16 X 16 meter, luas keseleuruhan mencapai 256 meter persegi. Statusnya kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi undang undang.**

Narasi dirangkum dari kebudayaan.kemdikbud.go.id
Foto hitam putih dari Göttin, Johann Wilhelm, bmarchives
colorized by IG @rajakelir

Sabtu, 27 Mei 2023

Masjid Al-Basha, Jeddah

Masjid Al-Basha Jeddah dari samping kiri, bagian depan dan pintu utamanya menghadap ke pekarangan yang tampak rimbun dengan pepohonan disebelah kanan foto.

Masjid Al-Basha adalah salah satu masjid tua dan bersejarah di kota Jeddah, Saudi Arabia. Berdiri di kawasan kota tua Al-Balad masjid ini tampil anggun di antara gedung gedung jangkung nan modern yang mulai mencakar langit disekitarnya. Halaman depannya tampak asri dengan rimbun pepohonan yang tumbuh menghijau, salah satunya pohon kurma yang berbuah lebat disamping tangga menuju ke ruang sholat.
 
Kawasan Al-Balad, tempat masjid Al-Basha ini berdiri adalah kawasan bersejarah di kota Jeddah, dari sini sejarah kota Jeddah dimulai. Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sudah mendaftarkan Al-Balad ke Unesco dan sudah diakui sebagai warisan dunia. Di Al-Balad, Masjid Al-Basha berseberangan dengan gedung tua Bait Al-Balad dan Balaikota Jeddah.
 
Basha Mosque
7220 King Abdul Aziz, حي البلد، 2792، Jeddah 22233, Arab Saudi
 
 
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, masjid ini pertama kali dibangun oleh Gubernur Jeddah Bakr Basha pada 1735. Disebutkan juga bahwa masjid ini awalnya berlokasi di Harat al-Sham, dan menaranya menjadi ikon arkeologi dan arsitektur bagi Jeddah. Tampilan masjid ini tak berubah hingga 1978 ketika ia dibongkar dan dipindahkan.
 
Bangunan yang kini berdiri memang tak Nampak sebagai sebuah bangunan masjid tua, lebih terlihat sebagai sebuah bangunan masjid modern dengan bangunan beton berlantai dua dilengkapi dengan satu menara. Masjid ini dapat diakses dari bagian depan dan bagian samping.
 
Interior Masjid Al-Basha di lantai dua.

Ruang sholatnya ada di lantai dua, hingga baik pintu depan maupun pintu samping dilengkapi dengan tangga beton untuk menuju ke ruang sholat. Kami datang ke masjid ini diluar waktu sholat berjamaah, seluruh pintu masjid sudah terkunci. Seorang pegurusnya yang kemudian membukakan samping pintu dari dalam.
 
Area toilet dan tempat wudhunya ada dilantai dasar, area tempat wudhunya juga dilengkapi dengan bangku bangku batu untuk Jemaah agar wudhu sambil duduk. Pengurus masjid ini sepertinya juga tinggal di masjid ini.
 
Beberapa foto eksterior Masjid Al-Basha.

Ruang sholat masjid ini cukup besar, terbagi menjadi dua area.
Area sholat bagian belakang lebih rendah dari area bagian depan disekat dengan partisi kayu setinggi pinggang orang dewasa. Seluruh lantai ruangan sholat ditutup dengan karpet sajadah warna hijau lumut. Sisi mihrabnya menggunakan kayu.
 
Area mihrabnya berupa ceruk kecil setengah lingkaran dari kayu diapit dua rak buku dikiri dan kanannya. Mimbar khatib dibangun lebih tinggi dari lantai berbentuk podium terbuka tanpa ornamen terletak di sisi kanan area mihrab. Ada pembatas dari semen setinggi sekitar 30 sentimeter dari shaf pertama dengan shaf berikutnya, saya kurang faham fungsi dari pembatas tersebut.
 
Masjid Al-Basha dari arah meriam meriam kuno peninggalan benteng Jeddah di depan museum Bait Al-Balad.

Secara keseluruhan interior masjid ini tidak terlalu ramai dengan berbagai ragam hias. Dibagian tengah atapnya ada bagian atap segi empat yang dibangun lebih tinggi dari atap sekitarnya untuk menempatkan jendela jendela kaca di celahnya sebagai penerangan dalam ruang dari cahaya alami matahari disiang hari.
 
Karena secara geografis, kota Jeddah berada disebelah barat kota Mekah, maka arah kiblat di masjid AL-Basha ini menghadap ke arah timur. Pintu depannya ada sebelah barat, pintu samping ada di sebelah utara demikian juga dengan sebatang menaranya yang menjulang sendirian.
 
Bangunan menaranya berdenah segi empat dengan satu balkoni dan di ujung menara ditempatkan ornamen bulan sabit khas Saudi, berupa bulan sabit yang simetris menghadap ke atas namun masih berupa lingkaran utuh, bukan seperti bulan sabit gaya Usmani yang juga menghadap ke atas namun terbuka dibagian atasnya.***
 
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Rabu, 24 Mei 2023

Masjid Raya Abdul Kadim Musi Banyu Asin

MASJID KURSI PATAH demikian masyarakat menyebut masjid yang bernama resmi Masjid Raya Abdul Kadim di desa Epil kecamatan Lais ini, merujuk kepada monumen kursi patah yang berdiri di depan masjid.

Nama resmi masjid ini adalah Masjid Raya Abdul Kadim, lokasinya berada di desa Epil kecamatan Lais kabupaten Musi Banyu Asin provinsi Sumatera Selatan. Namun lebih dikenal masyarakat dengan nama Masjid Kursi Patah, merujuk kepada monumen kursi patah berukuran cukup besar di depan masjid ini. Bangunan masjidnya yang megah ditambah lagi dengan keunikan kursi patahnya membuat masjid ini mendadak menjadi objek wisata religi.
 
Masjid Kursi Patah mulai dibangun pada bulan April 2018 oleh keluarga besar H Abdul Kadim yang merupakan putra asli Desa Epil tempat masjid tersebut berada. Ide pembangunannya bermula dari kunjungan beliau ke kantor PBB di Jenewa Swiss dan sempat melihat monumen Broken Chair (kursi patah) disana. Dari kunjungan tersebut kemudian terbersit ide untuk membangun kursi patah yang serupa di halaman masjid yang beliau bangun di kampung halaman-nya.


Daya Tarik Unik
 
Keberadaan Broken Chair (kursi patah) didepan Masjid Raya Abdul Kadim ini tak pelak menjadi pusat perhatian masyarakat. Filosopi yang hendak disampaikan adalah untuk mengingatkan masyarakat bahwa sebuah jabatan itu tidak kekal, maka dari itu simbol kursi patah dibuat untuk mengingatkan masyarakat agar mendekatkan diri kepada Allah S.W.T.
 
Sekedar informasi, “Broken chair” atau “Kursi Patah” di Jenewa dibangun pada 1997 di Place des Nations, di seberang pintu masuk markas PBB. Monumen ini dirancang pematung Swiss Daniel Berset dengan tinggi 12 meter. Dari empat kaki kursi, salah satu kakinya bagian depan sebelah kiri patah dua. Monumen kursi patah ini berdiri sebagai simbol perlawanan terhadap penggunakan ranjau darat pada masa Perang Dunia I dan II yang memakan banyak korban jiwa.
 
Pembangunan masjid Kursi Patah tahun 2019 dan tahun 2022.

Tidak ada data teknis terkait Broken Chair atau Kursi Patah di Masjid Raya Abdul Kadim ini, namun menurut pendirinya, tinggi monumen kursi patah tersebut sekitar 9 meter dibuat dari kayu unglen dan akan didaftarkan ke museum rekor Indonesia (MURI). 

Selain itu, Masjid Raya Abdul Kadim juga memiliki beduk dengan ukuran sangat besar dan disebut sebut sebagai salah satu beduk terbesar di dunia, dengan diameter sekitar 2,3 meter, Panjang 3.5 meter dan kulit sapi yang digunakan untuk beduk yang begitu lebar itu didatangkan dari Selandia Baru.
 
Ragam eksterior Masjid Raya Abdul Kadim.

Riwayat Pembangunan Masjid Kursi Patah
 
H Abdul Kadim pembangun masjid ini menjelaskan bahwa ide pembangunan masjid ini berasal dari dirinya kemudian diterjemahkan dan direalisasikan oleh arsitek Dr Sunardi. Proses pembangunanya dimulai pada 8 April 2018 dengan mempekerjakan 70 orang. Pada bulan Desember 2020 proses pembangunannya sudah mencapai 40% dan mulai dipergunakan untuk penyelenggaraan sholat.
 
Masjid Raya Abdul Kadim berdiri diatas lahan seluas 5.625 meter persegi selain bangunan masjid dan ornamen kursi patah, masjid ini juga dilengkapi dengan taman disekitarnya. Bahan kursi patah tersebut dari kayu Unglen yang dipesan dari pulau Jawa. Sedangkan material marmer lantai dan dinding didatangkan dari Italia.

Peresmian Masjid Raya Abdul Kadim 12 April 2023 oleh Gubernur Sumsel H. Herman Deru (berbaju biru) bersama para pejabat provinsi dan kabupaten, tokoh masyarakat dan H Abdul Kadim serta keluarga. (foto dari mediasriwijaya.com)

Keseluruhan proses pembangunannya selesai pada 1 April 2023, dengan total dana pembangunan yang dihabiskan mencapai lebih kurang Rp. 40 Milyar dari dana pribadi H. Abdul Kadim. 

Peresmian Masjid Raya Abdul Kadim
 
Masjid Raya Abdul Kadim diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan, H Herman Deru pada hari rabu 12 April 2023. Turut hadir dalam acara peresmian tersebut Turut hadir Pj. Bupati Musi Banyuasin, DRS. H. Apriyadi, M.Si, Penceramah Ustadz Prof. DR. H. Abdul Somad, LC., MA, Ketua Harian LPTQ Sumsel, DRS. KH. Mudrik Qori, MA, Ketua Dewan Pembina Masjid Raya Abdul Kadim, Prof. DR. H. Abdul Kadim beserta keluarga dan Para Kepala OPD Prov. Sumsel. Upacara peresmian tersebut turut dihadiri ribuan masyarakat yang memadati area masjid.
 
Interior Masjid Raya Abdul Kadim.

Arsitektur Masjid Raya Abdul Kadim
 
Arsitektur masjid ini memadukan keragaman arsitektur masjid-masjid di Timur Tengah dan Turkiye. Seperti pintu masjid menyerupai pintu Masjid Nabawi di Madinah walau tak sama persis. Jika pintu-pintu di Masjid Nabawi pada bagian atas rata, maka di Masjid Raya Abdul Kadim berbentuk oval atau melengkung.
 
Masuk ke dalam masjid akan terlihat keindahan dan berbagai ornamen serta kaligrafi yang menumbulkan suasana sejuk dan nyaman saat beribadah. Pencahayaan alami pada siang hari membuat suasana tempat salat sangat terang.
 
Di bagian luar masjid ada rumah singgah, pusat oleh-oleh dan coffe shop, gazebo, jembatan dan kolam. Untuk tempat wudhu dan toilet bagi pria dan wanita letaknya terpisah. Juga ada satu toilet khusus bagi penyandang disabilitas.
 
H. Abdul Kadim
[foto dari linggaupos]
Tak jauh dari menara utama berdiri bangunan dengan desain atap rumah limas khas Palembang tempat meletakan beduk yang didatangkan dari Cirebon dengan ornamen ukiran kayu dari Jepara. Dari keterangan yang terpasang, beduk ini disebut sebagai salah satu beduk terbesar di dunia. Memiliki diameter 230 cm, panjang 343 cm, terbuat dari kayu jati mulai dibuat 7 Agustus 2019 dan selesai dibuat 17 April 2020.
 
Siapakah H Abdul Kadim
 
Pembangun masjid Raya Abdul Kadim atau Masjid Kursi Patah ini diketahui memang putra asli desa Epil dan merau ke Jakarta sejak tahun 1974. Beliau merupakan salah satu tokoh dengan gelar yang cukup Panjang sehingga nama resminya adalah:
 
Prof Dr Abdul Kadim Ak SE MM MM SH MH CA CPA CFA Asean CPA CPMA CLL CFE CLA CIA CTAP BKPC.
 
Sehari hari beliau berpropesi sebagai konsultan yang menangani lebih dari 100 perusahaan yang Sebagian besar merupakan perusahaan asing, beliau juga menjabat sebagai Managing Partner Kantor Akuntan Publik KADIM, VERONIKA, SYAHIRMAN & ERIKA.***
 
Rujukan
 
https://www.infosumsel.id/gaya-hidup/pr-3622544269/Filosofi-Unik-Kursi-Patah-Jadi-Daya-Tarik-Masjid-H-Abdul-Kadim
https://satudata.sumselprov.go.id/detail/berita/hd-resmikan-masjid-megah-desa-epil-musi-banyuasin
https://linggaupos.disway.id/read/645939/masjid-raya-abdul-kadim-di-muba-dengan-ciri-khas-kursi-patah-ternyata-ini-pemiliknya
https://mediasriwijaya.com/2023/04/ustadz-abdul-somad-bangga-muba-punya-masjid-raya-megah-masjid-raya-abdul-kadim-diresmikan-gubernur-sumsel/
https://kakibukit.republika.co.id/posts/188667/broken-chair-di-halaman-masjid-raya-abdul-kadim